Perkembangan media, membuat ‘overload information’?

Akhir-akhir ini kita(kita??) sering menghela nafas untuk alihkan penat
Betul-betul penat.
Cukup gerah dengan kondisi informasi belakangan ini..
Kondisi seputar media,
Baik itu media cetak ataupun elektronik

walaupun memang informasi yang agtri banyak dapatkan adalah via media elektronik,
karena dikostan sengaja untuk tidak ada TV (sengaja gitu? šŸ˜• )


Iya, sebetulnya banyak ibrah positifnya tidak ada TV di rumah
Peluang menghabiskan waktu untuk menonton yang tidak perlu menjadi berkurang..
Jadi nggak ada peluang untuk bikin agenda nonton kuis ini-itu, reality show itu-ini, ataupun sinetron itu- itu..


Oke, cukup intermezzonya!!
R. Panuju dalam bukunya Relasi Kuasa tahun 2002Ā  menyampaikan mengenai pengaruh media dalamĀ  mengarahkan “kesimpulan publik”


dimana,
“dinamika komunikasi” bisa merubah “realitas faktual”Ā  yang terjadi.

Nah dinamika komunikasi tersebut apa saja:
1. Faktor Psikologi
2. Faktor Sosiologis Politik
3. Faktor Budaya
4. Faktor Media massa

Kondisi saat ini, yang dominan untuk bisa mempengaruhi dinamika komunikasi, mau tidak mau kita akui adalah faktor ke empat yaitu faktor media massa.

Sehingga bila kita gunakan kata ganti, maka “Faktor media massa” bisa merubah “realitas faktual” yang terjadi.
(Betulkan jadi gini kalimatnya?)

Oke, kita bahas tentang media massa ini.
Pertanyaan sederhana yang muncul, berapa frekuensi Anda dalam sehari menyerap informasi baru via media??
Pertanyaan lainnya,
Informasi yang begitu update bahkan per menit saat ini, apakah menyebabkan kita sebagai konsumen menjadi “lebih sehat”??

Dulu, ada yang namanya headline news di televisi yang frekuensinya setiap satu jam sekali. Nah sekarang, hampir tiap menit kita bisa mengetahui update-an berita.

“Enggak papa, bagus ko’.. Kita jadi melek sama kondisi terkini..”
Betulkah?

Menurut saya, jawaban bisa saja condong ke “Iya, bagus Ko’..”
tapi…
harus ada argumen tambahan, yaitu Validitas informasi nya. Bukan hanya dengan headline-headline yang “memicu” orang membaca saja tetapi jaminan ‘kebenaran’ dari berita tersebut.

Sampai-sampai Na’udzubillah, tanpa sadar bisa masuk kategori memfitnah tapi tidak disadari. Maksud hati mungkin ingin menaikkan rating dengan judul-judul yang kontroversial, tetapi ternyata ambigu dan membuat pembaca menjadiĀ  salah persepsi.

Dan.. hem.. saya miris baca berita-berita yang sifatnya formal tetapi belakangan seolah-olah seperti berita-berita yang -punten- seperti infotainment.
Hal-hal yang sifatnya masih DUGAAN saja sudah tersebar luas, padahal belum juga ketok palu apa yang terjadin sebetulnya. Begitu mudah mengumbar-umbar aib orang lain..

Hem.. Membicarakan hal yang belum pasti dan itu adalah keburukan orang lain..
Bukankah jadi Ghibah ya?
Astagfirullah, jangan-jangan tanpa sadar kita larut dalam nuansa ini

Mecermati “kemudahan” frekuensi penerimaan berita/informasi yang kita miliki, kita balik lagi ke buku R.Panuju tadi.

George Miller(1956) menemukan bukti bahwa kegagalan komunikasi lebih banyak disebabkan oleh komunikasi yang berlebihan sehingga mengakibatkan kelebihan informasi pada audiences(overloaded information).
Menurut Miller, kelebihan informasi ini mengakibatkan reaksi-reaksi negatif terhadap komunikasi yaitu:
1. Informasi tidak tertangkap
2. Membuat kesalahan dalam menginterpretasi
3. Menunda atau menumpuk pekerjaan (karena memikirkan hal yag tidak seharusnya dipikirkan)
4. Cenderung menyaring informasi (saking banyaknya, jadi memilah-milih mana informasi yang sudah ‘sejalan’ dengan pemikirannya saja)
5. Hanya menangkap garis besarnya saja (karena keterbatasan diri,Ā  hanya mampu melihat secara makro)
6. Melempar tugas kepada orang lain (kebingungan karena terlalu banyak informasi yang masuk tapi nggak tahu mana yang bisa di solusiin)
7. Menghindari informasi (saking banyaknya informasi yang diterima, lama-lama menjadi bosan sendiri dan malah menghindari informasi. semakin banyak tahu, semakin banyak yang dipikirkan)

Semakin banyaknya informasi dengan terbatasnya daya serap serta minimnya upaya memberikan solusi dari informasi tersebut, membuat kondisiĀ  malah tidak nyaman.
Bahkan
ada pepatah yang mengatakan “lebih berbahaya orang yang mengetahui sesuatu setengah-setengah ketimbang orang yang tidak tahu sama sekali”.
So, jangan terlalu cepat juga mengambil kesimpulan.. Jangan-jangan info kita itu baru dari satu sudut pandang saja. Padahal begitu banyak hal yang punya kompleksitas tinggi..

Tulisan ini dibuat bukan untuk menjadikan kita apatis dengan kondisi di sekitar kita, tetapi bagaimana agar kita bisa
1. Memilah-milih dengan baik, informasi apa saja yang perlu kita dengarkan, baca, telaah, analisis, dll
2. Selektiflah dalam memilih sumber berita yang akurat. Mohon, untuk media-media tertentu yang sarat dengan “berita burung”, tidak untuk dijadikan referensi…
3. Upayakan informasi tersebut tidak hanya didengar lalu dilupakan.. Tapi setelah info itu didapatkan, lalu apa yang bisa kita lakukan terhadap informasi tersebut..
4. Action!!

Wallahu alam,
semoga bermanfaat..

5 Comments (+add yours?)

  1. WinaWinaWina
    May 19, 2009 @ 17:29:14

    Iya,bener banget agtri,aku sepakat.. Apalagi orang Indonesia itu kan budaya latahnya cukup tinggi.. Lihat aja media massa kita.. Sekalinya berita si X,semuanya si X.. Efeknya seperti yang agtri tulis.. Aku malah kepikiran untuk membuat stasiun televisi yang isinya komedi semua untuk membuat jadi beda.. Habisnya agak pusing dengan segala pemberitaan yang ada..

    Reply

    • aisyahkecil
      May 19, 2009 @ 19:11:34

      @Wina…
      Budaya Latah.. Menarik Win..
      Di buku Relasi kuasa juga disampein ttg budaya “meme”.
      Dalam bahasa gampangnya meme adalah budaya “gossip”
      dan sekarang di kita, berkembang bahkan merambah ke dunia media..

      Reply

  2. ikhwan alim
    May 22, 2009 @ 10:22:47

    pemanfaatan “media utk inspirasi” ini yang harus kita gunakan,agtri. dan rencananya, akan ada “ngobrol-ngobrol” kemenkoan soal “pesan yang inspiratif” sekaligus media komunikasi mana yang bisa kita gunakan untuk inspirasi itu. sementara gini dulu,deh. ntar kita “ngobrol-ngobrol” lagi aja ma inoel,gumi ma faris.

    sekalian minta tolong nge-link ke blog saya,ya!
    http://ikhwanalim.wordpress.com

    dan jangan tertipu dengan avatarnya. huehehe..

    salam,inspirasi!

    Reply

    • aisyahkecil
      May 25, 2009 @ 21:02:36

      @ikhwan
      punten ya, tenyata kemarin commentnya masuk ke spam(enggak tahu kenapa.. bukan disengaja ko’)
      pesan inspiratif? wah.. ide bagus itu..
      Iya bisa insyaAllah, nanti kabarin aja kalau ada pertemuan

      link ke blog?
      hm.. baiklah tampaknya format blog ini harus sedikit berubah
      sekarang mah yang di link blog ini baru ut yang ber jender perempuan..
      nanti ada link khusus untuk tmn2 kabinet deh kalau gitu

      Avatarnya?
      Hahaha, ada2 aja
      itu lambang apa ya sebetulnya?

      Salam ispirasi juga!

      Reply

  3. ikhwanalim
    Jun 04, 2009 @ 20:41:40

    iya nih. kita kudu buat link utk tmn2 kabinet. trutama di MPK. jadi media inspirasi nih. hehe.. ntar coba lihat blog saya. dah ada I3M ma PM..

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: