kepadamu jiwa
05 Aug 2011 4 Comments
in Muslimah, Simfoni Hati
Bersabarlah,
wahai jiwa-jiwa..
Tak lebih dari satu purnama..
“Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal dan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar. Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”
(QS. An-Nisa’ : 122)
Positive
11 Jun 2011 1 Comment
in Dapet Dari Luar, Simfoni Hati
“Allah tidak pernah menjanjikan bahwa kehidupan ini mudah,
tetapi Allah menjanjikan akan selalu berada disisi pada saat kita susah”
*Lupa dari mana sumbernya yang jelas dari sebuah tumblr..
Kita
07 Jun 2011 Leave a Comment
in HaRaKi, Simfoni Hati
Lisan kadang jadi tumpul
Ketika rasa lewati logika
Sapa yang tak bisa terucap
Kuharap berpijar tembus langit malam
Berputar berupa kumpulan pinta
Hingga mampu menyapa halus dengan sederet salam
Kita tetap akan saling bicara
tanpa melempar kata
tanpa mendengar suara
tanpa perlu bersua
bukankah itulah kita?
yang selalu berjumpa
dalam ba’it-ba’it do’a..
*berlari bersama masa enam-sembilan*
Penonton
26 May 2011 9 Comments
Sekeras apapun ia berteriak dan berkomentar,
Takkan membantu agar “Goal” itu melesak ke dalam gawang..
Berpeluh bagaimanapun ia,
Takkan mampu mengoper bola dan mengecoh kiper lawan..
Berkerut seperti apa merancang strategi
Takkan membantu upaya kemenangan
Mengapa?
Karena ia hanya seorang penonton
yang hanya berani menyisir dari luar lapangan..
Maka,
jadilah seorang pemain,
agar tahu beratnya perjuangan
sehingga mampu berkomentar dengan benar
“Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-oang yang duduk dengan pahala yang besar.”
(QS. An Nisa: 95)
Untuk mereka..
26 May 2011 3 Comments
in Simfoni Hati
Kami pernah mengalami masa2 ‘kekalahan’
lalu merasakan kesedihan
Kami kemudian dititipi amanah ‘kemenangan’
lalu merasakan kebahagiaan
Tapi tahukah,
hari ini, diri ini justru merasakan kebahagiaan yang lebih
tahukah mengapa?
Karena kalian belajar dan lebih baik dari kami..
(22 April 2011*)
Akhirnya resmi juga, Semoga bisa amanah melanjutkan estafet ini
Diam
14 Apr 2011 4 Comments
in HaRaKi
Sejak dahulu,
kita sudah tahu
konsekuensi memilih di jalan ini,
ber’prestasi’ tanpa berharap apresiasi
tak disukai? bukankah sudah ‘makan’an sehari-hari?
Sudahlah,
tak perlu banyak kata
Kita buktikan saja dengan karya
Mari BEKERJA UNTUK INDONESIA..
*Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran menjadi nyata.. (M.AM)
Mereka yang “Tidak Boleh Melakukan Kekeliruan (apalagi kesalahan)”
04 Feb 2011 12 Comments
Alkisah di sebuah negeri, dalam sebuah acara, seorang kepala negara memberikan pidatonya. Seperti pidato kenegaraan lainnya, beliau menyelipkan pesan-pesan kepada audiens yang notabene abdi rakyat. Pada intinya mengajak agar mereka lebih bersemangat lagi menunaikan tugas-tugasnya. Entah selipan banyolan atau memang ternyata curcol (curhat colongan), keluarlah kata-kata bahwa sudah 6 tahun sang kepala negara tak naik gaji. Dan respon yang terjadi sangat luar biasa. Lupa akan pesan dari sang kepala negara secara meyeluruh, yang dingat dan membuat panas kuping rakyat (yang mendengar setengah-setengah) yaitu “kepala negara kita minta naik gaji”. Hingga muncullah gerakan yang sangat responsif berupa ‘pengumpulan koin’ bagi Sang Kepala Negara yang entahlah harus ditanggapi seperti apa.
Tersebutlah juga kisah tentang mantan pimpinan tertinggi sebuah partai da’wah, yang disorot oleh banyak mata ketika ‘bersentuhan tangan” dengan ibu negara salah satu negara adikuasa dunia. Semua berbicara, menanggapi, pro kontra terjadi. Padahal, kejadian ‘bersalaman’ tentu amat biasa terjadi di lingkungan kita. Tetapi (lagi-lagi) karena yang melakukannya bukan orang biasa, maka akan menjadi bulan-bulanan media dan massa.
Itulah mengapa dalam judul telah saya sampaikan bahwa ‘mereka’tak boleh melakukan kesalahan. Bukan karena saya menafikkan bahwa manusia tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak mungkin seorang manusia tidak melakukan kesalahan, hanya Rasulullah saja yang ma’sum dari segala dosa dan kesalahan. Karena bilapun beliau melakukan kesalahan, maka Allah akan langsung memperbaiki kekeliruan beliau seperti yang termaktub dalam dalam surat Abasa. Mereka tak boleh lakukan kesalahan karena ketika ‘mereka’ menjadi subjeknya dan melakukan hal-hal (baca: kesalahan) kecil bisa menjadi besar dan hal-hal (baca:prestasi) besar bisa menjadi kecil atau biasa-biasa saja. Ah saya lebih nyaman menyebut beliau-beliau sebagai orang terkenal, sehingga mereka bisa siapa saja.. Entah itu kepala negara, ulama, politisi, bahkan selebritis.
Dan, yang lebih gaswatnya dari orang-orang terkenal ini adalah efek domino atau pengaruh dari apa yang mereka lakukan itu diikuti oleh orang-orang lain terutama yang menganggapnya sebagai idola (jadi fans berat atau sejenisnya). Ingatkan ketika David Beckham sedang naik-naik daunnya? Padahal ia jagonya main bola, tetapi sampai model potongan rambutnya pun diikuti para fansnya. Sama halnya dengan iklan-iklan di media massa, kenapa coba yang menjadi iklannya adalah para selebritis yang terkenal? kenapa nggak orang-orang biasa saja yang baru pertama kali masuk televisi. Coba lihat salah satu produk sabun cair, yang membintanginya adalah selebritis perempuan yang sudah terkenal setanah air. Tujuannya apa? agar para konsumen memiliki persepsi bahwa para selebritis tersebut memiliki kulit yang halus karena menggunakan produk tersebut. Atau misalnya iklan krim pemutih wajah yang membuat “wajahmu mengalihkan duniaku”, para konsumen dengan model yang ditampilkan didalam iklan berharap agar ketika mereka menggunakannya maka akan tampil secantik dan seputih selebritis yang menjadi bintang iklannya. Konsumen tidak peduli bahwa mereka (para selebritis tersebut) memang sudah cantik dan putih dari sononya. Tidak peduli juga kalau untuk menjadi seperti sekarang setelah mereka menghabiskan puluhan juta untuk pergi ke salon atau kontrol ke klinik kecantikan.
Masih tentang orang terkenal dan daya pengaruhnya, pasti masih ingat da’i kondang yang pengajiannya tak pernah sepi dari jama’ah yang utamanya ibu-ibu. Hidup harmonis dan serasi dengan istrinya lalu memutuskan untuk berpoligami? Apa dampaknya kala itu? Ibu-ibu memutuskan untuk ‘libur’ dulu datang ke pengajian da’i tersebut karena khawatir suaminya ‘tertular dan mengikuti jejak ustadz tersebut. Khawatir para suaminya mengambil contoh makanya ibu-ibu “satu suara” untuk pengajian di tempat lain dulu. Padahal, memang segitu berpengaruhnya ya?
Dan belum juga sepekan, baru saja vonis pengadilan dari majelis hakim yang terhormat terkait skandal video mesum seorang vokalis band ternama negeri ini. Ah, saya tak ingin terlibat dalam diskusi yang tak berujung terkait kebebasan. Toh saya juga punya kebebasan dong untuk bilang kalau buat saya:
1. Berz*n*nya itu fatal
2. Berz*n* dengan istri orang lebih fatal lagi
3. Sebagai orang terkenal yang tindak tanduknya dilihat dan dicontoh itu fatal
Sehingga, keputusan 3 tahun 6 bulan itu buat saya jauh dari memuaskan. Toh tuntutan dari jaksa penuntut umum saja minimal 5 tahun. (Saya nggak sampai bilang harusnya dirajam loh -ups, saya sebutin juga akhirnya
). Maaf, tapi bagi saya itu menunjukkan lemahnya supremasi hukum kita dan terkesan hanya cari aman dari para penegak hukum. Karena hukuman seperti itu tak memberikan efek jera bagi para pelaku dan masyarakat. Pelakunya ini orang terkenal, punya fans (baca:pengikut), punya pengaruh. Sekitar dua bulan lalu saya sempat membaca berita tentang adanya beberapa laporan tentang kasus p*m*rk*s**n oleh anak-anak dibawah umur. Setelah ditanya oleh penyelidik ternyata karena terpengaruh setelah menonton video mesum artis ini. Dan FATALNYA, hingga saat ini, yang bersangkutan masih belum mengakui kalau pemeran utama dalam video tersebut adalah dirinya.
Fiuh, fiuh..
Lupa ya, kalau sudah terkenal maka setiap gerak gerik akan menjadi sorotan? Belum lagi ini adalah kasus pertama yang menarik perhatian publik untuk bisa membuktikan seberapa kuat supremasi hukum di negara kita terkait pelaksanan undang-undang pornografi.
Ompongnya huk*m kita didepan orang-orang yang memiliki pengaruh dan gelimangan harta. Lihat saja, masih hangat diotak kita tentang fasilitas sel mewah yang dimiliki ay*n, kita geram, tetapi lalu.. heboh lagi dengan pembebasan bersyaratnya yang akhirnya disetujui. Uf.. mau dibawa kemana?? Tentang joki tahanan (emang joki cuman ada di three in one atau di ujian-ujian). Apalagi tentang Gayus, yang ah.. sudahlah.. lagi-lagi seolah dagelan dalam dunia huk*m kita. Kalau gayus (yang ‘ikan teri’-katanya sendiri) bisa keluar masuk seenaknya, apalagi yang hiu dan pausnya. Jangan-jangan bagi mereka hukuman penjara adalah saatnya liburan dan rekreasi dari rutinitas harian.
Makanya, siapa yang jera kalau begitu caranya?
Kembali lagi ke orang terkenal yang tak boleh melakukan kesalahan, tak perlu jauh-jauh kita melihat ke layar televisi atau media-media massa untuk mencari mereka yang terkenal dan di jadikan panutan. Lihatlah kanan dan kiri kita, sosok-sosok ‘terkenal’ itu ada. Ambil saja lingkup kampus misalnya. Ada orang-orang terkenal yang menjabat, ketua organisasi *pip*pip*, ketua acara %$#@#$@@, atau petinggi *fiuh*glek*Prok*(naon iyeu teh..).Nah adik-adik dan teman-teman, itu juga kudu hati-hati. Lingkungan kecil itupun akan membentuk mereka sebagai “orang terkenal yang tidak boleh melakukan kesalahan.
Kalau orang lain yang masang status “Galau” barangkali biasa. Apalagi ABeGe-ABeGe yang masang status “K4n93n K4mYuhh.. fR0m YoUr LoV3lY BeibHHH” Ah, biasa kali untuk mereka. Tapi untuk kalian?
Apalagi misalnya, misalnya nih ya.. Dua sosok yang jadi panutan tiba-tiba ‘kepergok’ di restoran siap saji made in USA berdua aja tanpa ada status ‘halal’ yang melekat. Tentu saja akan menjadi sangat berbahaya. Apalagi kemudian diikuti dan dijadikan pembenaran. Cukuplah kita belajar dari Umar bin Luhay. Seorang alim yang terkenal di jamannya dan dijadikan panutan. Kesilauannya akan sesembahan yang dilihatnya di Persia membuatnya menjadi ‘sang perantara’ nomor satu atas munculnya berhala yang memenuhi tanah suci bapak Para Anbiya.
Ya, begitulah.. mereka yang tak boleh melakukan kesalahan..
..Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tetapi kita diberi akal dan perasaan untuk mampu mengalahkan keterbatasan yang kita miliki. Dan hanya Allah-lah yang Mahamengetahui betapa banyak aib dan cela ini pun Allah Mahabaik yang masih menutupinya hingga kini..
Kata
30 Dec 2010 2 Comments
Dengar saja, kata sedang meronta-ronta
berharap lepas dari keterikatan rima
tak peduli bila kalimat pada akhirnya hampa
coba mengerti, agar kata dapatkan gembira
Bagiku tak masalah
ketika kata memilih jalan emansipasinya,
asal saja tak jadi menghilangkan makna
Karena memberi makna adalah fitrah bagi kata
*22 desember 2010
Renta
23 Dec 2010 Leave a Comment
in PeradaBan
Renta
Rapuh dirinya
hanya sanggup dipapah
namun bukan dengan tulang belulang anak negeri
dipapah dengan pinjaman mengatasnamakan kebaikan
tapi nyata mayanya
hanya tumpukan utang berlimpah yang tak mampu dibayar oleh setiap kanak keturunan si renta
Renta
bukan karena tak ada kalsium sumber daya
mungkin terkena osteoporosis terlalu muda
toh belum juga seabad usianya
Masih berupa balita lucu-lucunya untuk sejenisnya
Tetapi penguasaan atas mental perbudakan
hampir empat abad sulit dihilangkan
juga keinginan aman sendiri dari masing-masing sumsumnya
saling tarik dan sedot sumsum tetangganya
tak sadar bahwa hanya akan jadikan lemah bersama
bantu si Renta
dengan menjadi sel-sel penyusun masing-masing sumsum dan sendinya
Agar renta ini menjadi balita
yang pada waktunya
tumbuh jadi dewasa
hingga sanggup berdiri dengan belulangnya sendiri
tanpa bantuan kursi roda dari eropa
penyangga tubuh dari Amerika
atau mungkin tambahan mineral dari Cina
renta ini karena masih balita
bukan renta yang menunggu waktu menjadi binasa
*Abis baca buku sejarah dunia yang sangat menginspirasi: “Imperium III”nya Eko Laksono. Cetak lagi setelah 3 tahun ditungguin..
Cermin Nadir
23 Dec 2010 1 Comment
in Muslimah, Simfoni Hati
kita tumbuh dalam ruang abadi
dalam kebersamaan yang tak hanya tawarkan bahagia
tapi juga membuat kita semakin dewasa
hingga
bagi kita meniti jalan sulit ini, terasa tak sendiri
kita saling tertawa
berbagi suka yang melintas
kita saling terharu
saat duka menyalami tanpa diduga
kita saling menopang
saat kau atau aku tersandung lalu jatuh
tanpa kita sadari,
kita makin serupa..
kita akhirnya menjadi cermin,
bayangnya mungkin maya
tapi intinya memberikan isyarat yang sama
tak pernah ada kebohongan
karena
aku adalah engkau
dan
engkau adalah aku
Saat kulihat pantulan wajahmu bernoda
cepat-cepat kubersihkan wajahku
khawatir wajahmu tercoreng karena pantulan buram dariku
tak mungkin aku salahkan bayangmu disana
karena kau cermin, yang hanya pantulkan burukku
belakangan
Kulihat, engkau muram
padahal disini aku tengah tersenyum lebar
lain waktu
kulihat lagi rautmu biasa saja
padahal disini aku sedang sangat berduka
tapi..
lagi-lagi
takmungkin aku salahkan engkau wahai cerminku..
teringat kembali khilafku barangkali pernah lupa menyertai saat bahagia dan tak turut andil mengokohkan pundak sedihmu
kulihat ada noda kembali di beberapa titik bayangmu
kucoba bersihkan apa yang aku bisa dari tubuhku
tetapi..
mengapa masih saja ada noda di seberang sana?
kuraba cermin bagian depanku.
berdebu.
bukan..bukan salah atas bagianmu wahai cerminku
Debu itu ada dibagian milikku
Aku lupa untuk bersihkan cermin kita
Cermin maya yang menjadi identitas kita
yang hanya akan ada
karena kita terikat dengan saling mendo’a
Kita menjadi cermin bukan karena harta, bukan karena kuasa, bukan pula karena rupa
Kita menjadi satu
karena muara cinta kita sama
Kau mencintai-NYa dan akupun mencintai-Nya
Saat frekuensi cinta kita sama
itulah saat dimana kita berpadu
Sedihnya
Saat aku atau kau tak lagi berada dalam gelombang cinta utama atas-Nya
Kita akan menjalani hari-hari berenergi besar
dengan,
kita butuh waktu untuk saling mengerti
butuh alasan untuk husnuzhan
butuh kata untuk menyelesaikan masalah
dan
butuh masa untuk menjadi lupa
kita memang dan tentu masih menjadi saudara
tapi kita tak mampu lagi menjadi cermin bagi satu dengan yang lainnya..
*Bantu aku kembali jika tak mampu lagi menjadi cermin bagimu barangkali karena frekuensi cintaku yang menjauh dari-Nya
Komen Terakhir