Kritis? Emang nggak boleh ya?

Ada yang bilang zombie

Ada yang bilang boneka tali

Ada yang bilang manekin pajangan

bahkan ada yang pakai bahasa lain

Taklid buta

de-el-el

macem-macem

So?

apakah iya seperti itu?


Ketika ada keputusan yang dikatakan sebagai dari dewa-dewa langit (siapa si yang nyiptain istilah ini?),

para pejuang da’wah ini akan serta merta menerima dan itu disebut taklid?

Apakah iya seperti itu?


Wallahu ‘alam

sejauh yang agtri pahami..


Hasan Al-Banna memperkenalkan pada kita tentang yang namanya Arkanul Bai’ah (10 rukun)

mulai dari yang pertama adalah Al-Fahmu hingga urutan At-Tsiqah di urutan ke 10

Panjang… bahwa Al-Fahmu adalah SALAH SATU TAHAP yang harus dipenuhi terlebih dahulu baru bisa mencapai At-Tsiqoh

“Penjelasannya dulu dong, baru saya putuskan akan Tsiqoh atau tidak”

Nah.. Terkadang kita terlalu menyempitkan bahwa Al-Fahmu dong, kalau nggak faham (aja?) enggak bakal tsiqoh..

Barangkali inilah saatnya untuk kita membuka kembali dan mereview kembali

jangan-jangan ada hal yang kita lupakan..

Diantara Al-Fahmu dan At-Tsiqoh ada 8 poin lainnya yang juga harusnya perlu kita tempuh yaitu Al-Ikhlas, Al Amal, Al Jihad, At Tadhiyah, At Tha’ah, At Tsabat, At Tajarrud, dan ada pula Al-Ukhuwah…

Sudahkah selain menuntut Al-Fahmu dari orang lain kita mencoba untuk merenungi dan melaksanakan 8 rukun bai’ah lainnya?

[Maaf, bukannya marah.. Tapi kadang kita terlalu menutup mata, telinga dan hati dari penjelasan yang diberikan orang lain. Semoga Allah senantiasa memberikan kelembutan hati pada kita semua ^^]

kembali lagi ke topik awal,

apakah betul kita adalah zombie? adalah boneka tali? taklid buta?

Siapa bilang kita tidak boleh bertanya?


Ya, tentu saja kita boleh bertanya

dan hal itulah yang selama ini agtri lakukan ketika memang tidak bersesuaian dg pemikiran dan pemahaman selama ini

Siapa bilang sikap kritis itu tidak boleh dilakukan?

Tapi… tentu,

ada aturannya.. ada norma2nya..

Ada sebuah buku yang beberapa waktu yang lalu agtri baca ulang

Buku karya Ust. Anis Matta, “Menikmati demokrasi” tentang Sikap Kritis

Sikap kritis dan kultur introspeksi menjadi instrument penting dalam proses penyempurnaan kehidupan berdemokrasi. Inilah sebabnya mengapa Umar bin Khattab mengucpakan terima kasih kepada siapaun yang menghadiahkan “aib” kepadanya. Karena itu, merupakan proses penyempurnaan diri.

Positif bukan posisi sikap kritis itu.

Namun..Sikap kritis akan berubah menjadi masalah ketika:

Pertama, apabila sikap kritis itu bersumber dari kebencian, bukan dari semangat untuk saling memperbaiki

Kedua, apabila sikap kritsi itu lahir dari keinginan untuk berbeda dari orang lain dan dijadikan sarana untuk memperjelas identitas diri sendiri

Ketiga, apabila sikap kritis itu dijadikan cara untuk mendapatkan “image” sebagai pemberani

Keempat, apabila siakp kritis itu dijadikan kedok untuk merusak nama baik orang lain atau membuka aib sesama

Kelima, apabila sikap kritis berkembang menjadi ghibah

[lebih lengkapnya silahkan baca langsung dari bukunya]

Jadi, kritik itu sebaiknya:

Pertama, ada niat yang benar dari si pengeritik bahwa itu ia lakukan semata-mata sebagai kewajiban munashahah sesama muslim dan ia mengaharapkan pahala dengan melaksanakan kewajiban itu

Kedua, memang ada kesalahan objektif yang harus dikritik. Baik kesalahan personal maupun kesalahan kebijakan

Ketiga, kritik itu disampaikan dengan cara yang benar dan tepat sesuai dengna adab-adab munashahah dalam Islam

Semoga Allah SWT memberikan kelapangan dada kepada kita untuk mendengar dan menerima nasihat yang baik serta memberikan kekuatan untuk menyampaikan nasihat dengan cara yang benar dan tepat

[‘afwan atas semua kelalaian yang agtri lakukan.. Mohon ikhlaskan agar tidak menjadi penyulit di hari Perhitungan kelak]

12 Comments (+add yours?)

  1. bobby86
    Feb 18, 2009 @ 00:48:26

    Numpang lewat..

    Asw

    Tambahan analogi…Bebegeg…(boneka di tengah sawah)…hehe

    hmm…kok ga ngerti ya kritis dalam hal apa?

    Kritis kepercayaan diri kali…(error mode)

    afwan

    Reply

    • aisyahkecil
      Feb 18, 2009 @ 08:33:18

      @k Bobby
      Wa’alaikumussalam,
      Kritis terhadap kejadian2 yang terjadi disekitar kita, apapun itu.
      Ruang lingkupnya luas.

      Sebetulnya tujuan awal dari tulisan ini adalah
      ingin membangun cara pandang bagaimana mengelola sikap kritis
      agar tidak malah membuat menjadi kontraproduktif
      Wallahu ‘alam

      Reply

  2. Gianto
    Feb 18, 2009 @ 10:54:03

    Assalamualaikum, wr.wb.
    Tadinya ana cuma mau cari lirik nasyid Aisyah Adinda kita. Tp, ternyata tertarik juga baca tulisan yg lain terutama pd bagian haraki.

    Sungguh, Jawaban yg aktual dan kontekstual dengan tantangan da’wah hari ini. Jarang sekali ana menemukan akhwat seperti anti. (afwan ini ga berlebihan kan?). Selama ini kita “dilalaikan” oleh tugas formalistik da’wah dan menghiraukan penempaan (upgrading) fikrah dan ruhiyah kita, Sehingga ketika tantangan da’wah begitu cepat berkembang, kapasitas diri kita masih stagnan, terutama dalam memahami konstelasi da’wah ini yg sudah masuk mihwar muasyasi.

    Jangankan memahami konstelasi medan, pemahaman terhadap hal yang syar’i saja terkadang kita masih lalai. Dampaknya adalah kita terlalu mudah menilai dan cepat memberi stigma negatif bahkan tuduhan bahwa para qiyadah sudah keluar dari Asholah da’wah, atau para jundi sudah menjadi seorang yg taqlid dan sebagainya.

    Dampak akhirnya adalah sikap antipati,apatis, bahkan caci mencaci, padahal kalo kita berintropeksi, bukankan ini akibat dari pemahaman kita yg masih belum mantab, atau (seperti yg dijelaskan dalam tulisan ini) kita belum cukup mempelajari secara mendalam arkanul bai’ah.

    Selanjutnya, kalo kita sudah berinstropeksi, kita konsepsikan diri kita, apakah kita ini bagian dari da’i sejati atau da’i perusak tatanan da’wah, seperti yg digambarkan Fathi Yakan dalam bukunya “Runtuhya Da’wah di Tangan Da’i”

    O .iya kalo stigma dan penilainya negatif muncul dari luar aktivis da’wah, ya wajar saja. Karena kerangka berpikirnya juga beda, jadi biarlah..sabar saja.

    Wallahu’alam
    Gianto

    Reply

  3. taufiqsuryo
    Feb 21, 2009 @ 13:55:30

    Asslamualaikum…
    mantap teh tulisannya.. boleh copas ke milist angkatan ga??

    benar dengan pemahaman kritis yang tidak benar, sikap kritis justru akan menjadi kontraproduktif.

    Reply

  4. akhidenli
    Feb 22, 2009 @ 20:33:41

    Assalamualaykum wr wb

    Punten teh, numpang baca, bagus banget tulisannya.

    ana jarang denger zombi, manekin, dan boneka, taklid buta lumayan pernah denger,
    yang paling sering denger “Robot”
    Gak hanya sekali ana dengar Pejuang2 dakwah yang mengatakan “saya diperlakukan seperti robot” atau “ternyata futur itu lebih mudah saat berada dalam jamaah ini dibandingkan gabung dengan lingkungan yang kurang baik”
    tanya knpa?

    Smga Allah mengikhlaskan hati kita semua.
    Wallahualam.

    Reply

    • aisyahkecil
      Feb 22, 2009 @ 21:52:58

      @denli
      Wa’alaikumussalam
      Iya de’ Silahkan

      Ingin mmberikan sedikit tanggapan dari comment Denli,

      Sejauh yang dipahami,mengapa bisa merasa seperti itu adalah,
      Kadang kita belum bisa melihat dan memahami sesuatu secara mendalam dan menyeluruh
      (Pengalaman pribadi)
      Karena dalam menyikapi sesuatu,
      Kadang kita perlu “zoom in” ke sesuatu untuk melihat lebih dekat
      kadang kita perlu “zoom out” untuk bisa melihat lebih Global
      untuk bisa menarik kesimpulan yang lebih valid

      Kalau dikatakan
      “ternyata futur itu lebih mudah saat berada dalam jamaah ini dibandingkan gabung dengan lingkungan yang kurang baik”
      Sebetulnya perlu menjadi pertanyaan..
      Bukankah dalam kondisi apapun kita seharusnya bisa menjaga kestabilan diri kita sendiri
      Baik sedang “bersama-sama” maupun dalam kondisi “sendirian”

      Dan yakinlah bahwa Allah mencintai orang-orang yang senantiasa bersama-sama dalam jama’ah
      Walaupun berat, walaupun perih, walaupun sakit

      Jelas, akan terasa berat, akan terasa makin perih, akan terasa makin sakit ketika hal2 tersebut yg kita ingat
      Tetapi coba kita ingat hal lain..
      betapa indahnya berjamaah, betapa nikmatnya berjuang bersama-sama, betapa bahagianya saling menasihati, betapa asyiknya berdiskusi dengan ‘sehat’

      Smga Allah mengikhlaskan hati kita semua.
      => Amin…..

      Reply

  5. wahyu eko widodo
    Feb 23, 2009 @ 09:17:33

    asslm, teh saya wahyu STF 07,,tepat sekali membahas tema ini sekarang..saya maw izin copy “inspirasi pekan ini” ya…

    Reply

  6. akhidenli
    Feb 27, 2009 @ 18:06:01

    Yupp, jazakallah teh, InsyaAllah diteruskan ke yg curhat itu.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: