Cek dan Ricek Informasi (Tabayyun)

A: “Sssttt… tahu nggak si-xxx bilang di forum itu, kalau antum bla..bla..bla…”

B: “Ha? yang betul? masa’ dia bilang ane gitu?”

A: “Iya, tahu.. Parrahnya lagi, bla…bla..bla…”

B: “ko’ dia gitu ya sama ane. wah ane ngerasa dikhianati saudara sendiri. bla…bla..bla…”

A: “Hem, antum belum tahu.. bla..bla…bla..    bla..bla..bla juga”

B: “Gitu ya.. bla..bla…bla…”


Ehm, ehm.. percakapan diatas hanyalah sebuah ilustrasi fragmen yang mungkin saja terjadi disekitar kita (No offense…)

Perpecahan, pertengkaran, bahkan mundur dari jama’ah da’wah adalah keniscayaan yang terjadi saat ini

Hal-hal tersebut sangat mungkin untuk terjadi ketika tidak adanya cek dan ricek informasi yang didapatkan

Muncullah prasangka, dari prasangka menjadi kemarahan, dari kemarahan akan muncul kedengkian

Dan jika masuknya sudah kedengki, apapun bisa terjadi

Bahkan kata-kata yang benar akan sangat mudah untuk disalahkan

Padahal, kekecewaan dan lain sebagainya itu tidak akan terjadi jika kita memahami bahwa ada ketentuan yang Islam tawarkan kepada kita yaitu dengan cara mericek kabar yang kita dapatkan apalagi jika konteks yang kita pakai adalah sesama saudara aktivis da’wah.

Ada sebuah kisah menarik mengenai cek dan ricek ini cerita Said bin ‘Amir aljumahy, yang diserahi jabatan sebagai Gubernur Himsh oleh Khalifah Umar.

Suatu ketika Khalifah singgah ke Himsh.

Di tengah-tengah rakyatnya khalifah bertanya, “Bagaimana penilaian Saudara-saudara terhadap kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

Mereka menjawab, “Ada empat macam kelemahan yang hendak kami laporkan kepada khalifah.”

Kemudian khalifah mempertemukan rakyat dengan gubernurnya.

Setelah semua kumpul, khalifah membuka pertanyaan, “Bagaimana laporan Saudara-saudara tentang kebijakan Gubernur Saudara-saudara?”

Seorang jurubicara menjawab pertanyaan khalifah.

Pertama, gubernur selalu tiba di kantor setelah matahari tinggi.

Kedua, gubernur tidak bersedia melayani rakyat pada malam hari.

Ketiga, gubernur tak masuk kantor sehari penuh dalam sebulan.

Keempat, sewaktu-waktu gubernur menutup diri untuk bicara.

Dalam kondisi seperti itu biasanya sang gubernur meninggalkan majelis (pertemuan).

Khalifah Umar menyilakan gubernur Sa’id untuk mengklarifikasi empat hal yang dianggap tak mengenakkan itu.

Masalah pertama, kata Sa’id, “Sebetulnya saya keberatan menanggapinya, tapi apa boleh buat. Keluarga saya tidak mempunyai pembantu. Karenanya tiap pagi saya terpaksa turun tangan membuat adonan lebih dahulu. Sesudah adonan itu siap dimasak, barulah saya buat roti. Kemudian saya berwudhu. Setelah itu barulah saya berangkat ke tempat tugas untuk melayani masyarakat.”

Masalah kedua, “Sebenarnya saya juga berat menanggapinya, apalagi di depan umum seperti ini. Saya telah membagi waktu saya, siang hari untuk melayani masyarakat, malam hari untuk bertaqarub (mendekatkan diri) kepada Allah,” tutur Said.

Masalah ketiga, “Saya hanya memiliki sepasang pakaian yang melekat di badanku ini. Saya mencucinya sekali sebulan. Jadi, jika saya mencucinya, saya terpaksa menunggu kering lebih dahulu. Sesudah itu barulah saya dapat keluar melayani masyarakat.”

Masalah keempat, “Ketika saya masih musyrik dulu, saya pernah menyaksikan almarhum Khubaib bin ‘Ady dihukum mati oleh kaum kafir Quraisy. Saya menyaksikan mereka menyayat-nyayat tubuh Khubaib berkeping-keping. Pada waktu itu mereka bertanya mengejek Khubaib, ‘Sukakah engkau si Muhammad menggantikan engkau, kemudian engkau kami bebaskan?’ Khubaib menjawab ejekan mereka, ‘Saya tak ingin bersenang-senang dengan anak istri saya, sementara Muhammad tertusuk duri’,”

Said melanjutkan, “Demi Allah…! Jika saya teringat peristiwa itu, di saat mana saya membiarkan Khubaib tanpa membelanya sedikit pun, maka saya merasa, bahwa dosaku tak diampuni Allah.”


Khalifah Umar mengakhiri dialog itu dengan mengatakan, “Segala puji bagi Allah yang tidak mengecewakanku.”

“Wahai orang-orang yang beriman jauhilah kebanyakan dari prasangka, karena sebagaian besar dari prasangka adalah dosa…” (Al-Hujurat:12)


“Jauhilah prasangka itu, karena prasangka itu sedusta-dusta ucapan..” (HR. Bukhari Muslim)


Solusi yang agtri tawarkan:

  1. Tarik nafas panjang ketika mendengar informasi yang ‘tidak meng-enak-kan”‘. Baca istighfar dan ta’awudz(agar si-syaitan menajuh dan tidak ikut memanas-manasi)
  2. Be positive, pikirkan hal positif.. Husnuzhan..
  3. Cari tahu kebenaran berita tersebut, jangan-jangan hanyalah kabar burung atau berita yang tidak bisa dipertanggungjawabkan. (Bahkan jika bisa, tanyakan kepada orang yang menjadi ‘tersangka’. apa betul ia melakukan hal tersebut dan apa tujuan beliau melakukan hal itu. Bukan malah men-judge dan tidak mau menerima penjelasan.. atau lebih parah lagi jangan Marah-marah nggak jelas!)
  4. Berpikir bagaimana cara memperbaiki situasi yang terjadi.. Ikhwah, solutif dan ‘jantan’lah ketika melihat ada yang tidak sesuai ya.. selesaikan bukan malah menghindar dan ‘mangkel’ dalem.. (Astagfirullah.. agtri ko jadi malah kayak curhat ya?)
  5. Selesaikan secepat mungkin. Kebaikan untuk memperbaiki jangan ditunda-tunda tapi bukan berarti terburu-buru tanpa pertimbangan
  6. Hindari kata-kata yang menyakitkan lawan bicara. Ingat, bagaimanapun kita ini saudara, terdekat lagi.. Jika antum merasa sakit jika diperlakukan dengan kata-kata kasar, apakah antum tidak berpikir bahwa saudara antum juga merasa kesakitan yang sama?
  7. Saling memaafkan.. saling memaafkan dengan catatan tulus dari hati.. Bahkan ketika sudah tulus dari hatipun sebaiknya disampaikan kepada saudara tersebut agar sudah lepas semua dzhan yang ada

Wallahu ‘alam

(Masih terus belajar…)

“Wahai Rabb kami, ampunilah dosa-dosa kami dan saudara-saudara kami yang telah mendahului kami dalam keimanan, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kedengakian terhadap orang-orang yang beriman, wahai Rabb kami, sesungguhnya Engkau adalah Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.”

(Al-Hasyr : 10)

2 Comments (+add yours?)

  1. wied
    Jan 08, 2009 @ 23:30:28

    enak ya teh orang yang diberi kelebihan “lempeng-lempeng” aja,
    hidup teh serasa tenaaanng..damaaaii…ga ngurusin gosip dan urusan org lain….
    “cuek bebek” asa ga punya dosa..hehehe..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: