Perfilman Indonesia=cara berpikir bangsa?

Bangga sekali melihat anak bangsa semakin kreatif.  Dulu yang namanya film Indonesia tahunya cuma Petualangan Sherina aja.. Lalu mulai SMP apa SMA ya.. Nge-boom film AADC, mulai semenjak itu beranak pinak film2 remaja yang tidak hanya layar lebar. Mini seri semakin banyak semua berbau remaja, tidak Cuma media elektronik, media cetak pun semakin menjamur tema-tema tentang pergaulan remaja.

Sedikit banyak tontonan ini mempengaruhi kehidupan para remaja. Muncul tren-tren khas anak muda. Jadi ingat dengan tren baju ‘kekecilan’ khas Cinta dkk di AADC, rok nge-press diatas lutut yang dipake di panggul dan tidak lupa kaos kaki panjang untuk menutupi kaki jenjang para remaja putri. Waw, ternyata media itu benar2 bisa merubah frame berpikir dari suatu bangsa ya.. tren ini cukup lama ada, bahkan sampai sekarang juga masih . apa ya.. Eiffel I’m in love, heart.. tema remaja ya kaitannya dengan cinta.. apa lagi yang lebih menarik bagi remaja selain 5 huruf itu. Katakana cinta, H2C wah.. jadi tontonan asyik di hari sabtu minggu. Bener2 sudah jadi budaya.. Makanya pas film BCG muncul banyak yang langsung ingin boikot.. gmn kalau hal ini jadi tren baru ? mau jadi apa negara ini kalau mental pemudanya hanya begitu??

Habis itu muncul banyak film mistis.. udah aja.. semuanya bicara tentnag beragamnya hantu di Indonesia. Full hantu-hantu lokal Indonesia. Tusuk jaelangkung, pocong (1-3), kuntilanak, bangsal 13, lewat tengah malam.. daan lain2. Sama juga dengan acara2 di Tv sarat akan acara2 begitu-an. Jadi budaya juga khan??

Nah… yuk kita lihat kondisi sekarang

Banyak muncul film2 berbau komedi S*X. M*-lah, MNiD-lah, QE-lah… macam-macam, jadi ingat tahun 80-90-an sama film warkop DKI…

 Nah masih ingat pembahasan kita diatas? Ketika media mendominasi budaya kita.. Setelah film-film remaja merubah gaya hidup remaja dan menjadikan mayarakat doyan khufarat.. Akankah dilanjutkan dengan film-film komedi S*X yang bisa jadi budaya bangsa?

 ‘Kita’ masih belum cukup punya filter untuk membedakan mana yang bisa kita ambil sebagai hikmah mana yang perlu dibuang jauh-jauh. Tontonan-tontonan itu bisa menjadi (kembali) menjadi sebuah cara untuk kembali merubah gaya hidup kita. Akankah gaya hidup kita menjadi seperti itu?  

Itu semua pilihan… ada alternatif lain yang jauh lebih kreatif dan bermakna dibandingkan film-film itu semu? Kurangkah bukti bahwa film-film sarat makna dan tak mengumbar aurat tetap bisa memegang rating tinggi dan membuat ‘ketagihan’ penonton? Kata siapa Naga Bonar jadi 2 dan yang teranyar Ayat-ayat Cinta membuat tim produksinya tidak untung?

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: