Sebuah Refleksi:Kadang, selesaikanlah masalah dengan melupakannya

Entah mengapa, judul majalah Tarbawi seringkali betul2 pas dengan kondisi agtri..

Sedang begini, judul majalah tarbawi begini

Sedang begitu, judul majalah tarbawi begitu

Hem, ingat perkataan dari Pembina agtri bahwa “Tausiyah dari Allah itu memang tidak pernah tertukar”

bagaimanapun jalannya akan sampai ke kita..

Sekarang agtri sedang ingat judul majalah tarbawi yang “Kadang, selesaikan masalah dengan melupakannya”

Alhamdulillah, ini artikelnya

Hidup kita memang tidak akan pernah lepas dari masalah, seperti sudah kita maklum. Bahkan, tidak jarang keceriaan yang kita nikmati dalam waktu sesaat, justru meninggalkan luka yang berkepanjangan. Namun, hidup ini tentu tidak boleh hanya jadi kumpulan masalah. Karena kita hidup hanya sebentar, dan untuk itu ia harus dinikmati. Keceriaan dan kebahagiaan harus lebih mendominasi hidup ini daripada masalah yang hanya akan memangkas jatah usia. Dan untuk menghilangkan masalah itu, kadang kita perlu dan harus melupakannya.

Mengapa harus melupakan ? Melupakan tentu bukanlah satu-satunya jalan untuk membebaskan diri kita dari masalah yang membelit. Bahkan, barangkali sebagian orang ada yang menganggap bahwa hal ini terlalu menyederhanakan keadaan yang kadang memang begitu rumit. Akan tetapi pada kenyataannya, jika energi fisik, pikir, dan dzikir yang kita miliki terlalu banyak tercurah kepada satu masalah tertentu saja, biasanya hidup terasa akan begitu terbelenggu dan sulit menemukan jalan untuk melepaskan diri darinya.

Meskipun bukan satu-satunya jalan, tapi kita tentu punya banyak alasan untuk mengatakan, bahwa sekali waktu melupakan masalah memang perlu untuk kita lakukan. Terlebih bila kita merasa bahwa semua jalan seperti sudah buntu, dan keadaan itu semakin menipiskan asa kita untuk tetap bertahan di arena hidup yang tak pernah lepas dari masalah ini. Maka tidak ada salahnya kita mencoba. Sebab, mungkin dengan begitu kita bisa mendapatkan hal-hal positifnya.

Agar Kita tidak terjebak pada masalah yang sama. Jalan licin sehabis diguyur hujan seringkali menyebabkan kita tergelintir dan jatuh lebih dari satu kali. Kenapa itu terjadi? Sebabnya karena seringkali kita menoleh ke tempat kita terjatuh, kemudian lalai memperhatikan jalan licin yang masih panjang, yang terbentang dihadapan kita. Seharusnya kita tidak lagi terus menoleh ke tempat itu, melainkan melangkah lebih berhati-hati karena penyebab kita terjatuh masih ada: jalan yang licin.

Sungguh aneh, jika kita membiarkan diri kita terus menerus tergelincir di dalam dosa dengan tidak memfungsikan mata batin yang kita miliki. Tidak melihat akibat dan dampak dari segala sesuatu dengan akal pikiran. Sama anehnya, jika kita terus menerus “menikmati” masalah kita, dan tidak mau bergeser darinya karena merasa tidak memiliki cara lain lagi untuk melepaskan diri darinya. Maka disinilah perlunya, agar sekali waktu kita melupakan masalah kita, dengan cara yang kita bisa.

Mengingat Masalah hanya Akan Mengacaukan Hidup Kita, Maka Biarkanlah Ia Berlalu. Dengan selalu mengingat masalah serta tragedi-tragedi yang terjadi di dalamnya, maka kita akan mengalami kegoncangan jiwa; penyakit yang akan menghancurkan kekuatan kita untuk tetap bertahan hidup serta berperan menjadi penyebab kesedihan dan kekhawatiran, yang jika kita terus mengingatnya akan membuat hidup kita semakin kacau. Padahal, orang-orang yang memiliki tujuan yang kuat dalam hidupnya, mereka berhasil melampaui masalahnya dan melupakan kejadian apapun yang menimpanya, kemarin dan saat ini, dan tidak pernah mau menoleh untuk melihat cahaya yang temaram. Sebab dengan terus mengingat masalah itu, hanya akan menciptakan ruang yang gelap di dalam hati. Sebuah malapetaka bagi kita jika tidak mampu berinteraksi dengan baik dengan masa sekarang di mana kita sedang hidup, padahal kita sedang ada di dalamnya. Sedangkan kita hanya mampu meratapi bangunan hidup yang telah hancur. Segala yang ada dibumi ini selalu bergerak maju untuk mempersiapkan musim yang baru, maka kita juga harus berbuat demikian; meninggalkan dan melupaan masa lalu agar kita bisa hidup tenang dan meraih keadaan yang jauh lebih baik.

Yang Penting dalam hidup ini, adalah Keridhaan dan Penerimaan. Kita mempunyai tugas suci untuk menyerahkan diri dengan apa yang telah Allah putuskan untuk kita. Jika kita penuhi tugas ini, maka kita akan berhasil dalam perjalanan panjang yang penuh dengan masalah ini. Satu-satunya jalan keluar bagi kita adalah dengan mempercayai takdir, karena apa yang telah ditentukan tidak dapat dielakkan lagi. Pasti akan terjadi. Tidak ada dalih atau cara yang bisa melindungi kita darinya. Ini menjelaskan, bahwa orang yang berhasil itu bukan orang yang hidup tanpa masalah. Tapi orang yang menerima ridha dengan masalah yang ada dalam hidupnya, lalu berusaha melakukan yang terbaik untuk dirinya dengan masalah ini. Dengan melupakan masalah, kita bisa meringankan beban hidup kita karena ada faktor keridhaan dan penerimaan disana.


Ada sebuah kisah dalam penggalan kehidupan Rasulullah SAW, ketika suatu hari beliau menyebutkan mengenai salah seorang penghuni surga, yang kemudian seorang sahabat sampai bermalam di rumahnya untuk mengetahui kunci kesuksesan orang tersebut, sampai-sampai Rasulullah SAW menunjuk dia sebagai salah seorang penghuni surga. Jawabannya terdengar sangat sederhana, ternyata orang tersebut selalu memaafkan kesalahan saudara-saudaranya sebelum ia terlelap tidur. Menghapus memori luka akibat sikap, perilaku dan perbuatan saudara-saudaranya yang tidak berkenan di hatinya, dengan melupakannya.

Lupa memang bisa menghantar kebaikan yang besar jika ditempatkan sebagaimana seharusnya. Jika dikombinasikan dengan “ingat”, tentu hal itu bisa menjadi sebuah hal yang luar biasa

Ada beberapa hal yang perlu kita lupakan, dan ada beberapa hal yang lebih baik jika kita ingat, tentunya itu semua dalam kerangka yang konstruktif.

Lupa pada dua hal bisa membawa kebaikan: melupakan kebaikan diri kita kepada orang lain, dan melupakan kesalahan orang lain pada diri kita. Lupa jenis ini merupakan tipe lupa konstruktif atau anugerah sebagaimana ditulis oleh Ahmad Zairofi AM di halaman delapan, hikmahnya adalah menjaga diri dari riya’, sombong, dan berbangga diri berlebihan. Sedang di halaman tiga belas, ditulis bahwa memberi maaf bisa menjadi obat, karena menghilangkan permusuhan dan dendam.

Ingat pada dua hal bisa juga membawa kebaikan: ingat pada kesalahan diri kita kepada orang lain, dan mengingat kebaikan orang lain pada diri kita. Mengingat-ingat kesalahan seharusnya bisa membuat kita lebih bersemangat dalam berbuat kebaikan.

Di kumpulan hadits Arba’ain Imam Nawawi, Rasulullah SAW bersabda,

“Bertakwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlak yang baik “ (HR Tirmidzi)

Dengan mengingat kesalahan kita kepada orang lain, seharusnya setelah kita meminta maaf, kita iringi perlakuan itu dengan berbuat baik kepada dirinya, untuk menghapus kesalahan yang ada, sebagai kafarat atas dosa.

Allah SWT berfirman,
“Apabila kamu dihormati dengan suatu penghormatan, maka balaslah penghormatan itu dengan yang lebih baik, atau balaslah (dengan yang serupa). Sesungguhnya Allah memperhitungkan segala sesuatu.” (QS. An-Nisaa’: 86)

Subhanallah..

Melupakan adalah sebuah pilihan

Jika masalah yang kita pikirkan memang suatu yang bermanfaat dan membawa mashlahat maka pikirkanlah, tetapi bila ternyata justru membuat kontraproduktif maka lupakanlah..

Wallahu ‘alam

5 Comments (+add yours?)

  1. Citra Puspitasari
    Jan 11, 2009 @ 23:27:20

    spakat tri..
    artikel dari tarbawi oke punya dan seringkali pas sama keadaan (sy maksdnya)
    knapa ya?apa sy aja yg GR?

    Reply

  2. salam revolusi
    Jan 12, 2009 @ 05:50:03

    kayakn’y emang permasalahan manusia itu cuma sekitar “di situ-situ” ajah, ukh…

    cuma beda penyikapan aja kali yaa en cara pandang kita

    Reply

    • aisyahkecil
      Jan 12, 2009 @ 17:15:05

      hem, “disitu-situ ajah”..

      kalimat ini menarik
      agtri teringat sebuah pernyataan bahwa “kita akan senantiasa diuji dititik terlemah kita”
      dan ketika belum lulus, ya insyaAllah akan diuji terus hingga kita mampu mengatasi kelemahan kita tersebut
      sepertinya… memang terasa atau terpikir jadinya “disitu-situ ajah”
      dan..
      yang agtri pahami,
      ketika kita mendapati sesuatu masalah, bisa jadi masalah itu adalah pengulangan dari masalah-masalah sebelumnya
      tapi dengan tingkatan kesulitan yang berbeda.
      Entahlah.. tapi bahasa mudahnya
      ketika kita lulus kalkulus I maka kita akan melanjutkan kalkulus II baru kalkulus III
      masalahnya sama yang dihadapi, itu-itu saja..
      si-kalkulus..
      Setelah kita berhasil di ujian (baca: lulus kalkulus I) kita akan menemui ujian yang lebih sulit (baca: ujian kalkulus II)
      Wallahu ‘alam

      NB: em, kalau yang ukhty maksudkan “disitu-situ” ajah yang mana ya? ‘afwan kalau tanggapan agtri tidak spt yang anti maksudkan.. 🙂

      Reply

  3. salam revolusi
    Jan 12, 2009 @ 17:22:16

    siip…ya seperti itu. jazakillah… 😀

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: