Ladies…

tumblr_ly7m6yBxkg1qaobbko1_500

 

 

tumblr_lnk3ebFKi41qj065bo1_500

 

The Journey (2)

4 Mei 2011

Kita bertemu dalam ruang dan waktu yang sama untuk mengenal lebih jauh, ta’aruf. Malamnya saya kebingungan besok pertanyaan apa yang harus diajukan? Dan pertanyaan apa yang akan diberikan. Jadilah malam itu sibuk browsing dengan keyword yang sangat amat garing “pertanyaan ta’aruf”. Eh, ternyata ada dan banyak.. Cobalah dirangkum beberapa hal yang kiranya penting untuk ditanyakan. Dan dalam hati mengatakan, semoga dengan tidak mempersulit kelak saya juga tidak akan dipersulit dengan pertanyaan-pertanyaan beliau. Setelah siap mengantongi beberapa pertanyaan, malam itupun tidur dengan tenang.

Paginya, jadwal ta’aruf direncanakan pukul 8 pagi. Tetapi karena baru pindah tempat tinggal (sekre Salimah) agar tidak terlambat karena mencoba rute baru, saya berangkat pukul 07.15 dari sekre. Ternyata jaraknya sangat dekat dengan rumah Murabiyyah saya (biasanya memutar). Alhasil pukul 07.30 saya sudah ada di daerah rumah Murabiyyah. Malu kepagian dan nggak mungkin pulang lagi, akhirnya saya menuju masjid yang ada diseberang rumah beliau. Tapi.. Oh tidak! Seperti ada seorang ikhwan yang sedang menunduk dan membuka sepatu disana. Tanpa berusaha ambil resiko, saya ambil langkah seribu langsung menuju rumah Murabbiyyah. Menelepon beliau dan menjelaskan kondisi. Saya akhirnya menunggu di rumah Murabbiyyah. Murabbiyyah pamit sebentar keluar karena si kakak ingin beli roti di toko depan. Lama menunggu, kenapa nggak pulang-pulang beliau. Tiba-tiba ada salam, Murabbiyyah masuk bersama seorang ikhwan yang tadi saya lihat di depan masjid. Degh.. Tubuh yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi panas dingin.  Kelu lidah seorang Agtri yang biasa ‘garang’ dan tidak kenal tendeng aling-aling ketika rapat dengan lawan jenis. Kata-kata yang keluar seperti aa..uu.. Ah..

Dipandu oleh Murabbiyyah prose situ dimulai. “Ladies first kata beliau”. Muncullah pertanyaan pertama dari saya. Kemudian setelah beliau menjawab Murabbiyyah memberi kesempatan ke beliau untuk bertanya dan beliau jawab dengan, “Mangga diselesaikan saja pertanyaan dari akhwat, dari ana hanya ada 1 pertanyaan dan 1 titipan pertanyaan dari keluarga.” Huaa.. bukan malah tenang mendengar hanya 1 pertanyaan tapi malah deg-degan dan tidak konsen mengajukan pertanyaan lanjutan. Curiga 1 pertanyaan itu adalah berapa jumlah hafalan dan saya tidak siap.. -_-“

Selesai juga pertanyaan dari saya dan sudah pula semuanya dijawab. Saatnya beliau.. Deg..deg..deg.. teringat cerita teman ada yang ditanya tentang Fiqh thaharah, harga beras di pasar, sampai diskusi sosial politik. Aduuh.. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Ternyata…. “Apakah anti siap untuk ikut saya kemana saya pergi?” Langsung anti klimaks mendengar pernyataan tersebut.. Fiuh… “Iya, insyaAllah siap” hanya itu yang bisa saya jawab. Karena saya memang berkomitmen untuk ikut suami kemanapun suami pergi. Saya tidak ingin dan tidak siap untuk menjadi Long Distance Marriage..  lalu dilanjutkan dengan pertanyaan titipan dari keluarga yaitu “ Apakah ada pelangkahan?” Saya melangkah menikah dua orang kakak perempuan (semoga Allah senantiasa menyayangi keduanya). Dan keduanya dengan luar biasa sangat berlapang dada bahkan mensupport begitu besar sebelum dan selama kami menikah apalagi setelah qoonita lahir. Saya menjawab “Tidak ada. Karena dikeluarga tidak menggunakan adat seperti itu”. Memang dibeberapa daerah budaya pelangkahan amat kental. Bahkan apapun yang diminta oleh kakak yang dilangkahi harus dipenuhi bilapun harganya sangat mahal. Alhamdulillah kakak-kakak tidak mau diberi hadiah oleh calon suami saya (ketika itu) bahkan memberikan hadiah mesin cuci untuk kami (bageur pisan kakak-kakakku ini..)

Dan.. pertemuan pagi itu ditutup dengan rencana kunjungan beliau ke rumah satu bulan mendatang..

Setelah itu komunikasi saya lakukan selalu via Murabbiyyah termasuk kapan tanggal fix beliau akan ke rumah dan nomor beliau belum saya simpan didalam hp..

25 Mei 2011

Pagi ini beliau ke rumah untuk bertemu ibu dan bapak. Beliau datang sendirian untuk memperkenalkan diri. Lagi-lagi datang kepagian.. Saya dan ibu masih belum pulang dari pasar -_-“ (Semangat pisan Uda…)

Dimulailah pembicaraan itu, hingga muncullah kalimat dari beliau, “Iya Pak, Bu, saya kesini serius ingin melamar Agtri putri Bapak dan Ibu jika diperbolehkan..” Dan dijawab “iya” oleh Bapak. Eh, berarti ini sudah jatuh khitbah ya? Alhamdulillah..

Kemudian beliau mengatakan besok akan membawa keluarga besar untuk lamaran secara resmi. Ibu mengatakan tidak usah repot-repot. Sekarang saja kan sudah resmi lamarannya. Nanti saja keluarga hadir ketika rapat persiapan acara. Ibu malah mengajak menentukan tanggal pernikahan. Ah, cepat betul pikir saya tapi ya sudahlah.. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya diputuskan sementara tanggal 3 September, H plus 3 Idul Fitri. Berharap mendapatkan keberkahan pernikahan di bulan Syawal dan juga mengingat keluarga besar yang masih berkumpul di Idul Fitri.

Setelah pertemuan tersebut nyaris tidak ada lagi pertemuan dengan beliau hingga menjelang hari H. Kecuali satu kali, tante yang di Surabaya ingin bertemu dengan beliau, jadilah kami bertemu di taman ganesha dengan kucing-kucingan khawatir terpergok teman-teman yang lain. Khawatir terjadi fitnah.

Komunikasi pasca khitbah dipercayakan oleh Murabbiyyah untuk langsung kami lakukan, dengan titipan tetap wara’ pada pengawasan Allah, waspada, dan hati-hati. Komunikasi kami lakukan via sms atau beberapa kali email untuk hal yang banyak. Diskusi lebih banyak pada teknis pembuatan undangan, progress souvenir, pembelian seserahan, dan konsep serta juklak hari-H. Awal-awal komunikasi masih sanggup membendung perasaan. Lama-lama saya sadar, saya perempuan. Saya lemah dengan perasaan. Makin lama makin melemah, sebelum terseret lebih jauh saya mengambil jalan aman. Saya butuh orang ketiga. Betapa merepotkan jika meminta bantuan Murabbiyyah lagi. Akhirnya saya putuskan meminta bantuan ibu dan kakak perempuan pertama untuk menjadi mediator. Rasa “itu” mulai muncul, saya coba untuk enyahkan, tapi tidak bisa. Menguping ketika kakak dan ibu saling telpon dengan beliau malu-malu saya lakukan. Sulit. Sulit sekali rasanya. Paling tidak jangan sampai beliau tahu tentang rasa “itu”.

Perjuangan pasca khitbah yang begitu menyita perasaan semakin mendekati akhir. 3 September 2011. Akhirnya akad itu terucap. Sederhana, namun kokoh. Pasca akad dilakukan, beliau menjemput saya yang menunggu di dalam kamar untuk ikut duduk dan menandatangani buku nikah. Setelah itu beliau memberikan hadiah tasmi surat Ar-Rahman yang dibacakan dengan tartil. Panas dingin rasanya. Lalu kami keluar untuk bertemu tamu.

Memisahkan tamu laki-laki dan perempuan bukan hal yang lumrah disekitar kami. Pesimis awalnya apalagi dengan keterbatasan lahan di rumah tetapi ibu meyakinkan bisa dilakukan. Dan Alhamdulillah memang bisa dilakukan. Kursi pun banyak sehingga tamu tidak harus standing party. Musik tidak menggunakan orgen tunggal ataupun band tetapi menggunakan mp3 lagu-lagu nasyid. Kamipun tidak harus bersalaman dengan yang bukan mahram. Alhasil ketika istirahat sholat dzuhur bisa langsung sholat karena masih ada wudhu.

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Segala puji hanya untuk-Nya..

Benarlah janjinya bahwa kemudahan dan kecukupan akan diberikan kepada orang-orang yang berniat menjaga diri dengan menikah..

Janganlah ragu..

Cerita ini saya persembahkan kepada semua yang belum, sedang ataupun sudah menjalani proses pernikahan..

Bagi belum menjalani prosesnya.. Bersabar dan bersyukurah.. sesungguhnya pasangan kita sudah Allah persiapkan. Kesabaran, kesungguhan dalam menjaga diri selama masih sendiri percayalah akan Allah balas dengan sebaik-baiknya. Jika kita pandai menjaga diri dan kehormatan, yakinlah seseorang disana juga akan menjaga dirinya. Jangan pernah menurunkan standar diri dan keimanan karena khawatir tidak mendapatkan pasangan. Namun berdo’alah agar seseorang disana juga sedang terus berproses memperbaiki diri agar pas dan klop dengan mu. Percayalah bahwa Allah sesuai persangakaan hamba-Nya. Berprasangka baiklah kepada Allah sambil terus melayakkan diri..

Bagi yang sedang menjalani proses.. Bersabar dan bersyukurlah.. sesungguhnya banyak kegundahan yang akan terjadi. Wajar, syaitan tidak akan membiarkan kita.. Sebelum akad itu terucap sadarlah kalian belum menjadi apa-apa jadi berhati-hatilah. Banyak keraguan yang mungkin muncul, tanyalah kepada hati apakah alasannya syar’I atau hanya guncangan dalam hati. Maka kokohkanlah keimanan dan titipkan seseorang disana hanya pada-Nya. Sungguh kita tidak punya kuasa untuk menjaga hati seseorang disana maka titipkanlah kepada penguasa-Nya

Bagi yang sudah menikah.. Perjalanan ini baru awalan.. Awalan untuk merajut jalan kita untuk menuju Jannah-Nya.. Mencintailah sewajarnya, titipkan selalu ia kepada Allah. Agar tetap dalam keimanan dan keislaman.. Ah.. saya belum layak menasehati di usia pernikahan yang masih amat dini ini. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan perbaiki. Mari melangkah bersama…

The Journey (1)

10 April 2011,

Tepat satu hari setelah toga saya kenakan.. Teringatkan sebuah janji bahwa langkah selanjutnya adalah bersegera memasuki tahapan amal kedua pembangunan peradaban..

Pagi itu, pesan singkat saya layangkan kepada pembinsaya yang shalihah dan amat saya percaya.

“Teh, bagaimana kalau Agtri mulai memasukkan biodata ke teteh?” kurang lebih seperti itulah redaksi kalimat yang saya kirimkan. Dan taklama diberikan jawaban Ya, agar saya segera mengirimkan biodata.

Bismillah, saya akan memulai proses ini..

Proses yang saya harapkan dapat menjadi jalan terbentuknya sebuah keluarga da’wah yang dapat menjadi inspirasi bagi peradaban..

Sebuah proses yang menjadi impian sejak saya mengenal jalan ini..

Sebuah cara berjumpa dengan pasangan jiwa tanpa harus menimbulkan bibit-bibit kotoran noda pada hati yang sudah penuh noda tanpa perlu ditambahkan noda-noda lagi.

Bukan, bukan berarti saya menafikkan cara lain tak syar’i..

Melalui wasilah orangtua, kerabat, teman, tentu bukan masalah ketika caranya Islami dan tak menimbulkan noda-noda pada hati..

Saya memilih melalui Murabbi karena

1. Saya ingin kami bersatu di jalan da’wah melalui jama’ah.. saya memiliki suami yang selaras berjalan dalam merajut mimpi membangun peradaban ini..

2. Saya sangat mempercayai MRku.. beliau kurang lebih hampir 3 tahun menjadi pembinsaya.. Seseorang yang ‘susah payah’ membentuk diriku agar bisa senantiasa memperbaiki diri dan tegar di jalan ini. Teringat suatu saat beliau berkata, “semua Murabbi pasti mencarikan pasangan terbaik untuk mutarobbinya. Kalian sudah dibentuk susah payah oleh kami para murobbi untuk menjadi shalihah, tidak mungkin kami memberikan kalian pasangan (ikhwan) yang sembarangan..” Ya.. Setelah menjadi Murobbi kata-kata beliau, saya akui 100%.. Pun ketika mutarabbi ingin menikah, sayapun akan mencarikan ikhwan terbaik untuk mereka, bukan asal comot atau ikhwan yang ‘aneh-aneh’ atau bahasa lazimnya yang di blacklist (siapa juga yg nge-blacklist ya?)

3. Orangtua mempercayakan kepada saya anaknya untuk mencari lelaki shalih yang kelak akan menjadi menantu keduanya.. Dan saya tak punya kemampuan untuk itu.. dan saya wakilkan kepada jama’ah untuk memilihkannya melalui murabbiku

4. Dan.. yang menjadi keyakinan saya adalah jodoh itu takkan tertukar.. (lagi-lagi) mau pacaran 7 tahun, 3 tahun, 2 bulan, atau baru kenal melalui biodata saat itu juga.. Tidak akan salah… So.. Saya berupaya memilih cara mana yang paling berkah yang paling dapat meminimalisir noda-noda jiwa sebelum akad itu terucap. Dan Saya memilih jalan ini.. Sangat sedih rasanya jika ada seseorang yang ‘ngotot’ ingin berproses dengan seseorang. Bukan tidak boleh.. tapi kenapa harus mempersulit diri sendiri. Ibarat dirinya punya kesempatan mendapatkan jodoh dengan himpunan semesta 100 orang, tetapi karena memaksa dengan 1 orang akhirnya bisa jadi yang sesungguhnya jodohnya diatara 99 orang yang lain menjadi terhambat. Ah.. ruginya.. kenapa tidak berupaya membuka hati agar jodoh lebih mudah menghampiri. Kenapa mempersulit diri sendiri.. Padahal pengetahuan kita itu amatlah sangat sempit dibandingkan pengetahuan Allah.. kenapa tidak diserahkan kepada Allah.. lagi-lagi kenapa?

dan..

11 April 2011 pagi hari di ingatkan kembali oleh murobbi untuk segera memasukkan biodata ke email beliau..

Deg.. deg..

Bismillah,

Sent!

Dan, saya tahu, setelah data ini dimasukkan, masuklah pada fase menunggu..

saya tau bagaimana kesibukan murabbiku, saya tahu betapa banyaknya biodata para lajang yang menumpuk dan mengantri untuk diproses, saya tahu tidak sedikit yang menunggu bahkan lebih dari 1 tahun lamanya.

Tapi saya tau, bahwa Allah yang Maha Kuasa

Tak akan tertunda sesuatu jika memang waktunya telah tiba dan tidak akan dipercepat sesuatu yang belum waktunya..

Setelah itu, ibu dan bapak mengajak rehat jauh dari rimbunnya Kota Bandung, menuju Kota lumpur, Siodarjo untuk beberapa waktu.

Kurang lebih 2 pekan sejak 11 April, saya kembali ke Kota Bandung.. Menjalani pembinaan pekanan spesial dengan teman-teman baru.. Esoknya saya dihubungi murobbi untuk ke rumah beliau, tanpa prasangka apa-apa karena sudah biasa membahas amanah kami ditempat yang sama. Taklama, bliau mengatakan sebuah kalimat yang membuat jantung ini berdetak sangat kencang, “agtri, datanya sudah diproses ya. Biodata ikhwannya juga sudah ada di teteh.”

Degh!

Jantung mulai tak karuan, tak menyangka begini cepat prosesnya…

Allah..

Kadang kurang nyaman menjadi orang ekspresif, pastilah saat itu murobbiku tahu betapa panas tubuhku mulai meningkat dan wajahku mulai memerah..

Tahu betapa terkejutnya saya,

beliau mencairkan suasana dengan meminta saya menebak siapakah ikhwannya.

Ah.. teteh..

manalah saya tahu..

Beliau memulai dari asal daerah, tahun lahir, hingga jurusan

*blank*

Ya, saya tahu, ada seorang ikhwan yang pernah saya tahu sesuai clue yang diberikan beliau..

Tapi..

Semakin saya mencari di dalam setiap file otak semakin saya tak temukan..

Siapa?

Hingga akhirnya beliau sebut kan sebuah masjid besar di Kota Bandung serta aktivitas tahfidz yang beliau lsayakan disana. Masjid habiburahman PT.DI. Saya tahu, tapi lidah serta merta jadi kelu.

Ah, tak mungkin rasanya..

Apalah saya ini..

spontan saya katakan pada murobbi, “tapi… teteh taukan berapa hafalan agtri….”

Beliau tersenyum dan mengatakan, “iya Agtri, ikhwannya tidak mensyaratkan seorang hafidzhah..”

Saya terdiam. Tak tau harus bicara apa.

Melihat saya terdiam, murobbiku mengatakan, “mangga diendapkan dulu, ini sudah teteh copykan biodata ikhwannya untuk dibaca.”

saya masih terdiam, terduduk tak percaya. tahukah apa yang saya pikirkan saat itu?

“apa alasan yang bisa saya berikan untuk menolak ikhwan ini. Bukan karena kekurangan yg ada pada beliau, tapi kekurangan yang ada pada diriku.”

Hingga petang hari, file itu tak juga kubuka. sejujurnya saya tak berani…

Selepas shalat magrib, sembari menunggu shalat isya, saya mantapkan hati untuk membacanya. Tak banyak, hanya 4 lembar saja namun padat berisi. Tanpa terasa, wajah saya sudah sembab dengan air mata *duh saya menangis lagi jika ingat hal itu*. Saya tak tahu.. kenapa saya mengeluarkan air mata. bahasa tulisnya lugas dan tegas tak ada unsur ‘perasaan’ yang tercantum didalamnya. Tapi.. tapi kenapa saya menangis?

Saya tidak mengerti..

Setelah menikah, saya baru menyadari betapa banyak kesamaan yang harusnya membuat kami mengenal sebelum prose situ. Tetapi Allah menjaga kami untuk tidak saling mengenal sampai tiba waktunya.

Kami sama-sama anak ITB. Beliau Geodesi dan Saya Planologi dimana gedung GD dan PL itu tetangga yang betul-betul tetanggaan. Nyatanya kami sama-sama tidak menyadari

Kami sama-sama berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Saya dari Palembang dan beliau lama tinggal di Baturaja dan Martapura. Kesempatan kami untuk bertemu di MUSI (Mahasiswa Bumi Sriwijaya), unit kedaerahan di ITB sangat besar tapi nyatanya kami tidak bertemu.

Kami sama-sama cinta buku dan tempat langganan beli buku kami adalah di tazkia (Gelap Nyawang) tetapi kami tidak merasa pernah bertemu ketika membeli buku.

Kami sama-sama aktif di Gamais. Beliau secara angkatan adalah junior saya (2006) sedangkan saya masuk ITB 2005 karena saya ikut program akselerasi ketika SMA, walaupun secara usia tetap beliau lebih tua dari saya (jadi jangan bilang teh Agtri nikahnya sama brondong ya.. hehe). Beliau aktif di MSDA (kaderisasi)  dan saya di Annisa. Beliau sempat diproyeksikan menjadi kepala departemen MSDA dan saya menjadi Majelis Syuro. Tapi akhirnya beliau memilih untuk fokus menghafal jadi mengundurkan diri dari Gamais. Kebayang kalau beliau jadi di MSDA pasti saya akan sangat mengenal beliau. Nyatanya Allah lagi-lagi menjaga

Kami sama-sama suka makan masakan padang. Langganan kami di Talago Biru Pelesiran. Nyatanya? Kami nggak ngerasa pernah ketemu pas beli

Kurang lebih 3 hari saya ‘galau’, berusaha memantapkan diri. Saya jenuh. Akhirnya saya main ke kamar saudari saya, disana iseng saja, saya ambil sebuah buku pernikahan yang ia miliki. Saya buka random sebuah halaman. dan.. dihalaman itu, saya mendapatkan pertanyaan yang selama 3 hari ini saya bingungkan..

Dan Bismillah, saya mengirimkan jawaban “insyaAllah lanjut teh..” ke murabbiyah

Banyak sarang laba-laba..

*Fuh.. Fuh..*

Bismillah..

Bebersih blog dulu..

Setahun lebih blog ini ditinggal…

Dipenuhi kegiatan-kegiatan rutin..

Belajar jadi istri..

Sakit..

Sekarang belajar jadi ibu..

Ayo nulis lagi Agtri…

Oh iya, Agtri punya blog baru *yang ini aja nggak keurus -_-“

Blog untuk putri pertama kami

shofiyyahqoonitahusnayain.wordpress.com

Enjoy it..

kepadamu jiwa

Bersabarlah,

wahai jiwa-jiwa..

Tak lebih dari satu purnama..

 

“Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal dan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar.  Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”

(QS. An-Nisa’ : 122)

Kata

Dengar saja, kata sedang meronta-ronta
berharap lepas dari keterikatan rima
tak peduli bila kalimat pada akhirnya hampa
coba mengerti, agar kata dapatkan gembira

Bagiku tak masalah
ketika kata memilih jalan emansipasinya,
asal saja tak jadi menghilangkan makna
Karena memberi makna adalah fitrah bagi kata

*22 desember 2010

Cermin Nadir

kita tumbuh dalam ruang abadi
dalam kebersamaan yang tak hanya tawarkan bahagia
tapi juga membuat kita semakin dewasa
hingga
bagi kita meniti jalan sulit ini, terasa tak sendiri

kita saling tertawa
berbagi suka yang melintas
kita saling terharu
saat duka menyalami tanpa diduga
kita saling menopang
saat kau atau aku tersandung lalu jatuh

tanpa kita sadari,
kita makin serupa..

kita akhirnya menjadi cermin,
bayangnya mungkin maya
tapi intinya memberikan isyarat yang sama
tak pernah ada kebohongan
karena
aku adalah engkau
dan
engkau adalah aku

Saat kulihat pantulan wajahmu bernoda
cepat-cepat kubersihkan wajahku
khawatir wajahmu tercoreng karena pantulan buram dariku
tak mungkin aku salahkan bayangmu disana
karena kau cermin, yang hanya pantulkan burukku

belakangan
Kulihat, engkau muram
padahal disini aku tengah tersenyum lebar
lain waktu
kulihat lagi rautmu biasa saja
padahal disini aku sedang sangat berduka
tapi..
lagi-lagi
takmungkin aku salahkan engkau wahai cerminku..
teringat kembali khilafku barangkali pernah lupa menyertai saat bahagia dan tak turut andil mengokohkan pundak sedihmu

kulihat ada noda kembali di beberapa titik bayangmu
kucoba bersihkan apa yang aku bisa dari tubuhku
tetapi..
mengapa masih saja ada noda di seberang sana?

kuraba cermin bagian depanku.
berdebu.

bukan..bukan salah atas bagianmu wahai cerminku
Debu itu ada dibagian milikku
Aku lupa untuk bersihkan cermin kita
Cermin maya yang menjadi identitas kita
yang hanya akan ada
karena kita terikat dengan saling mendo’a

Kita menjadi cermin bukan karena harta, bukan karena kuasa, bukan pula karena rupa
Kita menjadi satu
karena muara cinta kita sama
Kau mencintai-NYa dan akupun mencintai-Nya
Saat frekuensi cinta kita sama
itulah saat dimana kita berpadu

Sedihnya
Saat aku atau kau tak lagi berada dalam gelombang cinta utama atas-Nya
Kita akan menjalani hari-hari berenergi besar
dengan,
kita butuh waktu untuk saling mengerti
butuh alasan untuk husnuzhan
butuh kata untuk menyelesaikan masalah
dan
butuh masa untuk menjadi lupa

kita memang dan tentu masih menjadi saudara
tapi kita tak mampu lagi menjadi cermin bagi satu dengan yang lainnya..

*Bantu aku kembali jika tak mampu lagi menjadi cermin bagimu barangkali karena frekuensi cintaku yang menjauh dari-Nya

Pesan Ibu

Bip..bip..

1 Pesan Masuk

Pengirim: Ibu
26/07/10 17:30


……………………………………
……………………………………
Jaga sholat tepat waktu
Qur’an jadikan pakaian
Shodaqoh jadikan kebuthan
Zikir jadikan keseharian
Puasa jadikan kebiasaan
Silaturahim pangkal ibadah
Semoga kita sekeluarga diberikan keberkahan umur untuk ibadah..

Sebuah pesan elektronik singkat dengan kode rumit bertautan di angkasa,
libatkan paling tidak ribuan unsur yang mendukung sampai atau tidaknya
Semoga setiap unsur yang dilewati membantu meng-amin-kan
agar dimudahkan baik pengirim dan (terutama) si-penerima untuk bisa istiqomah menjalankan

* Jelang Bulan yang dinantikan. Apa saja yang sudah dipersiapkan?. Hati-hati jika tidak serius mempersiapkan. Bisa-bisa sama atau rugi tidak lebih baik dari Ramadhan kemarin

Mohon maaf atas segala khilaf yang Agtri lakukan,
Baik perkataan yang menyakitkan
Perilaku yang tidak menyenangkan
Amanah yang tidak tertunaikan
Semoga kita bisa mengoptimalkan semua ikhtiar kita

karena Ramadhan..
Bukan Bulan Biasa

Hari Ini 6 Tahun Lalu

Bukan hal mudah bagi seorang perempuan untuk bisa memutuskan bahwa dirinya akan sepenuhnya memenuhi perintah Rabb nya

Jika dengan shalat lima waktu, berpuasa saat Ramadhan dan taat pada suami bisa mengantarkan seorang muslimah memilih bisa masuk syurga dari pintu mana saja, barangkali tidak akan ada wanti-wanti dari Rasulullah bahwa yang paling banyak menjadi penghuni neraka adalah perempuan.

Jika saja para perempuan sanggup untuk ‘meredam’ pesona berupa anugerah keindahan yang telah diberikan kepada tiap-tiap diri mereka,
barangkali tidak akan ada peringatan dari Rasulullah bahwa tidaklah ditinggalkan sebuah fitnah melainkan fitnah akan perempuan.

Sudah fitrahnya bahwa laki-laki suka melihat yang indah-indah
dan sebaliknya, perempuan fitrahnya memang suka mempertunjukkan potensi bahwa dirinya indah
kloplah..
Hal tersebut sunnatullah yang menyebabkan dunia masih berputar dan memiliki jumlah populasi manusia yang bertambah dan berkurang secara simultan

Dan itulah mengapa Dien yang sempurna ini
mengatur agar para perempuan yang dikaruniai potensi keindahan itu tidak salah langkah
yaitu dengan perintah untuk menggunakan Jilbab

Membicarakan jilbab hari ini berarti mengenang pada hari ini 6 tahun yang lalu

22 Februari 2004
6 tahun yang lalu
di hari pertama kenaikan ke kelas 2 SMA
saat diri ini menguatkan tekad agar bisa mengenakan selembar kain putih yang memiliki banyak sekali arti

Berjilbab bagi seorang muslimah, bukan perkara mudah
ada banyak pertimbangan untuk bisa memantapkan hati menerapkannya
Tapi yang namanya hidayah, kita memang tidak pernah tahu kapan akan tiba

Seperti juga dulu, bahkan terlintas pertanyaan tentang jilbab pun tak pernah ada dalam otak ini.
Lah wong selagi sekolah menengah masih asyik-asyiknya sibuk mengejar juara umum sekolah, ikutan lomba-lomba MIPA, jadi pengurus OSIS,bikin geng-gong yang kerjaannya nongkrong abis pulang sekolah, sibuk nge gosip bahas perkembangan si dia.
Manalah mau berpikir tentang jilbab?

Tapi yang namanya hidayah, kita tak akan pernah tahu datangnya dari mana.
8 tahun yang lalu pengetahuan itu datang,
hadir melalui perantara sebuah tulisan di Majalah Annid* (pasti tahukan majalah ini :))
Saat itu tema utama yang dibahas adalah tentang paaran dalam islam, tetapi ada satu penggal ayat yang membuat  terhenyak, Qur’an surat An nuur ayat 31

Sempat tertegun..
Memang di Al-Qur’an ada ayat yang isinya begini ya?

(kamana wae neng?? Makanya Iqro’!!)
Setelah itu loading dulu sekian lama…
Apa iya harus berjilbab?
Jadi jilbab itu wajib ya?
Bukannya kalau berjilbab jadi kayak anak madrasah?
(*apa salahnya anak madrasah?)
Bukannya kalau berjilbab jadi gak bisa pacaran? (*kata siapa? bisa ko’.. Setelah nikah :D)
dan lain-lain yang kepanjangan kalau harus ditulis satu persatu
Lambat laun pertanyaan-pertanyaan itu menemukan jawabannya.
.

Sampai hari itu,
berbekal kemantapan dalam hati
meminta izin kepada kedua orangtua
apakah diperbolehkan diri ini menggenapkan setengah Diennya
eh,salah, belum yang ini mah..
diulangi
apakah diperbolehkan diri ini untuk berhijab

Allahu Akbar!!
Ternyata ibu dan bapak dengan cepat merespon memberikan persetujuan bahkan dengan sangat bersemangat memfasilitasi semua kebutuhan(semoga Allah senatiasa memberikan kasih sayang melebihi apa yang telah bapak dan ibu berikan kepada agtri.. *hiks..)

Enam tahun berjalan,
sekarang ingin sekali sedikit berbagi
agar bagi kita yang sudah memakainya bisa terus istiqomah dan semakin bersyukur atas nikmatnya
dan bagi yang belum
semoga anti segera diberikan kemantapan hati untuk bisa juga segera menggunakannya.. (Allahumma amin..)

Buat agtri,
1. Jilbab itu identitas muslimah
Jelas toh kalau jilbab itu identitas yang menunjukkan bahwa seseorang itu muslim atau bukan.
Coba, beda kan sama ikhwan..
Mau jenggotnya sepanjang apa atau celananya se-nge-gantung apa juga belum tentu ketebak kalau dia muslim.
Ada kisah dari kakak tingkat yang kehujanan di sebuah tempat yang baru pertama kali bliau kunjungi. Saat itu bliau bersama teman-teman beliau. Akhirnya berteduh di sebuah kedai makanan. Karena hujan dan juga sedang lapar, tanpa ba-bi-bu semua langsung duduk manis untuk memesan makanan. Tidak sadar bahwa seluruh pengunjung sedang mengarahkan mata ke mereka dengan perasaan bingung campur syok(ok, yang ini berlebihan).
Akhirnya pelayan kedai tersebut menghampiri dan mengatakan dengan suara pelan, “Maaf mbak, sepertinya mbak salah tempat.. Disini hanya menjual makanan dari b*bi”.
Dengan senyam senyum salah tingkah beliau bersama teman-temannya berdiri dan mengucapkan maaf dan terima kasih berulang kali lalu langsung pergi undur diri.

Nah,
Apa coba yang membuat pelayan tersebut bisa berbicara seperti itu dan membuat pengunjung kedai tersebut ‘ngeh ‘ bahwa ada sesuatu yang aneh?
Yup, karena mereka berjilbab!
Pelayan dan pengunjung kedai tersebut langsung mengenali bahwa pengunjung yang baru masuk sepertinya salah tempat hanya dengan melihat berjilbab.
It’s so simple right?

Bayangpun jika yang datang kesana laki-laki, biarpun dia berjenggot dan bercelana ngatung, apakah ada yang akan bertanya, “Mas, karena mas berjenggot dan bercelana ngatung apakah mas muslim?”
Menurut agtri si enggak akan ditanyain gitu..

Ya..
kejadian tersebut hal tersebut hanya akan terjadi buat muslimah. Karena apa?

Karena kami spesial! 😀

2. Jilbab itu pembeda
Ya, jilbab itu pembeda, seperti juga yang di sampaikan di Al-Qur’an bahwa jilbab itu membuat agar para muslimah bisa dikenali dan bisa dijaga.
Jilbab itu pembeda, sok dibedakeun antara muslimah berjilbab dan muslimah yang belum berjilbab ketika ketemu preman atau orang-orang yang nongkrong-nongkrong dipinggir jalan..
Kalau muslimah yang belum berjilbab, kalau disapa (baca:digodain) sama preman dan tetap cuek aja kalimat standar yang keluar,
“Wah neng, sombong betul dah.. Noleh aja kagak kita-kita”

bandingin sama dengan yang berjilbab, kalimat standarnya,
“Assalamu’alaikum neng.. bla..bla..bla..dst..dst..”
walaupun bla..bla..dst..dst.. kadang gak enak didenger juga.. tapi diawali dengan memberikan do’a kepada kita..

Bayangpun..
Bahkan sama preman pun di kasih do’a..
Dikasih do’a keselamatan lagi..
Gimana gak beda? 🙂

3. Jilbab itu komitmen
Selanjutnya jilbab itu adalah komitmen sejauh mana kita sebagai hamba-Nya mau menataati apa yang telah Ia perintahkan.
Kenapa ini menunjukkan komitmen, jadi gini ceritanya..
Dulu pas KP, ada bapak-bapak di kantor yang baru abis di bekam. Nah dibekamnya sampai di kepala. Akhirnya milih buat sekalian di plotos aja (di gundul-red.). Jadinya kemana-mana bapak ini pake peci. Sampai hari kesekian, akhirnya bapak pimpro KP agtri ini bilang, “salutlah saya sama perempuan berjilbab… saya pake peci gak tiap hari saja kadang malu karena ngerasa beda sama yang lain. Apalagi pakai jilbab yang seumur hidup.. Apalagi sama yang selalu pakai rok, ah.. saya gak jamin saya sanggup kalau diminta pakai sarung kemana-mana..” hehe

4. Jilbab itu penjaga
Nah ini berdasarkan cerita dari seorang adik beberapa waktu yang lalu. Beliau ini ceritanya KP di pertambangan. Tahu kan gimana pertambangan yang di dominasi sama para lelaki. Ternyata, untuk menjaga para kaum hawa, disana semua diwajibkan untuk berjilbab.. Ya.. diminta berjilbab karena ‘ngeri’nya para lelaki di lingkungan pertambangan sana. Luar biasa bukan?

Oleh karena itu..
semakin hari,
keyakinan ini semakin bertambah

bahwa memang apa yang sudah Allah perintahkan
semua itu memang pasti sesuai dengan fitrah kita sebagai manusia
Kita saja sebagai manusia kadang menjalankan setengah-setengah hingga hikmah tidak bisa kita dapatkan dengan sempurna

Wallahu ‘alam

Kisah tentang Beliau

Bliau ini menikah dengan teman sekantornya
dan tak tahu kenapa
Semakin lama, semakin banyak saja kemiripan beliau dengan suaminya
Bukan hanya dari segi penampilan fisik, tetapi juga dari perilaku

Suatu sore di hari libur, seperti biasa berkumpul di ruang tengah keluarga dan bercerita tentang apa saja yang dilakukan hari itu
Tiba-tiba beliau mengatakan,
“Ibu punya surprise lo…..”
dan anak-anaknya pun langsung bersorak
“Yes… ada surprise….”
“Coba tebak apa surprisenya??” kata beliau
“Clue-nya dong bu…”
“Clue-nya sesuatu yang berguna dan bermanfaat untuk dipakai di pondok”
Kebetulan memang di rumah beliau ada kolam gurame yang ada saung (pondok) diatasnya
“em.. apa ya?? anak-anak berusaha untuk menebak
berbeda dg anak-anak yg antusias, sang suami tampak sedang berpikir keras
“Kenapa Pak?”

“em.. Bapak curiga niy Bu..Sebenernya Bapak juga punya surprise.. Clue-nya juga sama, bisa dipakai untuk di pondok..”
Tanpa banyak kata.. Ibu langsung tanya..
“Bapak beli warna apa?”
“Warna biru.. Kalo ibu?”
“Wah… untung nggak sama.. Ibu beli warna hijau”

Dan yang sekarang bengong adalah anak-anak..
Akhirnya..
untuk membuktikan apakah sebetulnya benda yang dibeli Bapak dan Ibu? dilakukanlah pembagian tugas
Anak pertama mengambil benda yang ibu beli di Kamar Penyimpanan barang
Anak kedua dan ketiga mengambil benda yang bapak beli dan masih ada di dalam mobil
dan
Jreng…….

Subhanallah..
Benda memang sama
Jenisnya sama
Ukurannya sama
Yang beda hanya warnanya saja…
Satu hijau, satu biru..
Benda itu adalah kasur,
Kasur ini bukan kasur busa yang biasa kita kenal
Ini adalah kasur khas Palembang
(kenapa kasur ini bisa dipakai di pondok? Karena biasanya dihari libur. Beliau sekeluarga sering bersantai bersama dipondok.. Nah kalo ada kasur kan bikin tambah PW)

Beliau dan suaminya membeli di hari yang sama, kasur yang sama dengan warna berbeda tanpa janjian sebelumnya…

Anak-anak hanya bisa tersenyum melihat ini semua
dan si bungsu seperti biasa nyeletuk
“A… Tahu.Selain warnanya beda.Pasti harga belinya juga beda.Hahahaha… Punya Bapak pasti lebih mahal…”
Semua langsung tertawa dan topik beralih untuk membahas berapa Bapak membeli kasur itu

Sebetulnya anak-anak tidak terlalu kaget dengan kesamaan yang dimiliki oleh kedua orangtua mereka..
Karena hal ini bukan yang pertama kali terjadi..
“Kebetulan sama” ini sebelumnya sudah sering terjadi
Sehingga kalau lagi belanja ke pasar, Hal yang dilakukan sebelum turun dari mobil adalah janjian siapa akan beli buah apa
Karena..
kalau tidak janjian atau disepakati sebelumnya
Satu jenis buah akan membanjiri rumah…
Satu jenis?
Ya satu jenis, karena Ibu dan Bapak belinya buah dengan jenis yang sama
Kalo sama-sama beli dikit mah nggak masalah
tapi misalnya beli pisang,
Ibu beli pisang 2 sisir, bapak beli pisang 2 sisir
Biasanya yg dibeli itu dalam kondisi sudah matang, siap makan..
4 sisir pisang yang satu sisirnya berisi 10 buah pisang
dihabiskan oleh 3 orang (Ibu, Bapak dan Anak Bungsu -anak yang lain lagi kuliah di luar kota)
1 sisir pisang yang sudah matang paling tahan 3 hari, setelah lebih dari 3 hari akan berubah rasanya

Bukan hanya pisang..
kadang duku, kadang jeruk, kadang kelengkeng.. macem2 lah..
Tinggal si bungsu yang makin sehat karena “mabok” makan buah…

Kita beralih dari cerita kesamaan bliau dan suaminya

Nah cerita kedua adalah tentang kekuatan do’a bliau..

kisahnya, si bungsu yang pengen banget rafting,
pucuk dicinta, ulam pun tiba.. eh, diajak temen-temen untuk rafting di Sukabumi
Cewe semua…
Wah.. pasti asyik..
Langsung bilang ok aja ke temen yang jadi PJ..
Bahkan langsung mau waktu diminta DP
Setelah selesai transaksi baru nelpon ibu minta persetujuan (anak jaman sekarang..)
“Bu… Agtri ikut arung jeram ya sama temen2… cewe semua ko….”
“Apa Nak? Arung jeram… aduh… ada yang lain aja nggak?”

Wah.. mulai nih.. ke-paranoid-an ibu muncul lagi…
Ibu memang memang memproteksi hal-hal yang beliau anggap berbahaya
walaupun kadang, sebagai anak menganggap kadang over paranoid…

Nggak boleh flying fox soalnya takut tali pengamannya nggak beres lah..
Nggak boleh manjat pohon karena takut nanti jatuh (Hehe.. lagian anak perempuan doyannya yang aneh2..)
de-el-el…

Sampai2 kalau tante2 mau melakukan pembelaan ke anaknya bilangnya
“Wah.. mama masih mending dibandingin Ibu-Yuk Agtri (panggilan ut kakak perempuan-Palembang)”
Fiuh…

Tanpa pantang menyerah Agtri coba untuk membujuk ibu..
sampai akhirnya ibu bilang..
“Ya udah.. ati2 ya Nak…”

Yes… akhirnya dapet restu

2 hari kemudian..
“Tri, anak2 pada batal nih ikutan raftingnya. Kita lanjut nggak nih, tapi paling dikitan…
Kalo dikitan ntar mahal diongkos
Karena udah pengen banget akhirnya bilang
“Ya udah.. agtri ikut aja.. kalo temen2 mau lanjut, agtri ikut…”

Dan akhirnya…
Rafting-pun dibatalkan karena sampai waktu konfirmasi ternyata cuma 3 orang yang bisa ikut..

Malam tahun baru ibu nelpon
“Lagi dimana Tri?”
“Lagi tahun baruan Bu”
“o..” jawab ibu tanpa tanya lebih jauh..
Wah kemajuan niy.. biasanya ditanya sampai detil ada dimananya..

“gimana kemarin? jadi arung jeramnya?” ibu tanya
“enggak jadi bu… Temen2 jadinya pada mundur semua…”
dikejauhan terdengar desahan lega dan tawa tertahan
“kenapa bu?”
“ah… enggak…”
masih juga ada kesan tawa tertahan ketika itu…
Curiga nih.. ada apa sampai ibu segitunya.

akhirnya ibu bilang
“Alhamdulillah do’a ibu terkabul”
he?
“Bu, jangan-jangan ibu do’ain agtri tuk nggak jadi arung jeram ya?”
kali ini bukan tawa tertahan lagi..
Ibu benar2 tertawa kali ini,,,
“Alhamdulillah… nggak jadi ya Tri… hahhaha….”
Langsung deh speechless…

Subhanallah
yang namanya do’a ibu untuk anaknya memang T-O-P B-G-T

Dan kisah ini khusus dituliskan..

karena hari ini hari lahir ibu dalam kalender masehi,
Jazaakillah khairan Katsira atas semua cinta yang tak terhingga..

Memang waktu dan juga kedewasaan yang menjawab hal-hal yang dahulu tak aku mengerti..


Aku yang dahulu  selalu kesal ketika diingatkan untuk melakukan shalat di usia awal balighku
kenapa tak dibiarkan saja hingga aku mau sendiri?
Kini, aku mengerti bahwa engkau berikhtiar agar aku bisa menjadi seorang anak yang shalihah


Dahulu aku tak habis pikir ketika nada suara engkau berubah ketika teman-teman laki-laki mulai menelepon tiada henti
pikirku wajar bukan aku punya banyak teman
Kini aku mengerti bahwa engkau tidak ingin aku salah dalam pergaulan yang berlebihan


Dahulu aku bingung kenapa aku harus belajar mengaji
kenapa aku harus belajar bahasa asing yang tak mudah aku kuasai
Kini aku pahami bahwa engkau ingin agar aku bisa dekat dan cinta pada kalam dari-Nya


Dahulu aku tak mengerti ketika engkau rajin memberi orang yang tak berpunya
aku pikir, harusnya mereka bisa berusaha dan bekerja bukan cuma jadi peminta-minta
Kini aku mengerti bahwa memang ada hak mereka di dalam tiap-tiap bagian harta kita


Dahulu aku selalu kecewa ketika rapor ku yang bertuliskan rangking satu hanya dibaca sepintas lalu
tak seperti teman-temanku yang pasti diberi hadiah ini itu
Kini aku mengerti bahwa engkau tak ingin agar aku menjadi anak yang menuntut imbalan atas perjuangan


Kini aku mengerti..
Bahwa itu semua ungkapan cinta yang tidak harus berupa k
ata-kata

Met milad Ibu,

Semoga kita sekeluarga dikumpulkan kelak di Jannah-Nya..

Previous Older Entries