Kaidah Memilih Pemimpin

Belakangan ini lagi ‘musim’ pemilihan pemimpin (tidak banyak juga sebenarnya tapi posisinya strategis)

Em, ada pernyataan yang kerap agtri dengar tentang salah satu kaidah dalam memilih pemimpin

yaitu pilihlah pemimpin yang paling lemah diantara kalian dan buatlah agar ia menjadi yang paling kuat pada akhirnya.

Lalu jika ada 2 orang, yang satu alim tetapi kapasitas kepemimpinannya belum baik dan yan satu istilahnya ‘tidak sholeh-sholeh’ amat tapi mempunyai kapasitas sebagai seorang pemimpin. Maka sebaiknya yang dipilih adalah yang kedua. Karena orang yang pertama hanya akan membawa keshalihan bagi dirinya sendiri. sedangkan jika yang kedua maka jika ia melakukan kemaksiatan hanya akan berimbas kepada dirinya sendirinya.

Memang bukan tepat begitu diksi-nya, tapi arti mudahnya seperti itu. (nanti dicari dulu lagi)

em..

ada hal yang cukup mengganjal bagi agtri. bukan meragukan, hanya saja ingin mengkaji lebih jauh saja..

Jika kita memilih pemimpin disini konteksnya adalah sahabat-sabahat Rasulullah, tabi’en.. tentu tidak ragu..

Standar yang dimaksud dengan ‘tidak shalih2 amat’nya ya segitu..

ketika disampaikan melakukankemaksiatan

kira2 kemaksiatannya segimana ya?

Kalau kita ingat imam Syafi’i yang ketika ada sahabat yang meminta tolong kepada beliau, beliau merasa amat sangat bersalah dan berkata, “Seharusnya ia tidak perlu berkata, harusnya aku bisa menilai hanya dengan melihat raut wajahnya bahwa ia membutuhkan bantuan”. Yang begitu itu yang dikatakan kesalahan.. Maha Suci Allah..


Tapi kondisinya saat ini?

Kesalahan yang kita lakukan teh seberapa?


Kriteria yang disampaikan kan kemaksiatan itu hanya untuk dirinya

sehingga, ketika ia melakukan kemaksiatan dan itu berimbas kepada da’wah kaidah pemilihan tersebut tentu sebaiknya tidak digunakan..


em,, ya..

Hanya berpikir

betapa pentingnya ilmu itu, dan carilah orang yang memang berilmu untuk meminta pertimbangan..

dan yang jelas, semua berharap mendapatkan pemimpin yang terbaik

Bahkan diri kita juga menginginkan pemimpin yang terbaik juga

(Bukankah tiap-tiap dari diri kita adalah pemimpin?)

Agar mata, telinga, kaki, tangan kita yang akan jadi saksi diakhirat nanti

Bisa menjadi saksi atas kesungguhan perjuanganyang kita lakukan ketika di dunia ini..


Baca-baca lagi buku Fiqh Da’wah1 Ust Mustafha Mansyur Bab Al-Qiyadah Wal Jundiyah

Advertisements

2 Comments (+add yours?)

  1. WinaWinaWina
    Dec 12, 2008 @ 10:46:48

    wah, lagi menyoroti kondisi yang terjadi di mana ni mbak?? hehehe…

    Reply

  2. aisyahkecil
    Dec 12, 2008 @ 10:54:59

    hehehe…

    Dimana ya?

    em..
    dimana-mana…

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: