Nyatakan Cinta?

Sejak lajangpun saya sudah “gemas” dengan aktivis da’wah yang bermain-main dengan CINTA. Ya.. perlu saya katakan dengan vulgar CINTA. Sebelum menikah tangan ini rasanya sangat ragu untuk menuliskan. Kenapa? Khawatir di tengah perjalanan saya tersandung dan termakan kata-kata sendiri.. Saya tidak tahu apakah saya mampu menjaga diri sampai nantinya akad terucap.

Saat ini setelah menikah saya cukup sedikit memiliki keberanian untuk berbagi dan menuliskannya. Bismillah..

Saya ingin bertanya kepada yang dengan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi (dengan #kode kata anak-anak sekarang) mengungkapkan perasaannya kepada lawan jenis yang ia sukai. Saya heran untuk apa?

[Nanti kalau sudah menikah, 24 jam dalam sehari, 7 hari dalam seminggu, 12 bulan dalam satu tahun kita akan punya kesempatan untuk menyatakannya.. Makanya heran, giliran PDKT aja sejuta kata-kata indah keluar. Giliran sudah menikah gak sebulan sekali bilang “I Love You”. Energinya sudah habis ketika PDKT kali ya… Kepikiran nggak kalo ternyata nggak jadi nikah sama seseorang itu? Kata-kata yang sudah keluar itu sudah tidak bisa ditarik kembali.. dan betapa sia-sianya mengungkapkannya karena hanya akan menjadi noda dalam hati]

Bahkan jawaban yang membuat saya agak mual adalah terucap dari aktivis da’wah jawaban “ya.. hanya agar dia tahu..”

Dari dulu saya ingin mengatakan..

Memang antum aja yang Allah anugerahi perasaan cinta?

Emang kita-kita yang lain yang tidak mengungkapkannya nggak punya rasa itu?

Memangnya kami yang tidak mengumbar perasaan ini tidak memiliki dorongan untuk menyatakan?

TIDAK

Kami juga punya keinginan untuk itu. Tetapi bedanya, kami berhasil menahan hal tersebut!

Biarlah Allah satu-satunya tempat kembali bagi kita. Untuk bercerita, berbagi, bahkan mungkin menangis..

Sayapun cukup protektif untuk urusan perasaan ini, bahkan kepada sahabat terdekatpun saya tidak pernah menceritakan saya suka atau kagum dengan siapa. Kalau dengan siapa saya bermasalah, ya..sering saya ceritakan tapi bukan yang terkait hati tetapi tentang hal lainnya.

Saya berpikir untuk apa menceritakan tentang CINTA kita kepada sahabat? Apakah dengan menceritakannya lalu seseorang itu menjadi balik suka atau menyelesaikan masalah? Biasanya malah menambah pelik urusan. Belum lagi cerita itu akan menambah pikiran sahabat kita. Lebih-lebih jika ternyata sahabat kita ternyata dalam diam dan cerianya menyimpan perasaan juga dengan orang yang sama. Betapa teganya kita..

Kata siapa saya diam saja dalam memilih pasangan. Saya bercerita dan terus meminta. Tapi TIDAK PADA MANUSIA. Memang kalian saja yang ingin pasangan sholeh/sholehah, aktivis, mujahid/mujahidah, tampan/cantik, cerdas, dari keluarga baik-baik dan berpuluh kriteria lainnya. Sama.. saya juga..

Gak salah meminta suami yang dapat menjadi imam bagi dunia dan akhirat putra-putri kami kelak. Gak salah meminta suami yang meneladani Rasul Nya. Gak salah meminta suami yang dekat dengan Al-Qur’an. Gak salah meminta suami yang tegas namun lembut. Gak salah meminta suami yang cerdas. Dan gak salah meminta suami yang tampan.

Percayalah Allah Maha Baik..

Tapi mintanya hanya ke Allah..

Dalam diam, dalam sunyi..

Bukan dengan sibuk mengatakan ke orangnya. Bukan dengan curhat ke sahabat. Apalagi dengan sadar atau tanpa sadar bergalau ria menulisnya di akun sosial media..

Lagian ngapain ke minta manusia..

eit..Jangan ambil pembenaran terkait hadits Rasulullah yang..

“ Apabila seseorang mencintai saudaranya maka hendaknya ia memberitahunya.” (HR. Abu Dawud dan at-Tirmidzi) tentang menyatakan cinta pada saudara yang dia cintai..

Itu mah untuk saudara yang sejenis ataupun keluarga..

Oh iya, mungkin banyak yang bertanya-tanya dan saya juga sempat bertanya hal yang sama.

Kalau kita menikah dengan seseorang yang nggak kita kenal sebelumnya dan belum ada rasa cinta gimana?

Terus kita nikah tanpa cinta dong?

Terus kedepannya gimana? Bagaimana sakinah, mawadah, warahmah itu bisa terwujud?

Saya dan suami sudah menjalaninya dan saatnya berbagi

Dibeberapa kesempatan jika ada yang bertanya hal ini saya menjawab,

“Ternyata nggak susah jatuh cinta sama orang sholih mah..🙂 “

Tapi   lagi-lagi.. Ah.. Siapa yang punya kuasa atas jiwa..

Saya hanya menyampaikan.. dan hidayah hanya milik Allah semata..

#omelan emak-emak dengan putri 1 bulan yang gemas melihat, mendengar, mengetahui masalah ‘itu’ yang tak pernah tuntas#

Happy Ending

2 hari yang lalu saya baru menamatkan sebuah novel karya tere liye “Sunset Bersama Rosie”. Sebuah novel dengan pengantar kejadian Bom Bali beberapa tahun yang lalu. Tokoh utamanya adalah Tegar dan Rosie. Tegar yang mengenal Rosie sejak mereka kecil. Memendam “rasa” sejak itu namun disalip oleh Nathan yang baru dikenal Rosie selama 2 bulan. Nathan dan Rosie lalu menikah. Tegar “kabur” dari Rosie dan Nathan dan memulai hidupnya yang baru serta membuka hati untuk seseorang, Sekar. Sampai suatu hari Rosie dan Nathan datang menemui Tegar membawa 2 orang putri mereka yang melelehkan hati Tegar. Tegar akhirnya menerima kembali Rosie dan Nathan dalam kehidupannya.

Kehidupan Rosie dan Nathan berjalan bahagia bersama 4 orang putri mereka sampai suatu saat bom Bali mengguncang keluarga mereka. Nathan meninggal dunia dan Rosie depresi karenanya. Keempat putri mereka yang masih kecil-kecil akhirnya diasuh oleh Tegar yang meninggalkan kota dan karirnya untuk fokus merawat keempatnya hingga Rosie sembuh. Konflik memuncak setelah Rosie sembuh dan Sekar (yang menunggu begitu lama) memutuskan untuk menikah dengan laki-laki lain. Tegar mengambil keputusan untuk menguatkan kembali komitmennya dengan Sekar dan kembali ke kotanya sembari mengucapkan perpisahan kepada Rosie dan keempat putrinya.

Menjelang kepulangan Tegar, akhirnya Tegar dan Rosie tahu bahwa mereka bukan hanya sahabat sejak kecil. Masing-masing menyimpan “rasa” yang sama dan tidak pernah terucap. Tegar terkejut dengan kenyataan bahwa Rosie menyimpan “rasa” yang sama namun sudah terlambat. Tegar sudah memilih sekar dan berjanji menikahinya. Tidak ada pilihan lain.

Tibalah dihari pernikahan Sekar dan Tegar. Tiba-tiba keadaan berbalik dengan perkataan dari putri terkecil Rosie, Lily, yang selama ini tidak pernah mau bicara diusianya yang sudah menginjak 3 tahun. Ketiga kakaknya memanggil Tegar dengan sapaan yang berbeda “Om, Uncle dan Paman”. Lily mengatakan bahwa dia tidak ingin memanggil Tegar seperti ketiga kakaknya, tetapi dengan panggilan “Papa”. Pada akhirnya Sekar menyadari bahwa kebahagiaan Tegar adalah ketika bersama Rosie dan keempat putrinya bukan dengan dirinya. Sekar pada akhirnya melepaskan kesempatan untuk menikah dengan Tegar dan memberikannya pada Rosie.

Well.. secara umum sebagai pembaca, kita akan berpikir bahwa novel tersebut berakhir bahagia. Menurut saya novel tersebut Happy ending bagi Tegar dan Rosie, tetapi tidak untuk Sekar. Untuk Sekar kejadian tersebut justru awalan untuk melangkah lagi.. Ya.. dari novel tersebut saya belajar bahwa bahagia untuk seseorang bisa jadi bukan bagi yang lainnya..

Dan saya teringat akan sebuah quotes:

Always remember that God only makes happy ending.. If its not happy, then its not the end. If your love doesn’t work with that person, it just mean that someone else loves you more.

– Unknown

Ya.. hanya sebuah pemikiran random.. Untuk mengobati yang sedang kecewa dengan penolakan mungkin. (penolakan terhadap apapun, persahabatan, pekerjaan, cinta, ataupun hal lainnya). Agar bisa membuka lembar baru, melapangkan hati sehingga mampu melangkah lagi..

 

Seperti quotes lainnya

Banyak yang kecewa dan terpaku pada satu pintu yang tertutup dan lupa dengan sekian banyak pintu lain yang terbuka untuknya..

Dalam perjalanan hidup kitapun begitu. Hidup ini banyak bahagia tetapi juga ada sulit, berliku bahkan banyak yang terjal. Ketika kita merasakan sulit itu maka yakinlah itu bukan akhir.. Hidup ini memang berat..

Dan.. hidup yang berat ini bukan akhir..

Akhir dari kehidupan dunia ini saya berharap happy ending. Happy ending sebenar-benarnya adalah ketika kelak kaki kita melangkah di surga-Nya..

Sembari mendengar perkataan..

“Wahai jiwa yang tenang! Kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang ridha dan diridhai-Nya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hamba-Ku, dan masuklah ke dalam surga-Ku”

(QS. Al-Fajr:27-30)

Ladies…

tumblr_ly7m6yBxkg1qaobbko1_500

 

 

tumblr_lnk3ebFKi41qj065bo1_500

 

The Journey (2)

4 Mei 2011

Kita bertemu dalam ruang dan waktu yang sama untuk mengenal lebih jauh, ta’aruf. Malamnya saya kebingungan besok pertanyaan apa yang harus diajukan? Dan pertanyaan apa yang akan diberikan. Jadilah malam itu sibuk browsing dengan keyword yang sangat amat garing “pertanyaan ta’aruf”. Eh, ternyata ada dan banyak.. Cobalah dirangkum beberapa hal yang kiranya penting untuk ditanyakan. Dan dalam hati mengatakan, semoga dengan tidak mempersulit kelak saya juga tidak akan dipersulit dengan pertanyaan-pertanyaan beliau. Setelah siap mengantongi beberapa pertanyaan, malam itupun tidur dengan tenang.

Paginya, jadwal ta’aruf direncanakan pukul 8 pagi. Tetapi karena baru pindah tempat tinggal (sekre Salimah) agar tidak terlambat karena mencoba rute baru, saya berangkat pukul 07.15 dari sekre. Ternyata jaraknya sangat dekat dengan rumah Murabiyyah saya (biasanya memutar). Alhasil pukul 07.30 saya sudah ada di daerah rumah Murabiyyah. Malu kepagian dan nggak mungkin pulang lagi, akhirnya saya menuju masjid yang ada diseberang rumah beliau. Tapi.. Oh tidak! Seperti ada seorang ikhwan yang sedang menunduk dan membuka sepatu disana. Tanpa berusaha ambil resiko, saya ambil langkah seribu langsung menuju rumah Murabbiyyah. Menelepon beliau dan menjelaskan kondisi. Saya akhirnya menunggu di rumah Murabbiyyah. Murabbiyyah pamit sebentar keluar karena si kakak ingin beli roti di toko depan. Lama menunggu, kenapa nggak pulang-pulang beliau. Tiba-tiba ada salam, Murabbiyyah masuk bersama seorang ikhwan yang tadi saya lihat di depan masjid. Degh.. Tubuh yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi panas dingin.  Kelu lidah seorang Agtri yang biasa ‘garang’ dan tidak kenal tendeng aling-aling ketika rapat dengan lawan jenis. Kata-kata yang keluar seperti aa..uu.. Ah..

Dipandu oleh Murabbiyyah prose situ dimulai. “Ladies first kata beliau”. Muncullah pertanyaan pertama dari saya. Kemudian setelah beliau menjawab Murabbiyyah memberi kesempatan ke beliau untuk bertanya dan beliau jawab dengan, “Mangga diselesaikan saja pertanyaan dari akhwat, dari ana hanya ada 1 pertanyaan dan 1 titipan pertanyaan dari keluarga.” Huaa.. bukan malah tenang mendengar hanya 1 pertanyaan tapi malah deg-degan dan tidak konsen mengajukan pertanyaan lanjutan. Curiga 1 pertanyaan itu adalah berapa jumlah hafalan dan saya tidak siap.. -_-“

Selesai juga pertanyaan dari saya dan sudah pula semuanya dijawab. Saatnya beliau.. Deg..deg..deg.. teringat cerita teman ada yang ditanya tentang Fiqh thaharah, harga beras di pasar, sampai diskusi sosial politik. Aduuh.. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Ternyata…. “Apakah anti siap untuk ikut saya kemana saya pergi?” Langsung anti klimaks mendengar pernyataan tersebut.. Fiuh… “Iya, insyaAllah siap” hanya itu yang bisa saya jawab. Karena saya memang berkomitmen untuk ikut suami kemanapun suami pergi. Saya tidak ingin dan tidak siap untuk menjadi Long Distance Marriage..  lalu dilanjutkan dengan pertanyaan titipan dari keluarga yaitu “ Apakah ada pelangkahan?” Saya melangkah menikah dua orang kakak perempuan (semoga Allah senantiasa menyayangi keduanya). Dan keduanya dengan luar biasa sangat berlapang dada bahkan mensupport begitu besar sebelum dan selama kami menikah apalagi setelah qoonita lahir. Saya menjawab “Tidak ada. Karena dikeluarga tidak menggunakan adat seperti itu”. Memang dibeberapa daerah budaya pelangkahan amat kental. Bahkan apapun yang diminta oleh kakak yang dilangkahi harus dipenuhi bilapun harganya sangat mahal. Alhamdulillah kakak-kakak tidak mau diberi hadiah oleh calon suami saya (ketika itu) bahkan memberikan hadiah mesin cuci untuk kami (bageur pisan kakak-kakakku ini..)

Dan.. pertemuan pagi itu ditutup dengan rencana kunjungan beliau ke rumah satu bulan mendatang..

Setelah itu komunikasi saya lakukan selalu via Murabbiyyah termasuk kapan tanggal fix beliau akan ke rumah dan nomor beliau belum saya simpan didalam hp..

25 Mei 2011

Pagi ini beliau ke rumah untuk bertemu ibu dan bapak. Beliau datang sendirian untuk memperkenalkan diri. Lagi-lagi datang kepagian.. Saya dan ibu masih belum pulang dari pasar -_-“ (Semangat pisan Uda…)

Dimulailah pembicaraan itu, hingga muncullah kalimat dari beliau, “Iya Pak, Bu, saya kesini serius ingin melamar Agtri putri Bapak dan Ibu jika diperbolehkan..” Dan dijawab “iya” oleh Bapak. Eh, berarti ini sudah jatuh khitbah ya? Alhamdulillah..

Kemudian beliau mengatakan besok akan membawa keluarga besar untuk lamaran secara resmi. Ibu mengatakan tidak usah repot-repot. Sekarang saja kan sudah resmi lamarannya. Nanti saja keluarga hadir ketika rapat persiapan acara. Ibu malah mengajak menentukan tanggal pernikahan. Ah, cepat betul pikir saya tapi ya sudahlah.. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya diputuskan sementara tanggal 3 September, H plus 3 Idul Fitri. Berharap mendapatkan keberkahan pernikahan di bulan Syawal dan juga mengingat keluarga besar yang masih berkumpul di Idul Fitri.

Setelah pertemuan tersebut nyaris tidak ada lagi pertemuan dengan beliau hingga menjelang hari H. Kecuali satu kali, tante yang di Surabaya ingin bertemu dengan beliau, jadilah kami bertemu di taman ganesha dengan kucing-kucingan khawatir terpergok teman-teman yang lain. Khawatir terjadi fitnah.

Komunikasi pasca khitbah dipercayakan oleh Murabbiyyah untuk langsung kami lakukan, dengan titipan tetap wara’ pada pengawasan Allah, waspada, dan hati-hati. Komunikasi kami lakukan via sms atau beberapa kali email untuk hal yang banyak. Diskusi lebih banyak pada teknis pembuatan undangan, progress souvenir, pembelian seserahan, dan konsep serta juklak hari-H. Awal-awal komunikasi masih sanggup membendung perasaan. Lama-lama saya sadar, saya perempuan. Saya lemah dengan perasaan. Makin lama makin melemah, sebelum terseret lebih jauh saya mengambil jalan aman. Saya butuh orang ketiga. Betapa merepotkan jika meminta bantuan Murabbiyyah lagi. Akhirnya saya putuskan meminta bantuan ibu dan kakak perempuan pertama untuk menjadi mediator. Rasa “itu” mulai muncul, saya coba untuk enyahkan, tapi tidak bisa. Menguping ketika kakak dan ibu saling telpon dengan beliau malu-malu saya lakukan. Sulit. Sulit sekali rasanya. Paling tidak jangan sampai beliau tahu tentang rasa “itu”.

Perjuangan pasca khitbah yang begitu menyita perasaan semakin mendekati akhir. 3 September 2011. Akhirnya akad itu terucap. Sederhana, namun kokoh. Pasca akad dilakukan, beliau menjemput saya yang menunggu di dalam kamar untuk ikut duduk dan menandatangani buku nikah. Setelah itu beliau memberikan hadiah tasmi surat Ar-Rahman yang dibacakan dengan tartil. Panas dingin rasanya. Lalu kami keluar untuk bertemu tamu.

Memisahkan tamu laki-laki dan perempuan bukan hal yang lumrah disekitar kami. Pesimis awalnya apalagi dengan keterbatasan lahan di rumah tetapi ibu meyakinkan bisa dilakukan. Dan Alhamdulillah memang bisa dilakukan. Kursi pun banyak sehingga tamu tidak harus standing party. Musik tidak menggunakan orgen tunggal ataupun band tetapi menggunakan mp3 lagu-lagu nasyid. Kamipun tidak harus bersalaman dengan yang bukan mahram. Alhasil ketika istirahat sholat dzuhur bisa langsung sholat karena masih ada wudhu.

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Segala puji hanya untuk-Nya..

Benarlah janjinya bahwa kemudahan dan kecukupan akan diberikan kepada orang-orang yang berniat menjaga diri dengan menikah..

Janganlah ragu..

Cerita ini saya persembahkan kepada semua yang belum, sedang ataupun sudah menjalani proses pernikahan..

Bagi belum menjalani prosesnya.. Bersabar dan bersyukurah.. sesungguhnya pasangan kita sudah Allah persiapkan. Kesabaran, kesungguhan dalam menjaga diri selama masih sendiri percayalah akan Allah balas dengan sebaik-baiknya. Jika kita pandai menjaga diri dan kehormatan, yakinlah seseorang disana juga akan menjaga dirinya. Jangan pernah menurunkan standar diri dan keimanan karena khawatir tidak mendapatkan pasangan. Namun berdo’alah agar seseorang disana juga sedang terus berproses memperbaiki diri agar pas dan klop dengan mu. Percayalah bahwa Allah sesuai persangakaan hamba-Nya. Berprasangka baiklah kepada Allah sambil terus melayakkan diri..

Bagi yang sedang menjalani proses.. Bersabar dan bersyukurlah.. sesungguhnya banyak kegundahan yang akan terjadi. Wajar, syaitan tidak akan membiarkan kita.. Sebelum akad itu terucap sadarlah kalian belum menjadi apa-apa jadi berhati-hatilah. Banyak keraguan yang mungkin muncul, tanyalah kepada hati apakah alasannya syar’I atau hanya guncangan dalam hati. Maka kokohkanlah keimanan dan titipkan seseorang disana hanya pada-Nya. Sungguh kita tidak punya kuasa untuk menjaga hati seseorang disana maka titipkanlah kepada penguasa-Nya

Bagi yang sudah menikah.. Perjalanan ini baru awalan.. Awalan untuk merajut jalan kita untuk menuju Jannah-Nya.. Mencintailah sewajarnya, titipkan selalu ia kepada Allah. Agar tetap dalam keimanan dan keislaman.. Ah.. saya belum layak menasehati di usia pernikahan yang masih amat dini ini. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan perbaiki. Mari melangkah bersama…

The Journey (1)

10 April 2011,

Tepat satu hari setelah toga saya kenakan.. Teringatkan sebuah janji bahwa langkah selanjutnya adalah bersegera memasuki tahapan amal kedua pembangunan peradaban..

Pagi itu, pesan singkat saya layangkan kepada pembinsaya yang shalihah dan amat saya percaya.

“Teh, bagaimana kalau Agtri mulai memasukkan biodata ke teteh?” kurang lebih seperti itulah redaksi kalimat yang saya kirimkan. Dan taklama diberikan jawaban Ya, agar saya segera mengirimkan biodata.

Bismillah, saya akan memulai proses ini..

Proses yang saya harapkan dapat menjadi jalan terbentuknya sebuah keluarga da’wah yang dapat menjadi inspirasi bagi peradaban..

Sebuah proses yang menjadi impian sejak saya mengenal jalan ini..

Sebuah cara berjumpa dengan pasangan jiwa tanpa harus menimbulkan bibit-bibit kotoran noda pada hati yang sudah penuh noda tanpa perlu ditambahkan noda-noda lagi.

Bukan, bukan berarti saya menafikkan cara lain tak syar’i..

Melalui wasilah orangtua, kerabat, teman, tentu bukan masalah ketika caranya Islami dan tak menimbulkan noda-noda pada hati..

Saya memilih melalui Murabbi karena

1. Saya ingin kami bersatu di jalan da’wah melalui jama’ah.. saya memiliki suami yang selaras berjalan dalam merajut mimpi membangun peradaban ini..

2. Saya sangat mempercayai MRku.. beliau kurang lebih hampir 3 tahun menjadi pembinsaya.. Seseorang yang ‘susah payah’ membentuk diriku agar bisa senantiasa memperbaiki diri dan tegar di jalan ini. Teringat suatu saat beliau berkata, “semua Murabbi pasti mencarikan pasangan terbaik untuk mutarobbinya. Kalian sudah dibentuk susah payah oleh kami para murobbi untuk menjadi shalihah, tidak mungkin kami memberikan kalian pasangan (ikhwan) yang sembarangan..” Ya.. Setelah menjadi Murobbi kata-kata beliau, saya akui 100%.. Pun ketika mutarabbi ingin menikah, sayapun akan mencarikan ikhwan terbaik untuk mereka, bukan asal comot atau ikhwan yang ‘aneh-aneh’ atau bahasa lazimnya yang di blacklist (siapa juga yg nge-blacklist ya?)

3. Orangtua mempercayakan kepada saya anaknya untuk mencari lelaki shalih yang kelak akan menjadi menantu keduanya.. Dan saya tak punya kemampuan untuk itu.. dan saya wakilkan kepada jama’ah untuk memilihkannya melalui murabbiku

4. Dan.. yang menjadi keyakinan saya adalah jodoh itu takkan tertukar.. (lagi-lagi) mau pacaran 7 tahun, 3 tahun, 2 bulan, atau baru kenal melalui biodata saat itu juga.. Tidak akan salah… So.. Saya berupaya memilih cara mana yang paling berkah yang paling dapat meminimalisir noda-noda jiwa sebelum akad itu terucap. Dan Saya memilih jalan ini.. Sangat sedih rasanya jika ada seseorang yang ‘ngotot’ ingin berproses dengan seseorang. Bukan tidak boleh.. tapi kenapa harus mempersulit diri sendiri. Ibarat dirinya punya kesempatan mendapatkan jodoh dengan himpunan semesta 100 orang, tetapi karena memaksa dengan 1 orang akhirnya bisa jadi yang sesungguhnya jodohnya diatara 99 orang yang lain menjadi terhambat. Ah.. ruginya.. kenapa tidak berupaya membuka hati agar jodoh lebih mudah menghampiri. Kenapa mempersulit diri sendiri.. Padahal pengetahuan kita itu amatlah sangat sempit dibandingkan pengetahuan Allah.. kenapa tidak diserahkan kepada Allah.. lagi-lagi kenapa?

dan..

11 April 2011 pagi hari di ingatkan kembali oleh murobbi untuk segera memasukkan biodata ke email beliau..

Deg.. deg..

Bismillah,

Sent!

Dan, saya tahu, setelah data ini dimasukkan, masuklah pada fase menunggu..

saya tau bagaimana kesibukan murabbiku, saya tahu betapa banyaknya biodata para lajang yang menumpuk dan mengantri untuk diproses, saya tahu tidak sedikit yang menunggu bahkan lebih dari 1 tahun lamanya.

Tapi saya tau, bahwa Allah yang Maha Kuasa

Tak akan tertunda sesuatu jika memang waktunya telah tiba dan tidak akan dipercepat sesuatu yang belum waktunya..

Setelah itu, ibu dan bapak mengajak rehat jauh dari rimbunnya Kota Bandung, menuju Kota lumpur, Siodarjo untuk beberapa waktu.

Kurang lebih 2 pekan sejak 11 April, saya kembali ke Kota Bandung.. Menjalani pembinaan pekanan spesial dengan teman-teman baru.. Esoknya saya dihubungi murobbi untuk ke rumah beliau, tanpa prasangka apa-apa karena sudah biasa membahas amanah kami ditempat yang sama. Taklama, bliau mengatakan sebuah kalimat yang membuat jantung ini berdetak sangat kencang, “agtri, datanya sudah diproses ya. Biodata ikhwannya juga sudah ada di teteh.”

Degh!

Jantung mulai tak karuan, tak menyangka begini cepat prosesnya…

Allah..

Kadang kurang nyaman menjadi orang ekspresif, pastilah saat itu murobbiku tahu betapa panas tubuhku mulai meningkat dan wajahku mulai memerah..

Tahu betapa terkejutnya saya,

beliau mencairkan suasana dengan meminta saya menebak siapakah ikhwannya.

Ah.. teteh..

manalah saya tahu..

Beliau memulai dari asal daerah, tahun lahir, hingga jurusan

*blank*

Ya, saya tahu, ada seorang ikhwan yang pernah saya tahu sesuai clue yang diberikan beliau..

Tapi..

Semakin saya mencari di dalam setiap file otak semakin saya tak temukan..

Siapa?

Hingga akhirnya beliau sebut kan sebuah masjid besar di Kota Bandung serta aktivitas tahfidz yang beliau lsayakan disana. Masjid habiburahman PT.DI. Saya tahu, tapi lidah serta merta jadi kelu.

Ah, tak mungkin rasanya..

Apalah saya ini..

spontan saya katakan pada murobbi, “tapi… teteh taukan berapa hafalan agtri….”

Beliau tersenyum dan mengatakan, “iya Agtri, ikhwannya tidak mensyaratkan seorang hafidzhah..”

Saya terdiam. Tak tau harus bicara apa.

Melihat saya terdiam, murobbiku mengatakan, “mangga diendapkan dulu, ini sudah teteh copykan biodata ikhwannya untuk dibaca.”

saya masih terdiam, terduduk tak percaya. tahukah apa yang saya pikirkan saat itu?

“apa alasan yang bisa saya berikan untuk menolak ikhwan ini. Bukan karena kekurangan yg ada pada beliau, tapi kekurangan yang ada pada diriku.”

Hingga petang hari, file itu tak juga kubuka. sejujurnya saya tak berani…

Selepas shalat magrib, sembari menunggu shalat isya, saya mantapkan hati untuk membacanya. Tak banyak, hanya 4 lembar saja namun padat berisi. Tanpa terasa, wajah saya sudah sembab dengan air mata *duh saya menangis lagi jika ingat hal itu*. Saya tak tahu.. kenapa saya mengeluarkan air mata. bahasa tulisnya lugas dan tegas tak ada unsur ‘perasaan’ yang tercantum didalamnya. Tapi.. tapi kenapa saya menangis?

Saya tidak mengerti..

Setelah menikah, saya baru menyadari betapa banyak kesamaan yang harusnya membuat kami mengenal sebelum prose situ. Tetapi Allah menjaga kami untuk tidak saling mengenal sampai tiba waktunya.

Kami sama-sama anak ITB. Beliau Geodesi dan Saya Planologi dimana gedung GD dan PL itu tetangga yang betul-betul tetanggaan. Nyatanya kami sama-sama tidak menyadari

Kami sama-sama berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Saya dari Palembang dan beliau lama tinggal di Baturaja dan Martapura. Kesempatan kami untuk bertemu di MUSI (Mahasiswa Bumi Sriwijaya), unit kedaerahan di ITB sangat besar tapi nyatanya kami tidak bertemu.

Kami sama-sama cinta buku dan tempat langganan beli buku kami adalah di tazkia (Gelap Nyawang) tetapi kami tidak merasa pernah bertemu ketika membeli buku.

Kami sama-sama aktif di Gamais. Beliau secara angkatan adalah junior saya (2006) sedangkan saya masuk ITB 2005 karena saya ikut program akselerasi ketika SMA, walaupun secara usia tetap beliau lebih tua dari saya (jadi jangan bilang teh Agtri nikahnya sama brondong ya.. hehe). Beliau aktif di MSDA (kaderisasi)  dan saya di Annisa. Beliau sempat diproyeksikan menjadi kepala departemen MSDA dan saya menjadi Majelis Syuro. Tapi akhirnya beliau memilih untuk fokus menghafal jadi mengundurkan diri dari Gamais. Kebayang kalau beliau jadi di MSDA pasti saya akan sangat mengenal beliau. Nyatanya Allah lagi-lagi menjaga

Kami sama-sama suka makan masakan padang. Langganan kami di Talago Biru Pelesiran. Nyatanya? Kami nggak ngerasa pernah ketemu pas beli

Kurang lebih 3 hari saya ‘galau’, berusaha memantapkan diri. Saya jenuh. Akhirnya saya main ke kamar saudari saya, disana iseng saja, saya ambil sebuah buku pernikahan yang ia miliki. Saya buka random sebuah halaman. dan.. dihalaman itu, saya mendapatkan pertanyaan yang selama 3 hari ini saya bingungkan..

Dan Bismillah, saya mengirimkan jawaban “insyaAllah lanjut teh..” ke murabbiyah

Banyak sarang laba-laba..

*Fuh.. Fuh..*

Bismillah..

Bebersih blog dulu..

Setahun lebih blog ini ditinggal…

Dipenuhi kegiatan-kegiatan rutin..

Belajar jadi istri..

Sakit..

Sekarang belajar jadi ibu..

Ayo nulis lagi Agtri…

Oh iya, Agtri punya blog baru *yang ini aja nggak keurus -_-“

Blog untuk putri pertama kami

shofiyyahqoonitahusnayain.wordpress.com

Enjoy it..

kepadamu jiwa

Bersabarlah,

wahai jiwa-jiwa..

Tak lebih dari satu purnama..

 

“Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal dan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar.  Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”

(QS. An-Nisa’ : 122)

Previous Older Entries