jump to navigation

O, Pahlawan Negeriku 22009vUTC08bUTCTue, 25 Aug 2009 07:48:51 +0000 21,2008

Posted by aisyahkecil in HaRaKi, PeradaBan.
trackback

Di masa pembangunan ini, Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api (Chairil Anwar)

Kita selalu berkata kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam
Seperti juga kita saat ini
Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu
Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita
Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak

Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu
Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”
Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati”
Pahlawan yang akan membacakan “pernyataan” Mansur Samin:

Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah angkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadugan

Maka datang jugalah aku kesana, akhirnya
Untuk kali pertama
Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata
Seperti dulu aku pernah datang kemakam para Sahabat di Baqi’ dan Uhud
Karena kerinduan itu
Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka

Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan

Tulang-tulang berserakan itu
Apakah makna yang kita berikan kepada mereka?

Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita arab yang tak lagi mampu lahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?
Ataukah tak ada lagi ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966,
“merelakan kalian pergi berdemonstrasi.. kalian pergi menyempurnakan.. kemerdekaan negeri ini.”

Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah seperti kata Sayyid Quthb, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”
Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu!

(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)

Comments»

No comments yet — be the first.