Menjawab tentang Nurani..

Tak ada yang lebih jernih dari suara hati, ketika ia menegur kita tanpa suara.

Teguran yang begitu halus, begitu bening, begitu dalam.

Tak ada yang lebih jujur dari nurani, saat ia menyadarkan kita tanpa kata-kata

Nasehatnya begitu bening, dan kita tak kuasa menyangkal

Tak ada yang lebih tajam dari beragam kesalahan dan alpa

Begitu tipis, begitu mengiris

Berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati

(Salim A.Fillah-Jalan Cinta Para Pejuang)

Subhanallah,

kekuatan dan kebeningan hati dalam menyikapi kehidupan

Terkadang kita bimbang dalam memutuskan

Terkadang kita ragu dalam bertindak

Padahal, jika kita pahami..

Jawaban itu sangat dekat


Ya, jawaban itu amat dekat

ia ada di nurani kita

“Tapi, aku sudah sering bertanya pada hati..

Kenapa belum juga menemukan jawaban?”

Berikut ini merupakan penggalan dari buku Jalan Cinta Para Pejuang

Permasalahannya adalah bisa tidaknya pesan nurani itu bergerak keluar menembus dinding hati lalu terdengar bergerincing. Seringkali ia hanya berbisik. Tak jelas. Atau bahkan terbungkam. Itu karena karat-karat dosa menjerujinya [DEGH… Inikah jawaban dari keraguan yang masih muncul selama ini??]. Kemudian, setiap suara hati kita hanya mampu menggetarkan jeruji-jeruji itu. Hingga seringkali kita mengira suatu bisikan sebagai suara hati, padahal itu adalah geretak jeruji dosa dan palang-palang nafsu. nurani berbisik, menyakiti hawa nafsu yang mengukungnya. Lalu hawa nafsu itu berteriak nyaring. Dan dialah yang kita dengar [Rabbi…..ampuni diri ini yang belum juga memahami….]

Setiap kemaksiatan yang kita lakukan adalah noktah dosa yang menghitamkan hati. Awalnya, nurani kita akan selalu mengirimkan tanda bahwa ia tersakiti. Tapi ketika hawa diperturutkan, dan maksiat terus dilakukan, diulang dan diulang, noktah-noktah dosa telah menjadi jeruji, membelenggu nurani hingga suaranya makin lirih. Padahal satu noktah akan selalu mengundang teman-temannya. Hingga suatu ketika, hati mati rasa….

Ya Rabb…

Inilah dimana kita mendengarkan suara nurani.

Bukan untuk mendayu-dayu atau melankolik

Tetapi untuk bersikap tepat pada suatu saat, sepenuh jiwa, sepenuh raga.

Jadi? Bagaimana agar nurani senatiasa terasah?

Kepekaan untuk mendapatkan kebenaran itu tidak kita peroleh dengan serta-merta.

Tetapi dari Perjuangan menjaga kesucian hati.

Dari Perlawanan yang gigih terhadap nafsu dan kemaksiatan.

Juga dari dialog-dialog yang terus menerus dengan nurani, meski dalam tanya jawab yang sunyi.

Hingga ia mengenali dengan jelas asal dan arah berbagai bisikan.

Hingga ia tak tertipu oleh bahaya-bahaya yang bertopeng kebaikan.

Said Hawwa dalam Tazkiyatun Nafs telah memberikan sarana -saran asasi Penyucian Jiwa

yaitu melalui:

Shalat * Zakat dan Infak * Puasa * Haji * Membaca Al-Qur’an* Zikir * Tafakkur * Mengingat mati dan pendek angan-angan * Muraqabah, Muhasabah, Mujahadah, dan Mu’aqabah * amar maruf nahi munkar dan jihad * berkhidmat dan tawadhu’ * mengetahui dan menutup pintu-pintu masuk setan * mengenal penyakit hati dan Kepulihan kesehatannya

1 Comment (+add yours?)

  1. fauzah atsaniyah
    Jul 15, 2009 @ 10:57:35

    subhanallah cerita di atas membuat saya lebih mengerti untuk lebih yakin pada hati nurani sendiri, karena keyakinan dari nurani melahirkan sebuah pencerahan dalam menjalani hidup ini…..
    jazakumullah……

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: