‘Ibrah Raibnya Handphone-ku

 

Pernahkah kehilangan sesuatu?

Lalu, apa yang akan dilakukan atau dirasakan ketika kehilangan?

 

Sedih?

Marah?

Kesal?

 

Mungkin itu juga harusnya agtri rasakan hari ini

Tapi..

Ketika handphone itu hilang,

justru banyak sekali hal yang dipelajari hari ini mulai dari yang filosofis sampai yang nggak penting muncul  jadi renungan

  1. Pelajaran mengenai kewaspadaan. sekali waspada bukan curigaan sama orang lain. Jadi terutama bagi kita pengguna setia (karena memang butuh) kendaraan umum. Sekarang, metode pencurian itu macam-macam. Seperti yang tadi terjadi adalah ada bapak-bapak yang pura-pura tangannya kram dan terus mengarahkan tangannya ke agtri. Sontak agtri dan seorang teteh yang bersama agtri kaget dan (entah karena betul-betul kaget atau terlalu polos) bukannya menepis tangan si bapak. agtri malah menjauhi si bapak. teteh yang ada di sebelah agtri yang malah menjauhkan tangan si bapak itu. Jadi kondisinya adalah si bapak itu tangan terus-terusan berusaha nyentuh agtri. Gimana nggak kalut dan HEEEEEHHH!! saat itu (kalau boleh dibilang bodoh) masih juga mikirin tentang “wah ini bapak! bukan mahram tau!!Pegang-pegang!!” tanpa sadar ko’ orang lain di angkot itu cuek aja liat bapak-bapak yang nggak jelas ini. Ternyata, kuat dugaan bahwa orang lain yang diangkot itu adalah komplotan bapak itu. Dan parahnya agtri baru nyadar pas udah sampe di depan boromeus dan si bapak beserta komplotannya itu udah turun! MasyaAllah.. handphone yang menemani selama 2 tahun ini raib.
    021

 

  1. Benda inilah yang hilang…
  2. Ketika kita kehilangan, bisa jadi itu adalah bentuk/ cara Allah menegur kita. Mungkin belakangan ini agtri banyak melakukan kesalahan atau parahnya kemaksiatan. Baik  kecil ataupun besar. Yang entah disadari atau tidak tapi belum juga jera untuk bertobat atau memperbaikinya.  Ketika agtri telpon ibu dan cerita apa yang terjadi. Ibu bilang, “innalillahi, mungkin ini teguran dari Allah ke kita nak. Bisa jadi Ibu, bapak, atau mungkin agtri melakukan kesalahan. InsyaAllah barnag itu halal nak.. Tapi mungkin kita melakukan kesalahan dan ini bentuk Allah mengingatkan kita..” Iya bu.. betul.. Ini karena Allah sayang ke kita.. 

  3. Ketika kehilangan, Allah pasti punya rencana dan akan menggantinya dengan yang lebih baik. Dan yang agtri yakini, diganti dengan yang lebih baik itu nggak harus tunai berupa barang lagi.. Bisa jadi hal yang abstrak namun itu jauh lebih berarti dibandingkan materi 

  4. Ketika kehilangan, semoga itu adalah ujian dari Allah, bukan karena Allah marah ke agtri. Semoga degan ujian tersebut menjadi wasilah penggugur dosa .. Apalah artinya sebuah barang (walaupun berarti sih, namanya juga manah orang tua) jika dengan kejadian ini agtri bisa makin dekat dan ingat ke Allah.. itu mah jelas nggak ada bandingannya..
  5. Allah bisa jadi nggak suka ngeliat kuku jari telunjuk agtri agak panjang dari yang lain. Kenapa agak sedikit panjang? Jadi….  stylus atau pulpen untuk nunjuk di PDA O2 agtri itu ada 2 . saking kecil dan tipisnya, yang satu raib, yang satu lagi patah. Alhasil, digunakanlah kuku untuk bisa mengetik dengan baik. dan kuku yang paling kompatibel untuk mengetik tentu saja telunjuk kanan. Mungkin Allah nggak suka kalau kuku agtri agak panjang sedikit dari noramalnya. Jadi, ini menjadi pengingat agar kuku slalu rapi..
  6. Jempol agtri ingin kembali eksis bisa berjihad dengan mdengetik tuts-tuts hanphone. berganti peran dengan si telunjuk membuat si jempol ingin bisa beramal juga seperti jari lainnya. Karena sadar atau tidak, jari yang lain mah bisa berjihad seperti ketika mengetik sekarang. telunjuk juga sudah punya peranan sentral ketika mengetik dan spasi dilakukan oleh jempol kiri walaupun sering refleks menggunakan telunjuk kanan juga jadinya. Akhirnya jempol tak mendapatkan kesempatan. dan jalan jihadnya empol adalah mengetik sms.. Lah kalau pakai PDA, ujung-ujungnya telunjuk aja yang berperan.. (makin aneh ‘ibrah yang diambil)
  7. Ketika tadi dijalan liat mbeee.. jadi inget, apa karena tahun ini nggak bisa kurban kayak tahun-tahun sebelunya ya.. jadi handphone itu sambil sebagai penebus kelalaian yang dilakukan (makin..makin… ckckck…)
  8. Intinya, agtri harus evaluasi. Barang aja, walaupun sudah dijaga bisa hilang dengan mudah ketika Allah berkehendak. Apalagi nyawa kita. Hilangnya handphone tersebut menunjukkan bahwa kalau sudah waktunya dan Allah berkehendak untuk mengambil dari kita, kita harus siap. Hal tersebut sama seperti nyawa kita saat ini. Diri ini hanyalahsementara didunia ini. ketika Allah ingin kita kembali menghadapnya maka tak akan ada pilihan lain.

 

Yuph, ini adalah pengingat.. Innalillahi wa inna ilahi raji’un..

Kepada Allahlah semua akan kembali

dan ketika yang punya akan mengambil

kita pasti akan berikan

siap atau tidak siap

mau tidak mau

 

pilihannya adalah

ikhlas nggak kita ketika yang punya akan mengambil sedangkan kita terlanjur mencintai titipannya tersebut?

 

Ya Rabb, jangan biarkan diri ini tertipu dengan mencintai dunia yang fana ini..

 

 

2 Comments (+add yours?)

  1. danar astuti dewirini
    Dec 12, 2008 @ 22:01:28

    :))
    Q jg hbis khilangan hp, Qta snasib!! Klo kasusQ, kantong rokQ disobek. hwoo..
    klo kata letto, Qta tuh mrasa kehilangan krn Qta pernah mrasa smpat memiliki.. **bpikir..**

    Reply

  2. Ah. jawwadul Halim
    Dec 17, 2008 @ 09:45:19

    “manusia khlangan tu biasa toh.. krn mmang smua yg ada dlm dri n qt miliki ni hnyalah titipan yg suatu saat kelak kan dimintai pertanggung jawaban,nggeh npo mboten…mbk agtri…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: