Bidadari itu 42010vUTC01bUTCThu, 07 Jan 2010 07:56:11 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, Simfoni Hati.2 comments
Tentang para bidadari itu..
aku mengenal mereka,dahulu
mereka yang wajahnya terlihat amat teduh walau hanya berlapiskan cairan wudhu
meraka yang dalam keanggunan tutur bahasanya tetap menyiratkan ketegasan
mereka yang dalam senyum diamnya sanggup membiaskan ketulusan
mereka yang dalam diamnya aku ambil hikmah
mereka yang dengan perkataannya aku ambil sebagai hujjah
mereka,
para bidadari dunia yang pernah aku jumpai..
walaupun memakai pakaian gelap, ternyata tak menutupi pesona surgawinya
walaupun tak bersolek, ternyata tak mengurangi aura keshalihannya
walaupun tak bergaya tetapi tetap mampu memberikan inspirasi
Rindu pada kalian semua..
yg jadikan Allah satu-satunya tujuan
yg jadikan Rasulullah sebagai panutan
yg jadikan AL-Qur’an sebagai pedoman
yg jadikan para shahabiyah sebagai qudwah
yg tempatkan akhirat di hatinya dan dunia di genggamannya..
Dimanakah mereka saat ini?
Karena,
Menjadi bidadari itu bukan hadiah..
butuh kesabaran diiringi tadhiyah
perlu usaha dan juga lelah
karena memang tak mudah untuk (sekedar) menjaga izzah
Menjadi bidadari itu bukan didapatkan dengan angan..
ada perjuangan
harus senantiasa teguh dalam ketaatan
menjauhkan diri dari segala yang melemahkan
utamanya, mampu menjawab kesulitan dengan senyuman penuh keikhlasan
bidadari itu
bukan pajangan
atau hiasan pemanis ruangan
Ia harus punya kontribusi pemikiran
apalagi kalau bukan untuk kemajuan peradaban
Ia bukan dilihat dari wajah rupawan
Bukan juga dari sekadar menariknya penampilan
tapi dari bagaimana baiknya tutur lisan
santunnya kelakuan
dan juga ketegasan kala diperlukan
bidadari itu tak seharusnya ragu
yang jelas, jangan sampai hati terkotori karena ucapan merayu
pandangan sendu
apalagi
kalau dirimu diminta menunggu dengan embel-embel ini itu
dan
Kalau meraka tercekat dengan merahnya cinta,
maka untukmu wahai para penghulu bidadari di dunia
azzamkan untuk terus teguh demi hijaunya surga
buat saudariku,
tetaplah menjadi para pemuda kahfi
“terasing” demi kebenaran hakiki
yang berbeda dari yang ‘biasa’
jika demi keridhaan-Nya
mengapa tidak diperjuangkan?
(teringat lagi bait-bait pesan pembuka di ponsel)
Tulis.. Menulis.. Terus Menulis 42010vUTC01bUTCThu, 07 Jan 2010 07:34:38 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Simfoni Hati.1 comment so far
Ah,
terasa ada yang hilang belakangan
Tidak meng-update tulisan
itu berarti melanggar salah satu targetan
karena bagiku menulis sesungguhnya adalah kebutuhan
Menulis itu bukan hanya berbagi pikiran
tetapi bagaimana bisa berbagi inspirasi dalam upaya menggerakkan
Itulah yang dipahami mengapa banyak pahlawan yang terus hidup dalam karya
bukan hanya dari tradisi fenomenalnya
layaknya Al Banna
buah pikiran mereka terus bisa menggetarkan jiwa
walaupun kadang hanya berupa serangkai kata
tapi entah kenapa begitu padat penuh makna
Menulis,
patut menjadi sebuah re-solusi atas stagnansi yang sempat menyergap
karena alasan kesibukan
kadang adalah pembenaran
atas sebuah kelalaian
Dan
kata siapa selama ini tak ada karya?
ketika momen-momen berharga itu terus berlalu begitu saja
selalu kurekam dalam bentuk tulisan-tulisan
tapi entah kenapa jadi membatasi diri
padahal bergejolak ingin sekali berbagi
Lalu kuingat lagi,
bahwa berbagi dan menginspirasi
hakikatnya adalah menabung bagi diri sendiri
dan dengan ini, akan aku azzamkan untuk mulai menulis lagi..
berkomunikasi bertemankan sepi
karena tulisan adalah buah dari keyakinan,
dipertajam melalui pemikiran,
perkataan melalui lisan,
dan amalan dalam bentuk tindakan
pada akhirnya menjadi sebuah karya manuskrip peradaban
(Ayo menulis lagi dan berbagi inspirasi!!)
S P A S I 62009vUTC11bUTCSat, 07 Nov 2009 21:34:09 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Dapet Dari Luar, Simfoni Hati.add a comment
Seindah apa pun huruf terukir, dapatkah ia bermakna apabila tak ada jeda?
dapatkah ia dimengerti jika tak ada spasi?
Bukankah kita baru bisa bergerak jika ada jarak?
dan saling menyayang bila ada ruang?
Kasih sayang akan membawa dua orang semakin berdekatan,
tapi ia tak ingin mencekik, jadi ulurlah tali itu.
Napas akan melega dengan sepasang paru-paru yang tak dibagi.
darah mengalir deras dengan jantung yang tidak dipakai dua kali.
jiwa tidaklah dibelah, tapi bersua dengan jiwa lain yang searah.
jadi jangan lumpuhkan aku dengan mengatasnamakan kasih sayang.
Mari berkelana dengan rapat tapi tak dibebat.
janganlah saling membendung apabila tak ingin tersandung.
pegang tanganku, tapi jangan terlalu erat,
karena aku ingin seiring bukan digiring
-dee @Filosofi Kopi-
Mencari ukhuwah? 22009vUTC10bUTCTue, 27 Oct 2009 07:48:46 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Simfoni Hati.9 comments
Dimanakah letak ukhuwah?
Apakah ketika kita sedih maka ada saudara-saudara disamping kita setiap saat?
Apakah ketika kita gundah maka ada saudara-saudara disekitar kita yang mampu untuk mengerti?
apakah ketika kita menangis maka ada saudara-saudara disekitar kita yang akan hapus lara itu?
Ya, ukhuwah memang menawarkan hal itu
Ya, ukhuwah memang menjanjikan hal tersebut
Tapi apakah kita akan menjadi lemah ketika hal tersebut ternyata tak seindah impian?
Tapi apakah kita akan menjadi lelah dan larut dalam kesedihan berkepanjangan?
Tapi apakah kita akan menuntut orang lain untuk tunaikan kewajiban?
Tapi apakah kita akan kalah dalam keterbatasan?
setiap kita pasti pernah merasakan lemah
Setiap kita pasti pernah merasakan gundah
setiap kita pasti pernah merasakan sedih
ukhuwah memang cara ampuh untuk bantu percepat kesembuhan semua itu
Tapi..
Jangan,
jangan berharap kasih
jangan berharap pengertian
jangan berharap perhatian
jangan berharap kemudahan
jangan mengharapkan semua itu pada manusia dengan dalih persaudaraan
berharap kepada manusia hanya akan membuat kita kecewa..
Mungkin itu adalah ujian dari-Nya
agar kita tak lagi menuhankan selain Ia
bahwa mungkin kita terlalu bersandar kepada manusia dan melupakan
bahwa Ia lah yang menggenggam seluruh jiwa
yang mengikatkan semua hati-hati kita
Mintalah petunjuk dari-Nya tentang ukhuwah..
dan niscaya engkau akan mendapatkannya..
“dan Dia(Allah) yang mempersatukan hati(orang yang beriman). Walaupun kamu menginfakkan semua(kekayaan) yang berada di bumi, niscaya kamu tidak dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka. Sungguh, Dia Maha Perkasa, Maha Bijaksana” (Al-Anfaal: 63)
Ia adalah tentang hati-hati yang terikat
tentang do’a-do’a yang rumit kait mengaitIa rumit, namun nyata dalam ungkapan sederhana
Ia rumit karena ia adalah iman yang merupa makna
Dari Hudzaifah.org, dalam surat Al Hujurat (QS 49) Allah SWT memaparkan 7 kiat bagi kita untuk menangkal virus-virus ukhuwwah yang bisa menghancurkan shaf ukhuwwah yang telah dibina:
1. Tabayyun
mencari kejelasan informasi dan mencari bukti kebenaran informasi yang diterima (QS 49:6)
2. ‘Adamus Sukhriyyah
tidak memperolok-olokkan orang atau kelompok lain(QS. 49:11)
3. ‘Adamul Lamz
tidak mencela orang lain (QS. 18:28)
4. Tarkut Tanabuz
meninggalkan panggilan dengan sebutan-sebutan yang tidak baik terhadap sesama muslim (QS 49:11)
5. Ijtinabu Katsirin minadzdzan
Pada dasarnya seorang muslim harus berbaik sangka terhadap sesamanya, kecuali jika ada bukti yang jelas tentang kesalahan tersebut (QS 49:12)
6. Adamut Tajassus
tidak mencari-cari kesalahan dan aurat orang lain (QS 49:12)
7. Ijtinabul Ghibah
Ghibah sebagaimana yang dijelaskan Rasulullah SAW adalah menceritakan keburukan dan kejelekan orang lain. Ketika seseorang menceritakan kejelekan orang lain, maka ada dua kemungkinan yang terjadi. Pertama, jika yang diceritakannya benar-benar terjadi maka itulah ghibah. Kedua, jika yang diceritakannya itu tidak terjadi berarti ia telah memfitnah orang lain. Begitu besarnya dosa ghibah, sampai Allah SWT menyamakan orang yang melakukannya dengan orang yang memakan bangkai saudaranya sendiri
Karena pada dasarnya give and give.. Ketika ita merasakan kecewa dengan kesendirian, tanyalah kembali kepada hati.. Apa yang sudah kamu berikan sehingga layak untuk mendapatkan??
Saudara kita bukan ahli pembaca pikiran orang lain, jika memang membutuhkan sesuatu, maka beritahulah..
Karena sulit menemukan yang seperti Imam Syafi’i di masa kini.. yang menangis ketika ada saudaranya yang meminta bantuan.. yang beliau berkata “tidak seharusnya saudaraku meminta langsung padaku, padahal nampak jelas dari matanya membutuhkan bantuanku”
(tulisan yang sempat ke-pending, tetapi sepertinya tetap harus di-publish)
Mewarnai Kanvas 32009vUTC10bUTCWed, 14 Oct 2009 20:32:15 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Muslimah, Simfoni Hati.2 comments
Tidakkah langit menyimpan pinta..
ketika sesosok jiwa,
ditiupkan ruh ke raganya..
Adakah harapan agar yang tercipta,
jadi memiliki daya?
Mungkin.. bukan Abdullah bin zubeir yang dalam hamil tua Asma,
dibawa menuju masa depan yang entah dengan ketidakpastian macam apa
Mekah menuju madinah kala itu bukan jalan bebas hambatan dengan perjalanan tiga jam saja..
Lautan gunung pasir, kadang berkerikil ataupun gunung batu nyata dihadapan
Sehingga sangat layaklah liur pertama yang masuk dalam dirinya adalah dari sang Rasul mulia..
Mungkin.. tidak sanggup se-selektif Ibunda Syafi’i,
dengan membalik tubuh kanak-kanaknya
coba mengeluarkan makanan yang akan menjadi syubhat bagi dirinya..
Sehingga layaklah Ia menjadi Mufti di usia kelima belasnya
Yang kala shaum ia malah minum di hadapan para muridnya yang lantas bertanya,
dan dengan polosnya.. ia berkata,
“Aku belum wajib berpuasa..”
Mungkin.. tidak pula setangguh Khansa,
yang mendidik para putranya untuk menjadi para mujahid yang rindu syahid
Sehingga ketika ditinggal putra terakhirnya ia menangis,
bukan, bukan karena duka..
tetapi ia malah berkata,
“…Mereka telah berbahagia di surga. Yang ku sedihkan, kini tak ada lagi putra yang dapat kupersembahkan untuk menjadi syuhada”
Mungkin..
mungkin tidak bisa seelok mereka,
melukiskan kanvas putih dengan warna seindah pelangi
Tapi aku belajar para mereka..
bahwa
Seorang anak patut diajarkan perjuangan walaupun masih dalam kandungan..
Seorang anak patut dijauhkan dari syubhat agar akalnya bisa cemerlang..
Seorang anak patut dibentuk pemikirannya agar hidup mulia dan bertemu dengan-Nya sebagai syuhada..
[Karena perempuan adalah madrasah peradaban.. Teriring cita-cita agar tak ada lagi generasi yang mencintai narkoba, tak ada lagi generasi gemar hura-hura, dan cukup, tak ada lagi generasi seperti miyabi.. ]
Tentang Persaudaraan Kita 22009vUTC09bUTCTue, 29 Sep 2009 22:00:37 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, Simfoni Hati.1 comment so far
Mata ini mungkin khilaf menilai perilaku..
Telinga ini mungkin salah ketika mendengar kabar tentangmu..
Pikiran kadang larut terlalu mengkhawatirkanmu..
tapi hati ini..
Hati ini tak boleh tak mempercayaimu,
Aku yakin apapun yang kau lakukan adalah yang terbaik saudariku
T-E-R-B-A-I-K
ya terbaik
seperti ucapan yang sering kita lantukan bersama..
untuk mendapatkan Ridha-Nya semata..
HANYA untuk Ridha-Nya semata..
*Berhentilah menjadi para perompak hati, biarlah hati memilih sendiri dimana ia akan melabuhkan diri
Aib 72009vUTC09bUTCSun, 27 Sep 2009 22:40:34 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Simfoni Hati.add a comment
Kalaulah Allah tidak menutupi aib-aib kita..
ahhh..
speechless..
“Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?” (QS.55:55)
*reminder: syawal artinya peningkatan.. berarti harus meningkat dari Ramadhan kemarin..
Ayo tetap jaga “putih”nya.. ketika kemarin sudah kembali fitri, masak dikotorin lagi??
Babak Baru Lakon Kehidupan Negeri Merah Jambu 52009vUTC09bUTCFri, 18 Sep 2009 09:13:04 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Simfoni Hati.3 comments
Layar mulai dibuka
Penonton berharap ada lakon baru negeri merah jambu
Semoga bisa mengundang tawa bahagia
bukan kisah lara saja seperti sebelumnya..
Seperti cukup sudah lakon kesedihan yang dibawakan ’sangat apik’ oleh para penyelenggara
Mulai dari lakon gelombang air pasang yang amat tinggi di dunia yang ditutup petasan besar di ibukota
Para penonton berharap ada hal manis..
Tentu saja dengan adegan dan dialog teranyar
Tak apalah juga walau harus dengan pemain sama
Beri saja make-up tebal seperti biasanya agar tampak berbeda
Semoga dana masih ada
untuk bisa membelikan kostum dan pilihkan aksara
Stt..
Sudah mulai, ada apa saja?
Ada kisah dibalik layar
tentang sang kepala yang dalam diam membagi bagi-bagi kue bagi para penyelenggara
Eh, ngapain ribut-ribut dibahas?
Apa peduli kami?
Emang kami dibagi?
Lupakan!
Ada kisah lain
tentang tetangga yang malah naksir Ibu Pertiwi
Dulu diam-diam ambil anaknya, si Bumi
Sekarang ikut-ikutan dalam irama dan gerak tari
Eh, si pembunuh bule malah diekspor kemari
Lalu? apa yang tersisa untuk kami?
Ada lagi, ada lagi
Penyelenggara bikin saweran
Mengeluarkan uang baru bergambar pejuang
Bernama sama lo dengan raja penangkap tikus yang tersandung kemarin dulu
Hmm.. Akankah koin dan nominal lainnya jadi semakin tak berharga?
Ada kisah tentang
raja-raja penangkap para tikus yang malah ditikam tim Fullfill
Polisi dunia dikabarkan malah akan ikut tampil ngelakoni
Alih-alih, Tim Fullfill seolah cari muka dengan jumawa mengadakan konferensi
Karena berhasil (lagi-lagi) menghilangkan nyawa para pembunuh bule punya tetangga
Ada juga kisah tentang perkumpulan beringin lama
Perkumpulan yang dahulu selalu berjaya di pertempuran bertiga
Lagi pada sibuk cari ketua katanya
Anak mantan penguasa serasa perkumpulan lama cuma milik keluarga mereka
Lah, memangnya ini kepemilikan turunan ya?
Eh yang aneh malah para penonton yang berusia muda
Alih-alih menonton pagelaran bersama
Malah sibuk dengan barang barunya..
Itu tu.. temennya blueberry dan strawberry seharga tujuh angka
Pas diliat malah asyik mainin album muka
Menghabiskan berjam-jam untuk saling balas kotak bicara
Tunggu
bumi yang tiba-tiba bergoncang
ribuan penonton menjadi linglung
Tontonan sandiwara memang tak pernah asik bagi mereka
Kalaupun ada kisah pagelaran yang bahagia,
Tampaknya hanya elit bisa merasakan bukan untuk alit..
Penonton mual dikelabui
Awas saja jika seperti yang lalu-lalu..
Terlalu banyak tema!!
Terlalu banyak tema tanpa kisah bahagia nyata
Jika semu saja, tersenyum sedikit lalu menangis lara
Penyelenggara seolah tak tahu dan tak bisa berbuat apa-apa
Sang “Dalang” yang memainkan cerita sedang tertawa terbahak-bahak sampai tak bisa menutup mulutnya
Tapi ada satu yang membuat aku tak kecewa dan bisa melewati tontonan ini seperti biasa
Karena aku tahu Pemilik negeri merah jambu ini tak akan pernah tidur ataupun beristirahat..
Kuingatkan wahai penyelenggara pentas, bahwa kepemimpinan akan diminta pertanggung jawaban
Dan untukmu wahai dalang
Yang memainkan lakon penguras air mata dan penambah duka, bahwa setiap nyawa pasti akan kembali pada-Nya
=============================================================================
Takkala tak ada lagi kesempurnaan
dimana Merah-nya tak lagi menyala
dan Putih-nya yang tak lagi bersuci
Paling tidak perpaduan keduanya
kuharapkan bisa menghadirkan warna cinta, Merah Jambu
dihati rakyat dan pemudanya
Untuk buat Indonesia tertawa bahagia, jangan lagi menangis lara
Untuk buat Indonesia tersenyum manis, jangan lagi tersenyum miris
*Jelang 1 Syawal 1430H, 20092009 , @tanah kelahiran Ibunda
Pembedaan.. 52009vUTC09bUTCFri, 18 Sep 2009 06:04:14 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in HaRaKi, Simfoni Hati.add a comment
Seringkali banyak hal yang terasa abu-abu..
Ini atau itu membuat ragu..
Harus tertawa berbahagia atau menangis bersedih hati?
Lalu,
marilah simak kisah Sahabat yang satu ini,
yang kisahnya membuat terpana..
Tak habis jika harus bertanya
“Bagaimanalah kekuatan mata hati itu dapat menjadi begitu peka?”
seperti tangis sedih Abu bakar as Shiddiq kala semua sahabat berbahagia
Surat An Nasr itu tertangkap berbeda oleh dirinya
Pernyataan kemenangan yang eksplisit tersampaikan
malah membuat air mata itu terus mengalir?
Ada apakah dengan seseorang yang senantiasa menjadi teman setia Rasulullah tersebut..
Tak bahagiakah setelah perjuangan ‘berlari’ kesana kemari demi menegakkan Dien ini?
Tak bahagiakah bahwa boikot, yang pernah membuat Kekasih-Nya menggigit sol sepatu demi mempertahankan hak perut, usai sudah?
Tak bahagiakah bahwa kini bersama keluarga dapat hidup ‘tenang’ seperti dahulu kala
Hanya kebeningan hatinyalah yang mempu membedakan..
Ketika kabar kemenangan mengisyaratkan tanda perpisahan baginya
Tanda perpisahan?
Ya, hanya Abu bakar yang kala itu menyadari
bahwa ketika kemenangan itu tiba
maka perpisahan dengan kekasih-Nya sudah ada di depan mata
Maka siapakah yang tak akan bersedih hati?
Ya, itulah tanda air mata Abu bakar kala itu
Air mata ditengah semua rasa bahagia atau bahkan tawa
Lalu,
bagaimanalah pula kekuatan mata hati yang berbeda dari khalifah ke tiga?
Saat seorang pemuda masuk ke dalam majelisnya usai melihat seorang wanita cantik diperjalanan tadi
kemudian beliau berkata
“Ada seseorang yang baru bermaksiat dengan matanya memasuki ruangan ini”
pernyataan yang mengundang tanya
“Darimanakah engkau mengetahuinya wahai Utsman? Apakah wahyu turun kepadamu?”
Sahabat yang terkenal amat pemalu itu pun menjawab
“Bukan, ini hanyalah firasat seorang mukmin. Dan Aku bisa melihat ada bekas kemaksiatan dari matanya”
Rabb..
Begitu lembut,
Begitu peka,
Begitu tajam..
mata hati itu
dengan amat tepat dapat merasakan
dapat membedakan..
*28 Ramadhan 1430H, Bulan Ramadhan akan segera berakhir..
Bersedih atau bergembirakah ketika tidak lagi bersamanya?
Jangan “Kalah” dengan Perempuan 52009vUTC08bUTCFri, 28 Aug 2009 19:40:54 +0000 21,2008
Posted by aisyahkecil in Muslimah, Simfoni Hati.add a comment
“Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat” (An-Nuur: 30)
================================================================

Tak belajarkah dari sejarah tentang Cleopatra dan Julius Caesar?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Delila dan Samson?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Laila Majnun?
Tak belajarkah dari sejarah tentang Antoinette dan Revolusi Perancis?
Lantas apa arti dari sejarah ketika tak bisa diperoleh hikmah?
Bila kisah sejarah itu terlalu hiperbolis untuk diterima,
cukuplah sepenggal perkataan dari Rasulullah SAW, Sang qudwah hasanah
“Tidaklah aku meninggalkan fitnah sepeninggalku yang lebih berbahaya terhadap kaum lelaki dari fitnah (godaan) wanita.”
(Muttafaqun ‘alaih, dari Usamah bin Zaid radhiyallahu ‘anhuma)
================================================================
-ditulis bukan untuk apa-apa, (+bukan) tanpa maksud. sapesial untuk yang vi-em-ji, (+bukan) virus makin jayus-