Ladies…

tumblr_ly7m6yBxkg1qaobbko1_500

 

 

tumblr_lnk3ebFKi41qj065bo1_500

 

The Journey (2)

4 Mei 2011

Kita bertemu dalam ruang dan waktu yang sama untuk mengenal lebih jauh, ta’aruf. Malamnya saya kebingungan besok pertanyaan apa yang harus diajukan? Dan pertanyaan apa yang akan diberikan. Jadilah malam itu sibuk browsing dengan keyword yang sangat amat garing “pertanyaan ta’aruf”. Eh, ternyata ada dan banyak.. Cobalah dirangkum beberapa hal yang kiranya penting untuk ditanyakan. Dan dalam hati mengatakan, semoga dengan tidak mempersulit kelak saya juga tidak akan dipersulit dengan pertanyaan-pertanyaan beliau. Setelah siap mengantongi beberapa pertanyaan, malam itupun tidur dengan tenang.

Paginya, jadwal ta’aruf direncanakan pukul 8 pagi. Tetapi karena baru pindah tempat tinggal (sekre Salimah) agar tidak terlambat karena mencoba rute baru, saya berangkat pukul 07.15 dari sekre. Ternyata jaraknya sangat dekat dengan rumah Murabiyyah saya (biasanya memutar). Alhasil pukul 07.30 saya sudah ada di daerah rumah Murabiyyah. Malu kepagian dan nggak mungkin pulang lagi, akhirnya saya menuju masjid yang ada diseberang rumah beliau. Tapi.. Oh tidak! Seperti ada seorang ikhwan yang sedang menunduk dan membuka sepatu disana. Tanpa berusaha ambil resiko, saya ambil langkah seribu langsung menuju rumah Murabbiyyah. Menelepon beliau dan menjelaskan kondisi. Saya akhirnya menunggu di rumah Murabbiyyah. Murabbiyyah pamit sebentar keluar karena si kakak ingin beli roti di toko depan. Lama menunggu, kenapa nggak pulang-pulang beliau. Tiba-tiba ada salam, Murabbiyyah masuk bersama seorang ikhwan yang tadi saya lihat di depan masjid. Degh.. Tubuh yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi panas dingin.  Kelu lidah seorang Agtri yang biasa ‘garang’ dan tidak kenal tendeng aling-aling ketika rapat dengan lawan jenis. Kata-kata yang keluar seperti aa..uu.. Ah..

Dipandu oleh Murabbiyyah prose situ dimulai. “Ladies first kata beliau”. Muncullah pertanyaan pertama dari saya. Kemudian setelah beliau menjawab Murabbiyyah memberi kesempatan ke beliau untuk bertanya dan beliau jawab dengan, “Mangga diselesaikan saja pertanyaan dari akhwat, dari ana hanya ada 1 pertanyaan dan 1 titipan pertanyaan dari keluarga.” Huaa.. bukan malah tenang mendengar hanya 1 pertanyaan tapi malah deg-degan dan tidak konsen mengajukan pertanyaan lanjutan. Curiga 1 pertanyaan itu adalah berapa jumlah hafalan dan saya tidak siap.. -_-“

Selesai juga pertanyaan dari saya dan sudah pula semuanya dijawab. Saatnya beliau.. Deg..deg..deg.. teringat cerita teman ada yang ditanya tentang Fiqh thaharah, harga beras di pasar, sampai diskusi sosial politik. Aduuh.. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Ternyata…. “Apakah anti siap untuk ikut saya kemana saya pergi?” Langsung anti klimaks mendengar pernyataan tersebut.. Fiuh… “Iya, insyaAllah siap” hanya itu yang bisa saya jawab. Karena saya memang berkomitmen untuk ikut suami kemanapun suami pergi. Saya tidak ingin dan tidak siap untuk menjadi Long Distance Marriage..  lalu dilanjutkan dengan pertanyaan titipan dari keluarga yaitu “ Apakah ada pelangkahan?” Saya melangkah menikah dua orang kakak perempuan (semoga Allah senantiasa menyayangi keduanya). Dan keduanya dengan luar biasa sangat berlapang dada bahkan mensupport begitu besar sebelum dan selama kami menikah apalagi setelah qoonita lahir. Saya menjawab “Tidak ada. Karena dikeluarga tidak menggunakan adat seperti itu”. Memang dibeberapa daerah budaya pelangkahan amat kental. Bahkan apapun yang diminta oleh kakak yang dilangkahi harus dipenuhi bilapun harganya sangat mahal. Alhamdulillah kakak-kakak tidak mau diberi hadiah oleh calon suami saya (ketika itu) bahkan memberikan hadiah mesin cuci untuk kami (bageur pisan kakak-kakakku ini..)

Dan.. pertemuan pagi itu ditutup dengan rencana kunjungan beliau ke rumah satu bulan mendatang..

Setelah itu komunikasi saya lakukan selalu via Murabbiyyah termasuk kapan tanggal fix beliau akan ke rumah dan nomor beliau belum saya simpan didalam hp..

25 Mei 2011

Pagi ini beliau ke rumah untuk bertemu ibu dan bapak. Beliau datang sendirian untuk memperkenalkan diri. Lagi-lagi datang kepagian.. Saya dan ibu masih belum pulang dari pasar -_-“ (Semangat pisan Uda…)

Dimulailah pembicaraan itu, hingga muncullah kalimat dari beliau, “Iya Pak, Bu, saya kesini serius ingin melamar Agtri putri Bapak dan Ibu jika diperbolehkan..” Dan dijawab “iya” oleh Bapak. Eh, berarti ini sudah jatuh khitbah ya? Alhamdulillah..

Kemudian beliau mengatakan besok akan membawa keluarga besar untuk lamaran secara resmi. Ibu mengatakan tidak usah repot-repot. Sekarang saja kan sudah resmi lamarannya. Nanti saja keluarga hadir ketika rapat persiapan acara. Ibu malah mengajak menentukan tanggal pernikahan. Ah, cepat betul pikir saya tapi ya sudahlah.. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya diputuskan sementara tanggal 3 September, H plus 3 Idul Fitri. Berharap mendapatkan keberkahan pernikahan di bulan Syawal dan juga mengingat keluarga besar yang masih berkumpul di Idul Fitri.

Setelah pertemuan tersebut nyaris tidak ada lagi pertemuan dengan beliau hingga menjelang hari H. Kecuali satu kali, tante yang di Surabaya ingin bertemu dengan beliau, jadilah kami bertemu di taman ganesha dengan kucing-kucingan khawatir terpergok teman-teman yang lain. Khawatir terjadi fitnah.

Komunikasi pasca khitbah dipercayakan oleh Murabbiyyah untuk langsung kami lakukan, dengan titipan tetap wara’ pada pengawasan Allah, waspada, dan hati-hati. Komunikasi kami lakukan via sms atau beberapa kali email untuk hal yang banyak. Diskusi lebih banyak pada teknis pembuatan undangan, progress souvenir, pembelian seserahan, dan konsep serta juklak hari-H. Awal-awal komunikasi masih sanggup membendung perasaan. Lama-lama saya sadar, saya perempuan. Saya lemah dengan perasaan. Makin lama makin melemah, sebelum terseret lebih jauh saya mengambil jalan aman. Saya butuh orang ketiga. Betapa merepotkan jika meminta bantuan Murabbiyyah lagi. Akhirnya saya putuskan meminta bantuan ibu dan kakak perempuan pertama untuk menjadi mediator. Rasa “itu” mulai muncul, saya coba untuk enyahkan, tapi tidak bisa. Menguping ketika kakak dan ibu saling telpon dengan beliau malu-malu saya lakukan. Sulit. Sulit sekali rasanya. Paling tidak jangan sampai beliau tahu tentang rasa “itu”.

Perjuangan pasca khitbah yang begitu menyita perasaan semakin mendekati akhir. 3 September 2011. Akhirnya akad itu terucap. Sederhana, namun kokoh. Pasca akad dilakukan, beliau menjemput saya yang menunggu di dalam kamar untuk ikut duduk dan menandatangani buku nikah. Setelah itu beliau memberikan hadiah tasmi surat Ar-Rahman yang dibacakan dengan tartil. Panas dingin rasanya. Lalu kami keluar untuk bertemu tamu.

Memisahkan tamu laki-laki dan perempuan bukan hal yang lumrah disekitar kami. Pesimis awalnya apalagi dengan keterbatasan lahan di rumah tetapi ibu meyakinkan bisa dilakukan. Dan Alhamdulillah memang bisa dilakukan. Kursi pun banyak sehingga tamu tidak harus standing party. Musik tidak menggunakan orgen tunggal ataupun band tetapi menggunakan mp3 lagu-lagu nasyid. Kamipun tidak harus bersalaman dengan yang bukan mahram. Alhasil ketika istirahat sholat dzuhur bisa langsung sholat karena masih ada wudhu.

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Segala puji hanya untuk-Nya..

Benarlah janjinya bahwa kemudahan dan kecukupan akan diberikan kepada orang-orang yang berniat menjaga diri dengan menikah..

Janganlah ragu..

Cerita ini saya persembahkan kepada semua yang belum, sedang ataupun sudah menjalani proses pernikahan..

Bagi belum menjalani prosesnya.. Bersabar dan bersyukurah.. sesungguhnya pasangan kita sudah Allah persiapkan. Kesabaran, kesungguhan dalam menjaga diri selama masih sendiri percayalah akan Allah balas dengan sebaik-baiknya. Jika kita pandai menjaga diri dan kehormatan, yakinlah seseorang disana juga akan menjaga dirinya. Jangan pernah menurunkan standar diri dan keimanan karena khawatir tidak mendapatkan pasangan. Namun berdo’alah agar seseorang disana juga sedang terus berproses memperbaiki diri agar pas dan klop dengan mu. Percayalah bahwa Allah sesuai persangakaan hamba-Nya. Berprasangka baiklah kepada Allah sambil terus melayakkan diri..

Bagi yang sedang menjalani proses.. Bersabar dan bersyukurlah.. sesungguhnya banyak kegundahan yang akan terjadi. Wajar, syaitan tidak akan membiarkan kita.. Sebelum akad itu terucap sadarlah kalian belum menjadi apa-apa jadi berhati-hatilah. Banyak keraguan yang mungkin muncul, tanyalah kepada hati apakah alasannya syar’I atau hanya guncangan dalam hati. Maka kokohkanlah keimanan dan titipkan seseorang disana hanya pada-Nya. Sungguh kita tidak punya kuasa untuk menjaga hati seseorang disana maka titipkanlah kepada penguasa-Nya

Bagi yang sudah menikah.. Perjalanan ini baru awalan.. Awalan untuk merajut jalan kita untuk menuju Jannah-Nya.. Mencintailah sewajarnya, titipkan selalu ia kepada Allah. Agar tetap dalam keimanan dan keislaman.. Ah.. saya belum layak menasehati di usia pernikahan yang masih amat dini ini. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan perbaiki. Mari melangkah bersama…

The Journey (1)

10 April 2011,

Tepat satu hari setelah toga saya kenakan.. Teringatkan sebuah janji bahwa langkah selanjutnya adalah bersegera memasuki tahapan amal kedua pembangunan peradaban..

Pagi itu, pesan singkat saya layangkan kepada pembinsaya yang shalihah dan amat saya percaya.

“Teh, bagaimana kalau Agtri mulai memasukkan biodata ke teteh?” kurang lebih seperti itulah redaksi kalimat yang saya kirimkan. Dan taklama diberikan jawaban Ya, agar saya segera mengirimkan biodata.

Bismillah, saya akan memulai proses ini..

Proses yang saya harapkan dapat menjadi jalan terbentuknya sebuah keluarga da’wah yang dapat menjadi inspirasi bagi peradaban..

Sebuah proses yang menjadi impian sejak saya mengenal jalan ini..

Sebuah cara berjumpa dengan pasangan jiwa tanpa harus menimbulkan bibit-bibit kotoran noda pada hati yang sudah penuh noda tanpa perlu ditambahkan noda-noda lagi.

Bukan, bukan berarti saya menafikkan cara lain tak syar’i..

Melalui wasilah orangtua, kerabat, teman, tentu bukan masalah ketika caranya Islami dan tak menimbulkan noda-noda pada hati..

Saya memilih melalui Murabbi karena

1. Saya ingin kami bersatu di jalan da’wah melalui jama’ah.. saya memiliki suami yang selaras berjalan dalam merajut mimpi membangun peradaban ini..

2. Saya sangat mempercayai MRku.. beliau kurang lebih hampir 3 tahun menjadi pembinsaya.. Seseorang yang ‘susah payah’ membentuk diriku agar bisa senantiasa memperbaiki diri dan tegar di jalan ini. Teringat suatu saat beliau berkata, “semua Murabbi pasti mencarikan pasangan terbaik untuk mutarobbinya. Kalian sudah dibentuk susah payah oleh kami para murobbi untuk menjadi shalihah, tidak mungkin kami memberikan kalian pasangan (ikhwan) yang sembarangan..” Ya.. Setelah menjadi Murobbi kata-kata beliau, saya akui 100%.. Pun ketika mutarabbi ingin menikah, sayapun akan mencarikan ikhwan terbaik untuk mereka, bukan asal comot atau ikhwan yang ‘aneh-aneh’ atau bahasa lazimnya yang di blacklist (siapa juga yg nge-blacklist ya?)

3. Orangtua mempercayakan kepada saya anaknya untuk mencari lelaki shalih yang kelak akan menjadi menantu keduanya.. Dan saya tak punya kemampuan untuk itu.. dan saya wakilkan kepada jama’ah untuk memilihkannya melalui murabbiku

4. Dan.. yang menjadi keyakinan saya adalah jodoh itu takkan tertukar.. (lagi-lagi) mau pacaran 7 tahun, 3 tahun, 2 bulan, atau baru kenal melalui biodata saat itu juga.. Tidak akan salah… So.. Saya berupaya memilih cara mana yang paling berkah yang paling dapat meminimalisir noda-noda jiwa sebelum akad itu terucap. Dan Saya memilih jalan ini.. Sangat sedih rasanya jika ada seseorang yang ‘ngotot’ ingin berproses dengan seseorang. Bukan tidak boleh.. tapi kenapa harus mempersulit diri sendiri. Ibarat dirinya punya kesempatan mendapatkan jodoh dengan himpunan semesta 100 orang, tetapi karena memaksa dengan 1 orang akhirnya bisa jadi yang sesungguhnya jodohnya diatara 99 orang yang lain menjadi terhambat. Ah.. ruginya.. kenapa tidak berupaya membuka hati agar jodoh lebih mudah menghampiri. Kenapa mempersulit diri sendiri.. Padahal pengetahuan kita itu amatlah sangat sempit dibandingkan pengetahuan Allah.. kenapa tidak diserahkan kepada Allah.. lagi-lagi kenapa?

dan..

11 April 2011 pagi hari di ingatkan kembali oleh murobbi untuk segera memasukkan biodata ke email beliau..

Deg.. deg..

Bismillah,

Sent!

Dan, saya tahu, setelah data ini dimasukkan, masuklah pada fase menunggu..

saya tau bagaimana kesibukan murabbiku, saya tahu betapa banyaknya biodata para lajang yang menumpuk dan mengantri untuk diproses, saya tahu tidak sedikit yang menunggu bahkan lebih dari 1 tahun lamanya.

Tapi saya tau, bahwa Allah yang Maha Kuasa

Tak akan tertunda sesuatu jika memang waktunya telah tiba dan tidak akan dipercepat sesuatu yang belum waktunya..

Setelah itu, ibu dan bapak mengajak rehat jauh dari rimbunnya Kota Bandung, menuju Kota lumpur, Siodarjo untuk beberapa waktu.

Kurang lebih 2 pekan sejak 11 April, saya kembali ke Kota Bandung.. Menjalani pembinaan pekanan spesial dengan teman-teman baru.. Esoknya saya dihubungi murobbi untuk ke rumah beliau, tanpa prasangka apa-apa karena sudah biasa membahas amanah kami ditempat yang sama. Taklama, bliau mengatakan sebuah kalimat yang membuat jantung ini berdetak sangat kencang, “agtri, datanya sudah diproses ya. Biodata ikhwannya juga sudah ada di teteh.”

Degh!

Jantung mulai tak karuan, tak menyangka begini cepat prosesnya…

Allah..

Kadang kurang nyaman menjadi orang ekspresif, pastilah saat itu murobbiku tahu betapa panas tubuhku mulai meningkat dan wajahku mulai memerah..

Tahu betapa terkejutnya saya,

beliau mencairkan suasana dengan meminta saya menebak siapakah ikhwannya.

Ah.. teteh..

manalah saya tahu..

Beliau memulai dari asal daerah, tahun lahir, hingga jurusan

*blank*

Ya, saya tahu, ada seorang ikhwan yang pernah saya tahu sesuai clue yang diberikan beliau..

Tapi..

Semakin saya mencari di dalam setiap file otak semakin saya tak temukan..

Siapa?

Hingga akhirnya beliau sebut kan sebuah masjid besar di Kota Bandung serta aktivitas tahfidz yang beliau lsayakan disana. Masjid habiburahman PT.DI. Saya tahu, tapi lidah serta merta jadi kelu.

Ah, tak mungkin rasanya..

Apalah saya ini..

spontan saya katakan pada murobbi, “tapi… teteh taukan berapa hafalan agtri….”

Beliau tersenyum dan mengatakan, “iya Agtri, ikhwannya tidak mensyaratkan seorang hafidzhah..”

Saya terdiam. Tak tau harus bicara apa.

Melihat saya terdiam, murobbiku mengatakan, “mangga diendapkan dulu, ini sudah teteh copykan biodata ikhwannya untuk dibaca.”

saya masih terdiam, terduduk tak percaya. tahukah apa yang saya pikirkan saat itu?

“apa alasan yang bisa saya berikan untuk menolak ikhwan ini. Bukan karena kekurangan yg ada pada beliau, tapi kekurangan yang ada pada diriku.”

Hingga petang hari, file itu tak juga kubuka. sejujurnya saya tak berani…

Selepas shalat magrib, sembari menunggu shalat isya, saya mantapkan hati untuk membacanya. Tak banyak, hanya 4 lembar saja namun padat berisi. Tanpa terasa, wajah saya sudah sembab dengan air mata *duh saya menangis lagi jika ingat hal itu*. Saya tak tahu.. kenapa saya mengeluarkan air mata. bahasa tulisnya lugas dan tegas tak ada unsur ‘perasaan’ yang tercantum didalamnya. Tapi.. tapi kenapa saya menangis?

Saya tidak mengerti..

Setelah menikah, saya baru menyadari betapa banyak kesamaan yang harusnya membuat kami mengenal sebelum prose situ. Tetapi Allah menjaga kami untuk tidak saling mengenal sampai tiba waktunya.

Kami sama-sama anak ITB. Beliau Geodesi dan Saya Planologi dimana gedung GD dan PL itu tetangga yang betul-betul tetanggaan. Nyatanya kami sama-sama tidak menyadari

Kami sama-sama berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Saya dari Palembang dan beliau lama tinggal di Baturaja dan Martapura. Kesempatan kami untuk bertemu di MUSI (Mahasiswa Bumi Sriwijaya), unit kedaerahan di ITB sangat besar tapi nyatanya kami tidak bertemu.

Kami sama-sama cinta buku dan tempat langganan beli buku kami adalah di tazkia (Gelap Nyawang) tetapi kami tidak merasa pernah bertemu ketika membeli buku.

Kami sama-sama aktif di Gamais. Beliau secara angkatan adalah junior saya (2006) sedangkan saya masuk ITB 2005 karena saya ikut program akselerasi ketika SMA, walaupun secara usia tetap beliau lebih tua dari saya (jadi jangan bilang teh Agtri nikahnya sama brondong ya.. hehe). Beliau aktif di MSDA (kaderisasi)  dan saya di Annisa. Beliau sempat diproyeksikan menjadi kepala departemen MSDA dan saya menjadi Majelis Syuro. Tapi akhirnya beliau memilih untuk fokus menghafal jadi mengundurkan diri dari Gamais. Kebayang kalau beliau jadi di MSDA pasti saya akan sangat mengenal beliau. Nyatanya Allah lagi-lagi menjaga

Kami sama-sama suka makan masakan padang. Langganan kami di Talago Biru Pelesiran. Nyatanya? Kami nggak ngerasa pernah ketemu pas beli

Kurang lebih 3 hari saya ‘galau’, berusaha memantapkan diri. Saya jenuh. Akhirnya saya main ke kamar saudari saya, disana iseng saja, saya ambil sebuah buku pernikahan yang ia miliki. Saya buka random sebuah halaman. dan.. dihalaman itu, saya mendapatkan pertanyaan yang selama 3 hari ini saya bingungkan..

Dan Bismillah, saya mengirimkan jawaban “insyaAllah lanjut teh..” ke murabbiyah

Banyak sarang laba-laba..

*Fuh.. Fuh..*

Bismillah..

Bebersih blog dulu..

Setahun lebih blog ini ditinggal…

Dipenuhi kegiatan-kegiatan rutin..

Belajar jadi istri..

Sakit..

Sekarang belajar jadi ibu..

Ayo nulis lagi Agtri…

Oh iya, Agtri punya blog baru *yang ini aja nggak keurus -_-“

Blog untuk putri pertama kami

shofiyyahqoonitahusnayain.wordpress.com

Enjoy it..

kepadamu jiwa

Bersabarlah,

wahai jiwa-jiwa..

Tak lebih dari satu purnama..

 

“Dan orang yang beriman dan mengerjakan amal dan kebajikan, kelak akan Kami masukkan ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Dan janji Allah itu benar.  Siapakah yang lebih benar perkataannya daripada Allah?”

(QS. An-Nisa’ : 122)

Kata

Dengar saja, kata sedang meronta-ronta
berharap lepas dari keterikatan rima
tak peduli bila kalimat pada akhirnya hampa
coba mengerti, agar kata dapatkan gembira

Bagiku tak masalah
ketika kata memilih jalan emansipasinya,
asal saja tak jadi menghilangkan makna
Karena memberi makna adalah fitrah bagi kata

*22 desember 2010

Cermin Nadir

kita tumbuh dalam ruang abadi
dalam kebersamaan yang tak hanya tawarkan bahagia
tapi juga membuat kita semakin dewasa
hingga
bagi kita meniti jalan sulit ini, terasa tak sendiri

kita saling tertawa
berbagi suka yang melintas
kita saling terharu
saat duka menyalami tanpa diduga
kita saling menopang
saat kau atau aku tersandung lalu jatuh

tanpa kita sadari,
kita makin serupa..

kita akhirnya menjadi cermin,
bayangnya mungkin maya
tapi intinya memberikan isyarat yang sama
tak pernah ada kebohongan
karena
aku adalah engkau
dan
engkau adalah aku

Saat kulihat pantulan wajahmu bernoda
cepat-cepat kubersihkan wajahku
khawatir wajahmu tercoreng karena pantulan buram dariku
tak mungkin aku salahkan bayangmu disana
karena kau cermin, yang hanya pantulkan burukku

belakangan
Kulihat, engkau muram
padahal disini aku tengah tersenyum lebar
lain waktu
kulihat lagi rautmu biasa saja
padahal disini aku sedang sangat berduka
tapi..
lagi-lagi
takmungkin aku salahkan engkau wahai cerminku..
teringat kembali khilafku barangkali pernah lupa menyertai saat bahagia dan tak turut andil mengokohkan pundak sedihmu

kulihat ada noda kembali di beberapa titik bayangmu
kucoba bersihkan apa yang aku bisa dari tubuhku
tetapi..
mengapa masih saja ada noda di seberang sana?

kuraba cermin bagian depanku.
berdebu.

bukan..bukan salah atas bagianmu wahai cerminku
Debu itu ada dibagian milikku
Aku lupa untuk bersihkan cermin kita
Cermin maya yang menjadi identitas kita
yang hanya akan ada
karena kita terikat dengan saling mendo’a

Kita menjadi cermin bukan karena harta, bukan karena kuasa, bukan pula karena rupa
Kita menjadi satu
karena muara cinta kita sama
Kau mencintai-NYa dan akupun mencintai-Nya
Saat frekuensi cinta kita sama
itulah saat dimana kita berpadu

Sedihnya
Saat aku atau kau tak lagi berada dalam gelombang cinta utama atas-Nya
Kita akan menjalani hari-hari berenergi besar
dengan,
kita butuh waktu untuk saling mengerti
butuh alasan untuk husnuzhan
butuh kata untuk menyelesaikan masalah
dan
butuh masa untuk menjadi lupa

kita memang dan tentu masih menjadi saudara
tapi kita tak mampu lagi menjadi cermin bagi satu dengan yang lainnya..

*Bantu aku kembali jika tak mampu lagi menjadi cermin bagimu barangkali karena frekuensi cintaku yang menjauh dari-Nya

Previous Older Entries