Tangis seorang perempuan

Setahu agtri,

hanya ada satu alasan kenapa perempuan bisa sampai menangis

Perempuan itu menangis adalah karena terlalu mencintai yang ia tangisi

 kartun-cun

 

Seorang ibu, ketika diuji dengan ujian ia akan tegar

Seorang ibu, ketika anaknya harus berjihad dan menjemput syahid ia malah akan tersenyum

Seorang perempuan itu tegar ketika ujian hadir


Namun, ketika sudah berurusan dengan apa-apa yang benar-benar ia cintai

Ia akan dengan mudah menangis..

Ibu tidak akan menangis ketika himpitan atas kehidupan harus dijalaninya

namun akan sangat mudah menangis ketika anak-anaknya merasa kesakitan..

Ibu tidak akan menangis ketika harus memikul bakul berkeliling kota untuk mendapatkan uang

Namun ibu akan sangat mudah menangis ketika mendengar putra putrinya mengucapkan kata-kata kasar padanya



Perempuan hanya akan menangis untuk seseorang atau sesuatu yang ia cintai..

Baik itu tangis karena bahagia ataupun karena berduka..

‘Ibrah Raibnya Handphone-ku

 

Pernahkah kehilangan sesuatu?

Lalu, apa yang akan dilakukan atau dirasakan ketika kehilangan?

 

Sedih?

Marah?

Kesal?

 

Mungkin itu juga harusnya agtri rasakan hari ini

Tapi..

Ketika handphone itu hilang,

justru banyak sekali hal yang dipelajari hari ini mulai dari yang filosofis sampai yang nggak penting muncul  jadi renungan

  1. Pelajaran mengenai kewaspadaan. sekali waspada bukan curigaan sama orang lain. Jadi terutama bagi kita pengguna setia (karena memang butuh) kendaraan umum. Sekarang, metode pencurian itu macam-macam. Seperti yang tadi terjadi adalah ada bapak-bapak yang pura-pura tangannya kram dan terus mengarahkan tangannya ke agtri. Sontak agtri dan seorang teteh yang bersama agtri kaget dan (entah karena betul-betul kaget atau terlalu polos) bukannya menepis tangan si bapak. agtri malah menjauhi si bapak. teteh yang ada di sebelah agtri yang malah menjauhkan tangan si bapak itu. Jadi kondisinya adalah si bapak itu tangan terus-terusan berusaha nyentuh agtri. Gimana nggak kalut dan HEEEEEHHH!! saat itu (kalau boleh dibilang bodoh) masih juga mikirin tentang “wah ini bapak! bukan mahram tau!!Pegang-pegang!!” tanpa sadar ko’ orang lain di angkot itu cuek aja liat bapak-bapak yang nggak jelas ini. Ternyata, kuat dugaan bahwa orang lain yang diangkot itu adalah komplotan bapak itu. Dan parahnya agtri baru nyadar pas udah sampe di depan boromeus dan si bapak beserta komplotannya itu udah turun! MasyaAllah.. handphone yang menemani selama 2 tahun ini raib.
    021

 

  1. Benda inilah yang hilang…
  2. Ketika kita kehilangan, bisa jadi itu adalah bentuk/ cara Allah menegur kita. Mungkin belakangan ini agtri banyak melakukan kesalahan atau parahnya kemaksiatan. Baik  kecil ataupun besar. Yang entah disadari atau tidak tapi belum juga jera untuk bertobat atau memperbaikinya.  Ketika agtri telpon ibu dan cerita apa yang terjadi. Ibu bilang, “innalillahi, mungkin ini teguran dari Allah ke kita nak. Bisa jadi Ibu, bapak, atau mungkin agtri melakukan kesalahan. InsyaAllah barnag itu halal nak.. Tapi mungkin kita melakukan kesalahan dan ini bentuk Allah mengingatkan kita..” Iya bu.. betul.. Ini karena Allah sayang ke kita.. 

  3. Ketika kehilangan, Allah pasti punya rencana dan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan yang agtri yakini, diganti dengan yang lebih baik itu nggak harus tunai berupa barang lagi.. Bisa jadi hal yang abstrak namun itu jauh lebih berarti dibandingkan materi 

  4. Ketika kehilangan, semoga itu adalah ujian dari Allah, bukan karena Allah marah ke agtri. Semoga degan ujian tersebut menjadi wasilah penggugur dosa .. Apalah artinya sebuah barang (walaupun berarti sih, namanya juga manah orang tua) jika dengan kejadian ini agtri bisa makin dekat dan ingat ke Allah.. itu mah jelas nggak ada bandingannya..
  5. Allah bisa jadi nggak suka ngeliat kuku jari telunjuk agtri agak panjang dari yang lain. Kenapa agak sedikit panjang? Jadi….  stylus atau pulpen untuk nunjuk di PDA O2 agtri itu ada 2 . saking kecil dan tipisnya, yang satu raib, yang satu lagi patah. Alhasil, digunakanlah kuku untuk bisa mengetik dengan baik. dan kuku yang paling kompatibel untuk mengetik tentu saja telunjuk kanan. Mungkin Allah nggak suka kalau kuku agtri agak panjang sedikit dari noramalnya. Jadi, ini menjadi pengingat agar kuku slalu rapi..
  6. Jempol agtri ingin kembali eksis bisa berjihad dengan mdengetik tuts-tuts hanphone. berganti peran dengan si telunjuk membuat si jempol ingin bisa beramal juga seperti jari lainnya. Karena sadar atau tidak, jari yang lain mah bisa berjihad seperti ketika mengetik sekarang. telunjuk juga sudah punya peranan sentral ketika mengetik dan spasi dilakukan oleh jempol kiri walaupun sering refleks menggunakan telunjuk kanan juga jadinya. Akhirnya jempol tak mendapatkan kesempatan. dan jalan jihadnya empol adalah mengetik sms.. Lah kalau pakai PDA, ujung-ujungnya telunjuk aja yang berperan.. (makin aneh ‘ibrah yang diambil)
  7. Ketika tadi dijalan liat mbeee.. jadi inget, apa karena tahun ini nggak bisa kurban kayak tahun-tahun sebelunya ya.. jadi handphone itu sambil sebagai penebus kelalaian yang dilakukan (makin..makin… ckckck…)
  8. Intinya, agtri harus evaluasi. Barang aja, walaupun sudah dijaga bisa hilang dengan mudah ketika Allah berkehendak. Apalagi nyawa kita. Hilangnya handphone tersebut menunjukkan bahwa kalau sudah waktunya dan Allah berkehendak untuk mengambil dari kita, kita harus siap. Hal tersebut sama seperti nyawa kita saat ini. Diri ini hanyalahsementara didunia ini. ketika Allah ingin kita kembali menghadapnya maka tak akan ada pilihan lain.

 

Yuph, ini adalah pengingat.. Innalillahi wa inna ilahi raji’un..

Kepada Allahlah semua akan kembali

dan ketika yang punya akan mengambil

kita pasti akan berikan

siap atau tidak siap

mau tidak mau

 

pilihannya adalah

ikhlas nggak kita ketika yang punya akan mengambil sedangkan kita terlanjur mencintai titipannya tersebut?

 

Ya Rabb, jangan biarkan diri ini tertipu dengan mencintai dunia yang fana ini..

 

 

Kajian HATI, GAMAIS dan PSIK (2)

Pernikahan dini dan Poligami.

Dua isu yang kembali mencuat setelah Syaikh Puji menikahi Ulfah yang baru beruisa 12 tahun. Lalu juga Kabar mengenai Istri kedua Aa’ Gym yang baru melahirkan.

Pernikahan dini dan Poligami. Ketika dua isu berkembang. Entah mengapa seolah ada “pembenaran” yang dilakukan oleh para pelaku dengan mengatakan dan merujuk kepada apa yang Rasulullah lakukan. “Rasulullah juga menikah dengan Asiyah yang kala itu masih sangat dini usianya. 6 tahun. Bayangkan, 6 tahun. Dan kalau Syaikh Puji menikah dengan Ulfah yang berusia 12 tahun, tentu tidak apa-apa kan ya?

Lalu mengenai poligami. Toh Rasulullah juga melakukannya kan ya?

Lalu, apa benar Islam (seolah-olah) sebegitu tidak adilnya kepada para wanita?

Ok coba dikaji lebih dalam.

Ketika kemarin mendapatkan TOR (sebetulnya itu mah judul ya bukan TOR.. ^_^. Piss buat temen-temen HATI)

Interpretasi Agtri adalah pernikahan yang berkaca pada Rasulullah yang dikaitkan dengan Pernikahan Dini dan Poligami. Ternyata sesaat sebelum memulai diskusi disampaikan bahwa Agtri itu menyampaikan mengenai pernikahan dalam Islam itu seperti apa (wadu.. FiQh Nikah kali ya maksudnya).. Dan karena agtri juga belum menikah (tetapi ingin dan akan) maka diputuskan untuk tidak menyampaikan Fiqh Nikah tetapi akan menyampaikan bahan yang agtri dapatkan.

Ok, back to topic

Benarkah Rasulullah menikah Aisyah ra. Yang saat itu baru berusia 6 tahun dan mencampurinya ketika berusia 9 tahun?

Wallahu ‘alam, berdasarkan informasi dari sumber, berikut merupakan perhitungan usia Asyah ra. ketika menikah dengan Rasulullah:

Tulisan ini mencoba meluruskan riwayat pernikahan Rasulullah dengan Aisyah ra. yang telah berabad-abad lamanya diyakini secara tidak rasional. Dan efeknya, orientalis Barat pun memanfaatkan celah argumen data pernikahan ini sebagai alat tuduh terhadap Rasulullah dengan menganggapnya Pedhofilia. Mari kita buktikan. Secara keseluruhan data-data yang dipaparkan tulisan ini diambil dari hasil riset Dr. M. Syafii Antonio dalam bukunya, Muhammad SAW The Super Leader Super Manager (2007).

Kualitas Hadits

Alasan pertama. Hadits terkait umur Aisyah saat menikah tergolong problematis alias dho’if. Beberapa riwayat yang menerangkan tentang pernikahan Aisyah dengan Rasulullah yang bertebaran dalam kitab-kitab Hadits hanya bersumber pada satu-satunya rowi yakni Hisyam bin ‘Urwah yang didengarnya sendiri dari ayahnya. Mengherankan mengapa Hisyam saja satu-satunya yang pernah menyuarakan tentang umur pernikahan ‘Aisyah r.a tersebut. Bahkan tidak oleh Abu Hurairah ataupun Malik bin Anas. Itu pun baru diutarakan Hisyam tatkala telah bermukim di iraq. Hisyam pindah bermukim ke negeri itu dalam umur 71 tahun.

Mengenai Hisyam ini, Ya’qub bin Syaibah berkata: “Apa yang dituturkan oleh Hisyam sangat terpercaya, kecuali yang disebutkannya tatkala ia sudah pindah ke Iraq.” Syaibah menambahkan, bahwa Malik bin Anas menolak penuturan Hisyam yang dilaporkan oleh penduduk Iraq. (Ibn Hajar Al-Asqalani, Tahzib al-Tahzib. Dar Ihya al-Turats al-Islami, Jilid II, hal. 50) Termaktub pula dalam buku tentang sketsa kehidupan para perawi Hadits, bahwa tatkala Hisyam berusia lanjut ingatannya sangat menurun (Al-Maktabah Al-Athriyah, Jilid 4, hal. 301). Alhasil, riwayat umur pernikahan Aisyah yang bersumber dari Hisyam ibn ‘Urwah, tertolak.

Urutan Peristiwa Kronologis

Alasan kedua. Terlebih dahulu perlu diketahui peristiwa-peristiwa penting secara kronologis ini:

Pra-610 M : Zaman Jahiliyah

610 M : Permulaan Wahyu turun

610 M : Abu Bakar r.a. masuk Islam

613 M : Nabi Muhammad SAW mulai menyiarkan Islam secara terbuka

615 M : Umat Islam hijrah I ke Habsyah

616 M : Umar bin al-Khattab masuk Islam

620 M : Aisyah r.a dinikahkan

622 M : Hijrah ke Madinah

623/624 M : Aisyah serumah sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW.

Menurut Al-Thabari, keempat anak Abu Bakar ra. dilahirkan oleh isterinya pada zaman Jahiliyah. Artinya sebelum 610 M.

Jika ‘Aisyah dinikahkan dalam umur 6 tahun berarti ‘Aisyah lahir tahun 613 M. Padahal menurut Al-Thabari semua keempat anak Abu Bakar ra. lahir pada zaman Jahiliyah, yaitu sebelum tahun 610. Jadi kalau Aisyah ra. dinikahkan sebelum 620 M, maka beliau dinikahkan pada umur di atas 10 tahun dan hidup sebagai suami isteri dengan Nabi Muhammad SAW dalam umur di atas 13 tahun. Kalau di atas 13 tahun, dalam umur berapa pastinya beliau dinikahkan dan serumah? untuk itu kita perlu menengok kepada kakak perempuan Aisyah ra. yaitu Asma.

Perhitungan Usia Aisyah

Menurut Abdurrahman ibn Abi Zannad, “Asma 10 tahun lebih tua dari ‘Aisyah ra.” (At-Thabari, Tarikh Al-Mamluk, Jilid 4, hal. 50. Tabari meninggal 922 M) Menurut Ibnu Hajar Al-Asqalani, Asma hidup hingga usia 100 tahun dan meninggal tahun 73 atau 74 Hijriyah (Al-Asqalani, Taqrib al-Tahzib, hal. 654). Artinya, apabila Asma meninggal dalam usia 100 tahun dan meninggal pada tahun 73 atau 74 Hijriyah, maka Asma berumur 27 atau 28 tahun pada waktu Hijrah, sehingga Aisyah berumur (27 atau 28) – 10 = 17 atau 18 tahun pada waktu Hijriyah. Dengan demikian berarti Aisyah mulai hidup berumah tangga dengan Nabi Muhammad SAW pada waktu berumur 19 atau 20 tahun.

Nah, begitulah sahabat-sahabat

Usia 19 atau 20 tahun merupakan usia yang memang sudah layak dan sepatutnya bukan untuk menikah?

Lalu mengenai poligami. Rasulullah melakukan Poligami jelas karena itu adlaah perintah dari Allah dan juga beliau memegang peran penting untuk bisa meluruskan kesalahan dan memberikan teladan bagi kita ummatnya

Berikut merupakan usia rasulullah dan menikah dengan siapa serta apa saja ‘ibrahnya

Tahun

Usia Nabi

Pernikahan dengan / Kejadian

‘Ibrah

595

25

Khadijah, janda

Khadijah menginginkan nabi memimpin perusahaannya; di masa kenabian Khadijah

adalah pendukung utama tugas Rasulullah

610

40

Wahyu pertama (kenabian)

 

619

49

Khadijah wafat

Dengan demikian, selama 24 tahun, atau sampai

usia 49 tahun, Nabi tidak mengambil istri-2.

619

49

Saudah binti Zam’a, janda

Saudah ingin menolong Nabi serta menjaga

anak-anaknya (Fatimah saat itu baru 10 th)

620

50

Aisyah , putri Abu Bakar,

Abu Bakar menginginkan Aisya merekam

sunnah Nabi dalam kehidupan rumah tangga

serta menjadi corong bagi kaum wanita

623

53

Peristiwa Hijrah ke Madinah

 

624

54

Perang Badr

 

625

55

Perang Uhud

 

625

55

Hafsa binti Umar, suami syahid di Uhud

Perlindungan janda syuhada

626

56

Ummu Salamah, suami wafat di Habsyi

Perlindungan janda syuhada

626

56

Zainab binti Jahsy, janda, bekas istri Zaid

bin Haritsah – anak angkat Nabi.

Nabi mendapat tugas menegaskan ayat 33:37.

yang menghalalkan menikahi ex istri anak

angkat, bila telah dicerai. Islam menghapuskan

status anak angkat.

627

57

Juwariyah binti Mustaliq, janda

Sebelumnya tawanan, setelah masuk Islam,

dibebaskan dan kemudian dinikah untuk

dijadikan da’iyah bagi kaumnya.

628

58

Ummu Habibah binti Abu Sufyan, janda

Perlindungan janda syuhada, sekaligus untuk

melunakkan hati ayahnya yang masih

merupakan tokoh Kafir Quraisy di Makkah

628

58

Safiyah binti Huyai, janda wanita Yahudi, tawanan perang Khaibar,

Nabi dengan mahar pembebasannya untuk

dijadikan da’iyah bagi kaumnya.

629

59

Maimunah, janda

Perlindungan wanita terlantar

632

62

 

Nabi wafat pada usia 62 (atau 63 menurut

perhitungan kalender bulan)

tanpa meninggalkan warisan harta

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

To be continued..