8 Desember 2009 22009vUTC12bUTCTue, 08 Dec 2009 17:13:04 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi.add a comment
Musashi memillih jalan pedang bagi kehormatan dan harga diri
Ia jadi legenda dan orang berdecak kagum, dulu
dan sekarang saat membawa pedang dikeramaian
hanya mengundang keheranan dan kegelian
Pilihan lebih mencengangkan ialah ‘Jalan panah Antarah bin Syaddad’.
Satu dari tujuh pemilik pusisi panjang yang terpampang di pasar Uqazh, Mekkah ini, bertahun-tahun berjuang sendirian untuk mendapatkan kekasihnya Anlah dan selalu dihalangi.
Akhirnya setelah berhasil mengambil 100 unta paling mahal dari suku paling ganas dan ahli perang, sebagai syarat yang diajukan wali Ablah ia menggapai impiannya.
Pitung, jampang, Lagoa, Robin Hood dan kawan-kawan dengan semua kebesaran itu, mungkin juga menuai kutukan bahkan sesalan.
Paling tidak dari penjajah yang mereka repotkan.
Semua punya prinsip dan punya rasa sayang pada sesama.
Muhammad Toha bukan kekecualian, Bujang Bandung ini sirna bersama gudang mesiu kolonial Belanda yang diledakkannya.
Tetapi tak seorangpun diantara anak bangsa ini yang menggerutui Toha.
Diseberang sana, para penjajah juga membanggakan orang uang paling dikutuki bangsa jajahan. Van Mook, Daendels, atau Westerling di sini, atau Magelhan di Maharlika.
Mereka, pahlawan dari pihak penjajah dan bangsa jajahan -jadi simpul dua kekuatan saling tarung dan meilhat dari dua sudut berseberangan.
“Ekstrimis, teroris!” Kata yang merasa diganggu.
“Pahlawan!”. Kata yang merasa dibelas atau bernasib sama, sama-sama dijajah, dizalimi, dipinggirkan.
Dibenci atau disanjung, kedua belah pihak punya tujuan dan menjadikan jalan pedang, jalan panah, jalan bom sebagai bahasa paling fasih yang dapat mereka bunyikan.
Apakah mereka semacam bangsa Palestina yang telah lebih dari setengah abad dijajah Zionis ISrael tak lebih berhak untuk itu?
Bush, Blair, Sharon, Hawk juga menggunakannya, dengan pretensi mereka yang berhak, yang lain tidak.
Mereka masyarakat berada, yang lain biadab,
mereka moralis, yang lain teroris.
Yahudi bangsa pilihan Tuhan dan Palestina bangsa kutukan-Nya.
Merekapun dikucilkan, divonis sebagai bangsa teroris
serta dijajah saat kolonialisme menjadi barang kuno yang sangat tercela.
(Ust.Rahmat Abdullah, Warisan Sang Murabbi Pilar-pilar Asasi)
8 Desember 2009, Intifhadah ke-22
Sesungguhnya Allah mempunyai bejana-bejana dari penduduk bumi. Dan bejana-bejana Tuhanmu ialah hati hamba-hamba-Nya yang shalih. Yang paling disukai ialah yang paling lembut dan halus. (HR. Thabrani)
Mewarnai Kanvas 32009vUTC10bUTCWed, 14 Oct 2009 20:32:15 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah, Simfoni Hati.2 comments
Tidakkah langit menyimpan pinta..
ketika sesosok jiwa,
ditiupkan ruh ke raganya..
Adakah harapan agar yang tercipta,
jadi memiliki daya?
Mungkin.. bukan Abdullah bin zubeir yang dalam hamil tua Asma,
dibawa menuju masa depan yang entah dengan ketidakpastian macam apa
Mekah menuju madinah kala itu bukan jalan bebas hambatan dengan perjalanan tiga jam saja..
Lautan gunung pasir, kadang berkerikil ataupun gunung batu nyata dihadapan
Sehingga sangat layaklah liur pertama yang masuk dalam dirinya adalah dari sang Rasul mulia..
Mungkin.. tidak sanggup se-selektif Ibunda Syafi’i,
dengan membalik tubuh kanak-kanaknya
coba mengeluarkan makanan yang akan menjadi syubhat bagi dirinya..
Sehingga layaklah Ia menjadi Mufti di usia kelima belasnya
Yang kala shaum ia malah minum di hadapan para muridnya yang lantas bertanya,
dan dengan polosnya.. ia berkata,
“Aku belum wajib berpuasa..”
Mungkin.. tidak pula setangguh Khansa,
yang mendidik para putranya untuk menjadi para mujahid yang rindu syahid
Sehingga ketika ditinggal putra terakhirnya ia menangis,
bukan, bukan karena duka..
tetapi ia malah berkata,
“…Mereka telah berbahagia di surga. Yang ku sedihkan, kini tak ada lagi putra yang dapat kupersembahkan untuk menjadi syuhada”
Mungkin..
mungkin tidak bisa seelok mereka,
melukiskan kanvas putih dengan warna seindah pelangi
Tapi aku belajar para mereka..
bahwa
Seorang anak patut diajarkan perjuangan walaupun masih dalam kandungan..
Seorang anak patut dijauhkan dari syubhat agar akalnya bisa cemerlang..
Seorang anak patut dibentuk pemikirannya agar hidup mulia dan bertemu dengan-Nya sebagai syuhada..
[Karena perempuan adalah madrasah peradaban.. Teriring cita-cita agar tak ada lagi generasi yang mencintai narkoba, tak ada lagi generasi gemar hura-hura, dan cukup, tak ada lagi generasi seperti miyabi.. ]
Iman-Ukhuwah 62009vUTC10bUTCSat, 10 Oct 2009 16:55:35 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.add a comment
Yang di hati tersembunyi,
lisan bisa berdusta,
dan ‘ibadah bisa pura-pura..
Maka Sang Nabi meletakkan banyak ukuran iman dalam KUALITAS HUBUNGAN KITA dengan SESAMA:
berkata yang baik atau diam..
memuliakan tamu..
tak menyakiti tetangga..
amannya sesama dari gangguan lisan dan tangan..
jujur..
amanah..
tepat janji..
tak menggunjing..
tak memfitnah..
saling mencinta.
dan akhlaq mulia
Ya Allah, jaga iman kami dengan ukhuwah..
(Taken from: status FB kang Salim A.Fillah)
Vitalitas 52009vUTC10bUTCFri, 09 Oct 2009 21:13:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi.5 comments
Pernahkah merasa lelah ketika orang-orang disekitar kita semakin banyak dan sering mengeluh?
Pernahkah merasa ingin mundur ketika orang-orang disekitar kita mulai tak searah?
Pernahkah merasa tidak bisa lagi bertahan ketika orang-orang disekitar kita semakin aneh tak terkendali?
Pernahkah merasa tak peduli lagi ketika ucapan dan tindakan tak lagi digubris dan diperhatikan?
Jika itu yang saat ini terjadi, marilah kita buka kembali perbekalan yang dulu pernah kita persiapkan..
Vitalitas (Mencari Pahlawan Indonesia), Ust. Anis Matta
Para pahlawan mukmin sejati selalu unggul dalam kekuatan spiritual dan semangat hidup. Senantiasa ada gelombang gairah kehidupan yang bertalu-talu dalam jiwa mereka. Itulah yang membuat sorot mata mereka selalu tajam, di balik kelembutan sikap mereka. Itulah yang membuat mereka selalu penuh harapan, di saat virus keputusasaan mematikan semangat hidup orang lain. Itulah vitalitas.
Tidak pernahkah kesedihan menghinggapi hati mereka? Tidak ada jalan bagi ketakutan menuju jiwa mereka? Pernahkah mereka tergoda oleh keputusasaan untuk mengundurkan diri dari pentas kepahlawanan? Adakah di saat-saat dimana mereka merasa lemah, cemas, dan tidak mungkin memenangkan pertarungan?
Para pahlawan itu tetaplah manusia biasa. Semua gejala jiwa yang dirasakan oleh manusia biasa juga dirasakan para pahlawan. Ada saat dimana mereka sedih. Ada saat dimana mereka takut. Jenak-jenak kelemahan, keputusasaan, kecemasan dan keterpurukan pun pernah menderita jiwa mereka.
Akan tetapi, yang membedakan para pahlawan adalah bahwa mereka selalu mengetahui bagaimana mempertahankan vitalitas, bagaimana melawan ketakutan-ketakutan dan kesedihan-kesedihan, bagaimana mempertahankan harapan di hadapan keputusasaan, dan bagaimana melampaui dorongan untuk menyerah dan pasrah di saat kelemahan mendera jiwa mereka. Mereka mengetahui bagaimana melawan gejala kelumpuhan jiwa.
Vitalitas hidup biasanya dibentuk dari paduan keberanian, harapan hidup, dan kegembiraan jiwa. Namun, ketiga hal ini dibentuk oleh paduan keyakinan-keyakinan iman dan talenta kepahlawanan dalam diri mereka. Dari sini saya kemudian menemukan bahwa para pahlawan mukmin sejati selalu memiliki tradisi spiritualitas yang khas. Mereka mempunyai kebiasaan-kebiasaan khas yang dibentuk oleh keyakinan yang unik terhadap keghaiban. Dengan cara itu, mereka mempertahankan keyakinan mereka pada pertolongan Allah dan harapan akan kemenangan. Dengan cara itu, mereka mempertahankan stamina perlawanan yang konstan. Kebiasaan-kebiasaan yang khas itu biasanya berbentuk ibadah mahdhoh, tetapi biasanya disertai juga dengan perilaku-perilaku tertentu yang sangat pribadi. Misalnya contoh berikut ini:
Dalam suatu peperangan. Kaum Muslimin menemukan betapa kekuatan Ibnu Taimiyah melampaui para mujahidin lainnya. Merekapun menanyakan rahasia kekuatan itu pada Ibnu Taimiyah. Beliau menjawab, “Ini adalah buah dari Ma’tsurat yang selalu saya baca di pagi hari setelah shalat subuh sampai terbitnya matahari. Saya selalu menemukan kekuatan yang dahsyat setiap setelah melakukan wirid itu. Tapi, jika suatu saat saya tidak melakukannya, saya akan merasa seperti lumpuh hari itu.”
Ya, begitulah, selalu ada ibadah andalan yang membuat mereka berbeda dan menjaga mereka dari keterpurukan.
Ibadah andalan itulah yang semoga bisa menjadi pembeda
yang membuat mata hati ini tetap terjaga agar dapat dengan cermat membedakan mana yang benar dan mana yang salah
dan saudaraku,
Memang hanya Allah-lah satu-satunya yang membuat kita bertahan dijalan ini, dan memang hanya Allah-lah yang memiliki kendali atas diri apakah hidayah ini akan terus bersemi..
Oleh karena itu, pertanyaannya sekarang,
Ibadah mahdoh apa yang menjadi andalan kita agar vitalitas ini tetap terjaga?
Agar tetap teguh kala yang lain runtuh
=Yuk rame-rame Kembali ke Asholah=
Babak Baru Lakon Kehidupan Negeri Merah Jambu 52009vUTC09bUTCFri, 18 Sep 2009 09:13:04 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Simfoni Hati.3 comments
Layar mulai dibuka
Penonton berharap ada lakon baru negeri merah jambu
Semoga bisa mengundang tawa bahagia
bukan kisah lara saja seperti sebelumnya..
Seperti cukup sudah lakon kesedihan yang dibawakan ’sangat apik’ oleh para penyelenggara
Mulai dari lakon gelombang air pasang yang amat tinggi di dunia yang ditutup petasan besar di ibukota
Para penonton berharap ada hal manis..
Tentu saja dengan adegan dan dialog teranyar
Tak apalah juga walau harus dengan pemain sama
Beri saja make-up tebal seperti biasanya agar tampak berbeda
Semoga dana masih ada
untuk bisa membelikan kostum dan pilihkan aksara
Stt..
Sudah mulai, ada apa saja?
Ada kisah dibalik layar
tentang sang kepala yang dalam diam membagi bagi-bagi kue bagi para penyelenggara
Eh, ngapain ribut-ribut dibahas?
Apa peduli kami?
Emang kami dibagi?
Lupakan!
Ada kisah lain
tentang tetangga yang malah naksir Ibu Pertiwi
Dulu diam-diam ambil anaknya, si Bumi
Sekarang ikut-ikutan dalam irama dan gerak tari
Eh, si pembunuh bule malah diekspor kemari
Lalu? apa yang tersisa untuk kami?
Ada lagi, ada lagi
Penyelenggara bikin saweran
Mengeluarkan uang baru bergambar pejuang
Bernama sama lo dengan raja penangkap tikus yang tersandung kemarin dulu
Hmm.. Akankah koin dan nominal lainnya jadi semakin tak berharga?
Ada kisah tentang
raja-raja penangkap para tikus yang malah ditikam tim Fullfill
Polisi dunia dikabarkan malah akan ikut tampil ngelakoni
Alih-alih, Tim Fullfill seolah cari muka dengan jumawa mengadakan konferensi
Karena berhasil (lagi-lagi) menghilangkan nyawa para pembunuh bule punya tetangga
Ada juga kisah tentang perkumpulan beringin lama
Perkumpulan yang dahulu selalu berjaya di pertempuran bertiga
Lagi pada sibuk cari ketua katanya
Anak mantan penguasa serasa perkumpulan lama cuma milik keluarga mereka
Lah, memangnya ini kepemilikan turunan ya?
Eh yang aneh malah para penonton yang berusia muda
Alih-alih menonton pagelaran bersama
Malah sibuk dengan barang barunya..
Itu tu.. temennya blueberry dan strawberry seharga tujuh angka
Pas diliat malah asyik mainin album muka
Menghabiskan berjam-jam untuk saling balas kotak bicara
Tunggu
bumi yang tiba-tiba bergoncang
ribuan penonton menjadi linglung
Tontonan sandiwara memang tak pernah asik bagi mereka
Kalaupun ada kisah pagelaran yang bahagia,
Tampaknya hanya elit bisa merasakan bukan untuk alit..
Penonton mual dikelabui
Awas saja jika seperti yang lalu-lalu..
Terlalu banyak tema!!
Terlalu banyak tema tanpa kisah bahagia nyata
Jika semu saja, tersenyum sedikit lalu menangis lara
Penyelenggara seolah tak tahu dan tak bisa berbuat apa-apa
Sang “Dalang” yang memainkan cerita sedang tertawa terbahak-bahak sampai tak bisa menutup mulutnya
Tapi ada satu yang membuat aku tak kecewa dan bisa melewati tontonan ini seperti biasa
Karena aku tahu Pemilik negeri merah jambu ini tak akan pernah tidur ataupun beristirahat..
Kuingatkan wahai penyelenggara pentas, bahwa kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban
Dan untukmu wahai dalang
Yang memainkan lakon penguras air mata dan penambah duka, bahwa setiap nyawa pasti akan kembali pada-Nya
=============================================================================
Takkala tak ada lagi kesempurnaan
dimana Merah-nya tak lagi menyala
dan Putih-nya yang tak lagi bersuci
Paling tidak perpaduan keduanya
kuharapkan bisa menghadirkan warna cinta, Merah Jambu
dihati rakyat dan pemudanya
Untuk buat Indonesia tertawa bahagia, jangan lagi menangis lara
Untuk buat Indonesia tersenyum manis, jangan lagi tersenyum miris
*Jelang 1 Syawal 1430H, 20092009 , @tanah kelahiran Ibunda
Pembedaan.. 52009vUTC09bUTCFri, 18 Sep 2009 06:04:14 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Simfoni Hati.add a comment
Seringkali banyak hal yang terasa abu-abu..
Ini atau itu membuat ragu..
Harus tertawa berbahagia atau menangis bersedih hati?
Lalu,
marilah simak kisah Sahabat yang satu ini,
yang kisahnya membuat terpana..
Tak habis jika harus bertanya
“Bagaimanalah kekuatan mata hati itu dapat menjadi begitu peka?”
seperti tangis sedih Abu bakar as Shiddiq kala semua sahabat berbahagia
Surat An Nasr itu tertangkap berbeda oleh dirinya
Pernyataan kemenangan yang eksplisit tersampaikan
malah membuat air mata itu terus mengalir?
Ada apakah dengan seseorang yang senantiasa menjadi teman setia Rasulullah tersebut..
Tak bahagiakah setelah perjuangan ‘berlari’ kesana kemari demi menegakkan Dien ini?
Tak bahagiakah bahwa boikot, yang pernah membuat Kekasih-Nya menggigit sol sepatu demi mempertahankan hak perut, usai sudah?
Tak bahagiakah bahwa kini bersama keluarga dapat hidup ‘tenang’ seperti dahulu kala
Hanya kebeningan hatinyalah yang mempu membedakan..
Ketika kabar kemenangan mengisyaratkan tanda perpisahan baginya
Tanda perpisahan?
Ya, hanya Abu bakar yang kala itu menyadari
bahwa ketika kemenangan itu tiba
maka perpisahan dengan kekasih-Nya sudah ada di depan mata
Maka siapakah yang tak akan bersedih hati?
Ya, itulah tanda air mata Abu bakar kala itu
Air mata ditengah semua rasa bahagia atau bahkan tawa
Lalu,
bagaimanalah pula kekuatan mata hati yang berbeda dari khalifah ke tiga?
Saat seorang pemuda masuk ke dalam majelisnya usai melihat seorang wanita cantik diperjalanan tadi
kemudian beliau berkata
“Ada seseorang yang baru bermaksiat dengan matanya memasuki ruangan ini”
pernyataan yang mengundang tanya
“Darimanakah engkau mengetahuinya wahai Utsman? Apakah wahyu turun kepadamu?”
Sahabat yang terkenal amat pemalu itu pun menjawab
“Bukan, ini hanyalah firasat seorang mukmin. Dan Aku bisa melihat ada bekas kemaksiatan dari matanya”
Rabb..
Begitu lembut,
Begitu peka,
Begitu tajam..
mata hati itu
dengan amat tepat dapat merasakan
dapat membedakan..
*28 Ramadhan 1430H, Bulan Ramadhan akan segera berakhir..
Bersedih atau bergembirakah ketika tidak lagi bersamanya?
Grup di Fesbuk? 12009vUTC09bUTCMon, 07 Sep 2009 13:39:12 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah.6 comments
Agak kaget ngeliat traffic di blog yang bentuknya eksponensial (bahasanya…)
Ada kenaikan yang lumayan pesat beberapa hari ini
Ada apa ini? ada apa?
Perasaan udah lama nggak posting
Pas di cek di “referrers” ternyata kebanyakan datang dari facebook
http://www.facebook.com/group.php?gid=124405113132&ref=nf
ketika di cek lagi
ternyata ada sebuah grup bernama “IKHWAH…..Mari Merenungi “Foto Ukhti dimana-mana”
dan.. grup ini ternyata menggunakan tulisan yang pernah agtri tulis di
http://aisyahkecil.wordpress.com/2008/12/27/etika-di-dunia-maya-2/
Jazaakumullah khair untuk akh/ukh Izzatul Islam (ini siapa ya? ada yang kenal?) yang telah membuat grup tersebut
semoga bisa menjadi jalan hidayah dan berbuah amal kebaikan
dan dipersilahkan untuk teman-teman semua jika ada yang ingin join ke grup tersebut
terakhir jumlahnya sudah 3.541 anggota
Hati, Paku, Lubang.. 32009vUTC08bUTCWed, 26 Aug 2009 23:16:09 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Simfoni Hati.9 comments
Ramadhan selain dikenal sebagai Syahrul Qur’an (Bulan Al-Qur’an) juga sering disebut sebagai Syahrul Shabr(Bulan kesabaran)
Nah, bicara tentang kesabaran pasti sangat terkait dengan kemampuan untuk meminta maaf dan memaafkan orang lain
dan.. mengucapkan kata ‘maaf’ bisa jadi tidak sesulit mengatakan ‘iya, saya maafin’
Ada sebuah analogi yang sering agtri pakai,
ketika menyakiti orang lain itu ibarat kita sedang memukulkan sebuah paku ke dinding hati seseorang *di tulisan ini kita sebut sebagai korban
Kebayang?
Pasti sakit kan ya
Kata-kata ‘maaf’ adalah upaya penarikan si-paku yang sudah tertancap dari hati si korban.
Dan itu tergantung si korban, ada 2 kemungkinan:
kemungkinan 1, si korban tidak rela memberikan kata ‘iya saya maafkan’
Maka hal yang akan dirasakan oleh si korban adalah rasa sakit.
Si paku tarik-ulur, sudah akan dicabut tapi tidak bisa-bisa karena terus menerus korban tahan
Dan korban dijamin akan merasa tambah sakit ketika ternyata pelaku tidak melanjutkan usaha meminta maafnya
Di lain pihak, si pelaku bisa jadi sudah merasa plong walaupun belum dimaafkan sepenuhnya, yang jelas pelaku sudah berikhtiar toh untuk minta maaf
kemungkinan 2, si korban memberikan kata ‘iya saya maafkan’
Lalu, paku tersebut tercabut, sakit sih memang untuk si korban tapi paling tidak jangan sampai paku itu terlalu lama tertancap di hati.
Bisa-bisa pakunya jadi karatan
Analogi dunia nyatanya kalau pakunya sudah karatan adalah silaturahim terputus..
Berharap kita semua ada di kondisi kemungkinan kedua,
bagaimana kalau jawabannya gini “kalau kamu minta maaf, dari kemarin-kemarin aku udah maafin” -> titik. Jawaban seperti itu padahal sebelumnya diberi penjelasan A-Z duduk perkaranya ternyata dikasih jawaban gini, jadi bingung kan..
Ini tu dimaafin apa enggak ya?
Nah, ada hal yang kadang kita lupakan,
kembali ke paku dan hati
Ternyata, walaupun paku sudah tercabut dari hati
tetap saja ada bekasnya..
Ada lubang disana, tempat si paku itu pernah tertancap
Pakunya memang sudah tidak ada, sehingga kemungkinan kerusakan karena karat tidak ada.
Tapi ternyata lubang itu menjadi celah luka
celah luka yang hanya si korban yang tahu kapan celah luka itu dapat tertutup sempurna
bukan menjadi luka yang menganga sepanjang masa
yang jelas bekas paku itu pasti ada
membentuk celah luka sebagai betuk ’sakit’ yang berbeda
So? apa yang harus kita lakukan ketika menjadi si-korban?
Teriakkan keras-keras pada diri bahwa
“Aku punya dinding hati yang begitu luas..
Sehingga, ruang kecil tempat paku itu hanyalah seonggok pasir di luasnya padang pasir, hanyalah sebuah buih di dalam samudera, hanyalah sebuah titik di dalam angkasa raya.
Aku masih punya bagian dinding hati yang lain yang begituuuuu luaaaass..
Bukan aku tak peduli, hanya saja itu tak jadi prioritas”
So? apa yang harus kita lakukan ketika menjadi si-pelaku?
Maaf adalah kunci pembuka,
lalu penambal dari lubang hati adalah penuhi hak-hak saudara dengan sepenuhnya
Ketika ucapan maaf tak berbalas semestinya
husnuzhanlah bahwa bliau butuh waktu
dan biarkan waktu yang menjawab, dengan iringan ikhtiar tentunya
Semua manusia (anak Adam) itu melakukan kesalahan, dan sebaik-baik orang yang melakukan kesalahan itu ialah orang-orang yang suka bertaubat (Turmudzi dan Ibn Majah)
-10:53 PM, setelah baca ulang sent item jaman dulu di imel. Sudahkah celah luka itu tertutup sempurna?-
O, Pahlawan Negeriku 22009vUTC08bUTCTue, 25 Aug 2009 07:48:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, PeradaBan.add a comment
Di masa pembangunan ini, Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api (Chairil Anwar)
Kita selalu berkata kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam
Seperti juga kita saat ini
Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu
Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita
Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak
Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu
Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”
Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati”
Pahlawan yang akan membacakan “pernyataan” Mansur Samin:
Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah angkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadugan
Maka datang jugalah aku kesana, akhirnya
Untuk kali pertama
Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata
Seperti dulu aku pernah datang kemakam para Sahabat di Baqi’ dan Uhud
Karena kerinduan itu
Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tulang-tulang berserakan itu
Apakah makna yang kita berikan kepada mereka?
Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita arab yang tak lagi mampu lahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?
Ataukah tak ada lagi ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966,
“merelakan kalian pergi berdemonstrasi.. kalian pergi menyempurnakan.. kemerdekaan negeri ini.”
Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah seperti kata Sayyid Quthb, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”
Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu!
(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)
Bukan hanya bulan kemenangan tapi juga kemerdekaan, bukan hanya bulan kemerdekaan tapi juga bulan kemenangan 22009vUTC08bUTCTue, 25 Aug 2009 07:10:55 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi.2 comments
Negeri para Anbiya…
seribu empat ratus dua puluh delapan tahun hijriyah yang lalu
17 Ramadhan 2 H
313 tentara kaum muslimin melibas 1.000 pasukan kafir Quraisy di Badar
Makkah..
seribu empat ratus dua puluh dua tahun hijriyah yang lalu
21 Ramadhan 8 H
10.000 pasukan kaum muslimin melakukan penaklukan Makkah secara damai
Yaman..
seribu empat ratus dua puluh hijriyah yang lalu
Ramadhan 10 H
Ali bin Abi Thalib bersama sepasukan tentara bertugas membawa surat dari Rasulullah. satu suku berpengaruh disana tanpa paksaan langsung menerima dan masuk Islam
Andalusia, Spanyol
seribu tiga ratus tiga puluh delapan tahun hijriyah yang lalu
Ramadhan 92 H
12.000 pasukan muslimin dapat menaklukkan 100.000 pasukan Raja Rhoderick
Diawali dengan pembakaran kapal-kapal yang diiringi kata-kata “Kita datang kesini tidak untuk kembali. Kita hanya punya dua pilihan, menaklukkan negeri ini dan menetap disini serta mengembangkan Islam atau kita semua binasa(syahid)”
Khurasan..
Seribu tiga ratus satu tahun hijriyah yang lalu
Ramadhan 129 H
keberhasilan dan kemenangan da’wah Bani Abbas dibawah kepemimpinan Abu Mulim Al-Khurasany
Palestine..
Delapan ratus empat puluh enam tahun hijriyah yang lalu
Ramadhan 584 H
Shalahuddin al-Ayubi memperoleh kemenangan besar-besaran atas pasukan Salib Eropa
Tentara Islam menguasai daerah-daerah yang sebelumnya diduduki orang-orang Kristen
Setelah sebelumnya memporak-porandakan kekuatan pasukan Salib di bawah komando Raja Richard (Richard The Lion Heart) III dari Inggris yang akhirnya bertekuk lutut di hadapan Shalahuddin al-Ayubi yang gagah
Kemenangan itu mengakhiri cengkeraman kekuasaan pasukan Salib atas bumi Palestina
Jakarta, Indonesia…
9 Ramadhan 1364 H
17 Agustus 1945 tahun masehi yang kita kenal secara kental
deklarasi kemerdekaan atas nama Proklamasi digaungkan di negeri ini
Pengibaran sang merah putih manjadi pertanda sejarah baru mulai terukir
Indonesia raya mengalun sampaikan pesan-pesan kemerdekaan
Bandung..
Ramadhan 1430 H
Akankah sejarah Ramadhan biasa-biasa saja??
Mana karya?
Mana Makna?
Ramadhan seharusnya menjadi salah satu puncak kesuksesan bagi seorang pejuang
-Agustus 2009, Ramadhan 1430 H-