S P A S I 62009vUTC11bUTCSat, 07 Nov 2009 21:34:09 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, Simfoni Hati.add a comment
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan,
tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat,
karena aku ingin seiring bukan digiring
-dee @Filosofi Kopi-
Iman-Ukhuwah 62009vUTC10bUTCSat, 10 Oct 2009 16:55:35 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Yang di hati tersembunyi,
lisan bisa berdusta,
dan ‘ibadah bisa pura-pura..
Maka Sang Nabi meletakkan banyak ukuran iman dalam KUALITAS HUBUNGAN KITA dengan SESAMA:
berkata yang baik atau diam..
memuliakan tamu..
tak menyakiti tetangga..
amannya sesama dari gangguan lisan dan tangan..
jujur..
amanah..
tepat janji..
tak menggunjing..
tak memfitnah..
saling mencinta.
dan akhlaq mulia
Ya Allah, jaga iman kami dengan ukhuwah..
(Taken from: status FB kang Salim A.Fillah)
Vitalitas 52009vUTC10bUTCFri, 09 Oct 2009 21:13:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.5 comments
Pernahkah merasa lelah ketika orang-orang disekitar kita semakin banyak dan sering mengeluh?
Pernahkah merasa ingin mundur ketika orang-orang disekitar kita mulai tak searah?
Pernahkah merasa tidak bisa lagi bertahan ketika orang-orang disekitar kita semakin aneh tak terkendali?
Pernahkah merasa tak peduli lagi ketika ucapan dan tindakan tak lagi digubris dan diperhatikan?
Jika itu yang saat ini terjadi, marilah kita buka kembali perbekalan yang dulu pernah kita persiapkan..
Vitalitas (Mencari Pahlawan Indonesia), Ust. Anis Matta
Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, di balik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.
Tidak pernahkah kesedihan menghinggapi hati mereka? Tidak ada jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengundurkan diri dari pentas kepahlawanan? Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin memenangkan pertarungan?
Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan para pahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan dan keterpurukan pun pernah menderita jiwa mereka.
Akan tetapi, yang membedakan para pahlawan adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan dan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, dan bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.
Vitalitas hidup biasanya dibentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Namun, ketiga hal ini dibentuk oleh paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memiliki tradisi spiritualitas yang khas. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan khas yang dibentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu, mereka mempertahankan keyakinan mereka pada pertolongan Allah dan harapan akan kemenangan. Dengan cara itu, mereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk ibadah mahdhoh, tetapi biasanya disertai juga dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya contoh berikut ini:
Dalam suatu peperangan. Kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Merekapun menanyakan rahasia kekuatan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab, “Ini adalah buah dari Ma’tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi, jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa seperti lumpuh hari itu.”
Ya, begitulah, selalu ada ibadah andalan yang membuat mereka berbeda dan menjaga mereka dari keterpurukan.
Ibadah andalan itulah yang semoga bisa menjadi pembeda
yang membuat mata hati ini tetap terjaga agar dapat dengan cermat membedakan mana yang benar dan mana yang salah
dan saudaraku,
Memang hanya Allah-lah satu-satunya yang membuat kita bertahan dijalan ini, dan memang hanya Allah-lah yang memiliki kendali atas diri apakah hidayah ini akan terus bersemi..
Oleh karena itu, pertanyaannya sekarang,
Ibadah mahdoh apa yang menjadi andalan kita agar vitalitas ini tetap terjaga?
Agar tetap teguh kala yang lain runtuh
=Yuk rame-rame Kembali ke Asholah=
Aku lalu Kamu 22009vUTC08bUTCTue, 04 Aug 2009 08:28:43 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Akulah petualang yang mencari kebenaran
Akulah manusia yang mencari makna dan hakikat kemanusiaannya ditengah manusia
Akulah patriot yang berjuang menegakkan kehormatan, kebebasan, ketenangan dan kehidupan yang baik bagi tanah air di bawah naungan Islam yang hanif
Inilah aku,
lalu kamu,
siapa kamu?
(Hasan Al-Banna)
*sms dari seorang adik dan membuat tubuh ini bergetar
Malu.. 62009vUTC05bUTCSat, 16 May 2009 01:24:16 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi, Muslimah.3 comments
“Kajian bulan(an) ini” mengangkat tema tentang malu.
Tulisan ini sempat masuk ke draft(pending) padahal dulu sempat dipublish dan sekarang, saatnya untuk diposting..
Baiklah, sumber utama dari tulisan ini adalah dari dakwatuna.com yang di kolaborasikan dengan konteks ‘ke-lokal-an berdasarkan “kajian bulan(an) ini”..
Ok saudariku, kita mulai..
Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.
Apa sih sifat malu itu? Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”
Karena itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”
Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)
Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.
Dengan kata lain, seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut seorang muslimah meluncur kata-kata kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)
Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Allah itu Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah swt.
Jadi, sumber sifat malu adalah muraqabatullah. Sifat itu hadir setika kita merasa di bawah pantauan Allah swt. Dengan kata lain, ketika kita dalam kondisi ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” begitu jawaban Rasulullah saw. atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.
Itulah sifat malu yang sesungguhnya. Sebagaimana yang sampai kepada kita melalui Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Kami berkata, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu.” Beliau berkata, “Bukan itu yang aku maksud. Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah, hadits nomor 2382)
Ingat! Malu. Bukan pemalu. Pemalu (khajal) adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang berlebihan. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang muslimah untuk belajar dan mencari ilmu. Contohlah Ummu Sulaim Al-Anshariyah.
Saat ini banyak muslimah (muslim juga koq-red-) yang salah menempatkan rasa malu. Apalagi situasi pergaulan pria-wanita saat ini begitu ikhtilath (campur baur). Ketika ada lelaki yang menyentuh atau mengulurkan tangan mengajak salaman, seorang muslimah dengan ringan menyambutnya. Ketika kita tanya, mereka menjawab, “Saya malu menolaknya.” Bagaimana jika cara bersalamannya dengan bentuk cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri)? “Ya abis gimana lagi. Ntar dibilang gak gaul. Kan tengsin (malu)!”
Bahkan ketika dilecehkan oleh tangan-tangan jahil di kendaraan umum, tidak sedikit muslimah yang diam tak bersuara. Ketika kita tanya kenapa tidak berteriak atau menghardik lelaki jahil itu, jawabnya, sekali lagi, saya malu.
Jelas itu penempatan rasa malu yang salah. Tapi, anehnya tidak sedikit muslimah yang lupa akan rasa malu saat mengenakan rok mini. Betul kepala ditutupi oleh jilbab kecil, tapi busana ketat yang diapai menonjolkan lekak-lekut tubuh.
Begitulah jika urat malu sudah hilang. “Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta, bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).
Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah itu.
Pertama, berupa ancaman. “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushhdilat: 40).
Kedua, perkataan Nabi itu memberitakan tentang kondisi orang yang tidak punya malu. Mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan.
Ketiga, hadits ini berisi perintah Rasulullah saw. kepada kita untuk bersikap wara’. Jadi, kita menangkap makna yang tersirat bahwa Rasulullah berkata, apa kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!
Salman Al-Farisi punya pemahaman lain lagi tentang hadits itu. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila hendak membinasakan seorang hamba, maka Ia mencabut darinya rasa malu. Bila rasa malu telah dicabut, maka engkau tidak akan menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai. Bila engkau tidak menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai, maka dicabutlah pula darinya sifat amanah. Bila sifat amanah itu dicabut darinya, maka engkau tidak akan menjumpainya selain sebagai pengkhianat dan dikhianati. Bila engkau tak menemuinya selain pengkhianat dan dikhianati, maka rahmat Allah akan dicabut darinya. Bila rahmat itu dicabut darinya, maka engakau tidak akan menemukannya selain sosok pengutuk dan dikutuk. Bila engkau tidak menemukannya selain sebagai pengkutuk dan dikutuk, maka dicabutlah darinya ikatan Islam,” begitu kata Salman. (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Fitan, hadits nomor 4044, sanadnya lemah, tapi shahih)
Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.
Terkait dengan busana, tadi juga disinggung mengenai tabbaruj. Seiring perkembangan mode saat ini, bukan berarti kita harus tetap dengan “gaya-gaya lama” tetapi bagaimana membungkus ‘kekinian agar tetap syar’i.
Contohnya, jilbab langsungan. yang banyak sekali saat ini, secara ukuran cukup panjang dan menutup dada. Tetapi ternyata di belakangnya belah, sehingga bentuk tubuh masih bisa tampak. Atau malah ketat di leher? Ok, tetang jilbab longgar, tidak ada pembenaran!! Jangan dipangkas karena ikut mode ya.. Terus ukuran jilbab itu seberapa siy? Nah, Untuk aman dan nyamannya, lebih baik gunakan jilbab yang melewati lengan bawah anti. Jadi yang ketutupan dengan jilbab adalah kepala, bahu, lalu lengan atas dan beberapa centi melewati lengan bawah. Mau sampai pergelangan tangan juga nggak papa.. Kan biar lebih aman dan nyaman…
Nah, perlu waspada juga dengan model-model rompi yang sekarang banyak digunakan, betul ukurannya panjang sampai hampir menyentuh paha. Tetapi dengan modelnya yang ‘lurus’ apa tidak malah membentuk tubuh? apalagi jika menggunakan kaos dobelan, hati2 dengan kaos dobelan yang berbahan licin dan ketat. Atau legging yang kian marak sekarang. Boleh ko pakai legging, siapa bilang nggak boleh.. Dengan syarat, leggingnya dilengkapi dengan rok longgar sampai mata kaki ya ukhty biar klop dan gak masuk angin..
Lanjut..
Menundukkan pandangan juga bagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan sendu, dan isyarat lainnya yang membuat berjuta rasa di dada seorang lelaki. Setiap wanita memiliki pandangan mata yang setajam anak panah dan setiap lelaki paham akan pesan yang dimaksud oleh pandangan itu. Karena itu, Allah swt. memerintahkan kepada lelaki dan wanita untuk menundukkan sebagian pandangan mereka.
Memang realitas kekinian tidak bisa kita pungkiri. Kaum wanita saat ini beraktivitas di sektor publik, baik sebagai profesional ataupun aktivis sosial-politik. Ada yang dengan alasan untuk melayani kepentingan sesama wanita yang fitri. Ada juga yang karena keterpaksaan. Tidak sedikit wanita harus bekerja karena ia adalah tulang punggung keluarganya. Sehingga, ikhtilath (bercampur baur dengan lelaki) tidak bisa terhindari.
Untuk yang satu ini, mari kita kutip pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi, “Saya ingin mengatakan di sini bahwa kata ikhtilath dalam hal hubungan antara lelaki dan wanita adalah kata diadopsi ke dalam kamus Islam yang tidak dikenal oleh warisan budaya kita pada sejarah abad-abad sebelumnya, dan tidak diketahui selain pada masa ini. Mungkin saja ia berasal dari bahasa asing, hal itu memiliki isyarat yang tidak menenteramkan hati setiap muslim. Yang lebih cocok mungkin bisa menggunakan kata liqa’ atau muqabalah –keduanya berarti pertemuan—atau musyarakah (keterlibatan) seorang lelaki dan wanita, dan sebagainya. Yang jelas, Islam tidak mengeluarkan aturan atau hukum umum terkait dengan masalah ini. Namun hanya melihat tujuan adanya aktivitas tersebut atau maslahat yang mungkin terjadi dan bahaya yang dikhawatirkan, gambaran yang utuh dengannya, dan syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalamnya.”
Ada adab yang harus ditegakkan kala terjadi muqabalah antara pria dan wanita. Adab-adab itu adalah:
1. Ada pembatasan tempat pertemuan
2. Menjaga pandangan dengan menundukkan sebagian pandangan
3. Tidak berjabat tangan dalam situasi apa pun dengan yang bukan muhrimnya
4. Hindari berdesak-desakan dan lakukan pembedaan tempat bagi lelaki dan wanita
5. Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis)
6. Hindari tempat-tempat yang meragukan dan bisa menimbulkan fitnah
7. Hindari pertemuan yang lama dan sering, sebab bisa melemahkan sifat malu dan menggoyahkan keteguhan jiwa
8. Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa dan keinginan batin untuk melakukan yang haram, ataupun membayangkannya
Khusus bagi wanita, pakailah pakaian yang yang sesuai syariat, tidak memakai wewangian, batasi diri dalam berbicara dan menatap, serta jaga kewibawaan dan beraktivitas. Perhatikan gaya bicara. Jangan genit!
Dengan begitu jelaslah bahwa Islam tidak mengekang wanita. Wanita bisa terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berpolitik, dan berbagai aktivitas lainnya. Islam hanya memberi frame dengan adab dan etika. Sifat malu adalah salah satu frame yang harus dijaga oleh setiap wanita muslimah yang meyakini bahwa Allah swt. melihat setiap polah dan desiran hati yang tersimpan dalam dadanya.
Optimisme bagian dari kemenangan 32009vUTC04bUTCWed, 15 Apr 2009 01:04:21 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Perhitungan belum usai ..
dan lagi,
apakah definisi dari kemenangan?
Bukankah kemenangan di hati rakyat Indonesia?
Terlalu prematur ketika semua kita inginkan bs terwujudkan saat ini juga..
Bukankah Ketidak idealan ini adalah ladang amal untuk bisa menjadi agen perubah menuju ‘ideal’
dakwatuna.com - “Dan janganlah kamu merasa hina dan janganlah kamu bersedih padahal kalianlah yang paling tinggi jika kalian beriman”. (Ali Imran : 139)
“Dan janganlah kalian berputus asa dari rahmat Allah, sesungguhnya tidak orang berputus asa itu melainkan kaum yang kafir”. (Yusuf : 87)
Rasulullah saw. bersabda:
قال الرسول ص م : ” إنّ الله يحب الفألً و يكرهُ التساؤُم”
“Sesungguhnya Allah mencintai sikap optimis dan membenci sikap putus asa”
Dalam kelelahan, ketegangan dan kekalutan, kaum muslimin masih memiliki secercah harapan meraih kemenangan. Itulah yang terjadi pada saat kaum muslimin dikepung oleh pasukan Ahzab. Bahkan dalam situasi yang menegangkan dan jauh dari perhitungan untuk menang itu, mereka masih berkata:
“Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya. Maha Benar Allah dan Rasul-Nya. Tidaklah bertambah dalam diri mereka kecuali keimanan dan kepasrahan pada Allah swt.”
Dalam kesiapan penuh, menghadapi kepungan musuh dan kondisi medan yang begitu berat, Rasulullah saw. memompa semangat dengan menjanjikan bahwa mereka akan dapat menundukkan Romawi, Persia, Iskandariyah dan negeri-negeri lainnya.
Akhirnya kaum muslimin mendapatkan kemenangan pada perang Ahzab tersebut tanpa pecahnya peperangan lazimnya, dan Allah swt. membuktikan janji-Nya menaklukkan negeri-negeri besar pada masa pemerintahan Umar bin Khathab RA. Lihatlah pula nasihat yang teduh bagai air di padang pasir, taujih dan janji Rasulullah saw. yang amat menyejukkan hati keluarga Ammar bin Yasir:
“Sabarlah wahai keluarga Yasir tempat yang dijanjikan Allah bagimu adalah syurga.”
Seuntai kalimat dari seorang murabbi, pemimpin mampu meredam sakitnya penderitaan, menahan gejolak kesakitan dan membangkitkan semangat berbuat, meski tidak dapat merayakan kemenangan.
Perjalanan hidup umat teladan, hendaknya menginspirasi aktifitas yang kita lakukan saat ini. Betapa banyak pengalaman mereka dapat kita jadikan cermin hidup agar rambu-rambu perjalanan menjadi jelas dan terang. Seperti jelasnya perjalanan generasi terbaik dalam sejarah umat ini sehingga mereka mendapatkan harapannya di dunia dan akhirat tanpa takut kerugian sedikit pun.
Kemenangan umat terdahulu banyak kita temukan bermula dari optimisme yang tinggi untuk meraih kemenangan. Optimisme yang stabil menghantarkan mereka cepat atau lambat menuju kegemilangan. Karena optimisme bagian dari kemenangan itu sendiri. Baik kemenangan di dunia ataupun di akhirat. Optimisme orang-orang beriman sangat melekat pada jiwanya karena mereka yakin akan firman Allah:
Bahwa mereka bersama Allah swt. Dengan kebersamaannya itulah mereka meyakini perbuatannya, proses dan prosedurnya serta keberhasilannya mencapai kesuksesannya.
Dengan optimisme itu segala yang berat menjadi ringan, yang susah menjadi mudah dan yang rumit menjadi sederhana.
Ketika optimisme sudah merasuk ke jiwa maka dorongan besarlah yang muncul, dorongan untuk melakukan sebuah cita-cita agar meraih kejayaan. Ketika seorang sahabat bertanya pada Rasulullah saw.:
“Bagaimana nasib saya bila maju ke medan peperangan yang sedang berkecamuk itu’, beliau menjawab: ‘kamu akan mendapatkan syurga’ maka sahabat itu segera maju ke depan bahkan membuang kurma yang sedang dikunyahnya seraya bergumam: ‘ini akan memperlambat saya mendapatkan syurga.” Subhanallah begitulah sebagian dari kisah generasi teladan.
Saat optimisme membumbung tinggi dalam sanubari seorang mukmin, ia akan bergerak, bersikap, berjalan dan berkorban meskipun ia belum tentu dapat merasakan nikmatnya kemenangan. Karena sesungguhnya, dengan jiwa optimis itu mereka sudah mendapatkan kemenangan yang sesungguhnya. Paling tidak ia terdorong untuk memberikan sumbangsih mulianya demi keyakinan yang ia imani. Ia berharap agar Allah swt mencintai sikapnya dan ridho dengan perjuangannya:
إنّ الله يُحِبُّ الفَألَ و يَكْرَهُ التََّسَاؤُم
Saat ini, hal-hal yang menghadang perjalanan kita menuju kejayaan amatlah banyak. Rintangan, gangguan cobaan datang silih berganti. Baik yang datang dari eksternal maupun internal umat, bahkan yang muncul dari diri sendiri. Sepertinya mereka tidak pernah lelah dan berhenti. Mereka tidak menghendaki kemenangan ada di tangan kita. Apabila kita pun lelah dan jenuh menghadapinya, maka selamanya kita tidak akan pernah mencicipi rasa kemenangan itu.
Tatkala kita lelah, muncul bisikan-bisikan nista sambil mengatakan untuk apa berkorban. Apakah pengorbanan yang kamu lakukan akan kamu dapati hasilnya? Apakah pengorbanan itu akan kita rasakan. Jangan-jangan kita yang berkorban malah orang lain yang menikmatinya?
Dan sedihnya lagi apa yang sudah kita lakukan akan dipungkiri dan digugat. Mereka juga akan menutup mata pada apa yang kita perbuat.
Bisikan-bisikan ini sering kali mampir di telinga kita. Seakan-akan mereka ingin menyetop lajunya langkah kaki-kaki kita.
Imam Hasan Al Banna berpesan kepada kita:
الإمام الشهيد: ” لاَ تَيْأسُوا فَلَيْسَ اليَأْسَ مِنْ أَخْلاَقِ المُسْلِمِيْن… فَإِنَّ حَقَائِقَ اليَوْمِ أَحْلاَمُ الأَمْسِ… وَ أَحْلاَمُ اليَوْمِ حَقَائِقُ الغَدِ.
“Janganlah kalian berputus asa karena putus asa bukanlah akhlak muslim. Sesungguhnya realita hari ini impian kemarin dan impian hari ini adalah realitas hari esok.”
Gangguan yang menggelayuti kita mesti kita hadapi, karena kita mempunyai iman, kita mempunyai keyakinan dan kita bersama keberkahan Allah swt. Dan itu berangkat dari jiwa optimis yang ada dalam diri kita.
Marilah kita hayati dan yakini sabda Rasulullah saw. Di saat menghantarkan para sahabat dalam perang ahzab:
فَسِيْرُوا بِبَرَكَةِاللهِ وَانَتُمْ فَائِزُون
“Berangkatlah kalian dengan keberkahan Allah, maka kalian akan menang.”
Imam Al Banna pun berpesan:
وَعَلىَ هَذِهِ الدَعَائِمِ القَوِيَّةِ أَسِسُوا نَهْضَتَََكُم وَ أَصْلِحُوا نُفُوسَكُم وَ رَكِّزُوا دَعْوَتََكم و قوُدَوا الأمَّةَ إِلىَ الخَيْرِ، وَاللهُ مَعَكُم وَلَنْ يَتِرَكُم أَعْمَالَكم..
“Di atas tonggak yang kokoh, bangunlah kebangkitan kalian, perbaiki jiwa kalian, fokuskan dawah kalian dan pimpinlah umat menuju kebaikan, niscaya Allah bersama kalian dan tidak akan menyia-nyiakan amal kalian.”
Pesan.. 62009vUTC04bUTCSat, 04 Apr 2009 19:29:04 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Adakah suatu bangsa yang menjadi besar, ketika warganya tidak peduli dan terpecah belah..
adakah negara yang menjadi kuat, ketika pemimpinnya masih bicara aku dan bukan ‘kita’..
PEMILU itu saudara, tak seharusnya buat kita menjadi pilu..
Mensukseskannya menjadikan kita bagian dari solusi untuk negeri ini
karena memang saudara, harapan itu masih ada
(HNW-Ketua MPR RI)
Komitmen Da’i Sejati 62009vUTC04bUTCSat, 04 Apr 2009 17:48:41 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar.3 comments
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …,
maka tidak akan banyak da’i yang berguguran di tengah jalan.
Dakwah akan terus melaju dengan mulus untuk meraih tujuan-tujuannya dan mampu memancangkan prinsip-prinsipnya dengan kokoh.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …,
niscaya hati sekian banyak orang akan menjadi bersih, pikiran mereka akan bersatu, dan fenomena ingin menang sendiri saat berbeda pendapat, akan jarang terjadi.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …,
maka sikap toleran akan semarak, saling mencintai akan merebak, hubungan persaudaraan semakin kuat, dan barisan para da’i akan menjadi bangunan yang berdiri kokoh dan saling menopang.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …,
maka dia tidak akan peduli saat ditempatkan di barisan depan atau belakang.
Komitmennya tidak akan berubah ketika dia diangkat menjadi pemimpin yang berwenang menentukan keputusan dan ditaati
atau hanya sebagai jundi yang tidak dikenal atau tidak dihormati.
Jika komitmennya benar-benar tulus …,
maka hati seorang da’i akan tetap lapang untuk memaafkan setiap kesalahan saudara-saudara seperjuangannya, sehingga tidak akan tersisa tempat sekecil apapun untuk permusuhan dan dendam.
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …,
maka sikap toleran dan memaafkan akan terus berkembang, sehingga tidak ada momentum yang bisa menyulut kebencian, menaruh dendam, dan amarah.
Namun sebaliknya, semboyan yang diusung bersama adalah “saya sadar bahwa saya sering melakukan kesalahan, dan saya yakin anda akan selalu memaafkan saya.”
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …,
maka tidak mungkin akan terjadi kecerobohan dalam menunaikan kewajiban dan tugas dakwah.
Namun yang terjadi adalah fenomena berlomba-lomba untuk melakukan kebaikan dan bersungguh-sungguh untuk mencapai derajat yang lebih tinggi.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …,
maka semua orang akan sangat menghargai waktu. Bagi setiap da’i, tidak ada waktu yang terbuang sia-sia karena dia akan menggunakannya untuk ibadah kepada Allah di sudut mihrab, atau berjuang melaksanakan dakwah dengan menyeru kepada kebaikan atau mencegah kemungkaran.
Atau menjadi murabbi yang gigih mendidik dan mengajari anak serta istrinya di rumah. Da’i yang aktif di masjid untuk menyampaikan nasihat dan membimbing masyarakat.
Jika komitmennya benar-benar tulus …,
maka setiap da’i akan segera menunaikan kewajiban keuangannya untuk dakwah tanpa dihinggapi rasa ragu sedikit pun. Semboyannya adalah “apa yang ada padamu akan habis dan apa yang ada di sisi Allah akan kekal.”
Jika komitmennya benar-benar tulus …,
maka setiap da’i akan patuh dan taat tanpa merasa ragu atau bimbang. Di dalam benaknya, tidak ada lagi arti keuntungan pribadi dan menang sendiri.
Jika komitmen da’i benar-benar tulus …,
maka akan muncul fenomena pengorbanan yang nyata.
Tidak ada kata “ya” untuk dorongan nafsu atau segala sesuatu yang seiring dengan nafsu untuk berbuat maksiat.
Kata yang ada adalah kata “ya” untuk setiap perbuatan yang mendekatkan diri kepada Allah.
Jika komitmen para da’i benar-benar tulus…,
maka setiap anggota akan menaruh kepercayaan yang tinggi kepada pemimpin fikrah. Setiap yang bergabung akan melaksanakan kebijakan pimpinannya dan menegakkan prinsip-prinsip da’wah di dalam hatinya
Jika komitmen terhadap dakwah benar-benar tulus …,
maka setiap orang yang kurang teguh komitmennya akan menangis, sementara yang bersungguh-sungguh akan menyesali dirinya karena ingin berbuat lebih banyak dan berharap mendapat balasan serta pahala dari Allah.
[Komitmen Da'i Sejati - Muhammad Abduh]
Persatuan.. 32009vUTC03bUTCWed, 25 Mar 2009 16:36:48 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi, Simfoni Hati.5 comments
Tadzkiroh…
merenungi kembali pesan-pesan Alm. Ust. Rahmat Abdullah..
merenungi kembali tentang persatuan..
“Dan mereka senantiasa berselisih, kecuali yang dikasihi Tuhanmu…”(QS. Huud:118-119)
Pecah?? knp?
Pertama, sukar untuk mengatakan sesuatu pecah kalau kenyataan sebenarnya mereka tak pernah benar-benar menyatu; satu niat, satu tujuan, satu langkah satu komando dan satu sumber komando
Kedua, kalau memang mereka pernah bersatu, apakah benar-benar dengan syarat-syarat diatas? Apa artinya persatuan tanpa persaudaraan dan apa artinya jamaah tanpa ketaatan?
Ketiga, apakah kesatuan, persatuan, bahkan wujud keberadaan meraka benar-benar memberi manfaat seindah janji, slogan dan seremoni yang selalu memberi harapan dan memupuskan kekekcewaan, setidaknya untuk beberapa saat
Maukah mereka yang telah mengklaim diri berukhuwah untuk menjaga batas tertendah dan tertingginya?
Minimal bila sesuatu menimpa ukhuwah, ia tidak boleh merosot melampaui batas salamatus shard (kesucian hati) terhadap saudaranya dan batas tertingginya al-itsar (memprioritaskan saudara melebihi diri sendiri)
Mereka yang menaruh harapan kepada kinerja suatu instansi ummat, silahkan menjawab, dapatkan unsur-unsur utama da’wah dipenuhi yaitu harakah mustamirrah (gerak yang kontinu), ghayah shahihah (tujuan yang benar), manahij wadlihah, qiadah muhklishah dan junud muthi’ah (pimpinan yang ikhlas dan kader yang taat, QS.Yusuf:108)?
Bila suatu gerakan atau jama’ah tak mampu memenuhi tuntutan tersebut,maka semua tonggak harapan itu sebaiknya dibongkar saja, karena itu hanya akan berbuah sesal dan kecewa
Dari penumbuhan aqidah yang benar lahirlah perilaku yang benar, persaudaraan yg benar dan pengorbanan yang benar..
Apa yang membuat masyarakat Anshar rela menajdikan bumi mereka bumi Islam dan bertekad melindungi Rasulullah SAW seperti mereka melindungi anak-anak dan isteri mereka. Padahal mereka belum pernah melihat wajahnya, kecuali sedikit Anshar yang menerima Islam di Mina beberapa musim haji menjelang hijrah.
Baghyi(permusuhan dan kedengkian) mendominasi sebab-sebab utama perpecahan. Ia dapat bernama dengki, hasad, iri, su’uzhan
Bila saling menghina, buruk sangka, gampang percaya kepada provokasi, tajassus (praktek memata-matai sesama saudara) dan ghibah, menajdi sebab langsung rusaknya sesama saudara, maka pelanggaran janji kepada Allah, pelanggaran komitmen dan perusakan loyalitas menjadi sebab hancurnya persatuan, maraknya permusuhan dan kebencian dan meluasnya pengkhianatan (Al-Ma’idah:13-14)
Pertarungan Paling Beradab
Barangsiapa yang mampu mampu membayangkan betapa sulitnya proses pengambilan keputusan dalam kasus-kasus fitnah yang melanda mulai era khalifah ke-3, akan sangat takjub betapa bijaknya para sahabat dalam menyelesaikan persoalan diantara mereka.
Betapa dangkalnya hujjah mereka yang hobi bertikai, berdalih “para sahabatpun saling bertikai”
Meraka lupa, Imam ALi bin Abi Thalib yang begitu disibukkan oleh kaum Khawarij masih memberikan mereka hak-hak. “Kalian berhak tiga hal atas kami: 1.kami tidak emnutup pintu-pintu masjid kami, 2. Kalian berhak atas ghanimah, selama loyalitas kalian asih kepada kami, 3. kami takkan mengayunkan pedang kepada kalian selama kalian tidak mengayunkan kepada kami
Ketika Ammar bi Yasir ra. yang mendukung khalifah ke III amirul mukminin Ali bin Abi Thalib mendengar seseorang mencaci maki Ummu’l mukminin Aisyah yang sedang berseberangan dengan beliau dalam perang unta (ma’rakah Jamal),
ia berkata kepada orang itu, “Celaka engkau, bukankah engkau tahu ia adalah kekasih Rasulullah SAW dan ia adalah isterinya didunia dan di akhirat. Tetapi Allah ingin menguji kita dengan dia, agar Ia tahu apakah kita taat kepada-Nya atau kepada Aisyah”
Ketika para provokator memanas-manasi Imam Ali dengan pancingan takfir (pengkafiran terhadap sesama muslim) dalam hubungan dengna Muawiyah ra. beliau menjawab ringan: “mereka adalah ikhwan kami yang berontak kepada kami.” Tak ada jenazah mereka yang dibiarkan tanpa diurus secara Islam, kecuali suatu insiden yang lebih merupakan hasil ijtihad sebelum diketahuinya nash.
===============================================================================
Belajar dari tulisan ini..
meresapi lagi makna selama ini,
apa dasar kesatuan kita?
ketika guncangan sedikit dapat menggonjang-ganjingan kita?
Belajar dari para sahabat betapa agungnya kepahaman mereka..
Ketika timbul perbedaan pendapat, berkaca kepada diri kita pribadi.
Sesungguhnya kitalah yg sedang Allah uji dengan bagaimana penyikapan yg kita lakukan thd perbedaan tersebut. Dengan tetap mempertahankan batas terendah hingga tertinggi dari ukhuwah itu sendiri? Karena darisanalah kita bisa menemukan kenapa persatuan kita bina selama ini.. Ya.. hanya karena-Nya
seperti perkataan Ali bin Abi Thalib ketika dalam kondisi ’seteru’ dengan Aisyah..
agar Ia tahu apakah kita taat kepada-Nya atau kepada Aisyah
Ya,
agar Ia tahu apakah kita taat kepada-Nya atau kepadanya?
Guru Kehidupan 72009vUTC03bUTCSun, 15 Mar 2009 21:43:08 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.2 comments
Oleh : KH.Rahmat Abdullah
Dari buku “Pilar-pilar Asasi..”
Ada murid dapat belajar hanya dari guru yang ber-SK, disuapi ilmu dan didikte habis-habisan
Ada yang cukup belajar dari katak yang melompat atau angin yang berhembus pelan lalu berubah menjadi badai yang memporakporandakan kota dan desa
Ada yang belajar dari apel yang jatuh disamping bulan yang menggantung di langit tanpa tangkai itu
Ada guru yang banyak berkata tanpa berbuat. Ada yang lebih pandai berbuat daripada berkata. Ada yang memadukan kata dan perbuatan
Yang istimewa diantara mereka,
“bila melihatnya engkau langsung ingat Allah, ucapannya akan menambah amalmu dan amalnya membuatmu semakin cinta akhirat (khiyarukum man dzakkarakum billahi ru’yatuh wa zada fi’amalikum mantiquh wa raggahabakum fil akhirati ‘amaluh)”
Yang tak dapat belajar dari guru alam dan dinamika lingkungannya, sangat tak berpotensi belajar dari guru manusia
Yang tak dapat mengambil ibrah dari pelajaran orang lain, harus mengambilnya dari pengalaman sendiri, dan untuk itu ia harus membayar mahal
Bani Israil bergurukan nabi Musa As, salah satu Ulul Azmi para rasul dengan azam berdosis tinggi
Bahkan leluhur mereka nabi-nabi yang dikirim silih berganti
Apa yang kurang? Ibarat meniup tungku, bila masih ada api di bara, kayu bakar itu akan menyala, tetapi apa yang kau hasilkan dari tumpukan abu dapur tanpa setiitk api, selain kotoran yang memenuhi wajahmu?
Murid-murid Bebal
Berbicara seputar orang-orang degil, berarti menimbun begitu banyak kata seharusnya
Seharunya Bani Israil berjuang sepenuh jiwa dan raga, bukan malah mengatakan:
“Hai Musa, kami telah disakiti sebelum engkau datang dan setelah engkau datang,” (QS.7:129) karena sesungguhnya mereka tahu ia benar-benar diutus Allah untuk memimpin mereka.
Seharusnya mereka tidak mengatakan: “Kami tak akan masuk kesana (Palestina), selama mereka masih ada disana, maka pergilah engkau dengan tuhanmu, biar kami duduk-duduk disini,” (QS.5:24) karena berita tenggelamnya Fir’aun di lautan dan selamatnya Bani Israil, adalah energi besar yang mampu meruntuhkan semangat orang-orang Amalek yang m enduduki bumi suci yang dijanjikan itu.
Adapun yang ditenggelamkan itu Fir’aun, mitos sejarah yang tak terbayangkan bisa jatuh. Kemudian seharusnya mereka yang dihukum karena sikap dan ucapan dungu tadi, pasrah saja di padang Tih, dengan jatah catering Manna dan Salwa serta tinggal beratapkan awan pelindung dari sengatan terik matahari. Ternyata mereka mengulangi lagi kedegilan lama mereka.
“Hai Musa, kami tak bakalan sabaran dengan jenis makanan monotype, cuma semacam ini, karenanya berdoalah engkau kepada tuhanmu untuk kami, agar ia kelaurkan untuk kami tumbuhan bumi, yaitu: sayur-mayurnya, ketimunnya, bawang puihnya, kacang adasnya dan bawang merahnya.” (QS.2:61)
Betul, manusia memerlukan guru manusia, tetapi apa yang dapat dilihatnya diterik siang di bawah sorotan lampu ribuat watt, bila matanya ditutup rapat?
Tarbiyah dzatiyah atau pendidikan mandiri untuk menguasai mata kuliah kehidupan sangat besar perannya.
Sebuah bangsa yang sudah “merdeka”, namun tak peduli
bagaimana menghemat cadangan energi,
tak tahu bagaimana membuang sampah,
ringan tangan membakar hutan dan me-WC-kan sungai-sungai kota mereka,
tentulah bukan bangsa yang pandai mendidik diri.
Sebuah bangsa yang tergopoh-gopoh ikutan kampanye anti AIDS, dengan hanya menekankan aspek seks aman (dunia) saja tanpa mengingat murka Allah, tentulah bangsa itu belum kunjung dewasa.
Bila diingat 6 dari 10 anak-anak mereka terancam flek paru-paru, lengkap sudah kebebalan itu.
Nurani yang Selalu Bergetar
Konon, Imam Syafi’ie ra sangat malu dan menyesal bila sampai ada orang mengutarakan hajat kepadanya.
“Mestinya aku telah menangkap gejala itu cukup dari kilas wajahnya.”
Mereka yang akrab dengan arus batin manusia, mestinya selalu dapat menangkap isyarat muqabalah (oposit) makna ayat 2:273, “Engkau kenal mereka dengan ciri mereka, tak pernah meminta kepada manusia dengan mendesak.” Sementara yang bukan “engkau” tak dapat membaca gelagat ini: “Si jahil mengira mereka itu kaya, lantaran mereka berusaha menjaga diri.”
Mereka yang berhasil dalam tarbiyah dzatiyah akan tampil sebagai manusia yang jujur, ikhlas dan merdeka.
Karenanya,
“Hindarilah bergincu dengan ilmu sebagaimana engkau menghindari ujub (kagum diri) dengan amal. Jangan pula engkau meyakini bahwa aspek batin dari adab dapat diruntuhkan oleh sisi zahir dari ilmu.
Taatilah Allah dalam menentang manusia dan jangan taati manusia dalam menentang Allah.
Jangan simpan sediktipun potensimu dari Allah dan jangan restui suatu amal kepada Allah yang bersumber dari nafsumu.
Berdirilah dihadapan-Nya dalam shalatmu secara total.”
(Almuhasibi, Risalatu’lmustarsyidin).
Akhirnya, semakin jauh perjalanan tarbiyah dzatiyahnya, semakin banyak kekayaan yang diraihnya.
Ungkapan berikut ini tidak ada kaitannya dengan bid’ah atau khilafiyah fiqh.
Ia lebih mewakili ibrah agar kita tak terjebak pada aktifitas formal atau sebaliknya.
“Pada aspek zahir ada janabah yang menghalangimu masuk rumah-Nya atau membaca kitab-Nya, dan aspek batin juga punya janabah yang menghalangimu memasuki hadhirat keagungan-Nya dan memahami firman-Nya. Itulah ghaflah (kelalaian)”
(Ibnu Atha’illah, Taju’l Arus).
Hakikat Kematangan Ilmu
Kembali ke kematangan pribadi dan keberhasilan tarbiyah dzatiyah, seseorang tak diukur berdasarkan kekayaan hafalannya atau keluasan pengetahuannya, tetapi pada kemampuannya memfungsikan bashirahnya:
“Perumpamaan orang yang aktif dalam dunia ilmu namun tak punya bashirah, seperti 100.000 orang buta berjalan dengan kebingungan. Seandainya ada satu saja di tengah mereka yang dapat melihat walau hanya dengan satu mata, niscaya masyarakat hanya mau mengikuti yang satu ini dan meninggalkan yang 100.000”.
Rasulullah SAW meredakan kemarahan para sahabat yang sangat tersinggung kepada seorang pemuda yang minta izin kepada beliau untuk tetap bisa berzina. “Engkau rela ibumu dizinai orang?” tanya beliau dengan bijak. “Demi Allah, saya tidak rela!” “Relakah engkau jika anak perempuanmu, saudara perempuanmu dan isterimu dizinai orang?”
“Tidak, demi Allah!”
“Nah, demikianlah masyarakat….”
Demikianlah, amtsal merupakan metode pencerahan yang digunakan Al-Qur’an dan Al-Hadist, bahkan dengan kata kunci yang patut dicermati: “….Tak dapat memahaminya kecuali orang-orang yang berilmu” (29:43). Citarasa yang tinggi dibangun dan sensitifitas dipertajam, mengantarkan manusia kepada puncak pencerahan ruhani mereka. Sebuah ungkapan kedewasaan pun “Semua manusia dari Adam dan Adam dari tanah, tak ada perbedaan antara Arab atas Ajam dan Ajam atas Arab melainkan dngan taqwa.”
Itulah zaman, saat sejarah tak lagi dimonopoli raja, puteri dan pangeran, tetapi menjadi hak bersama yang melambungkan nama
Bilal budak hitam abadi dalam adzan, atau Zaid menjadi satu-satunya nama sahabat dalam Al-Qur’an.
Demikianlah kemudian kita kenal Ammar, Sumayyah dan banyak lagi budak yang melampaui prestasi dan prestise para bangsawan.
Padahal 13 abad kemudianpun Eropa masih mempertanyakan perempuan makhluk apa. Dan, para intelektualnya sampai pada kesimpulan “Mereka adalah iblis yang ditampilkan dalam tampilan manusia.” Justru Muhammad SAW telah memberi standar “Takkan memuliakan perempuan kecuali seorang mulia dan takkan menghinakan mereka kecuali manusia hina”.
Sementara para perempuannya seperti dilukiskan puteri Sa’id bin Musayyab: “Kami memperlakukan suami seperti kalian memperlakukan para pemimpin, kami ucapkan: “Ashlahakallah, hayyakallah!”
(Semoga Allah memperbaiki/melindungimu, semoga Allah memuliakanmu).