Mommy, kita sendiri?

Jika mendengar kata ibu, apa yang terlintas dalam pikiran sahabat muslimah?

Kita sadari bahwa yang paling sering terlintas jika kata ‘ibu’ diucapkan adalah gambaran tentang ibu kita. Mulai ingatan akan fisik beliau, perhatian beliau, kasih sayang beliau. Tapi, pernahkah terlintas dalam pikiran sahabat muslimah bahwa gelar tersebut, cepat atau lambat akan sahabat muslimah sandang?

Mungkin.. ada beberapa dari kita yang sudah menyadari hal tersebut.Jika ya sudah disadari, pertanyaannya belum usai, lalu sudah sejauh mana kesiapan kita?

Hal ini mungkin terasa masih terlalu lama dan masih terlalu jauh dari kita.

Jawaban yang sering muncul ketika ditanya tetang persiapan menjadi seorang ibu biasanya:

1.       “Wa…… aku kan masih lama mau nikahnya. 5 tahun lagi kok”

Atau

2.       “Akukan masih kecil, sekarang aja masih 19 tahun”

Atau

3.       “Belajar jadi ibu sih bisa nanti, sambil jalan pas udah Nikah. Bisalah… natural aja…”

Hayooo, ngaku aja. Sering nggak pernyataan-pernyataan ini muncul baik dari lisan ataupun sekadar menjadi  lintasan di hati sahabat muslimah. Bukan hal yang lazim ya, jika kita membahas hal tersebut? Ketika ada yang membuka topik persiapan ini stempel yang diberikan adalah “Wa… ada yang mau nikah  duluan niy”.

Padahal.. kalau kita ngeliat karakteristik yang namanya belajar..

Semakin banyak belajar semakin merasa masih sedikit ilmu yang kita punyai..

Sebetulnya kenapa persiapan menjadi ibu menjadi hal yang penting?

Ini ada kutipan pengantar dari Dr.Yusuf Qardhawi (ulama kontemporer) di buku Kebebasan Wanita yang ditulis oleh Abdul Halim Abu Syauqqah.

“Dilihat dari hitungan banyaknya, jumlah wanita mencapai separuh dari jumlah masyarakat dunia. Namun jika dilihat dari pengaruhnya terhadap suami, anak-anak, dan lingkungan, jumlah tersebut lebih dari separuh jumlah masyarakat dunia. Seorang pujangga berkata:

Seorang ibu ibarat sekolah…

Apabila kamu siapkan dengan baik…

Berarti kamu menyiapkan satu bangsa yang harum namanya

Begitu juga, orang-orang bijak banyak yang mengaitkan keberhasilan para tokoh dan pemimpin dengan  peran dan bantuan kaum wanita lewat ungkapan:”Dibalik keberhasilan setiap pembesar ada wanita!”

Wow, begitu besar peranan seorang wanita, terlebih lagi setelah menjadi seorang ibu.

Momen Idul Adha yang sebentar lagi akan kita jalani juga tidak terlepas dari peran seorang ibu. Selama ini tetang Idul Adha atau Idul Qurban dikaitkan dengan ketabahan seorang ayah yaitu Nabi Ibrahim a.s dan keikhlasan putranya Nabi Ismail a.s. Tetapi jika dilihat lagi dari sejarah, ada peran penting seorang Siti Hajar (Ibunda Nabi Ismail a.s sekaligus istri dari Nabi Ibrahim a.s) yang bisa mendidik putranya sedemikian rupa sehingga putranya bisa memiliki sikap berserah diri yang luar biasa. Dikorbankan untuk disembelih. Gimana seorang ibu bisa menerimanya coba? Tapi beliau dengan tabah bisa menerimanya karena itu adalah perintah dari Allah.. Dan Ismail kecil dengan didikan dari ibu yang luar biasa itu juga bisa merelakan dirinya untuk disembelih. Dan akhir ceritanya seperti yang sudah sahabat muslimah ketahui, Allah menyelamatkan Ismail ketika hendak disembelih dan menggantinya dengan seekor domba. Subhanallah..

Nah, cerita sedikit tetang Siti Hajar. Siti Hajar pernah dibawa melakukan perjalanan oleh Nabi Ibrahim ketika Nabi Ismail masih disusui oleh Siti Hajar. Kemudian mereka ditinggalkan di tempat  di samping Baitullah saat ini. Saat itu, belum seorang pun tinggal di Mekah dan keduanya hanya ditinggali satu kantong kurma dan satu tong air kemudian Nabi Ibrahim pulang sendirian ke Syam. Siti Hajar sempat bertanya kenapa ia ditinggalkan ditempat kosong dengan bekal sesedikit itu, “apakah ini perintah dari Allah?” Nabi Ibrahim menjawab Ya. Lalu dijawab oleh Siti Hajar, “Kalau demikian halnya , tentu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami. Aku pasrah kepada Allah.” Setelah air di tong itu habis, Siti Hajar kehausan begitu juga Ismail kecil. Siti Hajar berlari lalu berdiri diatas bukit dengan menghadap kearah lembah untuk melihat apakah di sana ada orang. Namun dia tidak meliihat seorangpun. Lalu iapun turun dari bukit Shafa sampai ke lembah(Marwah). Ia lakukan sampai sampai 7 kali sambil berlari dari Shafa hingga Marwah. Ingat salah satu rukun haji yaitu sa’i? Sa’i yang saat ini dilakukan, pertamakali dilakukan oleh Siti Hajar…Dan kisah ini terus berlanjut dengan datangnya malaikat jibril yang menggali tanah pasir dengan tumitnya hingga keluar air. Siti Hajar terus menciduknya ke dalam tong namun air tersebut tidak berhenti mengalir. Itulah pertama kalinya munculnya air zamzam yang kita kenal saat ini. Dan awal mula berkembangnya tempat terpencil  itu dimana Siti Hajar dan Ismail kecil ditinggalkan menjadi Mekah.

Nah, setelah mendapat penggalan cerita diatas, kembali ke kondisi saat ini. Sepakat kalau untuk bisa  menjadi seluar biasa itu butuh persiapan?  Sekarnag, dari mana kita belajar untuk tidak sekadar menjadi ibu tetapi menjadi ibu yang luar biasa? Ya..Think globally, Act locally mulai diterapkan.. Mimpi agar bisa putra dan putri yang akan menjadi solusi di masa mendatang mulai ditumbuhkan. Act locallynya mulailah dari hal-hal kecil deh, misalnya dari hal-hal yang sifatnya umum seperti belajar untuk bersabar. Teori sabar mah gampang tapi penerapannya…  Fiuh… perlu banyak latihan. Kenapa seorang ibu harus sabar. Wa.. kalau ibu nggak sabar, siapa yang mau  menyusui atau mengganti popok ditengah malam pekat padahal dari siang hari harus mengurus rumah atau letih bekerja diluar rumah? Ketika anak mulai bisa berjalan, siapa yang bisa menjamin bahwa anaknya tidak mendapatkan cubitan atau pukulan ketika ia melakukan kenakalan-kenakalan kecil. Bahkan bagaimana sabar sebelum anak lahir didunia, bagaimana seorang ibu harus bisa sabar menahan beban berat di perutnya, bersabar ketika rasa sakit meyergap saat buah hati akan lahir ke dunia. Ya.. semua itu butuh kesabaran..

Selain itu mulai baca-baca dan cari tahu hal-hal khusus yang perlu calon ibu ketahui misalnya hal-hal yang berkaitan tentang kehamilan, persalinan, merawat bayi, mendidik anak, memilih nama yang baik untuk  anak dan lain sebagainya. Jika dirinci, hal-hal tersebut tidaklah sedikit loh. Coba aja dilist..

 

So,sahabat muslimah jangan ragu untuk mulai belajar dan mempersiapkan.

Karena…

jadi ibu? kalau nggak disiapin, gimana mau siap?

(AL)

ditulis… 6 desember 2007

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: