4 menteri Perempuan dalam Kabinet SBY

Sebetulnya kurang sepakat dengan kata-kata ‘pembantu’ dalam tulisan aslinya di kompas. (tertulis ‘Empat Pembantu Hebat SBY’)

Tapi, memang inspiratif

Bahwa perempuan juga bisa menokoh

terlepas Ia tampil langsung di depan publik menjadi orang hebat atau mendampingi orang hebat untuk memimpin

082542pSenin, 1 Desember 2008 | 08:06 WIB

Oleh: A Wisnu Nugroho

KEPUTUSAN Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menempatkan empat perempuan di kabinet yang diberinya nama Kabinet Indonesia Bersatu benar-benar memberi warna pada pemerintahan.

Pilihan SBY –dengan bantuan pertimbangan Jusuf Kalla, tentunya– menunjuk empat perempuan di empat posisi yang strategis itu saat ini terbukti membawa hasil yang lumayan baik. Dalam catatan saya, ini adalah untuk pertama kalinya dalam sejarah, ada empat menteri perempuan dalam kabinet. Jumlah terbesar.

Jumlah itu bertambah menjadi lima dalam setahun ke depan setelah jabatan Menteri Koordinator bidang Perekonomian yang ditinggalkan Boediono diserahkan kepada salah satu dari empat menteri perempuan kabinet SBY. Boediono yang bersahaja meninggalkan jabatan yang semula tidak ingin dimasukinya lantaran diajukan, dipilih, dan dilantik menjadi Gubernur Bank Indonesia, 17 mei 2008 silam.

Empat perempuan hebat di kabinet itu adalah, Sri Mulyani atau biasa dipanggil mbak Ani untuk membedakannya dengan Ani Yudhoyono, isteri SBY. Dalam karirnya di kabinet, mbak Ani boleh dibilang paling melejit prestasi dan capaian-capaiannya. Setahun menjabat sebagai Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional, mbak Ani diberi tugas lebih besar menjadi menteri keuangan. Dua tahun menjadi Menteri Keuangan, mbak Ani kemudian diberi tugas tambahan. Jabatan Menko Perekonomian yang kosong diminta SBY agar dirinya yang melaksanakan.

Tiga jabatan mbak Ani selama di kabinet adalah tiga jabatan yang untuk pertama kalinya dipegang oleh perempuan. Di jalan-jalan Ibu kota yang makin macet saja, kesibukan mbak Ani dalam empat tahun terakhir ini bisa dikenali dari sedan Toyota Camry yang ditumpanginya dengan nomor polisi RI 12 (Menko Perekonomian), RI 20 (Menteri Keuangan), dan RI 41(Menteri Negara Perencanaan Pembangunan Nasional).

Perempuan hebat kedua adalah Marie Elka Pangestu. Marie begitu biasa dipaggil, merintis dari bawah untuk membangun Departemen Perdagangan. Sebelumnya, perdagangan masuk dalam Departemen Perindustrian dengan nama Departemen Perindustrian dan Perdagangan. Cita-cita SBY untuk meningkatkan nilai perdagangan Indonesia membuat departemen ini kemudian dipecah.

Hasilnya cukup lumayan. Meskipun krisis mengharuskan Marie mencari pasar-pasar baru nontradisional Indonesia di luar Amerika Serikat dan Eropa. Peningkatan volume perdangangan Indonesia dengan China adalah salah satu contoh suksesnya. Menjadikan dirinya dan barang-barang yang dikenakannya sebagai ajang promosi, Marie selalu mengenakan kain-kain tradisional Indonesia yang ribuan jenisnya ke mana dan di mana pun berada. Di antara anggota kebinet, koleksi kain tradisional Marie mungkin yang terbanyak.

Perempuan hebat ketiga adalah Siti Fadilah Supari. Selama menjabat sebagai Menteri Kesehatan, Siti menggebrak lewat keenganannya untuk tunduk pada hegemoni negara maju. Kasus sampel virus flu burung  (h5n1) Indonesia yang ”dicolong” melejitkan namanya. Tidak hanya di Indonesia, tetapi juga di dunia internasional. Siti yang senang sekali dengan tas jinjing merek Louis Vuitton ini menuntut keadilan. Keberaniannya mendapat apresiasi dunia internasional, setidaknya di majalah the Economist, 2006.

Sebelum menjadi menteri, Siti memang jarang terdengar dan terlihat kiprahnya di mata publik. Karena itu, ketika pada tengah malam 20 Oktober 2004 namanya disebutkan sebagai Menteri Kesehatan, mencari foto profilnya adalah pekerjaan yang melelahkan. Meskipun demikian, Siti yang senang disanggul ini ternyata mempunyai kiprah yang mencengangkan dan membanggakan saat diberi kepercayaan.

Perempuan hebat keempat adalah Meutia Farida Hatta Swasono.  Pos yang diisinya adalah pos yang memang selalu diisi perempuan dan sudah seperti keharusan. Namun, di pos yang biasa di Kementrian negara Pemberdayaan Perempuan itu, Meutia tampil luar biasa. Meutia berbicara lantang menentang ketika muncul heboh poligami yang dilakukan da’i kondang langganan istana. Suara yang sama lantangnya diserukan ketika ia ingin melindungi perempuan dan anak-anak dari pornografi. Kesantunannya dalam bertutur kata tidak mengurangi kelantangan sikapnya.

Di tengah padatnya kegiatan kabinet, Meutia masih berpartai. Salah satu partai pendukung SBY yaitu Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia kini dipimpinnya. Di partai yang didirikan Jenderal (Purn) Edi Soedrajat ini, Meutia yang dididik di sekolah menengah homogen, santa ursula, Jakarta, memberi prioritas pada calon anggota legislatif perempuan. Dari semua partai politik, PKPI paling banyak persentase caleg perempuannya.

Selain hebat dalam tugas dan tangung jawab yang diembannya di kabinet, empat perempuan itu pasti juga hebat sebagai ibu rumah tangga. Laki-laki hebat sudah biasa karena pasti disokong perempuan tangguh di belakangnya. Akan tetapi, kalau perempuan hebat? Menurut saya itu karena memang perempuan itu sudah pasti hebat dari asalnya.

Karena itu, menurut saya, mungkin akan lebih baik kalau kita beri kesempatan lebih banyak perempuan-perempuan hebat untuk mengurus negara yang masih maskulin tampak dan rasanya. Mbak Ani, Bu Marie, Bu Siti, dan Bu Meutia adalah salah empatnya. Bagaimana pendapat Anda?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: