Jika Kecewa..

A: ana kecewa,…dakwah dan barisan orang – orang yang selama ini digembar gemborkan keshalehan dan kebersihannya, yg selama ini degaung-gaungkan -yang katanya- perjuangannya…ternyata sama saja dengan yang lain. Tidak ada bedanya….

B:   jamaah ini bukan jamaah malaikat akhi, sebagai manusia pasti tidak akan pernah luput dari yang namanya kesalahan dan kekhilafan

A:   ana faham, tapi seharusnya mereka juga punya mekanisme untuk mengatasi masalah-masalah ini. Tidak hanya berlindung dibalik kata-kata bahwa “kita bukan malaikat.., hanya manusia biasa..” – kenapa yang lain malah diam saja, dan membiarkan. Bahkan berkata kalo itu bukan urusan mereka..? Kalopun ada yang protes, malah disebut pembangkang…

A:   belum lagi, langkah – langkah yang diambil yang semakin kelihatan “kebablasan…”, dengan alasan pengembangan, yang muncul justru batas – batas yang dilanggar. Ada apa ini…? Sudah silau dengan dunia? Dengan kekuasaan?….sampai-sampai harus menghalalkan segala cara untuk mendapatkannya…? Dulu, dakwah ini tidak seperti ini…

B:   ……………………………


Bukan sekali dua kali saya berhadapan dengan keluhan-keluhan seperti ini, tapi bisa dibilang sering.

Baik dari orang-orang yang hanya mengamati dari luar, dari ikhwah, bahkan harus saya akui, terkadang saya sempat berfikir seperti itu

Hhhh, saya hanya bisa menarik nafas. Benar, dada saya sesak, tidak dapat berkata- kata, rasanya saya ingin menangis saja

Apalagi saya tau, mereka berkata seperti itu bukan tanpa bukti, semua ini muncul karena adanya fenomena-fenomena ikhwah yang “gugur”, dengan berbagai alasan tentunya, tapi yang sering terjadi adalah karena : harta, jabatan, bahkan wanita-  sesuatu yang mungkin tidak pernah terbayangkan akan terjadi di masa yang lalu.

Lalu, apa yang salah?

Sekali lagi saya hanya bisa menarik nafas, karena dada saya tiba-tiba terasa sesak…

Dakwah sekarang memang menghadapi medan yang begitu berat, bukan berarti yang sudah dihadapi sebelumnya tidak seberat saat ini, karena sejatinya setiap masa mempunyai tantangannya masing – masing

Lalu, mengapa dulu tidak ada kasus – kasus seperti sekarang?

Jika diibaratkan dengan perang, mungkin dulu kita dihadapkan dengan perang fisik, banyak yang harus masuk penjara, diancam, disiksa,..bahkan tidak sedikit yang dibunuh. Setelah kondisi membaik, kita harus bersusah payah memperkenalkan dakwah kepada orang banyak, dengan berbagai tampilannya…. Kemudian dakwah ini mulai mendapat tempat, mulai diterima, didukung….dan mulai diberi kesempatan untuk berkuasa

Disinilah tantangan yang terbesar, kita mungkin bisa sanggup disiksa secara fisik, ditekan, dan lain sebagainya, karena yang kita rasakan justru adalah rasa manis sebuah pengorbanan,itu adalah jihad kita, sehingga kita tidak bergeming. Bahkan justru semakin menguat azzamnya.

Namun, berapa orang yang sanggup bertahan dalam kondisi yg nyaman? ketika kemudahan mulai datang, ketika kita mulai dikenal , bahkan disanjung, disebut-sebut sebagai pejuang keadilan ?  Banyak yang mulai bersentuhan dengan kekuasaan, Tidak sedikit yang kehidupannya mulai membaik, dari hidup sederhana dan pas-pasan menjadi mewah bahkan berlebihan

Ternyata, disini tekad dan azzam kita kembali diuji

Ternyata, ada yang terlena – sebagian kaget dengan ghanimah melimpah yang datang tiba-tiba, banyak yang berguguran. Dan, tidak sedikit yang lupa daratan.Na’udzubillah

Dibutuhkan orang – orang berhati besar, berilmu, dan istiqomah

Ya, perjuangan saat ini mungkin lebih menguras tenaga. Dibutuhkan orang – orang yang berbesar hati, yang bisa menerima dan memahami kenyataan bahwa memang, jamaah ini bukan jamaah malaikat. Karena dengan memahami, kita akan sanggup memperbaiki keadaan dengan tetap tenang, tidak emosional. Dengan memahami, kita akan terbebas dari penyakit ghurur – merasa bahwa kita tidak akan pernah salah, Naudzubillah – sehingga kita tidak takabur, dan merasa paling bersih serta benar. Bukan berarti kita harus taklid, kita tetap wajib menjadi kritis, bukankah itu juga adalah tanda cinta kita kepada dakwah? Namun, dengan memahami, kekritisan itu justru akan menjadi nilai konstruktif, bukan destruktif.

Perjuangan sekarang juga menuntut kita untuk semakin berilmu. Dengan memiliki kredibilitas ilmu yang memadai, kita akan sanggup melihat masalah dari berbagai sisi. Sehingga kesalahan-kesalahan yang terjadi tidak akan sanggup merusak, bahkan meniadakan nilai- nilai perjuangan yang sudah diukir sejak dulu, bahkan sebelum kita bergabung. Dengan ilmu yang cukup, kita tidak akan mudah ber-su’udzhon kepada saudara kita seiman, bahkan seperjuangan. Dengan ilmu yang cukup, kita akan bisa memahami medan, sehingga kita bisa menyelamatkan diri, dan saudara-saudara kita dari ranjau – ranjau berbahaya yg berserakan. Karena dengan ilmu, masalah – masalah yg muncul pasti dapat dicari jalan keluarnya.

Dan yg paling utama, dibutuhkan orang-orang yg senantiasa istiqomah. Dakwah bukan untuk orang-orang manja, yg ketika melihat hambatan dan tantangan, serta kawan-kawan mereka yg jatuh bergelimpangan, mendadak menjadi gelisah, merengek minta ditenangkan, dan bahkan mundur ke belakang barisan.

Orang – orang yg istiqomah, yg ketika melihat tantangan mereka segera meminta perlindungan kepada Allah, serta tetap bergerak

Orang – orang yg istiqomah, yg ketika melihat dakwah ini mulai oleng ia akan berusaha sekuat tenaga untuk kembali menegakkannya, bukan malah meninggalkannya

Orang-orang yg istiqomah, yg tetap teguh memegang janjinya kepada Allah karena yakin Allah akan menepati janjiNya, memberi mereka kemenangan atas perjuangannya.

……………………………………….

B:   ana faham ketika antum kecewa, dan bahkan ana juga pernah merasakan hal yang serupa. Mungkin ini adalah ujian bagi kita, mungkin kita selama ini sudah menjadi sombong, merasa suci, merasa paling benar, merasa diri sudah menjadi malaikat. Yang harus kita fahami adalah, bahwa yang kita hadapi sekarang jauh lebih berat daripada dulu, sehingga ilmu kita juga harus semakin tinggi.. Jika kita merasa kecewa, apalagi para pendahulu kita? tapi mereka tetap disini, tetap berjuang, padahal ilmu mereka jauh lebih tinggi daripada kita, dan mereka tentu lebih memahami tabiat dakwah ini. Yakinlah, bahwa Allah yang menjaga dakwah ini. Dan untuk Allah saja kita berjuang, bukan untuk dipuji dan dihargai orang. Selama dakwah ini belum menyeru kepada kemunkaran, maka kemenangan pasti akan datang.

A:   tapi apa kata orang..?

B:   jangan pedulikan kata orang, kita bekerja saja, biar Allah yang menilai. Karena perjuangan kita ini juga adalah karena Allah. Biar Allah saja yang menilai…..



Lagi-lagi.. masih belum bisa mem-post hasil karya sendiri (lagi introspeksi diri 🙂 tapi tidak ingin kehilangan kesempatan untuk berbagi )


Karena Allah Muara semua tanya..



=> untuk yang memutuskan untuk pergi,

Apakah orang2 yang kini bertahan tidak merasakan kepedihan yang kalian rasakan?

Apakah orang2 yang masih bertahan berkurang bebannya setelah ditinggalkan?


Jawablah wahai pejuang..


Berbahagialah pejuang yang tak mengkorupsi kemenangan masa depannya. Walaupun hanya dengan rintihan sesal didera lelah

6 Comments (+add yours?)

  1. Citra Puspitasari
    Dec 27, 2008 @ 01:00:03

    hidup itu pilihan,,
    bergerak atau tergantikan…

    :):):)

    Reply

  2. Citra Puspitasari
    Dec 27, 2008 @ 22:53:18

    hahaha..
    itu mah kata2 umum tri,,
    ada hak paten judul blog memangnya?

    yuk ah,,

    -sy cinta damai

    Reply

  3. saannisa
    Dec 28, 2008 @ 07:20:09

    Jadi inget sms seorang teteh,
    yang dikirim saat nisa sedang kecewa…

    “Ketika manusia berharap untuk merencanakan kehidupannya,
    sungguh Allah telah menentukan skenario terbaik untuknya.
    Jika ada kaget, sedih, kecewa, bahagia,
    sungguh Allah tak pernah dzalim pada hamba-Nya.
    Itulah hakikat ikhtiar, doa dan tawakkal.
    Kemuliaan itu terletak pada keikhlasan…”

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: