Sulit Koordinasi? Masih Jaman?

Sudah cukup sering bahkan berulang bahwa masalah komunikasi ikhwan-akhawat yang bermasalah dapat mengacaukan sebuah wajihah da’wah ataupun aebuah kepanitiaan. Hal ini sebetulnya merupakan kewajaran yang timbul dari fitrah masing2 gender itu sendiri. Berulang seperti siklus tanpa ada transfer nilai dari generasi sebelumnya. Ana coba untuk memaparkan sedikit hal yang semoga bisa menjadi masukan bagi kita semua untuk menjadi lebih baik.

 

Ikhwah… Pernahkah antum (ikhwan)  mengalami hal ini?

Antum rapat malam-malam lebih dari 5 jam untuk merumuskan sesuatu sampai tidak tidur mungkin. Dipagi harinya antum mencoba untuk menyampaikan hal tersebut ke akhwat dengan bahasa, “Semalam ikhwan rapat. Kami memutuskan bla..bla..bla..” Reaksi yang antum terima jauh dari harapan. Hal yang ada bisa jadi penolakan besar-besaran. Bahkan ketika ditanyakan alas an dari penolakan, menurut antum kurang masuk logika. Atau bahkan jawaban yang antum terima , “Pokoknya ana nggak setuju” jawab akhawat tanpa ada alas an lebih lanjut. Kesal? Sangat mungkin… sudah nggak tidur semalaman eh belum bisa dieksekusi karena alasan dari akhwat yang nggak bisa dipertanggungjawabkan.

Ternyata.. kami, kaum akhwat(pada umumnya) menyatakan tidak sepakat, berakar dari “tidak dilibatkan”nya akhwat ketika ada pembahasan ttg hal tersebut. Tidak dilibatkan ini menimbulkan barrier/jarak.. Hal ini kembali ke fitrah masing2 gender ternyata.. Dari buku Mars and Venus dan juga Why man doen’t listen and women can’t read the map yang dilakukan penelitian selam bertahun2, ketika kita melakukan sesuatu itu ada hal mendasar yang menjadi perbedaan ikhwan itu biasanya berorintasi pada hasil sedangkan akhawat itu berorientasi proses.Jika hipotesa itu benar, maka tidak heran jika ikhwan membawa hasil rapat semalam dan mensosialisasikan ke akhwat pada pagi harinya dengan perasaan kondisi baik2 saja, yang penting kita sudah menemukan solusi dari permasalahan kita. Berbeda dengan akhwat (ana juga baru sadari) yang berorientasi proses. Akhwat snagat menyukai jika diajak serta dilibatkan untuk menyelesaikan sesuatu. Prinsip ini kembali memang sesuai fitrah bahwa akhwat itu senang mengerjakan berbagai hal bersama2. Selain ingin menghasilkan output dari pembahasan hal yang tidak kalah pentingnya adalah bagaimana bisa menjalin hubungan interpersonal yang baik. Bahkan terkadang output menjadi nomor kedua. Jangan dikira bahwa pelibatan ini hal remeh temeh bagi akhwat. Memang mungkin bagi ikhwan hal ini tampak terlalu rumit dan bertele2 plus membutuhkan effort yang lebih besar jika harus melalui akhawat dulu. Tapi, yang perlu dsadari bersama bahwa akhwat memang butuh itu yang ingin mendapatkan pelajaran dan tadrib amal bukan hanya ikhwan saja. Mungkin tidak disadari bahwa ketika pembahasan itu jomplang di salah satu gender, berarti gender yang lain antum rampas haknya untuk bisa berkembang.

Jadi… Tahukan kenapa usulan/keputusan  ikhwan yang sudah dibahas dan bagus luar biasa itu bisa ditolak mentah2? Jawaban simpleya adalah ketika akhwat ‘merasa’ tidak dilibatkan dalam 

Hal kedua yang mungkin ikhwan alami adalah akhwat itu kayak nggak ada kerjaan lain aja. Hal2 yang kecil2, rinci, nggak penting masak harus dibahas juga…

Ya.. memang begitulah..

Allah dengan segala Kebesarannya menciptakan ikhwan dan akhwat dengan karakteristik dan sifat yang berbeda untuk bisa melengkapi satu sama lain.

Tahukah Antum..

Hal mungkin terpikir dibenak antum adalah akhwat itu cerewet dan ikhwan itu cuek.

Akhwat itu cerewet.. “Iya, akhwat itu cerewet, hal2 kecil aja harus dibahas. Nggak penting lagi” sedangkan tanggapan akhwat.. “Ikhwan itu ya, cuek banget. Nggak pedulian!!”.

Ikhwah.. kalau boleh ana yang sedikit berilmu ini memberikan tanggapan.. Kembali.. hal ini merupakan fitrah dari masing2 gender. Ikhwan cenderung untuk bisa berpikir Makro sedangkan akhwat itu cendrung berpikir mikro. Tidak ada yang salah ataupun lebih baik antara yang satu dengan yang lain. Subhanallah.. Allah menciptakan semua ini untuk bisa salaing melengkapi. Jadi jangan heran kalau akhwat sering… sekali berpikir hal2 yang sangat mendetail.. da emang desain otaknya seperti itu..tidak heran kalau ikhwan muncul dengan ide jangka panjangnya akhwat kurang bisa menerima langsung. Alasannya simple, terlalu mengawang menurut akhwat. Oleh karena itu, untuk bisa mendapatkan produk/output yang bisa syumul.. dibutuhkan adanya kerjasama dari hal pemikiran baik dari ikhwan maupun akhwat dengan memanfaatkan potensi tadi. Hal2 yang sifatnya makro dari ikhwan agar bisa bervisi jangka panjang dan juga pemikiran mikro dari akhwat agar implementasi dari visi jangka panjang tadi bisa ‘dibumikan’ istilahnya..benar2 bisa syumul lo hasilnya

Kembali ke pernyataan diawal tadi, ikhwan cuek. Sebetulnya bisa jadi bukannya cuek, tapi tidak terpikir bahwa hal mendetail itu tadi perlu dibahas karena dengan ada dipikiran hal itu sudah cukup bagi ikhwan. Karena energy yang ada ebih baik memikirkan hal2 makro yang lainnya.

Sedangkan akhwat, karena senang berpikir mendetail jadi tampak cerewet, sebetulnya ingin memastikan bahwa semua hal itu beres dan berjalan sesuai dengan fungsinya dan perannya masing2. Ini juga mengapa ketika ada pembahasan perlu ada ikhwan dan akhwat. Ya agar masing2 gender bisa mulai belajar, ikhwan belajar untuk berpikir agak mendetail dan akhwat bisa berpikir agak general. Intinya adalah pembelajaran.

Akhwat ngasih kritik.. perlu dipahami bahwa ketika akhwat memberikan kritik.. hal ini bukan berarti akhwat mengganggap antum tidak mampu. Kritik ini merupakan ikhtiar agar antum bisa menjadi lebih baik kedepannya. Nah terkadang ikhwan salah tafsir dengan kritik/masukan ini dengna menganggap bahwa ia salah. Tidak sepenuhnya antum salah akhi.. itu hanya masukan. Ikhwan sering kali lama….. untuk menjawab hal2 yang berbau kritik ini bahkan cenderung menghindar. Ana sempat takut dan khawatir. Wa.. marah ni? Tapi kembali ketika membaca ulang buku Mars and Venus, ana sadar bahwa begitulah cara ikhwan untuk menetralkan dan mencari solusi bagi dirinya. Maka jangan pernah coba untuk mengganggunya. Pernah ana coba nekat untuk ‘mengganggu’. Ternyata benar.. tetep wae nggak dijawab pertnayaan dari ana. Akhirnya.. ya… tunggu saja sampai ia keluar dari pengasingannya. Beda dengan akhwat. Akhwat ketika ada persoalan maka pelampiasannya adalah dengan bercerita. Lucu, unik, aneh, kalau kita tahu ttg hal ini tapi memang begini kenyataannya

Dari hal yang sudah disampaikan diatas, perbedaan2 ini bukanlah hal yang menjadikan kita berada di kutub yang berbeda tetapi justru bisa menjadi potensi jika kita dapat memanfaatkan dengan sebaik mungkin. Setiap gender pasti akan menyatakan bahwa ia sudah berusaha mengerti gender yang lain. Ya.. semua pasti akan bilang seperti itu. Manusia dewasa adalah yang berusaha memahami oranglain lebih banyak ketimbang meminta orang lain unutk memahami dirinya sendiri.

But for all.. untuk semua gender janganlah pernah lupa atau ragu untuk mengucapkan 3 kata emas yang dapat melunakkan hati semua orang yaitu.. Tolong.. Maaf.. dan Terima Kasih

1 Comment (+add yours?)

  1. anung
    Aug 28, 2010 @ 09:44:50

    tinggal banyak2 introspeksi aja masing2 pihak

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: