Anak dan Belajar

Kemarin, agtri beli ayam goreng di dekat kostan
Ada anak ibu si pemilik warung sedang makan siang yang usianya sekitar maksimal 4 tahun
dan.
Si ibu sedang menggoreng ayam jualan didepan warung
Si anak ternyata udah beres makan siangnya dan sekarang sedang minum.
minumnya adalah minuman dari botol
Tes.. beres, diminum hingga tetes terakhir..
Setelah minuman diteguk sampai habis,
si anak, berusaha untuk mengembalikan si botol ke ‘krat’ botol
[Krat itu.. Bentuknya Kotak, ada bolong2nya sesuai dengan ukuran botol. tempat nyimpen botol baik sudah diminum ataupun belum di toko sebelum dimasukkan ke freezer biasanya]

kalau menurut agtri,
Sebenarnya si-anak mengembalikan botol bekas minumannya di tempat ‘krat’ botol juga sudah Subhanallah..
Biasanya mah kan di tinggalin begitu aja kan ya bekas kalau habis makan teh

baby


Nah si anak ini kreatif..
jadi, si ‘krat’ tempat botol itu udah penuh
Satu-satunya space yang bisa diisi adalah lubang yang udah dipenuhi oleh sedotan bekas
Karena mungkin si anak merasa bahwa “lebih pantas botol yang mengisi, bukannya sedotan bekas..”
mulailah si anak mengeluarkan sedotan-sedotan bekas tersebut
satu..
dua..
tiga..
semuanyalah..
setelah itu dia tersenyum senang dan memasukkan botol bekasnya ke dalam bekas lubang yang tadinya  adalah untuk sedotan bekas..
Belum beres si anak tersenyum..
Tiba-tiba si ibu melihat apa yang dilakukan si anak dan teriak..
“BAONGGGGG!!!!”
alias “NAKALLLLLLLLL!!!” dalam bahasa sunda..
Lalu bilang ke anak,
“udah sana, turun ke bawah!! main sama si-mbah!!”
Udah aja si-anak turun tanpa penjelasan lebih lanjut

dan yang agtri tangkap, nilai pembelajaran dan kebenaran dari si anak pupus dengan satu teriakan “BAONGGGGG!!!!”

KEsabaran bagi para pendidik adalah hal yang tidak bisa di pisahkan begitu saja..
Kata-kata julukan atau makian justru bisa melekat lebih erat di dalam pikiran si anak..
Jika anak sedari kecil sering dipanggil dengan sebutan-sebutan entah itu nakal, bandel, pemalas, dsb.. itu justru akan menimbulkan persepsi bahwa.. Ya dia memang seperti itu..

Alangkah lebih bijaknya dan berorientasi masa depan jika yang dilakukan si ibu adalah
tersenyum pada si anak dan berkata “sayang.. pinter deh anak ibu, Udah bisa ngeberesin bekas makan ya? nah, sedotan bekasnya dikumpulin ya anak shaleh.. terus kita buang sama-sama ke tempat sampah..”

Mungkin kalimat ini bisa menjadi win-win solution bagi si ibu dan anak. Toh akhirnya si anak belajar bagaimana yang seharusnya Ia lakukan. Dan si ibu juga tidak perlu capek hati dan fisik untuk membereskan karena sudah langsung di bereskan oleh si anak..

2 Comments (+add yours?)

  1. WinaWinaWina
    Dec 31, 2008 @ 08:50:32

    iya, sebenarnya anak kecil itu menyimpan sejuta ide kreatif. Tapi, kadang yang udah tua-tua ini tidak menangkapnya dan justru meremehkan, jadinya malahan membatasi kreativitas. Nah, ini mah pinter-pinternya yang udah tua buat mengarahkan..

    Reply

  2. ItaSika
    Dec 31, 2008 @ 16:50:27

    iya teh, bener”.. kan kasian anaknya.. hiks hiks.. ga tega deh

    khawatirnya mematikan kesadaran anak untuk disiplin sejak dini

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: