Pertanyaan dengan Beragam Alternatif Jawaban 52009vUTC12bUTCFri, 04 Dec 2009 21:27:41 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan.2 comments
Kalau jam segitu itu, di depan rumah biasanya rame sama anak-anak tetangga yang lagi main..
Ada -ada saja yang lakukan, yang paling sering ya..
bermain peran..
Bermain peran?
Ya, mereka biasa memerankan sedang belajar di sekolah, dimarahin ibu di rumah, jadi dokter-dokteran, bahkan jadi artis yang kemarin sinetronnya mereka tonton
Hari ini mereka belajar bersama (walaupun ternyata belajarnya paling 10′ dan sisanya.. ya lari-lari dan teriak-teriak kesana kemari..)
Dari kamar bisa terdengar jelas ketika ada salah seorang yang berperan sebagai guru membacakan pertanyaan yang harus dijawab teman-teman yang lain..
Hm.. sepertinya si ibu guru cilik ini mengambil pertanyaan dari buku LKS (Lembar Kerja Siswa ya kalau tidak salah.. Jaman SD sampai SMA masih pakai yang kayak beginian perasaaan..)
Nah yang menarik adalah pertanyaan-pertanyaan yang dibacakan oleh si ibu guru. Dari 10 pertanyaan yang dibacakan, dan ada 3 pertanyaan yang menurut agtri ‘menarik’
1. Benda yang terdapat di kamar mandi adalah:
a. sikat gigi b. payung c. baju
2. Benda yang terdapat di ruang tamu adalah:
a. kursi b. lemari es c. televisi
3. Benda yang digunakan untuk membersihkan kotoran adalah:
a. sapu b. buku c. koran
Ada yang aneh dari pertanyaan-pertanyaan ini?
Dahulu ketika kita seusia mereka di Sekolah Dasar barangkali pertanyaan-pertanyaan ini bukan sesuatu yang harus dikatakan ’sulit’.
Toh kita pasti akan memberikan jawaban A untuk semua pertanyaan.
Kunci jawaban dan jawaban ‘kebiasaannya’ seperti itu bukan?
Tapi coba kita berhenti sejenak
dan coba bandingkan pertanyaan dari LKS yang dibuat untuk bisa digunakan dari sabang sampai merauke, dari perkotaan sampai pedesaan,
dari sekolah jutaan sampai sekolah pinggiran..
Apakah pertanyaan multiple choice seperti ini bisa ‘merangkul’ semuanya?
Pertanyaan pertama, benda apa yang terdapat di kamar mandi?
(Nanti, pada coba masuk ke kamar mandi ya..)
“Hm.. Benda apa yang ada di kamar mandi?
Kayaknya siy sikat gigi,
Tapi bentar-bentar..”
Bukankah akan membingungkan bagi seorang anak ketika dia masuk kamar mandi ternyata ketiga pilihan itu ada di kamar mandinya selama ini..
1. Sikat gigi (ya.. tentu saja, hampir seluruh keluarga pasti menyimpan sikat gigi di kamar mandi)
2. Baju.
Loh.. tapi ko baju juga ada di kamar mandi ya?
Pikir sang anak..
Jangan bayangkan setiap anak tinggal di rumah gedongan yang di setiap kamarnya ada fasilitas kamar mandi sendiri-sendiri.
Di negeri kita ini kebanyakan kamar mandi bergabung dengan tempt mencuci baju (bahkan mencuci piring)?
Itu pun berarti sudah beruntung ketimbang harus ke MCK bersama atau ke sungai
Betul tidak?
Maka jangan heran sang anak akan kebingungan menjawab pertanyaan ini karena ternyata di kamar mandinya selain ada sikat gigi juga banyak baju rendaman ibunya untuk dicuci nanti..
3. Payung. Belum lagi.. kalau ternyata space untuk menggantung sekaligus mengeringkan payung di musim hujan cuma ada di kamar mandi. Ya, si payung akan sering bertengger dimusim hujan di kamar mandi sang anak.
Lengkaplah kebingungan sang anak..
Pertanyaan kedua, benda apa yang terdapat di ruang tamu:
- Buat anak yang di rumah gedongan:
“loh ko’.. ada dua jawaban benar ya? ah.. barangkali itu kurang ‘kecuali’..
Di ruang tamu memang ada televisi dan lemari es. Toh hampir disetiap ruangan di rumahku juga ada yang kek gini.
Nah.. kalo kursi baru gak ada keknya..
kan kalau di ruang tamu ada-nya sofa bukan kursi..”
Singkat cerita sesuailah jawaban si anak gedongan dengan kunci jawaban yang ada. Padahal..
- Buat anak yang dalam kondisi sebaliknya:
“bingung ih..
Ruang tamu? haha, boro-boro ruang tamu.
Ruang keluarga, dapur, tempat tidur ya disana-sana juga..
Terus yang mana ya jawabannya?
kursi? ada kayaknya
lemari es? jelas donk, kan buat emak jualan es lilin dan es batu ke tetangga
televisi? nah ini yang gak ada..
Hmm.. kayaknya pertanyaannya kurang ‘kecuali’ deh..
Ya udah pilih televisi aja kalau gitu”
Singkat cerita, tidak samalah jawaban anak ini dengan kunci jawaban. Padahal…
Pertanyaan ketiga, benda apa yang digunakan untuk membersihkan kotoran:
Duh..
ini pertanyaan paling membingungkan untuk dijawab
Sapu? ya jelaslah ya..
Koran? Pernah ngebersiin kaca pakai koran? Pernah ngelap debu pakai koran?
So, jawaban ini bisa bener juga kan..
Buku? ya yang ini juga sebenernya bisa juga kalau kepepet.. Tapi ya udahlah anggep aja enggak.
Tapi tetap saja, ada hal yang dianggap remeh oleh para pendidik..
Jujur saja, kita selama ini seringkali dibentuk dengan satu jawaban pasti dan menutup kreativitas untuk bisa menemukan alternatif-alternatif jawaban lainnya.
Dalam ilmu pastipun kita terbiasa dan terpola untuk menggunakan rumus instant yang memang sudah umum digunakan.
Tidak heran bahkan ketika SPMBpun, yang Agtri lakukan adalah menghapal rumus-rumus
Bimbingan belajar pun mengajarkan berbagai rumus cepat
Bagus memang,
tetapi tidak tahan lama
Masuk kuliah, ketemu kalkulus
*brak
beberapa anak biasanya terhantam
Pakai rumus ini ko gak bisa, yang ini juga
Padahal memang harus paham konsepnya bukan hapal rumusnya..
Itulah mengapa pertanyaan-pertanyaan yang tadi dibacakan ibu guru cilik mengingatkan kembali tentang kualitas pendidikan negeri kita saat ini.
Bahwa, ya.. itulah mengapa kualitas setiap orang bisa amat jauh berbeda tergantung dimana dia bersekolah. Kalaupun ada “anak istimewa”, ya itu memang anugerah baginya
So? How?
*belum berani menjawab, karena belum membuktikan.. ![]()
Cuma berharap keputusan ttg UN segera keluar
Nah tentang berpikir luar biasa, ada dua kasus yang patut menjadi contoh
Pikirkanlah beragam alternatif untuk menyelesai masalah, tapi jangan lupa untuk “Make It Simple..”
Kasus 1:
kasus kotak sabun yang kosong,
yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar diJepang.
Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong.
Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman.
Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.
Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.
Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.
Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang
rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.
Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan.
Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.
Easy? Yuph..
Kasus 2
Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.
Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar.
Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai
dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.
Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia?
Mereka menggunakan pensil!
Ngangkot.. 22009vUTC11bUTCTue, 17 Nov 2009 21:13:17 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan.4 comments
Hmm.. banyak orang menganggap bahwa sarana tempat mendapatkan informasi adalah televisi dan internet..
Tetapi, menurut agtri ada satu lagi sarana yang bisa membuat kita bisa mendapatkan buanyakk sekali informasi
Apakah itu?
Jawabnya angkot..
alias angkutan kota
Kenapa gitu?
pengen tahu apa lagu terbaru yang lain nge-trend? naiklah angkot
pengen tahu skor bola tadi malam? naiklah angkot
pengen tahu gimana trend baju anak muda yang lain marak? naiklah angkot
pengen tahu gimana model jilbab yang lagi digandrungi? naiklah angkot
pengen tahu tempat nongkrong paling digemari anak jaman sekarang? naiklah angkot
Yuph, naiklah angkot, maka kita akan menemukan realita yang tengah berkembang..
Bisa dilihat, gimana ‘ngotot’nya orang-orang untuk duduk dekat pintu masuk tanpa sadar menghalangi orang yang baru akan naik..
Bisa ditemui, gimana perilaku orang-orang ketika ibu2 dengan bawaan kardus dan keranjang sayur yang segitu banyak tak dibantu tapi hanya diterima melalui kerlingan mata..
Bisa dijumpai, gimana perilaku penumpang dan supir yang saling bersitegang karena perkara duit 500 perak..
Bisa diperhatikan, gimana tingkah laku remaja putri dengan pakaian pendek yang menyulitkan diri sendiri ketika akan naik, duduk, dan turun angkot. Tangan yang satu sibuk membawa tas sembari tangan lainnya sibuk menarik pakaian seolah bisa membuatnya menjadi lebih layak..
Bisa dirasakan, gimana perilaku para pengemudi angkot yang saling kebut untuk mendapatkan penumpang lebih banyak, dilain waktu saling berlama-lama berhenti ditepi jalan tanpa terlihat siapa yang sebenarnya yang ditunggu..
Huffh.. tak adakah ibrah indah yang bisa ditemui dari angkot?
terutama pengemudinya?
Ndak juga ternyata,,
Beberapa hari yang lalu dalam perjalanan menuju tepat aktivitas yang hanya 10 menit perjalanan itu..
di belokan sumur bandung, simpang dago, “Ibu, ini kembaliannya, 2.500 saja kalau dari sana mah..”
tak hanya sekali itu,
digerbang belakang kampus ketika dua orang mahasiswa turun..
“Udah Den, seribuan aja kalau dari gandok..” dan dari 3 lembar uang seribuan itu, hanya dua lembar yang diambil beliau..
dan.. lebih terenyuh lagi ketika di gerbang depan kampus ketika turun dan memberikan ongkos yang tak seberapa itu, aku terdiam menunggu apa yang akan bliau katakan.. apakah kurang? bukan..
Beliau mengatakan “Hatur nuhun Neng..”
Uang tak seberapa yang bisa jadi sangat berharga bagi mereka..
Dan terlebih, sikap Bapak sopir itulah yang memberikan pesona hingga tulisan ini ter-publish juga
Subhanallah..
Mungkin bapak sopir tersebut tidak tahu bahwa aura positif yang beliau keluarkan di pagi hari itu menjadi energi positif bagi orang-orang disekitarnya termasuk untukku..
Dan memang seperti itu, kadang senyuman ramah dari kita menjadi cahaya bagi yang sedang berduka..
Kadang jabat tangan erat tanda persaudaraan menjadi penguat bagi yang sedang lemah
kadang ciuman di pipi dengan sepenuh hati bisa menjadi energi bahwa kita tak sendiri
Intinya,
1. sebarkan aura positif dimana-mana.. Jauhi mengeluh..
dan
2. GUNAKANLAH PUBLIC MASS TRANSPORTATION
contohnya ya pakai angkot ini..
Bumi ini sudah terlalu jenuh dengan manusia-manusia yang egois membuang logam berat setiap harinya hanya untuk keperluan dirinya sendiri..
Mosok mobil pribadi dengan kapasitas 5-8 orang digunakan hanya untuk 1 orang?
Sayangkan..
Lagian banyakkan ‘informasi’ yang bisa didapatkan dari angkutan umum
*Hm.. jadi pengen bikin tulisan tentang public mass transportation
[Duh.. nulis apa siy agtri.. Gini nih kalau udah lama nggak nulis..
Semua hal ingin ditulis tapi jadi malah bingung sendiri..]
Negeri Merah Jambu: Memilih Reptil.. 22009vUTC11bUTCTue, 03 Nov 2009 11:51:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan.add a comment

Cinta-an mana? Sama CICAK atau BUAYA?
Hufhh..
Kenapa kondisi memaksa untuk memilih?
Seolah ketika yang satu benar maka yang lain pasti salah
Bukankah, Pendapat saya mungkin benar, tetapi bisa salah
Pendapat dia salah, tetapi mungkin saja benar?
Jadi… Mana ini wasitnya?
Yach, jangan tanya MANA wasitnya..
Pertanyaan SIAPA wasitnya saja belum terjawab!
(Lagi-lagi “dalang”nya makin keras tawanya melihat kita tanpa sadar saling menggembosi satu sama lain.. oh, negeri merah jambu.. Kapan warnamu akan kembali sesuai hakikatnya..)
===================================================
Takkala tak ada lagi kesempurnaan
dimana Merah-nya tak lagi menyala
dan Putih-nya yang tak lagi bersuci
Paling tidak perpaduan keduanya
kuharapkan bisa menghadirkan warna cinta, Merah Jambu
dihati rakyat dan pemuda
taklupa juga beserta para penguasanya
O, Pahlawan Negeriku 22009vUTC08bUTCTue, 25 Aug 2009 07:48:51 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, PeradaBan.add a comment
Di masa pembangunan ini, Tuan hidup kembali. Dan bara kagum menjadi api (Chairil Anwar)
Kita selalu berkata kepada nurani kita ketika kita melewati persimpangan jalan sejarah yang curam
Seperti juga kita saat ini
Saat ini benar kita merindukan pahlawan itu
Karena krisis demi krisis telah merobohkan satu per satu sendi bangunan negeri kita
Negeri ini hampir seperti kapal pecah yang tak jemu-jemu dihantam gunungan ombak
Ditengah badai ini kita merindukan pahlawan itu
Pahlawan yang, kata Sapardi, “telah berjanji kepada sejarah untuk pantang menyerah”
Pahlawan yang, kata Chairil Anwar, “berselempang semangat yang tak bisa mati”
Pahlawan yang akan membacakan “pernyataan” Mansur Samin:
Demi amanat dan beban rakyat
Kami nyatakan ke seluruh dunia
Telah angkit di tanah air
Sebuah aksi perlawanan
Terhadap kepalsuan dan kebohongan
Yang bersarang dalam kekuasaan
Orang-orang pemimpin gadugan
Maka datang jugalah aku kesana, akhirnya
Untuk kali pertama
Ke Taman Makam Pahlawan, di Kalibata
Seperti dulu aku pernah datang kemakam para Sahabat di Baqi’ dan Uhud
Karena kerinduan itu
Dan kudengar Chairil Anwar seperti mewakili mereka
Kami sudah coba apa yang kami bisa
Tapi kerja belum selesai, belum apa-apa
Kami sudah beri kami punya jiwa
Kerja belum selesai, belum bisa memperhitungkan arti 4-5 ribu nyawa
Kami Cuma tulang-tulang berserakan
Tapi adalah kepunyaanmu
Kaulah lagi yang tentukan nilai tulang-tulang berserakan
Tulang-tulang berserakan itu
Apakah makna yang kita berikan kepada mereka?
Ataukah tak lagi ada wanita di negeri ini yang mampu melahirkan pahlawan?
Seperti wanita-wanita arab yang tak lagi mampu lahirkan lelaki seperti Khalid bin Walid?
Ataukah tak ada lagi ibu yang mau, seperti kata Taufiq Ismail di tahun 1966,
“merelakan kalian pergi berdemonstrasi.. kalian pergi menyempurnakan.. kemerdekaan negeri ini.”
Tulang-tulang berserakan itu. Apakah makna yang kita berikan kepada mereka? Ataukah seperti kata Sayyid Quthb, “Kau mulai jemu berjuang, lalu kau tanggalkan senjata dari bahumu?”
Tidak! Kaulah pahlawan yang kurindu itu. Dan beratus jiwa di negeri sarat nestapa ini. Atau jika tidak, biarlah kepada diriku saja aku berkata: jadilah pahlawan itu!
(Anis Matta, Mencari Pahlawan Indonesia)
Perempuan Inspirasi Peradaban 22009vUTC08bUTCTue, 04 Aug 2009 08:07:20 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, PeradaBan.1 comment so far
Pernah membaca sebaris kalimat
“Dibalik pemimpin hebat pasti ada perempuan agung”
Yuph, overall Agtri sepakat dengan kalimat ini
Tapi ada sebuah kata yang cukup mengusik..
“Dibalik”
okelah memang ada saat dimana perempuan ada dibalik layar,
Tapi apakah selalu begitu?
Ternyata nggak juga..
Karena perempuan juga Allah berikan potensi untuk bisa menghasilkan karya secara mandiri..
Mandiri disini jangan diartikan sempit bahwa perempuan bisa tidak tergantung sama sekali dengan laki-laki
Mandiri juga bukan berarti menyamaratakan kedudukan laki-laki dan perempuan
Hanya saja yang ingin disampaikan disini adalah bahwa perempuan juga bisa punya andil besar dalam menginspirasi peradaban..
Kita sadari atau tidak, memang hampir seluruh pemimpin ataupun tokoh-tokoh dunia berjender laki-laki,
tapi apakah perempuan tidak punya peluang untuk bisa menginspirasi juga?
Dalam buku “cewek-cewek T.O.P B.G.T” terbitan KAIFA,
dibahas 34 orang perempuan dari masa lalu sampai saat ini yang mengukir karya dan dapat menginspirasi peradaban..
Memang hanya 34 yang terbahas, tapi agtri yakin bahwa jumlahnya pasti jauh lebih banyak dari itu.
Dan ke-34 perempuan ini ditetapkan dengan 2 kriteria utama (yang berat ternyata….):
1. Dia harus meraih sesuatu yang luar biasa di bawah usia 20 tahun (hiks.. kelewatan satu tahun..)
2. ada informasi tertulis tentang diri dan kehidupannya
Beberapa diantaranya,
Hatchepsut, (1508-1458 BC), Fir’aun
Hatshepsut adalah salah seorang wanita sangat berpengaruh pada masa sebelum masehi. sungguh menakjubkan bagaimana sebuah masyarakat yang didominasi oleh laki-laki seperti Mesir bisa menerima Hatchepsut sebagai penguasa. Hatchepsut dipertahankan sebagai Fir’aun selama 20 tahun! Wilayah yang dikuasai Hatchesput membentang dari timur laut Afrika melewati semenanjung Arab sampai wilayah Suriah saat ini. Pemerintahannya diwarnai perdamaian, stabilitas, dan kesejahteraan. Hatshepsut terus berkuasa sendiri sampai kematiannya pada 1458 BC. Ia digambarkan sebagai penguasa Mesir kuno yang berhasil membangun negaranya.
Miranda Barry, (1795-1865) Dokter
Sepertinya tidak terbayang bagaimana susahnya hidup dimasa ketika perempuan tidak diberi kesempatan mendpat pendidikan dan sering dipandang sebelah mata. Miranda Barry terpaksa harus menyembunyikan statusnya sebagai perempuan seumur hidup agar bisa menjadi seorang dokter.
Diakhir hayatnya,Petugas forensik meletakkan perlatannya. Mulutnya menganga sementara asisten-asistennya terbelalak tak percaya, Dr. James Barry yang baru saja meninggal, seorang lelaki pemberani dan terhormat yang mengerjakan operasi pembedahan di berbagai medan perang di seluruh dunia, ternyata bukan lelaki pemberani sama sekali. Dia… seorang perempuan pemberani.
Ratu Victoria, (1819-1901) Penguasa Inggris Raya
Dalam catatan sejarah, Ratu Victoria menduduki urutan pertama wanita paling berpengaruh dalam sejarah. Ketika memasuki Westminster Abbey, Victoria baru genap berusia 19 tahu! Ratu Victoria digambarkan sebagai wanita bertangan besi, yang memiliki pengaruh luar biasa, bukan hanya terbatas pada kerajaannya tapi dia juga memimpin kolonialisme Inggris di seluruh dunia sehingga Inggris menjadi Inggris Raya dengan daerah jajahan yang terbanyak di dunia pada abad ke 19.
Helen Keller (1880-1968)
Kisah kehidupan Hellen Keller tentu sudah akrab di telinga kita. Bayangkan, seseorang yang secara panca indra diuji dengan ketidaksempurnaan dapat begitu menginspirasi dunia. Hellen Keller buta dan tuli. Dunianya pasti terasa amat sepi. Tanpa suara, tanpa warna. Tapi toh semua itu tidak menjadi kendala bagi Helen untuk berkarya. Terbukti, dia berhasil menjadi lulusan terbaik di kelasnya di universitas ternama di Amerika. Dia juga menjadi penulis dan pembela hak-hak ornag tunanetra pada khususnya dan orang-orang cacat pada umumnya, yang sering kali mendapatkan perlakukan diskriminatif dari masyarakat. Helen memperjuangkan hak kaumnya itu untuk memperoleh pengajaran. Hebat, kan?
Yuph, Nama-nama di atas hanyalah segelintir perempuan yang dianggap paling berpengaruh di dunia. Namun lagi-lagi Islam lebih unggul!
Umat islam memiliki perempuan yang jauh lebih berkualitas dari mereka yang disebutkan tadi. Perempuan-perempuan yang melahirkan pemimpin dunia yang telah menorehkan tinta emas sepanjang peradaban manusia.
Di antara mereka, ada perempuan yang dapat mengancam kekuasaan pemerintahan dzolim, dengan misi Tauhid “La Ilaha Illallah muhammad rosulullah”, dan tidak takut mati.
Khadijah binti Khuwaylid. Ia adalah wanita elit suku Quraisy yang terhormat. Bukan hanya kaya raya, khodijah juga terkenal dengan akhlak dan budi pekertinya yang baik. Ia adalah orang yang pertama mengakui kenabian Rasulullah saw. Seorang yang berpengaruh di balik kesuksesan Rasulullah saw dalam bertahan melawan hinaan, cacian, dan dusta yang dilontarkan masyarakat Quraisy saat itu. Memainkan peran besar dalam da’wah nabawiyah, Muhammad saw. Menjaga dan menguatkan suaminya saw dalam menghadapi terror kaum musyrikin.
Bukan hanya itu, Allah telah memberinya jaminan masuk syurga, bahkan telah menyediakan rumah untuknya di syurga.
Inilah karakter ideal seorang muslimah sejati, hingga ia mendapatkan predikat yang sama seperti Maryam. Rasulullah saw bersabda “Keutamaan Khodijah atas ummatku sebagaimana keutamaan Maryam atas seluruh wanita di bumi ini”.
Kalau dulu ada Khadijah, di zaman kontemporer ini ada Zainab Alghozali. Wanita luar biasa yang jika namanya disebutkan, mampu mengubah air muka seorang Gamal Abd Nasir, Presiden Mesir saat itu, yang terkenal diktator.
Berbagai konspirasi dan makar pembunuhan dilakukan atas dirinya, namun Allah tidak pernah menyia-nyiakan hambaNya yang bertaqwa; mulai dari makar kecelakaan mobil yang ditumpanginya hingga berbagai siksaan penjara, tidak mampu mengubah idealisme muslimah sejati pada dirinya sedikitpun; dari fitnah adu domba Abd Nasir terhadap sesama muslim hingga iming-iming jabatan Mentri, tidak pernah bisa memengaruhi hatinya yang kuat dan ikhlas.
Ia adalah seorang pendidik yang luar biasa, bukan hanya di rumah, namun ia mampu menggoncang gelora wanita muslimah lainnya untuk kembali kepada ajaran Islam yang murni, kembali kepada La ilaha illallah Muhammad rasulullah. Tidak menuhankan apapun selain Allah, baik itu berhala ataupun manusia. Kembali kepada Al qur’an dan sunnah saja.
Ia tidak membiarkan dirinya diam sementara saudaranya berada dalam kegelapan yang pekat, kelaparan, dan kesesatan. Lagi-lagi idealisme muslimah dalam dirinya memanggil untuk merubah semuanya secara perlahan tapi pasti. Memperbaiki kondisi masyarakat dengan seruan untuk kembali ke jalan Allah, tidak menyekutukanNya sedikitpun baik dengan harta, ataupun manusia, termasuk Abd Nasir.
Pemikirannya ini dianggap berbahaya, hingga ia dijebloskan ke dalam penjara yang penuh siksaan di luar batas kemanusiaan, bahkan binatangpun tidak pantas memikulnya. Hari-harinya penuh dengan cambukan dan siksaan. Dua minggu dalam penjara tanpa makan, dan minum, dan tanpa buang air! Kasih sayang Allah lah yang membuatnya masih bertahan hidup. Di dalam penjara, ia dipaksa dengan bermacam cara untuk menggadaikan aqidahnya untuk tunduk dan patuh kepada rezim Abd Nasir.
Namun rupanya, hati wanita ini begitu tajam dalam membedakan antara yang haq dan batil, walaupun perbedaannya tampak halus. Sehingga lagi-lagi ia mendapat siksaan yang sama sekali tak manusiawi. Bahkan lebih buruk dari apa yang dilakukan bangsa Tatar sebelumnya. Namun semua itu tidak dapat memadamkan cahaya Allah dalam dirinya.
Dan, barangkali kita berpikir.. Ya itu mah kejauhan.. Saya belum bisa menginspirasi dunia seperti itu..
Buku terbaru dari Tarbawi Press “The Wisdom of Women” adalah sebuah buku yang mengisahkan tentang perempuan-perempuan yang luar biasa..
Mereka ada disekitar kita, dan mereka mampu mengubah sesuatu menjadi tidak biasa.
Dengan kerja kerasnya, dengan keikhlasannya, dengan kesabarannya, dengan perjuangannya.. Kita, perempuan Indonesia seharusnya bisa belajar banyak, dan bukan malah menjadikan perempuan menjadi objek komersial..
Ada Ibu Adriana S.Ginajar yang menjadi pendiri sekolah untuk anak-anak autis, Ibu Kiswati yang (maaf) lulusan SD tetapi mampu membuka taman bacaan dan perpustakaan keliling, Ibu Harini Bambang Wahono yang mengubah kawasan beton menjadi ijo royo-royo, Ibu Septi Peni Wulandari penemu jarimatika. Ada juga kisah istri para tokoh-tokoh Indonesia, Ernalia Sri Bintang (Istri Sri Bintang) dan juga Suciwati (istri Alm.Munir) serta kisah-kisah perempuan luar biasa lainnya
Tentu masih banyak wanita muslimah hebat lainnya yang telah menjadi bagian dari sejarah..
Pertanyaannya adalah Lalu apa inspirasi yang bisa kita berikan untuk peradaban?
Sumber:
Kasim, Nur Atik dan Rose Fauziah. Agar Telapakmu menjadi Surga. 2009. Afra:Surakarta
Wasilah. The Wisdom of Women. 2009. Tarbawi Press: Jakarta
Welden, Amelie dan Michele Roehm. Cewek-cewek T.O.P B.G.T. 2004. Kaifa: Bandung
www.eramuslim.com
*perenungan H+1 jatah usia di dunia berkurang
Menyederhanakan Definisi Sejahtera 52009vUTC07bUTCFri, 17 Jul 2009 10:41:41 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan, Regional & City Planning.4 comments
Dimana-mana terdengar,
“Kita ingin agar rakyat sejahtera..”
Ukuran sejahtera itu apa ya?
Apakah jika negara sudah melimpah kekayaan dan pembangunannya maka negara itu sudah sejahtera
Apakah IPM yang didefinisikan selama ini dengan parameter tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan de-el-el itu?
Padahal menurut informasi, ada sebuah kota yang tingkat pendidikannya rendah, pelayanan kesehatan biasa saja, pendapatan masyarakat hanya cukup-cukup saja tetapi nyatanya angka harapan hidupnya tinggi (mencapai 90 tahun)
Bisa toh ya?
Jadi, Kata siapa sejahtera berarti harus tinggal di tempat yang akses kemana-mana mudah, yang informasi mudah didapatkan..
Lama mencoba mencari jawaban atas definisi..
Akhirnya pada perjalanan umrah kemarin,
Saat itu Agtri pergi dengan pembimbing umrah Bapak Miftah Faridh, seorang ulama yang amat familiar terutama untuk masyarakat di Bandung
Beliau memberikan tausiyah sore tentang sejarah kota Mekah
Dan ada penggalan menarik yang Agtri ingat hingga sekarang tentang do’a Nabi SAW tentang kota Mekah. Setelah dicari-cari lagi ternyata ada di Qur’an surat Quraisy ayat 3-4, yang bunyinya
” Maka hendaklah mereka menyembah Tuhan Pemilik rumah ini (Ka’bah). Yang telah memberi makanan kepada mereka untuk menghilangkan lapar dan mengamankan mereka dari ketakutan (QS. Quraisy: 3-4)”
Didalam ayat tersebut, terselip do’a Rasulullah untuk Kota Mekah yaitu agar masyarakatnya bebas dari rasa lapar dan terhindar dari rasa takut
Setelah dipikirkan lagi,
jangan-jangan inilah definisi ’sejahtera’ yang diidamkan oleh semua orang
ketika kedua hal ini bisa terpenuhi, sebetulnya tidak ada hal yang perlu dikhwatirkan lagi.
Betul tidak??
Sepintas mungkin akan terlihat sepertinya Agtri terlalu menyederhanakan persoalan tentang kesejahteraan ini.
Tetapi, coba kita lihat..
1. Bebas dari “Rasa lapar”
Siapa orang di dunia ini yang bisa tenang ketika rasa lapar menghinggapi?
Tak jarang kejahatan terjadi karena urusan perut. Bahkan bisa jadi hampir sebagian besar kriminalitas terjadi karena urusan ini. Tidak usah melihat terlalu kompleks, kita lihat di kehidupan sehari-hari. Ada sebuah nasihat untuk seorang istri untuk menghindari ‘perang atau piring terbang” terjadi yaitu “jangan biarkan suamimu merasa kekurangan makanan, karena akan membuatnya menjadi cepat marah.”
Meski yang disebut dalam ayat ini adalah makanan, namun kesejahteraan juga dikembangkan kepada pemenuhan kebutuhan dasar manusia seperti makanan, minuman, kesehatan, pendidikan, distrubis energi (BBM) dan lain sebagainya. Dengan demikian negara sejahtera adalah negara yang memberi pelayanan kebutuhan dasarnya secara manusiawi kepada rakyatnya. Seperti pembukaan lapangan kerja, pelayanan kesehatan gratis, pendidikan gratis serta akses mendapatkan kebutuhan bahan bakar dengan mudah dan murah. Karena semua kebutuhan itu adalah termasuk kebutuhan dasar hidup manusia.
2. Bebas dari rasa takut
Bebas dari rasa takut ini meliputi banyak hal, takut dari ancaman keamanan maupun takut lainnya. Takut dari ancaman keamanan menjadi penting, coba kita lihat para wisatawan asing yang takut datang ke Indonesia setelah ada Bom Bali.. Orang-orang takut datang ke China, Korsel, Kanada setelah ada Flu Babi.. Dan jangan-jangan MU juga batal datang ke Indonesia setelah hotel JW Marriot dan Ritz Carlton (katanya) di bom tadi pagi. Makanya stabilitas keamanan menjadi hal yang menentukan kurs mata uang suatu negara..
So, untuk para pemimpin ataupun siapapun yang peduli dengan kesejahteraan rakyat, paling tidak ada dua kunci persoalan yang harus ditangani. Dan hal ini sudah terdefinisi di Al-Qur’an, bebaskan rakyat dari “rasa lapar” dan rasa takut..
*ditulis setelah terkejut mendengar setengah jam yang lalu ada Bom di hotel tempat MU mau menginap.. Rabbi.. Ternyata kami belum bisa menjadi “tuan rumah” yang baik bagi “tamu kami” dan ternyata kami juga masih jauh dari definisi sejahtera yang Engkau sampaikan..
-Aku Jatuh Cinta- 42009vUTC07bUTCThu, 16 Jul 2009 13:48:53 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan, Simfoni Hati.6 comments
Sebelum ketemu deg-degan..
Pas ketemu terasa nyaman..
Setelah pisah dihinggapi kerinduan..
cukupkah itu menunjukkan aku jatuh cinta???
Hm,,
sukakah aku dengan ‘rasa’ ini?
sepertinya malah aku pupuk agar terus menjadi subur..
Lagi pula kenapa aku tak jadi jatuh cinta??
Ya,
aku jatuh cinta..
Jatuh cinta pada negeri itu!!
negeri dimana tinggal Rasul mulia
negeri dimana dalam sejarah menjadi negeri pilihan tempat bertemunya Adam dan hawa
negeri dimana keimanan para muhajirin dan anshar dipertaruhkan
negeri dimana bapak para Anbiya pernah meninggalkan keluarganya
negeri dimana para syuhada pertama pembela panji Allah menyatu dengan debu dan tanah
negeri, negeri… ah…
terlalu banyak kisah tentangmu yang tak cukup akalku bila harus diurai satu per satu
Ya, aku jatuh cinta..
bagaimanalah tak sampai jatuh cinta??
Madina..
Tak hanya tergetar ketika harus berjuang dapatkan kesempatan bersimpuh dalam karpet hijau yang berada diantara mimbar dan makam engkau Ya rasulullah..
Tak hanya tercengang saksikan bukit Uhud yang berikan banyak sekali hikmah akan keta’atan..
Tak hanya itu, pekatnya udara kota itu ternyata aku rindukan juga
walau berupa terik yang kering hingga tak buat kelenjar ekskresi ini mengeluarkan bulir keringat seperti biasa
walau keringnya udara membuat hidung ini kadang mengeluarkan darah
Ternyata.. aku juga rindukan itu..
musim panas tak buat aku meragu dan mundurkan langkahku
Teringat kembali 1.000 kali lipat pahala yang ditawarkan oleh Masjid Nabawi-Mu
Teringat betapa dekatnya ketika aku bersimpuh dengan pembaringan Rasulullah dan para sahabat, seolah dengan amat dekat bisa menyapa.. “Salam sejahtera untuk-Mu Ya Rasulullah…”
Mecca..
Tak cukup hanya takjub ketika melihat kiblat umat muslim seluruh dunia itu..
Sendi ini meluruh, semesta bersama mengajak bersimpuh..
Pusaran energinya kembalikan memori-memori dosa mengharap ampunan disertai titian do’a..
Melintasinya sembari mengucapkan “Bismillahi Allahuakbar..” singkapkan bahwa Ia sangat dekat, tuntaskan lafal penantian pengharapan “LabbaikAllah Humma Labbaik LabbaikAllah Syarikalaka Labbaik”
Melintasi dengan harap-harap cemas, apakah karat dalam hati ini bisa menjadi bersih kembali?
Melintasi dengan harap-harap cemas, apakah cukup layak meminta padahal diri masih hina?
Berdiri didepan multazam tak semudah yang kukira..
mengendalikan derai air matapun aku tak kuasa?
aku ingin ucapkan kata-kata pinta..
Tapi Lidah dan hati ini kelu?
Dan ternyata, memang hanya cinta dan ampunan dari-Nya yang bertul-betul kudamba..
Tak cukup hanya rintihan lelah ketika bergerak dari shafa menuju marwah, dari marwah menuju shafa..
perjuangan Ibunda Ismail kobarkan semangat, INI BUKAN SEKADAR RITUAL
ini adalah pengorbanan yang membutuhkan keikhlasan..
Ya, Betul
aku jatuh cinta!!
Aku tak ingin pulang,
ingin terus disana!
Mendapatkan keutamaan dengan bersimpuh dan bermunajat disana..
ingin terus disana!
Merasakan dahaga karena berpuasa..
ingin terus disana!
Menikmati do’a dari Nabi, sebuah Kota yang penduduknya jauh dari rasa lapar dan rasa takut..
Tapi, teringat dengan para sahabat yang pergi meninggalkan negeri itu,
pergi bukan karena rasa benci
pergi bukan karena rasa bosan
pergi bukan karena mengejar dunia
mereka pergi walaupun amat rindu untuk kembali
mereka pergi untuk menyebarkan Dien ini
mereka pergi untuk memberi tahu pada dunia.. agar kembali pada ajaran-Nya
dan aku berharap akupun begitu..
Aku pergi, dan berharap (segera) kembali
kesana,
ke negeri yang membuat aku jatuh cinta
*ditulis sebagai sarana berbagi (terutama untuk temen-temen yang ‘nagih’ Agtri buat nyeritain gimana disana. Judul postingannya udah menggambarkan ‘akibat’ pergi kemarin).. Sahabat, Jika ada rezeki jangan ragu-ragu untuk kesana.. Tapi siap-siap aja ya untuk ketagihan.. ^^
**jatuh cinta pada negeri itu tanpa mengurangi rasa cinta dan syukur yang luar biasa atas negeri sendiri. Indonesia tercinta
naNDA, diNDA, buNDA 62009vUTC06bUTCSat, 06 Jun 2009 20:53:14 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, PeradaBan.add a comment
Ada sebuah kisah yang (lagi-lagi) membuat inspirasi untuk dipost (dengan beberapa penyesuaian..)
Sebuah chapter dalam buku Warisan Sang Murabbi, pilar-pilar asasi.. (Baitud Da’wah)
Buku tulisan dari Alm.Ust.Rahmat Abdullah,
yang mengisahkan tentang pentingnya pembinaan keluarga
Ya pembinaan keluarga sebagai tangga kedua dalam pengokohan Peradaban ini, setelah pembinaan diri..
Terutama untuk seorang muslimah,
kitalah akan memegang 3 peranan “NDA” yang luarbiasa, kini dan (insyaAllah) nanti
sebagai anaNDA
sebagai adiNDA
sebagai ibuNDA
anaNDA,peran ini sudah kita pegang saat ini.. yaitu sebagai anak shalihah yang bisa menjadi jalan kemudahan kedua orangtua kita menuju Jannah-Nya,
adiNDA, peran ini bisa melingkupi dua hal yaitu sebagai adik sesungguhnya bagi saudara-saudara kita dan juga sebagai “adik/partner” bagi suami kelak,
dan juga
ibuNda, sebuah peran luar biasa. Karena kita punya andil yang amat besar dalam me’warnai’ kanvas putih yang Allah titipkan
Dan, darimanalah lagi kita sepatutnya belajar jika tidak dari “beliau-beliau”
(sulit sekali menemukan sapaan yang tepat untuk para Sahabat dan Shahabiyah..)
=================================================================================
Suatu malam menjelang fajar, dalam inspeksi rutinnya,
Khalifah II Umar bin Khattab mendengar dialog menarik antara seorang ibu dengan gadis kencurnya.
“Cepatlah bangun, perah susu kambing kita dan campurkan dengan air sebelum orang bangun dan melihat kerja kita.”
“Bu, saya tak berani, ada yang selalu melihat gerak-gerik kita.”
“Siapa sih sepagi ini mengintai kita?” sang ibu balik bertanya.”
“Bu, Allah tak pernah lepas memperhatikan kita.”
Khalifah segera kembali dengan satu tekad yang esok dilaksanakannya, melamar sang gadis untuk puteranya, ‘Ashim bin Umar.
Kelak dari pernikahan ini lahir seorang cucu : Umar bin Abdul Aziz, khalifah kelima.
Dalam tulisan tersebut, yang dimaksud dengan istilah baitud da’wah ini tidak dimaksudkan sebagai rumah tempat warganya setiap hari berpidato.
Juga bukan keluarga dengan aktifitas belajar mengajar seperti layaknya sebuah sekolah formal. Ia adalah sebuah wahana tempat pendidikan berlangsung secara mandiri dan alami namun bertarget jelas.
Ada kegawatan yang sangat ketika roda keluarga meluncur tanpa kendali. Saat salah seorang anggotanya sadar apa yang sedang terjadi, segalanya mungkin telah terlambat. “Keterlambatan” itu dapat mengambil bentuknya pada ABG yang asing dari nilai-nilai ayah ibunya, atau ayah yang lupa basis keluarganya oleh kesibukan kerja diluar, atau ibu yang terpuruk dalam rutinitas yang membunuh kreatifitasnya, atau karir yang menggilas peran dan fitrah keibuannya.
Banyak orang merasa telah menjadi suami, istri atau ayah dan ibu sungguhan, padahal mereka baru menjadi ayah, ibu, suami, atau istri biologis. Sangat kasar kalu diistilahkan menjadi jantan, betina, atau induk dan biang, walaupun dalam banyak hal ternyata ada kesamaan. Kalau hanya memberi makan dan minum kepada anak-anak: kambing, ayam, dan kerbau telah memerankan fungsi tersebut dengan sangat baik. Dan, isu sentral “pewarisan nilai-nilai kehidupan” dalam kehidupan mereka tak soal. Buktinya, tak satupun anak ayam yang berkelakuan kerbau atau anak kerbau berkelakuan belut, atau anak kambing berkelakuan serigala. Adalah suatu penyimpangan bahwa ada anak manusia bertingkah laku babi, serigala, harimau, atau musang.
Tentu saja ini tidak dimaksud mendukung program robotisasi anak yang dipaksa menghafal seluruh program yang dijejalkan bapak-ibunya tanpa punya peluang menjadi dirinya sebagai hamba Allah, karena mereka harus menjadi hamba ayah, hamba ibu, dan hamba guru.Ini tidak ada hubungannya dengan program tahfidz atau apresiasi seni Islami yang menjadi bagian dari sungai fitrah tempat air kehidupan mengalir sampai jauh.
Mengesankan sekali ucapan Ali Zainal Abidin, cucu Ali bin Abi Thalib, “Barangsiapa meninggalkan kewajiban amar ma’ruf nahi mungkar, maka anak, isteri, dan pembantunya pun akan membangkang kepadanya.”
Ternyata memang, keikhlasan seseorang atau keluarga kerap menembus sampai beberapa generasi sesudahnya.Boleh jadi seseorang merasa telah mejadi bagian dari da’wah yang besar dan berkah, tetapi bukan sikap da’I yang dirawatnya. Alih-alih dari membimbing masyarakat dengan fiqh dan akhlak da’iyah, justru sebaliknya, hanya ghibah dan pelecehan yang digencarkannya terhadap masyarakat. Padahal, besar kemungkinan mereka tidak tersentuh da’wah atau tidak mendapatkan komunikasi yang memadai.
Ikhlas, nilai plus yang menembus lintas generasi Keikhlasan yang “naif” Nabi Ibrahim yang rela –demi melaksanakan perintah Allah- meninggalkan istri dan bayinya di lembah yang tak bertanaman di dekat rumah Allah yang dihormati (QS.Ibrahim : 37) menghasilkan bukan hanya turunan nasab yang konsisten, tetapi juga turunan fikrah yang militan.
Ummu Sulaim ibu Anas bin Malik yang begitu stabil emosinya dan begitu mendalam keikhlasannya menerima kematian bayinya, mendapat 100 anak dan cucu, semuanya telah hafal Al-Qur’an dalam usia sangat dini. Itu hasil hubungan yang penuh berkah -ditingkahi doa berkah Rasulullah SAW- di malam yang sangat berlasan baginya untuk “meratapi” bayinya yang tiada. Demikian pula pengkhianatan istri Nabi Luth dan Nabi Nuh –yang karenanya Allah menyebutnya dengan imra-ah (perempuan) bukan zaujah (istrinya)- melahirkan generasi yang sangat berbeda. Yang satu generasi sangat rabbani seperti Nabi Ismail as, yang cermin kepribadiannya membersit dalam ungkapan pekat nilai-nilai tauhid : “‘Ayahanda, lakukanlah apa yang diperintahkan kepadamu, akan kau temukan daku insya Allah termasuk orang-orang yang sabar.” (QS.37:102)
Di seberang lain dengan pongahnya Yam bin Nuh berkata,saat ayahnya mengajak naik bahtera penyelamat, “Aku akan berlindung ke gunung yang akan menyelamatkanku dari airbah.” (QS.11:43)
Di zaman ketika setiap serigala dengan mudah menyerbu masuk ke rumah-rumah yang tak lagi berpagar dan berpintu, siapa yang merasa aman dan mampu melindungi anak-anak fitrah dari terkamannya? Siapa yang tabah melindungi gelas bening dan kertas putih suci itu dari ancaman yang setiap waktu dapat memecah-hancurkan dan mencemari mereka? Siapa yang tak tergetar hatinya melihat cermin bening yang semestinya ia perhatikan betul raut wajahnya disana, seraya merintihkan desakan suara hatinya dalam sujud panjang di keheningan malam:
“Dan Kami telah berpesan kepada manusia agar berbuat baik kepada kedua orang tuanya. Ibunya mengandungnya dengan susah dan melahirkannya dengan susah. (Masa) hamil dan menyapihnya tiga puluh bulan. Sehingga ketika ia mencapai masa kuatnya dan mencapai usia empat puluh tahun ia berkata : Ya Rabbi, ajarkan daku agar dapat mensyukuri nikmat yang Engkau limpahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku dan beramal shalih yang Engkau ridhai serta perbaikilah untukku dalam keturunanku. Sesungguhnya aku bertaubat kepada-Mu, dan aku termasuk kaum yang menyerahkan diri.”
==================================================================================
Bahtera keluarga ini, akan kah ia menuju Pelangi?
Tergantung, bagaimana kita bisa menjadi asisten kapten yang membantu Sang kapten untuk menggerakkan kendali bahtera…
Perkembangan media, membuat ‘overload information’? 62009vUTC05bUTCSat, 16 May 2009 21:12:35 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in PeradaBan.5 comments
Akhir-akhir ini kita(kita??) sering menghela nafas untuk alihkan penat
Betul-betul penat.
Cukup gerah dengan kondisi informasi belakangan ini..
Kondisi seputar media,
Baik itu media cetak ataupun elektronik
walaupun memang informasi yang agtri banyak dapatkan adalah via media elektronik,
karena dikostan sengaja untuk tidak ada TV (sengaja gitu?
)
Iya, sebetulnya banyak ibrah positifnya tidak ada TV di rumah
Peluang menghabiskan waktu untuk menonton yang tidak perlu menjadi berkurang..
Jadi nggak ada peluang untuk bikin agenda nonton kuis ini-itu, reality show itu-ini, ataupun sinetron itu- itu..
Oke, cukup intermezzonya!!
R. Panuju dalam bukunya Relasi Kuasa tahun 2002 menyampaikan mengenai pengaruh media dalam mengarahkan “kesimpulan publik”
dimana,
“dinamika komunikasi” bisa merubah “realitas faktual” yang terjadi.
Nah dinamika komunikasi tersebut apa saja:
1. Faktor Psikologi
2. Faktor Sosiologis Politik
3. Faktor Budaya
4. Faktor Media massa
Kondisi saat ini, yang dominan untuk bisa mempengaruhi dinamika komunikasi, mau tidak mau kita akui adalah faktor ke empat yaitu faktor media massa.
Sehingga bila kita gunakan kata ganti, maka “Faktor media massa” bisa merubah “realitas faktual” yang terjadi.
(Betulkan jadi gini kalimatnya?)
Oke, kita bahas tentang media massa ini.
Pertanyaan sederhana yang muncul, berapa frekuensi Anda dalam sehari menyerap informasi baru via media??
Pertanyaan lainnya, Informasi yang begitu update bahkan per menit saat ini, apakah menyebabkan kita sebagai konsumen menjadi “lebih sehat”??
Dulu, ada yang namanya headline news di televisi yang frekuensinya setiap satu jam sekali. Nah sekarang, hampir tiap menit kita bisa mengetahui update-an berita.
“Enggak papa, bagus ko’.. Kita jadi melek sama kondisi terkini..”
Betulkah?
Menurut saya, jawaban bisa saja condong ke “Iya, bagus Ko’..”
tapi…
harus ada argumen tambahan, yaitu Validitas informasi nya. Bukan hanya dengan headline-headline yang “memicu” orang membaca saja tetapi jaminan ‘kebenaran’ dari berita tersebut.
Sampai-sampai Na’udzubillah, tanpa sadar bisa masuk kategori memfitnah tapi tidak disadari. Maksud hati mungkin ingin menaikkan rating dengan judul-judul yang kontroversial, tetapi ternyata ambigu dan membuat pembaca menjadi salah persepsi.
Dan.. hem.. saya miris baca berita-berita yang sifatnya formal tetapi belakangan seolah-olah seperti berita-berita yang -punten- seperti infotainment.
Hal-hal yang sifatnya masih DUGAAN saja sudah tersebar luas, padahal belum juga ketok palu apa yang terjadin sebetulnya. Begitu mudah mengumbar-umbar aib orang lain..
Hem.. Membicarakan hal yang belum pasti dan itu adalah keburukan orang lain..
Bukankah jadi Ghibah ya?
Astagfirullah, jangan-jangan tanpa sadar kita larut dalam nuansa ini
Mecermati “kemudahan” frekuensi penerimaan berita/informasi yang kita miliki, kita balik lagi ke buku R.Panuju tadi.
George Miller(1956) menemukan bukti bahwa kegagalan komunikasi lebih banyak disebabkan oleh komunikasi yang berlebihan sehingga mengakibatkan kelebihan informasi pada audiences(overloaded information).
Menurut Miller, kelebihan informasi ini mengakibatkan reaksi-reaksi negatif terhadap komunikasi yaitu:
1. Informasi tidak tertangkap
2. Membuat kesalahan dalam menginterpretasi
3. Menunda atau menumpuk pekerjaan (karena memikirkan hal yag tidak seharusnya dipikirkan)
4. Cenderung menyaring informasi (saking banyaknya, jadi memilah-milih mana informasi yang sudah ’sejalan’ dengan pemikirannya saja)
5. Hanya menangkap garis besarnya saja (karena keterbatasan diri, hanya mampu melihat secara makro)
6. Melempar tugas kepada orang lain (kebingungan karena terlalu banyak informasi yang masuk tapi nggak tahu mana yang bisa di solusiin)
7. Menghindari informasi (saking banyaknya informasi yang diterima, lama-lama menjadi bosan sendiri dan malah menghindari informasi. semakin banyak tahu, semakin banyak yang dipikirkan)
Semakin banyaknya informasi dengan terbatasnya daya serap serta minimnya upaya memberikan solusi dari informasi tersebut, membuat kondisi malah tidak nyaman.
Bahkan ada pepatah yang mengatakan “lebih berbahaya orang yang mengetahui sesuatu setengah-setengah ketimbang orang yang tidak tahu sama sekali”.
So, jangan terlalu cepat juga mengambil kesimpulan.. Jangan-jangan info kita itu baru dari satu sudut pandang saja. Padahal begitu banyak hal yang punya kompleksitas tinggi..
Tulisan ini dibuat bukan untuk menjadikan kita apatis dengan kondisi di sekitar kita, tetapi bagaimana agar kita bisa
1. Memilah-milih dengan baik, informasi apa saja yang perlu kita dengarkan, baca, telaah, analisis, dll
2. Selektiflah dalam memilih sumber berita yang akurat. Mohon, untuk media-media tertentu yang sarat dengan “berita burung”, tidak untuk dijadikan referensi…
3. Upayakan informasi tersebut tidak hanya didengar lalu dilupakan.. Tapi setelah info itu didapatkan, lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap informasi tersebut..
4. Action!!
Wallahu alam,
semoga bermanfaat..
Pemuda, dimanakah kalian? 62009vUTC05bUTCSat, 09 May 2009 10:12:30 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, PeradaBan.6 comments

Dimanakah bisa menemukanmu pemuda??
Di gonjreng gitar, sembari nyanyikan lagu2 cinta untuk si dia
Di tongkrongan sore hingga malam, hanya untuk penuhi pengakuan komunitas
S-A-L-A-H
Naik sedikit levelnya ah,
Dimanakah bisa menemukanmu pemuda??
Di mall-mall, sedang window shopping aja karena tak sanggup beli
Di restoran-restoran siap saji, untuk dapatkan makanan barat itu
Di depan tipi lagi nonton cinta f*t*i
S-A-L-A-H
Naikkan lagi levelnya Gan,
Dimanakah bisa menemukanmu pemuda???
Di Facebook sedang mengupload gambar dari Blackberry
Di Facebook sedang mengupdate status dari Mac book
Di Facebook sedang ikutan quiz-quiz itu
S-A-L-A-H
Naikkan terus lagi dan lagi..
Dimanakah bisa menemukanmu pemuda????
Di mobil hadiah bokap, sedang pacaran dengan pacar terbaru
Di apartemen dari mamah sembari bersantai ria
S-A-L-A-H
Teruskan naik levelnya!!
Dimanakah bisa menemukanmu pemuda?????
di ujung-ujung negeri sembari autis memikirkan persoalannya sendiri
S-AL-A-H
Dimanakah dirimu Pemuda??
Pemuda yang menjadi aset bagi bangsa dengan idealismenya
Pemuda yang menjadi pelaku pertama yang mampu suarakan apa yang rakyat inginkan
Pemuda yang rakyat titipkan kepala tuk bersandar ketika kepenatan hidup menyerang
Pemuda yang rakyat titipkan amanah pada pundaknya ketika mereka tak bisa lagi menggunakan pundaknya sendiri tuk sanggah
Pemuda yang rakyat titipkan bisikan untuk rayakan keadilan hasil perjuangan
Pemuda yang menjadi cerita penuh harmoni pelangi
Para Pemuda..
Yang lantang habiskan waktu untuk berjuang
Kepada para pemuda
Yang merindukan lahirnya kejayaan…
Kepada umat yang tengah
Kebingungan di persimpangan jalan…
Kepada pewaris kebudayaan yang kaya-raya,
Yang telah menggoreskan catatan membanggakan
Dilembar sejarah umat manusia…
Kepada setiap muslim
Yang yakin akan masa depan dirinya
Sebagai pemimpin dunia
Dan peraih kebahagiaan
Di kampung akhirat…
Kepada mereka semua kami persembahkan
Risalah ini
( Hasan Al-Banna)
Dan Mereka ini telah buktikan dengan menjadi “PEMUDA” di zamannya..
Hanya pemuda dengan usia 20..
Adalah Rasulullah yang telah mengadakan perjalanan ke luar negeri untuk berdagang,
Adalah Zaid bin Haritsah yang terpilih menjadi panglima perang,
Adalah Fathi Farhat yang merelakan jiwa dan raganya untuk islam sehingga memenuhi sekujur badannya dengan amunisi dan di penghujung kesyahidannya beliau bilang :”syahwatii…al-jannah..” (syahwatku sekarang adalah syurga..),
Tiga tahun lagi Muhammad Al-Fatih adalah pentakluk konstantinopel!!!
Lima tahun yang lalu Imam Syafi’i bahkan telah menjadi Hakim Agung di zamannya!!??!!
Masihkah mengatakan??
“I’m only 20 years old..”
(*inspired by: cowo-cowo yang nongkrong di depan rumah sambil nyanyi2 entah album yang keberapa…
** Syair Hasan Al Banna diatas, asa pernah denger.. Lagu apa gitu.. =D )