Mereka Belia

Peristiwa 1:
Ditengah teriknya udara kota Bandung saat Ramadhan siang itu.
Macet.
Bising.
Sepi.
Orang-orang sibuk dengan lamunannya masing-masing. Beberapa kepala terangguk-angguk menahan kantuk.
Naik seorang anak laki-laki, kisaran usia baru 6 atau 7 tahun, bersama bundanya.
Barangkali bosan, kemudian anak kecil tersebut bersenandung dengan suara agak parau campur terjepit. Hanya alunan nadanya saja yang terdengar di telinga.
Bait syair lagunya tak terdengar jelas, hanya berupa gumaman “Nana nana..na na..na na na..”
Lagu apa ya ini?
Sekali,
dua kali,
tiga kali
coba membaca gerak bibir pemuda kecil itu.

Terlonjak sembari bertasbih..
Mahasuci Engkau Ya Rabb..
Ternyata..
pemuda kecil itu sedang menyenandungkan pujian untuk qudwah kita,
“Shalatullah.. Salamullah.. Ala tahaa Rasululillah.. Shalatullah salamullah..”
Sementara, adakah lisan ini refleks kala sunyi menyibukkan diri dengan zikir memuji asma-Nya atau bershalawat untuk Nabi-Nya?

Peristiwa 2:
Dalam perjalanan mudik idul fitri kemarin, di sebuah restoran masakan milik anak negeri. Sebuah keluarga muda ikut masuk ke ruangan ber-angin sejuk. Ayah yang menggunakan peci, ibunya dan 2 anak laki-laki (seorang balita dan seorang batita). Tiba-tiba bocah cilik yang masih balita dan cadel dalam berbicara
berkata lantang,”Bismilahilohmanilohim, allahu baliklana fimalojaktana wakina aja bannal.”
Tersipu aku malu, berapa kali khilaf terjadi lantunkan do’a itu sejak berhasil menghafalnya dahulu..

Peristiwa 3:
Seorang anak bersama keluarganya masih terjebak kemacetan. Seruan adzan berkumandang, sang anak dengan antusias menarik tangan ayahnya sembari berkata, “Ayah, shalat.. ayah, ayo shalat.. Kita ke masjid kan Yah?”. Polos berkata, begitu bersemangatnya untuk bersegera menunaikan panggilan dari Rabb nya.
Bahkan.. anak sekecil ia pun tahu betapa ‘menyenangkannya’ shalat berjama’ah di awal waktu

Ah.. Betapa bahagianya bila semua anak negeri seperti mereka. Kanak-kanak yang sejak dini mengenal Tuhan..
Bukan lagi kanak-kanak yang keracunan lagu-lagu dan juga tingkah polah dan berdendang keong racun
Oh, damainya negeriku..

25 Sept 2010

4 Comments (+add yours?)

  1. fski
    Dec 13, 2010 @ 01:24:09

    subhanallah…

    Reply

  2. sarahsyalala
    Mar 12, 2011 @ 23:34:28

    subhanallah, hemm, bisa dimulai dari diri qt sendiri, agar bisa menjadi teladan bagi adik/ponakan/siapapun yg berada di dekat qt..^^

    btw salam kenal ya mb aisyah, saya sarah mahasiswi teknik industri its angkatan 2007

    Reply

  3. vii
    May 18, 2011 @ 15:04:15

    Assalamualaikum aisyah, salam ukhuwah,, Masya Allah, bener-bener bikin kita yang dah gede jdi ngeh lagi,, tentang hal-hal yg kita anggap remeh dan sering terlewatkan,, semoga kita bisa belajar dr mereka, yg masih belia,, salam kenal yaa aisyah (smile)

    Reply

  4. Jenna Finch Olafer
    Jan 14, 2012 @ 20:39:40

    Tahu buah simalakama tahu pula madu dan racun aku benar benar tak mengerti kenapa aku bisa berada di tengahnya tanpa kuinginkan.

    Reply

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: