Mewarnai Kanvas 32009vUTC10bUTCWed, 14 Oct 2009 20:32:15 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah, Simfoni Hati.2 comments
Tidakkah langit menyimpan pinta..
ketika sesosok jiwa,
ditiupkan ruh ke raganya..
Adakah harapan agar yang tercipta,
jadi memiliki daya?
Mungkin.. bukan Abdullah bin zubeir yang dalam hamil tua Asma,
dibawa menuju masa depan yang entah dengan ketidakpastian macam apa
Mekah menuju madinah kala itu bukan jalan bebas hambatan dengan perjalanan tiga jam saja..
Lautan gunung pasir, kadang berkerikil ataupun gunung batu nyata dihadapan
Sehingga sangat layaklah liur pertama yang masuk dalam dirinya adalah dari sang Rasul mulia..
Mungkin.. tidak sanggup se-selektif Ibunda Syafi’i,
dengan membalik tubuh kanak-kanaknya
coba mengeluarkan makanan yang akan menjadi syubhat bagi dirinya..
Sehingga layaklah Ia menjadi Mufti di usia kelima belasnya
Yang kala shaum ia malah minum di hadapan para muridnya yang lantas bertanya,
dan dengan polosnya.. ia berkata,
“Aku belum wajib berpuasa..”
Mungkin.. tidak pula setangguh Khansa,
yang mendidik para putranya untuk menjadi para mujahid yang rindu syahid
Sehingga ketika ditinggal putra terakhirnya ia menangis,
bukan, bukan karena duka..
tetapi ia malah berkata,
“…Mereka telah berbahagia di surga. Yang ku sedihkan, kini tak ada lagi putra yang dapat kupersembahkan untuk menjadi syuhada”
Mungkin..
mungkin tidak bisa seelok mereka,
melukiskan kanvas putih dengan warna seindah pelangi
Tapi aku belajar para mereka..
bahwa
Seorang anak patut diajarkan perjuangan walaupun masih dalam kandungan..
Seorang anak patut dijauhkan dari syubhat agar akalnya bisa cemerlang..
Seorang anak patut dibentuk pemikirannya agar hidup mulia dan bertemu dengan-Nya sebagai syuhada..
[Karena perempuan adalah madrasah peradaban.. Teriring cita-cita agar tak ada lagi generasi yang mencintai narkoba, tak ada lagi generasi gemar hura-hura, dan cukup, tak ada lagi generasi seperti miyabi.. ]
Tentang Persaudaraan Kita 22009vUTC09bUTCTue, 29 Sep 2009 22:00:37 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, Simfoni Hati.1 comment so far
Mata ini mungkin khilaf menilai perilaku..
Telinga ini mungkin salah ketika mendengar kabar tentangmu..
Pikiran kadang larut terlalu mengkhawatirkanmu..
tapi hati ini..
Hati ini tak boleh tak mempercayaimu,
Aku yakin apapun yang kau lakukan adalah yang terbaik saudariku
T-E-R-B-A-I-K
ya terbaik
seperti ucapan yang sering kita lantukan bersama..
untuk mendapatkan Ridha-Nya semata..
HANYA untuk Ridha-Nya semata..
*Berhentilah menjadi para perompak hati, biarlah hati memilih sendiri dimana ia akan melabuhkan diri
Grup di Fesbuk? 12009vUTC09bUTCMon, 07 Sep 2009 13:39:12 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah.6 comments
Agak kaget ngeliat traffic di blog yang bentuknya eksponensial (bahasanya…)
Ada kenaikan yang lumayan pesat beberapa hari ini
Ada apa ini? ada apa?
Perasaan udah lama nggak posting
Pas di cek di “referrers” ternyata kebanyakan datang dari facebook
http://www.facebook.com/group.php?gid=124405113132&ref=nf
ketika di cek lagi
ternyata ada sebuah grup bernama “IKHWAH…..Mari Merenungi “Foto Ukhti dimana-mana”
dan.. grup ini ternyata menggunakan tulisan yang pernah agtri tulis di
http://aisyahkecil.wordpress.com/2008/12/27/etika-di-dunia-maya-2/
Jazaakumullah khair untuk akh/ukh Izzatul Islam (ini siapa ya? ada yang kenal?) yang telah membuat grup tersebut
semoga bisa menjadi jalan hidayah dan berbuah amal kebaikan
dan dipersilahkan untuk teman-teman semua jika ada yang ingin join ke grup tersebut
terakhir jumlahnya sudah 3.541 anggota
Jangan “Kalah” dengan Perempuan 52009vUTC08bUTCFri, 28 Aug 2009 19:40:54 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, Simfoni Hati.add a comment
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (An-Nuur: 30)
================================================================

Tak belajarkah dari sejarah tentang Cleopatra dan Julius Caesar?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Delila dan Samson?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Laila Majnun?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Antoinette dan Revolusi Perancis?
Lantas apa arti dari sejarah ketika tak bisa diperoleh hikmah?
Bila kisah sejarah itu terlalu hiperbolis untuk diterima,
cukuplah sepenggal perkataan dari Rasulullah SAW, Sang qudwah hasanah
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.”
(Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
================================================================
-ditulis bukan untuk apa-apa, (+bukan) tanpa maksud. sapesial untuk yang vi-em-ji, (+bukan) virus makin jayus-
Perempuan Inspirasi Peradaban 22009vUTC08bUTCTue, 04 Aug 2009 08:07:20 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, PeradaBan.1 comment so far
Pernah membaca sebaris kalimat
“Dibalik pemimpin hebat pasti ada perempuan agung”
Yuph, overall Agtri sepakat dengan kalimat ini
Tapi ada sebuah kata yang cukup mengusik..
“Dibalik”
okelah memang ada saat dimana perempuan ada dibalik layar,
Tapi apakah selalu begitu?
Ternyata nggak juga..
Karena perempuan juga Allah berikan potensi untuk bisa menghasilkan karya secara mandiri..
Mandiri disini jangan diartikan sempit bahwa perempuan bisa tidak tergantung sama sekali dengan laki-laki
Mandiri juga bukan berarti menyamaratakan kedudukan laki-laki dan perempuan
Hanya saja yang ingin disampaikan disini adalah bahwa perempuan juga bisa punya andil besar dalam menginspirasi peradaban..
Kita sadari atau tidak, memang hampir seluruh pemimpin ataupun tokoh-tokoh dunia berjender laki-laki,
tapi apakah perempuan tidak punya peluang untuk bisa menginspirasi juga?
Dalam buku “cewek-cewek T.O.P B.G.T” terbitan KAIFA,
dibahas 34 orang perempuan dari masa lalu sampai saat ini yang mengukir karya dan dapat menginspirasi peradaban..
Memang hanya 34 yang terbahas, tapi agtri yakin bahwa jumlahnya pasti jauh lebih banyak dari itu.
Dan ke-34 perempuan ini ditetapkan dengan 2 kriteria utama (yang berat ternyata….):
1. Dia harus meraih sesuatu yang luar biasa di bawah usia 20 tahun (hiks.. kelewatan satu tahun..)
2. ada informasi tertulis tentang diri dan kehidupannya
Beberapa diantaranya,
Hatchepsut, (1508-1458 BC), Fir’aun
Hatshepsut adalah salah seorang wanita sangat berpengaruh pada masa sebelum masehi. sungguh menakjubkan bagaimana sebuah masyarakat yang didominasi oleh laki-laki seperti Mesir bisa menerima Hatchepsut sebagai penguasa. Hatchepsut dipertahankan sebagai Fir’aun selama 20 tahun! Wilayah yang dikuasai Hatchesput membentang dari timur laut Afrika melewati semenanjung Arab sampai wilayah Suriah saat ini. Pemerintahannya diwarnai perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan. Hatshepsut terus berkuasa sendiri sampai kematiannya pada 1458 BC. Ia digambarkan sebagai penguasa Mesir kuno yang berhasil membangun negaranya.
Miranda Barry, (1795-1865) Dokter
Sepertinya tidak terbayang bagaimana susahnya hidup dimasa ketika perempuan tidak diberi kesempatan mendpat pendidikan dan sering dipandang sebelah mata. Miranda Barry terpaksa harus menyembunyikan statusnya sebagai perempuan seumur hidup agar bisa menjadi seorang dokter.
Diakhir hayatnya,Petugas forensik meletakkan perlatannya. Mulutnya menganga sementara asisten-asistennya terbelalak tak percaya, Dr. James Barry yang baru saja meninggal, seorang lelaki pemberani dan terhormat yang mengerjakan operasi pembedahan di berbagai medan perang di seluruh dunia, ternyata bukan lelaki pemberani sama sekali. Dia… seorang perempuan pemberani.
Ratu Victoria, (1819-1901) Penguasa Inggris Raya
Dalam catatan sejarah, Ratu Victoria menduduki urutan pertama wanita paling berpengaruh dalam sejarah. Ketika memasuki Westminster Abbey, Victoria baru genap berusia 19 tahu! Ratu Victoria digambarkan sebagai wanita bertangan besi, yang memiliki pengaruh luar biasa, bukan hanya terbatas pada kerajaannya tapi dia juga memimpin kolonialisme Inggris di seluruh dunia sehingga Inggris menjadi Inggris Raya dengan daerah jajahan yang terbanyak di dunia pada abad ke 19.
Helen Keller (1880-1968)
Kisah kehidupan Hellen Keller tentu sudah akrab di telinga kita. Bayangkan, seseorang yang secara panca indra diuji dengan ketidaksempurnaan dapat begitu menginspirasi dunia. Hellen Keller buta dan tuli. Dunianya pasti terasa amat sepi. Tanpa suara, tanpa warna. Tapi toh semua itu tidak menjadi kendala bagi Helen untuk berkarya. Terbukti, dia berhasil menjadi lulusan terbaik di kelasnya di universitas ternama di Amerika. Dia juga menjadi penulis dan pembela hak-hak ornag tunanetra pada khususnya dan orang-orang cacat pada umumnya, yang sering kali mendapatkan perlakukan diskriminatif dari masyarakat. Helen memperjuangkan hak kaumnya itu untuk memperoleh pengajaran. Hebat, kan?
Yuph, Nama-nama di atas hanyalah segelintir perempuan yang dianggap paling berpengaruh di dunia. Namun lagi-lagi Islam lebih unggul!
Umat islam memiliki perempuan yang jauh lebih berkualitas dari mereka yang disebutkan tadi. Perempuan-perempuan yang melahirkan pemimpin dunia yang telah menorehkan tinta emas sepanjang peradaban manusia.
Di antara mereka, ada perempuan yang dapat mengancam kekuasaan pemerintahan dzolim, dengan misi Tauhid “La Ilaha Illallah muhammad rosulullah”, dan tidak takut mati.
Khadijah binti Khuwaylid. Ia adalah wanita elit suku Quraisy yang terhormat. Bukan hanya kaya raya, khodijah juga terkenal dengan akhlak dan budi pekertinya yang baik. Ia adalah orang yang pertama mengakui kenabian Rasulullah saw. Seorang yang berpengaruh di balik kesuksesan Rasulullah saw dalam bertahan melawan hinaan, cacian, dan dusta yang dilontarkan masyarakat Quraisy saat itu. Memainkan peran besar dalam da’wah nabawiyah, Muhammad saw. Menjaga dan menguatkan suaminya saw dalam menghadapi terror kaum musyrikin.
Bukan hanya itu, Allah telah memberinya jaminan masuk syurga, bahkan telah menyediakan rumah untuknya di syurga.
Inilah karakter ideal seorang muslimah sejati, hingga ia mendapatkan predikat yang sama seperti Maryam. Rasulullah saw bersabda “Keutamaan Khodijah atas ummatku sebagaimana keutamaan Maryam atas seluruh wanita di bumi ini”.
Kalau dulu ada Khadijah, di zaman kontemporer ini ada Zainab Alghozali. Wanita luar biasa yang jika namanya disebutkan, mampu mengubah air muka seorang Gamal Abd Nasir, Presiden Mesir saat itu, yang terkenal diktator.
Berbagai konspirasi dan makar pembunuhan dilakukan atas dirinya, namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa; mulai dari makar kecelakaan mobil yang ditumpanginya hingga berbagai siksaan penjara, tidak mampu mengubah idealisme muslimah sejati pada dirinya sedikitpun; dari fitnah adu domba Abd Nasir terhadap sesama muslim hingga iming-iming jabatan Mentri, tidak pernah bisa memengaruhi hatinya yang kuat dan ikhlas.
Ia adalah seorang pendidik yang luar biasa, bukan hanya di rumah, namun ia mampu menggoncang gelora wanita muslimah lainnya untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, kembali kepada La ilaha illallah Muhammad rasulullah. Tidak menuhankan apapun selain Allah, baik itu berhala ataupun manusia. Kembali kepada Al qur’an dan sunnah saja.
Ia tidak membiarkan dirinya diam sementara saudaranya berada dalam kegelapan yang pekat, kelaparan, dan kesesatan. Lagi-lagi idealisme muslimah dalam dirinya memanggil untuk merubah semuanya secara perlahan tapi pasti. Memperbaiki kondisi masyarakat dengan seruan untuk kembali ke jalan Allah, tidak menyekutukanNya sedikitpun baik dengan harta, ataupun manusia, termasuk Abd Nasir.
Pemikirannya ini dianggap berbahaya, hingga ia dijebloskan ke dalam penjara yang penuh siksaan di luar batas kemanusiaan, bahkan binatangpun tidak pantas memikulnya. Hari-harinya penuh dengan cambukan dan siksaan. Dua minggu dalam penjara tanpa makan, dan minum, dan tanpa buang air! Kasih sayang Allah lah yang membuatnya masih bertahan hidup. Di dalam penjara, ia dipaksa dengan bermacam cara untuk menggadaikan aqidahnya untuk tunduk dan patuh kepada rezim Abd Nasir.
Namun rupanya, hati wanita ini begitu tajam dalam membedakan antara yang haq dan batil, walaupun perbedaannya tampak halus. Sehingga lagi-lagi ia mendapat siksaan yang sama sekali tak manusiawi. Bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan bangsa Tatar sebelumnya. Namun semua itu tidak dapat memadamkan cahaya Allah dalam dirinya.
Dan, barangkali kita berpikir.. Ya itu mah kejauhan.. Saya belum bisa menginspirasi dunia seperti itu..
Buku terbaru dari Tarbawi Press “The Wisdom of Women” adalah sebuah buku yang mengisahkan tentang perempuan-perempuan yang luar biasa..
Mereka ada disekitar kita, dan mereka mampu mengubah sesuatu menjadi tidak biasa.
Dengan kerja kerasnya, dengan keikhlasannya, dengan kesabarannya, dengan perjuangannya.. Kita, perempuan Indonesia seharusnya bisa belajar banyak, dan bukan malah menjadikan perempuan menjadi objek komersial..
Ada Ibu Adriana S.Ginajar yang menjadi pendiri sekolah untuk anak-anak autis, Ibu Kiswati yang (maaf) lulusan SD tetapi mampu membuka taman bacaan dan perpustakaan keliling, Ibu Harini Bambang Wahono yang mengubah kawasan beton menjadi ijo royo-royo, Ibu Septi Peni Wulandari penemu jarimatika. Ada juga kisah istri para tokoh-tokoh Indonesia, Ernalia Sri Bintang (Istri Sri Bintang) dan juga Suciwati (istri Alm.Munir) serta kisah-kisah perempuan luar biasa lainnya
Tentu masih banyak wanita muslimah hebat lainnya yang telah menjadi bagian dari sejarah..
Pertanyaannya adalah Lalu apa inspirasi yang bisa kita berikan untuk peradaban?
Sumber:
Kasim, Nur Atik dan Rose Fauziah. Agar Telapakmu menjadi Surga. 2009. Afra:Surakarta
Wasilah. The Wisdom of Women. 2009. Tarbawi Press: Jakarta
Welden, Amelie dan Michele Roehm. Cewek-cewek T.O.P B.G.T. 2004. Kaifa: Bandung
www.eramuslim.com
*perenungan H+1 jatah usia di dunia berkurang
naNDA, diNDA, buNDA 62009vUTC06bUTCSat, 06 Jun 2009 20:53:14 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, PeradaBan.add a comment
Ada sebuah kisah yang (lagi-lagi) membuat inspirasi untuk dipost (dengan beberapa penyesuaian..)
Sebuah chapter dalam buku Warisan Sang Murabbi, pilar-pilar asasi.. (Baitud Da’wah)
Buku tulisan dari Alm.Ust.Rahmat Abdullah,
yang mengisahkan tentang pentingnya pembinaan keluarga
Ya pembinaan keluarga sebagai tangga kedua dalam pengokohan Peradaban ini, setelah pembinaan diri..
Terutama untuk seorang muslimah,
kitalah akan memegang 3 peranan “NDA” yang luarbiasa, kini dan (insyaAllah) nanti
sebagai anaNDA
sebagai adiNDA
sebagai ibuNDA
anaNDA,peran ini sudah kita pegang saat ini.. yaitu sebagai anak shalihah yang bisa menjadi jalan kemudahan kedua orangtua kita menuju Jannah-Nya,
adiNDA, peran ini bisa melingkupi dua hal yaitu sebagai adik sesungguhnya bagi saudara-saudara kita dan juga sebagai “adik/partner” bagi suami kelak,
dan juga
ibuNda, sebuah peran luar biasa. Karena kita punya andil yang amat besar dalam me’warnai’ kanvas putih yang Allah titipkan
Dan, darimanalah lagi kita sepatutnya belajar jika tidak dari “beliau-beliau”
(sulit sekali menemukan sapaan yang tepat untuk para Sahabat dan Shahabiyah..)
=================================================================================
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya,
Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.
“Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.”
“Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.”
“Siapa sih sepagi ini mengintai kita?” sang ibu balik bertanya.”
“Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.”
Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, ‘Ashim bin Umar.
Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.
Dalam tulisan tersebut, yang dimaksud dengan istilah baitud da’wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato.
Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti layaknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.
Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. “Keterlambatan” itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.
Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral “pewarisan nilai-nilai kehidupan” dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkah laku babi, serigala, harimau, atau musang.
Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru.Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.
Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, “Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya.”
Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya.Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da’wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da’I yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da’iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da’wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.
Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang “naif” Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.
Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur’an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat berlasan baginya untuk “meratapi” bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : “‘Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.” (QS.37:102)
Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, “Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari airbah.” (QS.11:43)
Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:
“Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri.”
==================================================================================
Bahtera keluarga ini, akan kah ia menuju Pelangi?
Tergantung, bagaimana kita bisa menjadi asisten kapten yang membantu Sang kapten untuk menggerakkan kendali bahtera…
Malu.. 62009vUTC05bUTCSat, 16 May 2009 01:24:16 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, HaRaKi, Muslimah.3 comments
“Kajian bulan(an) ini” mengangkat tema tentang malu.
Tulisan ini sempat masuk ke draft(pending) padahal dulu sempat dipublish dan sekarang, saatnya untuk diposting..
Baiklah, sumber utama dari tulisan ini adalah dari dakwatuna.com yang di kolaborasikan dengan konteks ‘ke-lokal-an berdasarkan “kajian bulan(an) ini”..
Ok saudariku, kita mulai..
Malu adalah akhlak yang menghiasi perilaku manusia dengan cahaya dan keanggunan yang ada padanya. Inilah akhlak terpuji yang ada pada diri seorang lelaki dan fitrah yang mengkarakter pada diri setiap wanita. Sehingga, sangat tidak masuk akal jika ada wanita yang tidak ada rasa malu sedikitpun dalam dirinya. Rasa manis seorang wanita salah satunya adalah buah dari adanya sifat malu dalam dirinya.
Apa sih sifat malu itu? Imam Nawani dalam Riyadhush Shalihin menulis bahwa para ulama pernah berkata, “Hakikat dari malu adalah akhlak yang muncul dalam diri untuk meninggalkan keburukan, mencegah diri dari kelalaian dan penyimpangan terhadap hak orang lain.”
Karena itu, beruntunglah orang yang punya rasa malu. Kata Ali bin Abi Thalib, “Orang yang menjadikan sifat malu sebagai pakaiannya, niscaya orang-orang tidak akan melihat aib dan cela pada dirinya.”
Bahkan, Rasulullah saw. menjadikan sifat malu sebagai bagian dari cabang iman. Abu Hurairah r.a. berkata bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Iman memiliki 70 atau 60 cabang. Paling utama adalah ucapan ‘Laa ilaaha illallah’, dan yang paling rendah adalah menyingkirkan gangguan di jalan. Dan sifat malu adalah cabang dari keimanan.” (HR. Muslim dalam Kitab Iman, hadits nomor 51)
Dari hadits itu, kita bisa mengambil kesimpulan bahwa tidak akan ada sifat malu dalam diri seseorang yang tidak beriman. Akhlak yang mulia ini tidak akan kokoh tegak dalam jiwa orang yang tidak punya landasan iman yang kuat kepada Allah swt. Sebab, rasa malu adalah pancaran iman.
Dengan kata lain, seseorang yang kehilangan sifat malunya yang tersisa dalam dirinya hanyalah keburukan. Buruk dalam ucapan, buruk dalam perangai. Tidak bisa kita bayangkan jika dari mulut seorang muslimah meluncur kata-kata kotor lagi kasar. Bertingkah dengan penampilan seronok dan bermuka tebal. Tentu bagi dia surga jauh. Kata Nabi, “Malu adalah bagian dari iman, dan keimanan itu berada di surga. Ucapan jorok berasal dari akhlak yang buruk dan akhlak yang buruk tempatnya di neraka.” (HR. Tirmidzi dalam Ktab Birr wash Shilah, hadits nomor 1932)
Karena itu, menjadi penting bagi kita untuk menghiasi diri dengan sifat malu. Dari mana sebenarnya energi sifat malu bisa kita miliki? Sumber sifat malu adalah dari pengetahuan kita tentang keagungan Allah. Sifat malu akan muncul dalam diri kita jika kita menghayati betul bahwa Allah itu Maha Mengetahui, Allah itu Maha Melihat. Tidak ada yang bisa kita sembunyikan dari Penglihatan Allah. Segala lintasan pikiran, niat yang terbersit dalam hati kita, semua diketahui oleh Allah swt.
Jadi, sumber sifat malu adalah muraqabatullah. Sifat itu hadir setika kita merasa di bawah pantauan Allah swt. Dengan kata lain, ketika kita dalam kondisi ihsan, sifat malu ada dalam diri kita. Apa itu ihsan? “Engkau menyembah Allah seakan melihat-Nya, jika engkau tidak melihat-Nya, sesungguhnya Ia melihatmu,” begitu jawaban Rasulullah saw. atas pertanyaan Jibril tentang ihsan.
Itulah sifat malu yang sesungguhnya. Sebagaimana yang sampai kepada kita melalui Abdullah bin Mas’ud bahwa Rasulullah saw. bersabda, “Malulah kepada Allah dengan malu yang sebenar-benarnya.” Kami berkata, “Ya Rasulullah, alhamdulillah, kami sesungguhnya malu.” Beliau berkata, “Bukan itu yang aku maksud. Tetapi malu kepada Allah dengan malu yang sesungguhnya; yaitu menjaga kepala dan apa yang dipikirkannya, menjaga perut dari apa yang dikehendakinya. Ingatlah kematian dan ujian, dan barangsiapa yang menginginkan kebahagiaan alam akhirat, maka ia akan tinggalkan perhiasan dunia. Dan barangsiapa yang melakukan hal itu, maka ia memiliki sifat malu yang sesungguhnya kepada Allah.” (HR. Tirmidzi dalam Kitab Shifatul Qiyamah, hadits nomor 2382)
Ingat! Malu. Bukan pemalu. Pemalu (khajal) adalah penyakit jiwa dan lemah kepribadian akibat rasa malu yang berlebihan. Sebab, sifat malu tidaklah menghalangi seorang muslimah untuk tampil menyuarakan kebenaran. Sifat malu juga tidak menghambat seorang muslimah untuk belajar dan mencari ilmu. Contohlah Ummu Sulaim Al-Anshariyah.
Saat ini banyak muslimah (muslim juga koq-red-) yang salah menempatkan rasa malu. Apalagi situasi pergaulan pria-wanita saat ini begitu ikhtilath (campur baur). Ketika ada lelaki yang menyentuh atau mengulurkan tangan mengajak salaman, seorang muslimah dengan ringan menyambutnya. Ketika kita tanya, mereka menjawab, “Saya malu menolaknya.” Bagaimana jika cara bersalamannya dengan bentuk cipika-cipiki (cium pipi kanan cium pipi kiri)? “Ya abis gimana lagi. Ntar dibilang gak gaul. Kan tengsin (malu)!”
Bahkan ketika dilecehkan oleh tangan-tangan jahil di kendaraan umum, tidak sedikit muslimah yang diam tak bersuara. Ketika kita tanya kenapa tidak berteriak atau menghardik lelaki jahil itu, jawabnya, sekali lagi, saya malu.
Jelas itu penempatan rasa malu yang salah. Tapi, anehnya tidak sedikit muslimah yang lupa akan rasa malu saat mengenakan rok mini. Betul kepala ditutupi oleh jilbab kecil, tapi busana ketat yang diapai menonjolkan lekak-lekut tubuh.
Begitulah jika urat malu sudah hilang. “Idza lam tastahyii fashna’ maa syi’ta, bila kamu tidak malu, lakukanlah apa saja yang kamu inginkan,” begitu kata Rasulullah saw. (HR. Bukhari dalam Kitab Ahaditsul Anbiya, hadits nomor 3225).
Ada tiga pemahaman atas sabda Rasulullah itu.
Pertama, berupa ancaman. “Perbuatlah apa yang kamu kehendaki, sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.” (QS. Fushhdilat: 40).
Kedua, perkataan Nabi itu memberitakan tentang kondisi orang yang tidak punya malu. Mereka bisa melakukan apa saja karena tidak punya standar moral. Tidak punya aturan.
Ketiga, hadits ini berisi perintah Rasulullah saw. kepada kita untuk bersikap wara’. Jadi, kita menangkap makna yang tersirat bahwa Rasulullah berkata, apa kamu tidak malu melakukannya? Kalau malu, menghindarlah!
Salman Al-Farisi punya pemahaman lain lagi tentang hadits itu. “Sesungguhnya Allah Azza wa Jalla apabila hendak membinasakan seorang hamba, maka Ia mencabut darinya rasa malu. Bila rasa malu telah dicabut, maka engkau tidak akan menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai. Bila engkau tidak menemuinya kecuali sebagai orang yang murka dan dimurkai, maka dicabutlah pula darinya sifat amanah. Bila sifat amanah itu dicabut darinya, maka engkau tidak akan menjumpainya selain sebagai pengkhianat dan dikhianati. Bila engkau tak menemuinya selain pengkhianat dan dikhianati, maka rahmat Allah akan dicabut darinya. Bila rahmat itu dicabut darinya, maka engakau tidak akan menemukannya selain sosok pengutuk dan dikutuk. Bila engkau tidak menemukannya selain sebagai pengkutuk dan dikutuk, maka dicabutlah darinya ikatan Islam,” begitu kata Salman. (HR. Ibnu Majah dalam Kitab Fitan, hadits nomor 4044, sanadnya lemah, tapi shahih)
Wanita yang beriman adalah wanita yang memiliki sifat malu. Sifat malu tampak pada cara dia berbusana. Ia menggunakan busana takwa, yaitu busana yang menutupi auratnya. Para ulama sepakat bahwa aurat seorang wanita di hadapan pria adalah seluruh tubuhnya, kecuali wajah dan telapak tangan.
Terkait dengan busana, tadi juga disinggung mengenai tabbaruj. Seiring perkembangan mode saat ini, bukan berarti kita harus tetap dengan “gaya-gaya lama” tetapi bagaimana membungkus ‘kekinian agar tetap syar’i.
Contohnya, jilbab langsungan. yang banyak sekali saat ini, secara ukuran cukup panjang dan menutup dada. Tetapi ternyata di belakangnya belah, sehingga bentuk tubuh masih bisa tampak. Atau malah ketat di leher? Ok, tetang jilbab longgar, tidak ada pembenaran!! Jangan dipangkas karena ikut mode ya.. Terus ukuran jilbab itu seberapa siy? Nah, Untuk aman dan nyamannya, lebih baik gunakan jilbab yang melewati lengan bawah anti. Jadi yang ketutupan dengan jilbab adalah kepala, bahu, lalu lengan atas dan beberapa centi melewati lengan bawah. Mau sampai pergelangan tangan juga nggak papa.. Kan biar lebih aman dan nyaman…
Nah, perlu waspada juga dengan model-model rompi yang sekarang banyak digunakan, betul ukurannya panjang sampai hampir menyentuh paha. Tetapi dengan modelnya yang ‘lurus’ apa tidak malah membentuk tubuh? apalagi jika menggunakan kaos dobelan, hati2 dengan kaos dobelan yang berbahan licin dan ketat. Atau legging yang kian marak sekarang. Boleh ko pakai legging, siapa bilang nggak boleh.. Dengan syarat, leggingnya dilengkapi dengan rok longgar sampai mata kaki ya ukhty biar klop dan gak masuk angin..
Lanjut..
Menundukkan pandangan juga bagian dari rasa malu. Sebab, mata memiliki sejuta bahasa. Kerlingan, tatapan sendu, dan isyarat lainnya yang membuat berjuta rasa di dada seorang lelaki. Setiap wanita memiliki pandangan mata yang setajam anak panah dan setiap lelaki paham akan pesan yang dimaksud oleh pandangan itu. Karena itu, Allah swt. memerintahkan kepada lelaki dan wanita untuk menundukkan sebagian pandangan mereka.
Memang realitas kekinian tidak bisa kita pungkiri. Kaum wanita saat ini beraktivitas di sektor publik, baik sebagai profesional ataupun aktivis sosial-politik. Ada yang dengan alasan untuk melayani kepentingan sesama wanita yang fitri. Ada juga yang karena keterpaksaan. Tidak sedikit wanita harus bekerja karena ia adalah tulang punggung keluarganya. Sehingga, ikhtilath (bercampur baur dengan lelaki) tidak bisa terhindari.
Untuk yang satu ini, mari kita kutip pendapat Dr. Yusuf Qaradhawi, “Saya ingin mengatakan di sini bahwa kata ikhtilath dalam hal hubungan antara lelaki dan wanita adalah kata diadopsi ke dalam kamus Islam yang tidak dikenal oleh warisan budaya kita pada sejarah abad-abad sebelumnya, dan tidak diketahui selain pada masa ini. Mungkin saja ia berasal dari bahasa asing, hal itu memiliki isyarat yang tidak menenteramkan hati setiap muslim. Yang lebih cocok mungkin bisa menggunakan kata liqa’ atau muqabalah –keduanya berarti pertemuan—atau musyarakah (keterlibatan) seorang lelaki dan wanita, dan sebagainya. Yang jelas, Islam tidak mengeluarkan aturan atau hukum umum terkait dengan masalah ini. Namun hanya melihat tujuan adanya aktivitas tersebut atau maslahat yang mungkin terjadi dan bahaya yang dikhawatirkan, gambaran yang utuh dengannya, dan syarat-syarat yang harus diperhatikan di dalamnya.”
Ada adab yang harus ditegakkan kala terjadi muqabalah antara pria dan wanita. Adab-adab itu adalah:
1. Ada pembatasan tempat pertemuan
2. Menjaga pandangan dengan menundukkan sebagian pandangan
3. Tidak berjabat tangan dalam situasi apa pun dengan yang bukan muhrimnya
4. Hindari berdesak-desakan dan lakukan pembedaan tempat bagi lelaki dan wanita
5. Tidak berkhalwat (berduaan dengan lawan jenis)
6. Hindari tempat-tempat yang meragukan dan bisa menimbulkan fitnah
7. Hindari pertemuan yang lama dan sering, sebab bisa melemahkan sifat malu dan menggoyahkan keteguhan jiwa
8. Hindari hal-hal yang dapat menimbulkan dosa dan keinginan batin untuk melakukan yang haram, ataupun membayangkannya
Khusus bagi wanita, pakailah pakaian yang yang sesuai syariat, tidak memakai wewangian, batasi diri dalam berbicara dan menatap, serta jaga kewibawaan dan beraktivitas. Perhatikan gaya bicara. Jangan genit!
Dengan begitu jelaslah bahwa Islam tidak mengekang wanita. Wanita bisa terlibat dalam kehidupan sosial bermasyarakat, berpolitik, dan berbagai aktivitas lainnya. Islam hanya memberi frame dengan adab dan etika. Sifat malu adalah salah satu frame yang harus dijaga oleh setiap wanita muslimah yang meyakini bahwa Allah swt. melihat setiap polah dan desiran hati yang tersimpan dalam dadanya.
Wanita Keadilan 22009vUTC05bUTCTue, 05 May 2009 09:10:26 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah.5 comments
Semakin jarang terdengar sebuah lagu tentang perempuan yang memang “berkonten” lalu membuat menjadi terinspirasi dan tambah bersemangat..
Nah ini lagunya..
Lagu ini pertama kali agtri dengar di ketika K*mp*ny* terbuka..
Baca liriknya sudah menginspirasi apa lagi ngerjain tugas sambil dengerin lagu ini..
Semangat!!
( siapa bilang “wanita racun dunia”??!!!)
===========================================================================
Wanita Keadilan
by: Shotul Harakah
Perjuangan wanita keadilan
menjadi tiang negara dan agama
landasan bagi generasi masa depan
dalam mengayun siap..
songsong fajar islam
melahirkan wanita indonesia
cedas dan bertakwa
berakhlak mulia dan berbudaya
cermin keagungan negara
Reff:
Damai sejahtera terbentang
menyambut kau berjuang
wanita keadilan
pintunya terbuka untukmu
hai mujahidah
wanita keadilan
Mereka dan Hati 72009vUTC04bUTCSun, 26 Apr 2009 04:39:39 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah.2 comments

bertanya mungkin pada maryam..
yang tegar hadapi fitnah..
“lahirkan seorang anak yang tak berbapak??”
Keyakinan macam apa yang baluti hatinya????
bertanya mungkin pada asiyah..
yang harus hadapi penguasa terkejam yang punya kuasa atas raganya..
ketika ibadah mungkin terasa perih tanpa ada imam yang mampu menjadi pengayom??
ketabahan macam apa yang menjadi penguatnya????
bertanya mungkin pada Hajar..
yang padang pasir tandus menemaninya bersama pula putra yang baru saja dilahirkan..
Ketika pertanyaan “apakah ini kehendak Allah” berbalas “Ya” dari suami tercinta, nyatanya tak ada pertanyaan lanjutkan yang dihaturkan..
pun ketika sang putra hendak disembelih dan pertanyaan berbalas jawaban yang sama, tak jua penolakan disampaikan..
Kelapangan hati macam apa yang dimilikinya???
bertanya mungkin pada Sumayyah..
Saat suami dan putranya dibantai didepan mata..
adakah langkah mundur kebelakang, tepiskan syahid untuk mencari keselamatan?
Ternyata Allah dan Rasulnya lebih dicintai hingga syahid menjadi pilihannya..
Kekuatan macam apa yang buat ia tetap pertahankan tekadnya???
Sekali lagi aku bertanya..
Hati macam apakah yang mereka miliki?
Apakah karang?
Apakah batu?
atau bahkan
Apakah tak punya hati?
Hingga seolah tak mampu lagi rasai perih
Hingga seolah tak mampu lagi rasai sakit
Hingga seolah tak mampu lagi rasai gundah
Kurasa bukan..
Perih itu pasti ada
Sakit itu tentu terasa
Gundah itu juga menyapa
Tapi..
Kehendak Allah lah yang kurasa menjadi utama dan pertama bagi mereka..
Hingga ‘perasaan’ mungkin hanya akan menempati barisan kedua atau seterusnya..
(Tidak.. tidak hanya karena dorongan perasaan kita ‘bergerak’.. Tidak pula hanya karena dorongan logika ‘.. Kita ‘bergerak’, ketika itulah yang Allah inginkan dari kita.. Ketika ‘bergerak’ itu menjadi jalan Ridha dari-Nya.. Haruskah menunggu hingga perasaan nyaman atau logika menerima untuk bergerak padahal ketetapan itu telah jelas dari-Nya?)
Apa yang Ibu Kartini ingin kita lakukan? 22009vUTC04bUTCTue, 21 Apr 2009 09:29:00 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah.6 comments
Perempuan Indonesia..
Apa yang Ibu Kartini ingin kita lakukan?
Apakah dengan perayaan akan hari kelahiran-nya?
Apakah dengan menggunakan kebaya-nya?
Apakah satu hari dengan kain batik-nya?
Apakah membentuk untaian rambut seperti konde-nya?
Apakah hal tersebut?
Lantas,
Apa jadinya jika kartini tidak tidak di ‘Jawa’ tetapi di Medan?
Tentunya bukan batik yang akan dikenakan kita saat ini tetapi ulos..
Apa jadinya jika kartini tidak tidak di ‘Jawa’ tetapi di Palembang?
Tentunya bukan batik yang akan dikenakan kita saat ini tetapi songket..
Ini bukan lelucon Sobat
Bukan, bukan hal kasat mata macam itu yang aku harapkan..
Mungkin itu yang ingin Ibu kartini sampaikan..
Bukan, bukan lekuk kebaya dan batik yang mengundang perhatian yang ingin kalian contoh putriku..
Mungkin itu yang ingin Ibu Kartini katakan..
Bukan, bukan itu semua…
Ibu kartini mungkin menangis melihat para perempuan Indonesia hari ini..
Menangis haru untuk para perempuan yang senantiasa memanfaatkan potensinya untuk bisa berbuat sesuatu bagi bangsa ini, meneruskan perjuangannya..
tapi juga
menangis pilu karena justru ada para perempuan yang tidak menghargai dirinya sendiri
membuat lebur bersama kesenangan untuk ‘menampakkan’ segala sesuatu
Belajar dari beliau,
Semangat untuk memperjuangkan hak,
bukan semangat untuk menyamakan perempuan dan laki-laki..
Semangat bahwa mendidik putra putri bangsa ada di tangan para ibu,
bukan semangat untuk menjadi wanita karier lalu keluarga di nomor keduakan..
Semangat untuk terus bergerak ditengah keterbatasan,
bukan semangat “memanfaatkan segalanya” demi tujuan tertentu
Terlepas dari kesimpang siuran kisah hidupmu Bu..
Kami, perempuan yang menjadi penerusmu yang dianugerahi akal oleh Sang Pencipta,
seharusnya bisa menangkap apa hikmah dari kisah perjalanan hidupmu..
Apa artinya suatu kisah jika tak ada hikmah yang mampu dicerna?
Jangan coba jinakkan mereka dengan harta, nanti mereka semakin liar…
Jangan hibur mereka dengan kecantikan, nanti mereka semakin menderita…
Yang sementara itu tidak akan menyelesaikan masalah…
Kenalkan mereka kepada Allah, Dzat yang kekal, di situlah kuncinya..