(Lagi-lagi) Interaksi-Komunikasi

Interaksi adalah hal yang sangat krusial dan sering dilakukan oleh kita semua.

Namun, sayangnya seringkali muncul banyak permasalahan di lapangan mengenai interaksi ini.

Dan jika ditilik lebih lanjut sebetulnya permasalahan sering kali terjadi karena komunikasi yang tidak baik.

Komunikasi ini yang bisa membuat suasana sangat kaku sampai arus informasi tidak bisa berjalan baik.

Atau malah terlalu ‘cair’ sampai-sampai muncul istilah Virus Merah Jambu hingga Merah Darah di kalangan aktivis.

Jadi teringat sebuah pertemuan sekitar 1 tahun yang lalu, ada sebuah pertanyaan yang menarik. “Ustadz, dalam kondisi saat ini, dimana ‘kita’ semakin inklusif. Apakah keinklusifan kita juga berlaku untuk sesama ikhwah. Terutama antara ikhwan dan akhwat aktivis da’wah?” Dan Ketika itu Ustadz tersebut menjawab bahwa prinsip2 interaksi atau aturan interaksi antara ikhwan dan akhwat tetap mempunyai batasan yang jelas dan hal-hal pokok yang tidak berubah walaupun kita ada pada fase manapun. Bukan malah dengan alasan inklusif malah menjadi ‘cair’. Bukan.  Kita sudah sama-sama paham dan mari jaga nilai-nilai dan batasan-batasan yang ada selama ini.

Pada tulisan ini ada 3 hal yang akan dibahas, mengenai hal-hal terkait komunikasi, kendala dalam komunikasi dan solusi dalam berkomunikasi

Pola Komunikasi

Pada dasarnya, komunikasi ikhwan dan akhwat bukanlah sulit, tetapi juga bukan berarti menggampangkan..

Ada beberapa hal yang menjadi aturan tidak tertulis untuk komunikasi ini:

  1. Dilakukan sesuai dengan kebutuhan (memang diperlukan, bukan mencari-cari kebutuhan)
  2. Dilakukan sesegera mungkin (tidak setelah berjalan 3 minggu baru disampaikan kalau ada kendala atau masalah yang ada, wah, bisa-bisa masalah sebesar kacang hijau sudah jadi sebesar buah pepaya)
  3. Dilakukan secara terbuka (hal-hal yang memang perlu disampaikan sebaiknya disampaikan tapi kalau nggak perlu ya tidak usah, proporsional dan profesional saja)
  4. Dilakukan secara dua arah. Bukan perintah dari satu pihak ke pihak lainnya, sebaiknya keputusan yang dikeluarkan (konteksnya ini adalah dalam organisasi) merupakan hasil diskusi dari dua pihak ikhwan dan akhwat
  5. Pembicaraan adalah hal-hal yang terkait dengan amanah saja. Hal-hal yang sifatnya pribadi sebaiknya diminimalisir. Hal-hal yang sifatnya pribadi boleh disampaikan dengan catatan terkait dengan amanah yang dilakukan bersama akhwat yang diajak berkomunikasi. Misalnya untuk anak Bandung biasanya sulit beraktivitas di luar rumah ketika hari sabtu dan ahad. hal ini perlu disampaikan agar tidak menimbulkan prasangka satu sama lain. Atau ada sakit berat yang dimiliki yang menjadi keterbatasan untuk beraktivitas.

Kita sendirilah yang paling tahu sejauh mana batas kemampuan untuk menjaga diri dan hati kita sendiri…


Kendala dalam Komunikasi

  1. Perbedaan ‘bahasa’ antara ikhwan dan akhwat. Akhwat cenderung bicara dengan gaya bahasa tidak langsung. Jadi, kadang-kadang  nggak nyambung dengan ikhawannya. Akhwat itu biasanya pakai cara implisit. Ikhwan itu cenderung eksplisit. Istilahnya, maksud hati menyindir tapi yang disindir yang ngerasa kesindir. Jadi si akhwat yang akhirnya bingung dan uring-uringan sendiri..(ini sering sekali terjadi, tidak satu-dua akhwat yang curhat tentang bahasa manusia ‘venus’ dan ‘mars’ ini)
  2. Ikhwan itu suka lambat….. sekali ngeresponnya…( ini juga.. mayoritas ikhwan begini) dan suka ngilang ke goa. Bukan hanya yang satu amanah sebetulnya tapi juga sekadar jadi CP acara juga lamaaaaa…… sekali  menjawabnya. Padahalkan Contact Person ya?  Jadi, salut untuk yang langsung menjawab kalau diberi pertanyaan
  3. Akhwat tidak berani menyampaikan jika ada yang tidak sesuai menurut si-akhwat. Nah ini masalah intern akhwat. Akhwat itu jika mau menyampaikan sesuatu, pertimbangannya banyak….. sekali. Merasa tidak punya hak-lah, khawatir yang diajak bicara tersinggung, dll. Bahkan ada kasus akhwat yang keluar dari amanah yang beliau pegang hanya karena ‘partner’ nya jika merespon lambat……….. sekali. Dan si-akhwat tidak berani bilang ke mas’ulnya . Akibatnya , ya, si akhwatnya ‘menderita’, si ikhwannya ‘gak ngerasa apa-apa’
  4. Ikhwan suka menggampangkan hal-hal yang disampaikan akhwat. Padahal, Akhwat sudah berpikir puluhan kali sebelum bilang ke ikhwan. “ini hal penting, harus disampaikan”. Dan, ketika disampaikan ke ikhwan, tanggapannya.. “o gitu, ya udah. Itu mah biasa. Nggak usah diambil pusing”. Fiuh..


Cara penyelesaian:

  1. Sadari kalau kita memang beda.. masing-masing jender coba untuk memahami. Kalau ikhwannya memang tipe “eksplisit” ya sampaikan saja secara eksplisit. Walalupun sulit ya tetap dicoba. Daripada komunikasi jadi tidak lancar.
  2. Kalau lama sekali  setelah bertanya tidak juga direspon.. diamkan saja dulu sampai beliau membalas.. Hushnuzhan kalau partner sebenernya juga sedang mencari jawabannya. Jadi, coba cari kerjaan yang bisa dikerjakan terlebih dahulu.. Tapi kalau memang mendesak sekali, ya sekali2 perlu juga ditanya terus2an..
  3. Akhwat tidak berani bilang. Pengaruh terbesar adalah dari internal akhwat itu sendiri dengan dibantu dengan lingkungan sekitar. Sehingga, sebaiknya ada iklim agar komunikasi berjalan baik sehingga bisa membuat yang ingin memberikan suaranya menjadi lebih nyaman
  4. Jika memberika usulan sebaiknya berikan data yang mayoritasnya menggunakan logika.. Upayakan memang bisa rasional masukan2 yang diberikan. Jangan hanya berdasarkan perasaan saja..Dan, kata siapa akhwat itu berpikir hanya dengan perasaan? Akhawat itu berpikir dengan logika tapi pertimbangan utamanya berupa naluri..
  5. Baca buku mengenai psikologi


Mengenai Interaksi antara ikhwan dan akhwat, agtri bukan seseorang yang bisa ‘lurus-lurus’ saja melaluinya..

Ada juga miskom, perbedaan pendapat dan lain sebagainya yang terjadi ketika berinteraksi.

Hal yang benar-benar diperlukan adalah keterbukaan dan budaya untuk meng-cross check. Jangan sampai kita menerima suatu kabar lalu  langsung merespon. Bahkan tanpa meminta penjelasan dari pihak tertuduh..

Semoga bisa menjadi bahan masukan bagi kita semua untuk senatiasa menjaga interaksi kita agar senatiasa berada dalam rambu-rambu yang Allah tetapkan..

2 Comments (+add yours?)

  1. idesraisa
    May 11, 2010 @ 23:21:42

    saya sepakat!

    Reply

  2. Syaiful
    Dec 27, 2010 @ 10:08:04

    Saya baru tahu dengan hal ini. Syukron katsiran atas hal ini

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: