Mencari ukhuwah? 22009vUTC10bUTCTue, 27 Oct 2009 07:48:46 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Simfoni Hati.9 comments
Dimanakah letak ukhuwah?
Apakah ketika kita sedih maka ada saudara-saudara disamping kita setiap saat?
Apakah ketika kita gundah maka ada saudara-saudara disekitar kita yang mampu untuk mengerti?
apakah ketika kita menangis maka ada saudara-saudara disekitar kita yang akan hapus lara itu?
Ya, ukhuwah memang menawarkan hal itu
Ya, ukhuwah memang menjanjikan hal tersebut
Tapi apakah kita akan menjadi lemah ketika hal tersebut ternyata tak seindah impian?
Tapi apakah kita akan menjadi lelah dan larut dalam kesedihan berkepanjangan?
Tapi apakah kita akan menuntut orang lain untuk tunaikan kewajiban?
Tapi apakah kita akan kalah dalam keterbatasan?
setiap kita pasti pernah merasakan lemah
Setiap kita pasti pernah merasakan gundah
setiap kita pasti pernah merasakan sedih
ukhuwah memang cara ampuh untuk bantu percepat kesembuhan semua itu
Tapi..
Jangan,
jangan berharap kasih
jangan berharap pengertian
jangan berharap perhatian
jangan berharap kemudahan
jangan mengharapkan semua itu pada manusia dengan dalih persaudaraan
berharap kepada manusia hanya akan membuat kita kecewa..
Mungkin itu adalah ujian dari-Nya
agar kita tak lagi menuhankan selain Ia
bahwa mungkin kita terlalu bersandar kepada manusia dan melupakan
bahwa Ia lah yang menggenggam seluruh jiwa
yang mengikatkan semua hati-hati kita
Mintalah petunjuk dari-Nya tentang ukhuwah..
dan niscaya engkau akan mendapatkannya..
“dan Dia(Allah) yang mempersatukan hati(orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Anfaal: 63)
Ia adalah tentang hati-hati yang terikat
tentang do’a-do’a yang rumit kait mengaitIa rumit, namun nyata dalam ungkapan sederhana
Ia rumit karena ia adalah iman yang merupa makna
Dari Hudzaifah.org, dalam surat Al Hujurat (QS 49) Allah SWT memaparkan 7 kiat bagi kita untuk menangkal virus-virus ukhuwwah yang bisa menghancurkan shaf ukhuwwah yang telah dibina:
1. Tabayyun
mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima (QS 49:6)
2. ‘Adamus Sukhriyyah
tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain(QS. 49:11)
3. ‘Adamul Lamz
tidak mencela orang lain (QS. 18:28)
4. Tarkut Tanabuz
meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim (QS 49:11)
5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan
Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut (QS 49:12)
6. Adamut Tajassus
tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain (QS 49:12)
7. Ijtinabul Ghibah
Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri
Karena pada dasarnya give and give.. Ketika ita merasakan kecewa dengan kesendirian, tanyalah kembali kepada hati.. Apa yang sudah kamu berikan sehingga layak untuk mendapatkan??
Saudara kita bukan ahli pembaca pikiran orang lain, jika memang membutuhkan sesuatu, maka beritahulah..
Karena sulit menemukan yang seperti Imam Syafi’i di masa kini.. yang menangis ketika ada saudaranya yang meminta bantuan.. yang beliau berkata “tidak seharusnya saudaraku meminta langsung padaku, padahal nampak jelas dari matanya membutuhkan bantuanku”
(tulisan yang sempat ke-pending, tetapi sepertinya tetap harus di-publish)
Mewarnai Kanvas 32009vUTC10bUTCWed, 14 Oct 2009 20:32:15 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah, Simfoni Hati.2 comments
Tidakkah langit menyimpan pinta..
ketika sesosok jiwa,
ditiupkan ruh ke raganya..
Adakah harapan agar yang tercipta,
jadi memiliki daya?
Mungkin.. bukan Abdullah bin zubeir yang dalam hamil tua Asma,
dibawa menuju masa depan yang entah dengan ketidakpastian macam apa
Mekah menuju madinah kala itu bukan jalan bebas hambatan dengan perjalanan tiga jam saja..
Lautan gunung pasir, kadang berkerikil ataupun gunung batu nyata dihadapan
Sehingga sangat layaklah liur pertama yang masuk dalam dirinya adalah dari sang Rasul mulia..
Mungkin.. tidak sanggup se-selektif Ibunda Syafi’i,
dengan membalik tubuh kanak-kanaknya
coba mengeluarkan makanan yang akan menjadi syubhat bagi dirinya..
Sehingga layaklah Ia menjadi Mufti di usia kelima belasnya
Yang kala shaum ia malah minum di hadapan para muridnya yang lantas bertanya,
dan dengan polosnya.. ia berkata,
“Aku belum wajib berpuasa..”
Mungkin.. tidak pula setangguh Khansa,
yang mendidik para putranya untuk menjadi para mujahid yang rindu syahid
Sehingga ketika ditinggal putra terakhirnya ia menangis,
bukan, bukan karena duka..
tetapi ia malah berkata,
“…Mereka telah berbahagia di surga. Yang ku sedihkan, kini tak ada lagi putra yang dapat kupersembahkan untuk menjadi syuhada”
Mungkin..
mungkin tidak bisa seelok mereka,
melukiskan kanvas putih dengan warna seindah pelangi
Tapi aku belajar para mereka..
bahwa
Seorang anak patut diajarkan perjuangan walaupun masih dalam kandungan..
Seorang anak patut dijauhkan dari syubhat agar akalnya bisa cemerlang..
Seorang anak patut dibentuk pemikirannya agar hidup mulia dan bertemu dengan-Nya sebagai syuhada..
[Karena perempuan adalah madrasah peradaban.. Teriring cita-cita agar tak ada lagi generasi yang mencintai narkoba, tak ada lagi generasi gemar hura-hura, dan cukup, tak ada lagi generasi seperti miyabi.. ]
Iman-Ukhuwah 62009vUTC10bUTCSat, 10 Oct 2009 16:55:35 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Yang di hati tersembunyi,
lisan bisa berdusta,
dan ‘ibadah bisa pura-pura..
Maka Sang Nabi meletakkan banyak ukuran iman dalam KUALITAS HUBUNGAN KITA dengan SESAMA:
berkata yang baik atau diam..
memuliakan tamu..
tak menyakiti tetangga..
amannya sesama dari gangguan lisan dan tangan..
jujur..
amanah..
tepat janji..
tak menggunjing..
tak memfitnah..
saling mencinta.
dan akhlaq mulia
Ya Allah, jaga iman kami dengan ukhuwah..
(Taken from: status FB kang Salim A.Fillah)
Vitalitas 52009vUTC10bUTCFri, 09 Oct 2009 21:13:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.5 comments
Pernahkah merasa lelah ketika orang-orang disekitar kita semakin banyak dan sering mengeluh?
Pernahkah merasa ingin mundur ketika orang-orang disekitar kita mulai tak searah?
Pernahkah merasa tidak bisa lagi bertahan ketika orang-orang disekitar kita semakin aneh tak terkendali?
Pernahkah merasa tak peduli lagi ketika ucapan dan tindakan tak lagi digubris dan diperhatikan?
Jika itu yang saat ini terjadi, marilah kita buka kembali perbekalan yang dulu pernah kita persiapkan..
Vitalitas (Mencari Pahlawan Indonesia), Ust. Anis Matta
Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, di balik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.
Tidak pernahkah kesedihan menghinggapi hati mereka? Tidak ada jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengundurkan diri dari pentas kepahlawanan? Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin memenangkan pertarungan?
Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan para pahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan dan keterpurukan pun pernah menderita jiwa mereka.
Akan tetapi, yang membedakan para pahlawan adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan dan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, dan bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.
Vitalitas hidup biasanya dibentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Namun, ketiga hal ini dibentuk oleh paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memiliki tradisi spiritualitas yang khas. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan khas yang dibentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu, mereka mempertahankan keyakinan mereka pada pertolongan Allah dan harapan akan kemenangan. Dengan cara itu, mereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk ibadah mahdhoh, tetapi biasanya disertai juga dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya contoh berikut ini:
Dalam suatu peperangan. Kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Merekapun menanyakan rahasia kekuatan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab, “Ini adalah buah dari Ma’tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi, jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa seperti lumpuh hari itu.”
Ya, begitulah, selalu ada ibadah andalan yang membuat mereka berbeda dan menjaga mereka dari keterpurukan.
Ibadah andalan itulah yang semoga bisa menjadi pembeda
yang membuat mata hati ini tetap terjaga agar dapat dengan cermat membedakan mana yang benar dan mana yang salah
dan saudaraku,
Memang hanya Allah-lah satu-satunya yang membuat kita bertahan dijalan ini, dan memang hanya Allah-lah yang memiliki kendali atas diri apakah hidayah ini akan terus bersemi..
Oleh karena itu, pertanyaannya sekarang,
Ibadah mahdoh apa yang menjadi andalan kita agar vitalitas ini tetap terjaga?
Agar tetap teguh kala yang lain runtuh
=Yuk rame-rame Kembali ke Asholah=