The Journey (2)

4 Mei 2011

Kita bertemu dalam ruang dan waktu yang sama untuk mengenal lebih jauh, ta’aruf. Malamnya saya kebingungan besok pertanyaan apa yang harus diajukan? Dan pertanyaan apa yang akan diberikan. Jadilah malam itu sibuk browsing dengan keyword yang sangat amat garing “pertanyaan ta’aruf”. Eh, ternyata ada dan banyak.. Cobalah dirangkum beberapa hal yang kiranya penting untuk ditanyakan. Dan dalam hati mengatakan, semoga dengan tidak mempersulit kelak saya juga tidak akan dipersulit dengan pertanyaan-pertanyaan beliau. Setelah siap mengantongi beberapa pertanyaan, malam itupun tidur dengan tenang.

Paginya, jadwal ta’aruf direncanakan pukul 8 pagi. Tetapi karena baru pindah tempat tinggal (sekre Salimah) agar tidak terlambat karena mencoba rute baru, saya berangkat pukul 07.15 dari sekre. Ternyata jaraknya sangat dekat dengan rumah Murabiyyah saya (biasanya memutar). Alhasil pukul 07.30 saya sudah ada di daerah rumah Murabiyyah. Malu kepagian dan nggak mungkin pulang lagi, akhirnya saya menuju masjid yang ada diseberang rumah beliau. Tapi.. Oh tidak! Seperti ada seorang ikhwan yang sedang menunduk dan membuka sepatu disana. Tanpa berusaha ambil resiko, saya ambil langkah seribu langsung menuju rumah Murabbiyyah. Menelepon beliau dan menjelaskan kondisi. Saya akhirnya menunggu di rumah Murabbiyyah. Murabbiyyah pamit sebentar keluar karena si kakak ingin beli roti di toko depan. Lama menunggu, kenapa nggak pulang-pulang beliau. Tiba-tiba ada salam, Murabbiyyah masuk bersama seorang ikhwan yang tadi saya lihat di depan masjid. Degh.. Tubuh yang awalnya biasa saja tiba-tiba jadi panas dingin.  Kelu lidah seorang Agtri yang biasa ‘garang’ dan tidak kenal tendeng aling-aling ketika rapat dengan lawan jenis. Kata-kata yang keluar seperti aa..uu.. Ah..

Dipandu oleh Murabbiyyah prose situ dimulai. “Ladies first kata beliau”. Muncullah pertanyaan pertama dari saya. Kemudian setelah beliau menjawab Murabbiyyah memberi kesempatan ke beliau untuk bertanya dan beliau jawab dengan, “Mangga diselesaikan saja pertanyaan dari akhwat, dari ana hanya ada 1 pertanyaan dan 1 titipan pertanyaan dari keluarga.” Huaa.. bukan malah tenang mendengar hanya 1 pertanyaan tapi malah deg-degan dan tidak konsen mengajukan pertanyaan lanjutan. Curiga 1 pertanyaan itu adalah berapa jumlah hafalan dan saya tidak siap.. -_-“

Selesai juga pertanyaan dari saya dan sudah pula semuanya dijawab. Saatnya beliau.. Deg..deg..deg.. teringat cerita teman ada yang ditanya tentang Fiqh thaharah, harga beras di pasar, sampai diskusi sosial politik. Aduuh.. Kira-kira apa ya pertanyaannya? Ternyata…. “Apakah anti siap untuk ikut saya kemana saya pergi?” Langsung anti klimaks mendengar pernyataan tersebut.. Fiuh… “Iya, insyaAllah siap” hanya itu yang bisa saya jawab. Karena saya memang berkomitmen untuk ikut suami kemanapun suami pergi. Saya tidak ingin dan tidak siap untuk menjadi Long Distance Marriage..  lalu dilanjutkan dengan pertanyaan titipan dari keluarga yaitu “ Apakah ada pelangkahan?” Saya melangkah menikah dua orang kakak perempuan (semoga Allah senantiasa menyayangi keduanya). Dan keduanya dengan luar biasa sangat berlapang dada bahkan mensupport begitu besar sebelum dan selama kami menikah apalagi setelah qoonita lahir. Saya menjawab “Tidak ada. Karena dikeluarga tidak menggunakan adat seperti itu”. Memang dibeberapa daerah budaya pelangkahan amat kental. Bahkan apapun yang diminta oleh kakak yang dilangkahi harus dipenuhi bilapun harganya sangat mahal. Alhamdulillah kakak-kakak tidak mau diberi hadiah oleh calon suami saya (ketika itu) bahkan memberikan hadiah mesin cuci untuk kami (bageur pisan kakak-kakakku ini..)

Dan.. pertemuan pagi itu ditutup dengan rencana kunjungan beliau ke rumah satu bulan mendatang..

Setelah itu komunikasi saya lakukan selalu via Murabbiyyah termasuk kapan tanggal fix beliau akan ke rumah dan nomor beliau belum saya simpan didalam hp..

25 Mei 2011

Pagi ini beliau ke rumah untuk bertemu ibu dan bapak. Beliau datang sendirian untuk memperkenalkan diri. Lagi-lagi datang kepagian.. Saya dan ibu masih belum pulang dari pasar -_-“ (Semangat pisan Uda…)

Dimulailah pembicaraan itu, hingga muncullah kalimat dari beliau, “Iya Pak, Bu, saya kesini serius ingin melamar Agtri putri Bapak dan Ibu jika diperbolehkan..” Dan dijawab “iya” oleh Bapak. Eh, berarti ini sudah jatuh khitbah ya? Alhamdulillah..

Kemudian beliau mengatakan besok akan membawa keluarga besar untuk lamaran secara resmi. Ibu mengatakan tidak usah repot-repot. Sekarang saja kan sudah resmi lamarannya. Nanti saja keluarga hadir ketika rapat persiapan acara. Ibu malah mengajak menentukan tanggal pernikahan. Ah, cepat betul pikir saya tapi ya sudahlah.. Setelah mempertimbangkan beberapa hal akhirnya diputuskan sementara tanggal 3 September, H plus 3 Idul Fitri. Berharap mendapatkan keberkahan pernikahan di bulan Syawal dan juga mengingat keluarga besar yang masih berkumpul di Idul Fitri.

Setelah pertemuan tersebut nyaris tidak ada lagi pertemuan dengan beliau hingga menjelang hari H. Kecuali satu kali, tante yang di Surabaya ingin bertemu dengan beliau, jadilah kami bertemu di taman ganesha dengan kucing-kucingan khawatir terpergok teman-teman yang lain. Khawatir terjadi fitnah.

Komunikasi pasca khitbah dipercayakan oleh Murabbiyyah untuk langsung kami lakukan, dengan titipan tetap wara’ pada pengawasan Allah, waspada, dan hati-hati. Komunikasi kami lakukan via sms atau beberapa kali email untuk hal yang banyak. Diskusi lebih banyak pada teknis pembuatan undangan, progress souvenir, pembelian seserahan, dan konsep serta juklak hari-H. Awal-awal komunikasi masih sanggup membendung perasaan. Lama-lama saya sadar, saya perempuan. Saya lemah dengan perasaan. Makin lama makin melemah, sebelum terseret lebih jauh saya mengambil jalan aman. Saya butuh orang ketiga. Betapa merepotkan jika meminta bantuan Murabbiyyah lagi. Akhirnya saya putuskan meminta bantuan ibu dan kakak perempuan pertama untuk menjadi mediator. Rasa “itu” mulai muncul, saya coba untuk enyahkan, tapi tidak bisa. Menguping ketika kakak dan ibu saling telpon dengan beliau malu-malu saya lakukan. Sulit. Sulit sekali rasanya. Paling tidak jangan sampai beliau tahu tentang rasa “itu”.

Perjuangan pasca khitbah yang begitu menyita perasaan semakin mendekati akhir. 3 September 2011. Akhirnya akad itu terucap. Sederhana, namun kokoh. Pasca akad dilakukan, beliau menjemput saya yang menunggu di dalam kamar untuk ikut duduk dan menandatangani buku nikah. Setelah itu beliau memberikan hadiah tasmi surat Ar-Rahman yang dibacakan dengan tartil. Panas dingin rasanya. Lalu kami keluar untuk bertemu tamu.

Memisahkan tamu laki-laki dan perempuan bukan hal yang lumrah disekitar kami. Pesimis awalnya apalagi dengan keterbatasan lahan di rumah tetapi ibu meyakinkan bisa dilakukan. Dan Alhamdulillah memang bisa dilakukan. Kursi pun banyak sehingga tamu tidak harus standing party. Musik tidak menggunakan orgen tunggal ataupun band tetapi menggunakan mp3 lagu-lagu nasyid. Kamipun tidak harus bersalaman dengan yang bukan mahram. Alhasil ketika istirahat sholat dzuhur bisa langsung sholat karena masih ada wudhu.

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Alhamdulillah..

Segala puji hanya untuk-Nya..

Benarlah janjinya bahwa kemudahan dan kecukupan akan diberikan kepada orang-orang yang berniat menjaga diri dengan menikah..

Janganlah ragu..

Cerita ini saya persembahkan kepada semua yang belum, sedang ataupun sudah menjalani proses pernikahan..

Bagi belum menjalani prosesnya.. Bersabar dan bersyukurah.. sesungguhnya pasangan kita sudah Allah persiapkan. Kesabaran, kesungguhan dalam menjaga diri selama masih sendiri percayalah akan Allah balas dengan sebaik-baiknya. Jika kita pandai menjaga diri dan kehormatan, yakinlah seseorang disana juga akan menjaga dirinya. Jangan pernah menurunkan standar diri dan keimanan karena khawatir tidak mendapatkan pasangan. Namun berdo’alah agar seseorang disana juga sedang terus berproses memperbaiki diri agar pas dan klop dengan mu. Percayalah bahwa Allah sesuai persangakaan hamba-Nya. Berprasangka baiklah kepada Allah sambil terus melayakkan diri..

Bagi yang sedang menjalani proses.. Bersabar dan bersyukurlah.. sesungguhnya banyak kegundahan yang akan terjadi. Wajar, syaitan tidak akan membiarkan kita.. Sebelum akad itu terucap sadarlah kalian belum menjadi apa-apa jadi berhati-hatilah. Banyak keraguan yang mungkin muncul, tanyalah kepada hati apakah alasannya syar’I atau hanya guncangan dalam hati. Maka kokohkanlah keimanan dan titipkan seseorang disana hanya pada-Nya. Sungguh kita tidak punya kuasa untuk menjaga hati seseorang disana maka titipkanlah kepada penguasa-Nya

Bagi yang sudah menikah.. Perjalanan ini baru awalan.. Awalan untuk merajut jalan kita untuk menuju Jannah-Nya.. Mencintailah sewajarnya, titipkan selalu ia kepada Allah. Agar tetap dalam keimanan dan keislaman.. Ah.. saya belum layak menasehati di usia pernikahan yang masih amat dini ini. Masih terlalu banyak hal yang harus saya pelajari dan perbaiki. Mari melangkah bersama…

Advertisements

The Journey (1)

10 April 2011,

Tepat satu hari setelah toga saya kenakan.. Teringatkan sebuah janji bahwa langkah selanjutnya adalah bersegera memasuki tahapan amal kedua pembangunan peradaban..

Pagi itu, pesan singkat saya layangkan kepada pembinsaya yang shalihah dan amat saya percaya.

“Teh, bagaimana kalau Agtri mulai memasukkan biodata ke teteh?” kurang lebih seperti itulah redaksi kalimat yang saya kirimkan. Dan taklama diberikan jawaban Ya, agar saya segera mengirimkan biodata.

Bismillah, saya akan memulai proses ini..

Proses yang saya harapkan dapat menjadi jalan terbentuknya sebuah keluarga da’wah yang dapat menjadi inspirasi bagi peradaban..

Sebuah proses yang menjadi impian sejak saya mengenal jalan ini..

Sebuah cara berjumpa dengan pasangan jiwa tanpa harus menimbulkan bibit-bibit kotoran noda pada hati yang sudah penuh noda tanpa perlu ditambahkan noda-noda lagi.

Bukan, bukan berarti saya menafikkan cara lain tak syar’i..

Melalui wasilah orangtua, kerabat, teman, tentu bukan masalah ketika caranya Islami dan tak menimbulkan noda-noda pada hati..

Saya memilih melalui Murabbi karena

1. Saya ingin kami bersatu di jalan da’wah melalui jama’ah.. saya memiliki suami yang selaras berjalan dalam merajut mimpi membangun peradaban ini..

2. Saya sangat mempercayai MRku.. beliau kurang lebih hampir 3 tahun menjadi pembinsaya.. Seseorang yang ‘susah payah’ membentuk diriku agar bisa senantiasa memperbaiki diri dan tegar di jalan ini. Teringat suatu saat beliau berkata, “semua Murabbi pasti mencarikan pasangan terbaik untuk mutarobbinya. Kalian sudah dibentuk susah payah oleh kami para murobbi untuk menjadi shalihah, tidak mungkin kami memberikan kalian pasangan (ikhwan) yang sembarangan..” Ya.. Setelah menjadi Murobbi kata-kata beliau, saya akui 100%.. Pun ketika mutarabbi ingin menikah, sayapun akan mencarikan ikhwan terbaik untuk mereka, bukan asal comot atau ikhwan yang ‘aneh-aneh’ atau bahasa lazimnya yang di blacklist (siapa juga yg nge-blacklist ya?)

3. Orangtua mempercayakan kepada saya anaknya untuk mencari lelaki shalih yang kelak akan menjadi menantu keduanya.. Dan saya tak punya kemampuan untuk itu.. dan saya wakilkan kepada jama’ah untuk memilihkannya melalui murabbiku

4. Dan.. yang menjadi keyakinan saya adalah jodoh itu takkan tertukar.. (lagi-lagi) mau pacaran 7 tahun, 3 tahun, 2 bulan, atau baru kenal melalui biodata saat itu juga.. Tidak akan salah… So.. Saya berupaya memilih cara mana yang paling berkah yang paling dapat meminimalisir noda-noda jiwa sebelum akad itu terucap. Dan Saya memilih jalan ini.. Sangat sedih rasanya jika ada seseorang yang ‘ngotot’ ingin berproses dengan seseorang. Bukan tidak boleh.. tapi kenapa harus mempersulit diri sendiri. Ibarat dirinya punya kesempatan mendapatkan jodoh dengan himpunan semesta 100 orang, tetapi karena memaksa dengan 1 orang akhirnya bisa jadi yang sesungguhnya jodohnya diatara 99 orang yang lain menjadi terhambat. Ah.. ruginya.. kenapa tidak berupaya membuka hati agar jodoh lebih mudah menghampiri. Kenapa mempersulit diri sendiri.. Padahal pengetahuan kita itu amatlah sangat sempit dibandingkan pengetahuan Allah.. kenapa tidak diserahkan kepada Allah.. lagi-lagi kenapa?

dan..

11 April 2011 pagi hari di ingatkan kembali oleh murobbi untuk segera memasukkan biodata ke email beliau..

Deg.. deg..

Bismillah,

Sent!

Dan, saya tahu, setelah data ini dimasukkan, masuklah pada fase menunggu..

saya tau bagaimana kesibukan murabbiku, saya tahu betapa banyaknya biodata para lajang yang menumpuk dan mengantri untuk diproses, saya tahu tidak sedikit yang menunggu bahkan lebih dari 1 tahun lamanya.

Tapi saya tau, bahwa Allah yang Maha Kuasa

Tak akan tertunda sesuatu jika memang waktunya telah tiba dan tidak akan dipercepat sesuatu yang belum waktunya..

Setelah itu, ibu dan bapak mengajak rehat jauh dari rimbunnya Kota Bandung, menuju Kota lumpur, Siodarjo untuk beberapa waktu.

Kurang lebih 2 pekan sejak 11 April, saya kembali ke Kota Bandung.. Menjalani pembinaan pekanan spesial dengan teman-teman baru.. Esoknya saya dihubungi murobbi untuk ke rumah beliau, tanpa prasangka apa-apa karena sudah biasa membahas amanah kami ditempat yang sama. Taklama, bliau mengatakan sebuah kalimat yang membuat jantung ini berdetak sangat kencang, “agtri, datanya sudah diproses ya. Biodata ikhwannya juga sudah ada di teteh.”

Degh!

Jantung mulai tak karuan, tak menyangka begini cepat prosesnya…

Allah..

Kadang kurang nyaman menjadi orang ekspresif, pastilah saat itu murobbiku tahu betapa panas tubuhku mulai meningkat dan wajahku mulai memerah..

Tahu betapa terkejutnya saya,

beliau mencairkan suasana dengan meminta saya menebak siapakah ikhwannya.

Ah.. teteh..

manalah saya tahu..

Beliau memulai dari asal daerah, tahun lahir, hingga jurusan

*blank*

Ya, saya tahu, ada seorang ikhwan yang pernah saya tahu sesuai clue yang diberikan beliau..

Tapi..

Semakin saya mencari di dalam setiap file otak semakin saya tak temukan..

Siapa?

Hingga akhirnya beliau sebut kan sebuah masjid besar di Kota Bandung serta aktivitas tahfidz yang beliau lsayakan disana. Masjid habiburahman PT.DI. Saya tahu, tapi lidah serta merta jadi kelu.

Ah, tak mungkin rasanya..

Apalah saya ini..

spontan saya katakan pada murobbi, “tapi… teteh taukan berapa hafalan agtri….”

Beliau tersenyum dan mengatakan, “iya Agtri, ikhwannya tidak mensyaratkan seorang hafidzhah..”

Saya terdiam. Tak tau harus bicara apa.

Melihat saya terdiam, murobbiku mengatakan, “mangga diendapkan dulu, ini sudah teteh copykan biodata ikhwannya untuk dibaca.”

saya masih terdiam, terduduk tak percaya. tahukah apa yang saya pikirkan saat itu?

“apa alasan yang bisa saya berikan untuk menolak ikhwan ini. Bukan karena kekurangan yg ada pada beliau, tapi kekurangan yang ada pada diriku.”

Hingga petang hari, file itu tak juga kubuka. sejujurnya saya tak berani…

Selepas shalat magrib, sembari menunggu shalat isya, saya mantapkan hati untuk membacanya. Tak banyak, hanya 4 lembar saja namun padat berisi. Tanpa terasa, wajah saya sudah sembab dengan air mata *duh saya menangis lagi jika ingat hal itu*. Saya tak tahu.. kenapa saya mengeluarkan air mata. bahasa tulisnya lugas dan tegas tak ada unsur ‘perasaan’ yang tercantum didalamnya. Tapi.. tapi kenapa saya menangis?

Saya tidak mengerti..

Setelah menikah, saya baru menyadari betapa banyak kesamaan yang harusnya membuat kami mengenal sebelum prose situ. Tetapi Allah menjaga kami untuk tidak saling mengenal sampai tiba waktunya.

Kami sama-sama anak ITB. Beliau Geodesi dan Saya Planologi dimana gedung GD dan PL itu tetangga yang betul-betul tetanggaan. Nyatanya kami sama-sama tidak menyadari

Kami sama-sama berasal dari Provinsi Sumatera Selatan. Saya dari Palembang dan beliau lama tinggal di Baturaja dan Martapura. Kesempatan kami untuk bertemu di MUSI (Mahasiswa Bumi Sriwijaya), unit kedaerahan di ITB sangat besar tapi nyatanya kami tidak bertemu.

Kami sama-sama cinta buku dan tempat langganan beli buku kami adalah di tazkia (Gelap Nyawang) tetapi kami tidak merasa pernah bertemu ketika membeli buku.

Kami sama-sama aktif di Gamais. Beliau secara angkatan adalah junior saya (2006) sedangkan saya masuk ITB 2005 karena saya ikut program akselerasi ketika SMA, walaupun secara usia tetap beliau lebih tua dari saya (jadi jangan bilang teh Agtri nikahnya sama brondong ya.. hehe). Beliau aktif di MSDA (kaderisasi)  dan saya di Annisa. Beliau sempat diproyeksikan menjadi kepala departemen MSDA dan saya menjadi Majelis Syuro. Tapi akhirnya beliau memilih untuk fokus menghafal jadi mengundurkan diri dari Gamais. Kebayang kalau beliau jadi di MSDA pasti saya akan sangat mengenal beliau. Nyatanya Allah lagi-lagi menjaga

Kami sama-sama suka makan masakan padang. Langganan kami di Talago Biru Pelesiran. Nyatanya? Kami nggak ngerasa pernah ketemu pas beli

Kurang lebih 3 hari saya ‘galau’, berusaha memantapkan diri. Saya jenuh. Akhirnya saya main ke kamar saudari saya, disana iseng saja, saya ambil sebuah buku pernikahan yang ia miliki. Saya buka random sebuah halaman. dan.. dihalaman itu, saya mendapatkan pertanyaan yang selama 3 hari ini saya bingungkan..

Dan Bismillah, saya mengirimkan jawaban “insyaAllah lanjut teh..” ke murabbiyah

Penonton

Sekeras apapun ia berteriak dan berkomentar,
Takkan membantu agar “Goal” itu melesak ke dalam gawang..

Berpeluh bagaimanapun ia,
Takkan mampu mengoper bola dan mengecoh kiper lawan..

Berkerut seperti apa merancang strategi
Takkan membantu upaya kemenangan

Mengapa?

Karena ia hanya seorang penonton
yang hanya berani menyisir dari luar lapangan..

Maka,
jadilah seorang pemain,
agar tahu beratnya perjuangan
sehingga mampu berkomentar dengan benar

“Tidaklah sama orang-orang beriman yang duduk (tidak pergi jihad) tanpa memiliki udzur (alasan yang benar), dibanding orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya. Allah mengutamakan satu derajat bagi orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya di atas orang-orang yang duduk saja. Kepada masing-masing mereka Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-oang yang duduk dengan pahala yang besar.”

(QS. An Nisa: 95)

Mereka yang “Tidak Boleh Melakukan Kekeliruan (apalagi kesalahan)”

Alkisah di sebuah negeri, dalam sebuah acara, seorang kepala negara memberikan pidatonya. Seperti pidato kenegaraan lainnya, beliau menyelipkan pesan-pesan kepada audiens  yang notabene abdi rakyat. Pada intinya mengajak agar mereka lebih bersemangat lagi menunaikan tugas-tugasnya. Entah selipan banyolan atau memang ternyata curcol (curhat colongan), keluarlah kata-kata bahwa sudah 6 tahun sang kepala negara tak naik gaji. Dan respon yang terjadi sangat luar biasa. Lupa akan pesan dari sang kepala negara secara meyeluruh, yang dingat dan membuat panas kuping rakyat (yang mendengar setengah-setengah) yaitu “kepala negara kita minta naik gaji”. Hingga muncullah gerakan yang sangat responsif berupa ‘pengumpulan koin’ bagi Sang Kepala Negara yang entahlah harus ditanggapi seperti apa.

Tersebutlah juga kisah tentang mantan pimpinan tertinggi sebuah partai da’wah, yang disorot oleh banyak mata ketika ‘bersentuhan tangan” dengan ibu negara salah satu negara adikuasa dunia. Semua berbicara, menanggapi, pro kontra terjadi. Padahal, kejadian ‘bersalaman’ tentu amat biasa terjadi di lingkungan kita. Tetapi (lagi-lagi) karena yang melakukannya bukan orang biasa, maka akan menjadi bulan-bulanan media dan massa.

Itulah mengapa dalam judul telah saya sampaikan bahwa ‘mereka’tak boleh melakukan kesalahan. Bukan karena saya menafikkan bahwa manusia tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak mungkin seorang manusia tidak melakukan kesalahan, hanya Rasulullah saja yang ma’sum dari segala dosa dan kesalahan. Karena bilapun beliau melakukan kesalahan, maka Allah akan langsung memperbaiki kekeliruan beliau seperti yang termaktub dalam dalam surat Abasa. Mereka tak boleh lakukan kesalahan karena ketika ‘mereka’ menjadi subjeknya  dan melakukan hal-hal (baca: kesalahan) kecil bisa menjadi besar dan hal-hal (baca:prestasi) besar bisa menjadi kecil atau biasa-biasa saja. Ah saya lebih nyaman menyebut beliau-beliau sebagai orang terkenal, sehingga mereka bisa siapa saja.. Entah itu kepala negara, ulama, politisi, bahkan selebritis.

Dan, yang lebih gaswatnya dari orang-orang terkenal ini adalah efek domino atau pengaruh dari apa yang mereka lakukan itu diikuti oleh orang-orang lain terutama yang menganggapnya sebagai idola (jadi fans berat atau sejenisnya). Ingatkan ketika David Beckham sedang naik-naik daunnya? Padahal ia jagonya main bola, tetapi sampai model potongan rambutnya pun diikuti para fansnya. Sama halnya dengan iklan-iklan di media massa, kenapa coba yang menjadi iklannya adalah para selebritis yang terkenal? kenapa nggak orang-orang biasa saja yang baru pertama kali masuk televisi. Coba lihat salah satu produk sabun cair, yang membintanginya adalah selebritis perempuan yang sudah terkenal setanah air. Tujuannya apa? agar para konsumen memiliki persepsi  bahwa para selebritis tersebut memiliki kulit yang halus karena menggunakan produk tersebut. Atau misalnya iklan krim pemutih wajah yang membuat “wajahmu mengalihkan duniaku”, para konsumen dengan model yang ditampilkan didalam iklan berharap agar ketika mereka menggunakannya maka akan tampil secantik dan seputih selebritis yang menjadi bintang iklannya. Konsumen tidak peduli bahwa mereka (para selebritis tersebut) memang sudah cantik dan putih dari sononya. Tidak peduli juga kalau untuk menjadi seperti sekarang setelah mereka menghabiskan puluhan juta untuk pergi ke salon atau kontrol ke klinik kecantikan.

Masih tentang orang terkenal dan daya pengaruhnya, pasti masih ingat da’i kondang yang pengajiannya tak pernah sepi dari jama’ah yang utamanya ibu-ibu. Hidup harmonis dan serasi dengan istrinya lalu memutuskan untuk berpoligami? Apa dampaknya kala itu? Ibu-ibu memutuskan untuk ‘libur’ dulu datang ke pengajian da’i tersebut karena khawatir suaminya ‘tertular dan mengikuti jejak ustadz tersebut.  Khawatir para suaminya mengambil contoh makanya ibu-ibu “satu suara” untuk pengajian di tempat lain dulu. Padahal, memang segitu berpengaruhnya ya?

Dan belum juga sepekan, baru saja vonis pengadilan dari majelis hakim yang terhormat terkait skandal video mesum seorang vokalis band ternama negeri ini. Ah, saya tak ingin terlibat dalam diskusi yang tak berujung terkait kebebasan.  Toh saya juga punya kebebasan dong untuk bilang kalau buat saya:
1. Berz*n*nya itu fatal
2. Berz*n* dengan istri orang lebih fatal lagi
3. Sebagai orang terkenal yang tindak tanduknya dilihat dan dicontoh itu fatal

Sehingga, keputusan 3 tahun 6 bulan itu buat saya jauh dari memuaskan. Toh tuntutan dari jaksa penuntut umum saja minimal 5 tahun. (Saya nggak sampai bilang harusnya dirajam loh -ups, saya sebutin juga akhirnya :D). Maaf, tapi bagi saya itu menunjukkan lemahnya supremasi hukum kita dan terkesan hanya cari aman dari para penegak hukum. Karena hukuman seperti itu tak memberikan efek jera bagi para pelaku dan masyarakat. Pelakunya ini orang terkenal, punya fans (baca:pengikut), punya pengaruh. Sekitar dua bulan lalu saya sempat membaca berita tentang adanya beberapa laporan tentang kasus p*m*rk*s**n oleh anak-anak dibawah umur. Setelah ditanya oleh penyelidik ternyata  karena terpengaruh setelah menonton video mesum artis ini. Dan FATALNYA, hingga saat ini, yang bersangkutan masih belum mengakui kalau pemeran utama dalam video tersebut adalah dirinya.
Fiuh, fiuh..
Lupa ya, kalau sudah terkenal maka setiap gerak gerik akan menjadi sorotan? Belum lagi ini adalah kasus pertama yang menarik perhatian publik untuk bisa membuktikan seberapa kuat supremasi hukum di negara kita terkait pelaksanan undang-undang pornografi.

Ompongnya huk*m kita didepan orang-orang yang memiliki pengaruh dan gelimangan harta. Lihat saja, masih hangat diotak kita tentang fasilitas sel mewah yang dimiliki ay*n, kita geram, tetapi lalu.. heboh lagi dengan pembebasan bersyaratnya yang akhirnya disetujui. Uf.. mau dibawa kemana?? Tentang joki tahanan (emang joki cuman ada di three in one atau di ujian-ujian). Apalagi tentang Gayus, yang ah.. sudahlah.. lagi-lagi seolah dagelan dalam dunia huk*m kita. Kalau gayus (yang ‘ikan teri’-katanya sendiri) bisa keluar masuk seenaknya, apalagi yang hiu dan pausnya. Jangan-jangan bagi mereka hukuman penjara adalah saatnya liburan dan rekreasi dari rutinitas harian.
Makanya, siapa yang jera kalau begitu caranya?

Kembali lagi ke orang terkenal yang tak boleh melakukan kesalahan, tak perlu jauh-jauh kita melihat ke layar televisi atau media-media massa untuk mencari mereka yang terkenal dan di jadikan panutan. Lihatlah kanan dan kiri kita, sosok-sosok ‘terkenal’ itu ada. Ambil saja lingkup kampus misalnya. Ada orang-orang terkenal yang menjabat, ketua organisasi *pip*pip*, ketua acara %$#@#$@@, atau petinggi *fiuh*glek*Prok*(naon iyeu teh..).Nah adik-adik dan teman-teman, itu juga kudu hati-hati. Lingkungan  kecil itupun akan membentuk mereka sebagai “orang terkenal yang tidak boleh melakukan kesalahan.

Kalau orang lain yang masang status “Galau” barangkali biasa. Apalagi ABeGe-ABeGe yang masang status “K4n93n K4mYuhh.. fR0m YoUr LoV3lY BeibHHH” Ah, biasa kali untuk mereka. Tapi untuk kalian?

Apalagi misalnya, misalnya nih ya.. Dua sosok yang jadi panutan tiba-tiba ‘kepergok’ di restoran siap saji made in USA berdua aja tanpa ada status ‘halal’ yang melekat. Tentu saja akan menjadi sangat berbahaya. Apalagi kemudian diikuti dan dijadikan pembenaran. Cukuplah kita belajar dari Umar bin Luhay. Seorang alim yang terkenal di jamannya dan dijadikan panutan. Kesilauannya akan sesembahan yang dilihatnya di Persia membuatnya menjadi ‘sang perantara’ nomor satu atas munculnya berhala yang memenuhi tanah suci bapak Para Anbiya.

Ya, begitulah.. mereka yang tak boleh melakukan kesalahan..

..Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tetapi kita diberi akal dan perasaan untuk mampu mengalahkan keterbatasan yang kita miliki. Dan hanya Allah-lah yang Mahamengetahui betapa banyak aib dan cela ini pun Allah Mahabaik yang masih menutupinya hingga kini..

Renta

Renta
Rapuh dirinya
hanya sanggup dipapah
namun bukan dengan tulang belulang anak negeri

dipapah dengan pinjaman mengatasnamakan kebaikan
tapi nyata mayanya
hanya tumpukan utang berlimpah yang tak mampu dibayar oleh setiap kanak keturunan si renta

Renta
bukan karena tak ada kalsium sumber daya
mungkin terkena osteoporosis terlalu muda
toh belum juga seabad usianya
Masih berupa balita lucu-lucunya untuk sejenisnya

Tetapi penguasaan atas mental perbudakan
hampir empat abad sulit dihilangkan
juga keinginan aman sendiri dari masing-masing sumsumnya
saling tarik dan sedot sumsum tetangganya
tak sadar bahwa hanya akan jadikan lemah bersama

bantu si Renta
dengan menjadi sel-sel penyusun masing-masing sumsum dan sendinya
Agar renta ini menjadi balita
yang pada waktunya
tumbuh jadi dewasa
hingga sanggup berdiri dengan belulangnya sendiri
tanpa bantuan kursi roda dari eropa
penyangga tubuh dari Amerika
atau mungkin tambahan mineral dari Cina
renta ini karena masih balita
bukan renta yang menunggu waktu menjadi binasa

 

*Abis baca buku sejarah dunia yang  sangat menginspirasi: “Imperium III”nya Eko Laksono. Cetak lagi setelah 3 tahun ditungguin..

Pesan Ibu

Bip..bip..

1 Pesan Masuk

Pengirim: Ibu
26/07/10 17:30


……………………………………
……………………………………
Jaga sholat tepat waktu
Qur’an jadikan pakaian
Shodaqoh jadikan kebuthan
Zikir jadikan keseharian
Puasa jadikan kebiasaan
Silaturahim pangkal ibadah
Semoga kita sekeluarga diberikan keberkahan umur untuk ibadah..

Sebuah pesan elektronik singkat dengan kode rumit bertautan di angkasa,
libatkan paling tidak ribuan unsur yang mendukung sampai atau tidaknya
Semoga setiap unsur yang dilewati membantu meng-amin-kan
agar dimudahkan baik pengirim dan (terutama) si-penerima untuk bisa istiqomah menjalankan

* Jelang Bulan yang dinantikan. Apa saja yang sudah dipersiapkan?. Hati-hati jika tidak serius mempersiapkan. Bisa-bisa sama atau rugi tidak lebih baik dari Ramadhan kemarin

Mohon maaf atas segala khilaf yang Agtri lakukan,
Baik perkataan yang menyakitkan
Perilaku yang tidak menyenangkan
Amanah yang tidak tertunaikan
Semoga kita bisa mengoptimalkan semua ikhtiar kita

karena Ramadhan..
Bukan Bulan Biasa

Pertanyaan dengan Beragam Alternatif Jawaban

Kalau jam segitu itu, di depan rumah biasanya rame sama anak-anak tetangga yang lagi main..

Ada -ada saja yang lakukan, yang paling sering ya..
bermain peran..
Bermain peran?
Ya, mereka biasa memerankan sedang belajar di sekolah, dimarahin ibu di rumah, jadi dokter-dokteran, bahkan jadi artis yang kemarin sinetronnya mereka tonton

Hari ini mereka belajar bersama (walaupun ternyata belajarnya paling 10′ dan sisanya.. ya lari-lari dan teriak-teriak kesana kemari..)

Dari kamar bisa terdengar jelas ketika ada salah seorang yang berperan sebagai guru membacakan pertanyaan yang harus dijawab teman-teman yang lain..
Hm.. sepertinya si ibu guru cilik ini mengambil pertanyaan dari buku LKS (Lembar Kerja Siswa ya kalau tidak salah.. Jaman SD sampai SMA masih pakai yang kayak beginian perasaaan..)
Nah yang menarik adalah pertanyaan-pertanyaan yang dibacakan oleh si ibu guru. Dari 10 pertanyaan yang dibacakan, dan ada 3 pertanyaan yang menurut agtri ‘menarik’

1. Benda yang terdapat di kamar mandi adalah:
a. sikat gigi b. payung c. baju

2. Benda yang terdapat di ruang tamu adalah:
a. kursi b. lemari es   c. televisi

3. Benda yang digunakan untuk membersihkan kotoran adalah:
a. sapu b. buku c. koran

Ada yang aneh dari pertanyaan-pertanyaan ini?
Dahulu ketika kita seusia mereka di  Sekolah Dasar barangkali pertanyaan-pertanyaan ini bukan sesuatu yang harus dikatakan ‘sulit’.
Toh kita pasti akan memberikan jawaban A untuk semua pertanyaan.
Kunci jawaban dan jawaban ‘kebiasaannya’ seperti itu bukan?

Tapi coba kita berhenti sejenak
dan coba bandingkan pertanyaan dari LKS yang dibuat untuk bisa digunakan dari sabang sampai merauke, dari perkotaan sampai pedesaan,
dari sekolah jutaan sampai sekolah pinggiran..
Apakah pertanyaan multiple choice seperti ini bisa ‘merangkul’ semuanya?

Pertanyaan pertama, benda apa yang terdapat di kamar mandi?
(Nanti, pada coba masuk ke kamar mandi ya..)

“Hm.. Benda apa yang ada di kamar mandi?
Kayaknya siy sikat gigi,
Tapi bentar-bentar..”

Bukankah akan membingungkan bagi seorang anak ketika dia masuk kamar mandi ternyata ketiga pilihan itu ada di kamar mandinya selama ini..
1. Sikat gigi (ya.. tentu saja, hampir seluruh keluarga pasti menyimpan sikat gigi di kamar mandi)
2. Baju.
Loh.. tapi ko baju juga ada di kamar mandi ya?
Pikir sang anak..
Jangan bayangkan setiap anak tinggal di rumah gedongan yang di setiap kamarnya ada fasilitas kamar mandi sendiri-sendiri.
Di negeri kita ini kebanyakan kamar mandi bergabung dengan tempt mencuci baju (bahkan mencuci piring)?
Itu pun berarti sudah beruntung ketimbang harus ke MCK bersama atau ke sungai
Betul tidak?
Maka jangan heran sang anak akan kebingungan menjawab pertanyaan ini karena ternyata di kamar mandinya selain ada sikat gigi juga banyak baju rendaman ibunya untuk dicuci nanti..
3. Payung. Belum lagi.. kalau ternyata space untuk menggantung sekaligus  mengeringkan payung di musim hujan cuma ada di kamar mandi. Ya, si payung akan sering bertengger dimusim hujan di kamar mandi sang anak.
Lengkaplah kebingungan sang anak..

Pertanyaan kedua, benda apa yang terdapat di ruang tamu:
– Buat anak yang di rumah gedongan:
“loh ko’.. ada dua jawaban benar ya? ah.. barangkali itu kurang ‘kecuali’..
Di ruang tamu memang ada televisi dan lemari es. Toh hampir disetiap ruangan di rumahku juga ada yang kek gini.
Nah.. kalo kursi baru gak ada keknya..
kan kalau di ruang tamu ada-nya sofa bukan kursi..”

Singkat cerita sesuailah jawaban si anak gedongan dengan kunci jawaban yang ada. Padahal..

– Buat anak yang dalam kondisi sebaliknya:
“bingung ih..
Ruang tamu? haha, boro-boro ruang tamu.
Ruang keluarga, dapur, tempat tidur ya disana-sana juga..
Terus yang mana ya jawabannya?
kursi? ada kayaknya
lemari es? jelas donk, kan buat emak jualan es lilin dan es batu ke tetangga
televisi? nah ini yang gak ada..
Hmm.. kayaknya pertanyaannya kurang ‘kecuali’ deh..
Ya udah pilih televisi aja kalau gitu”

Singkat cerita, tidak samalah jawaban anak ini dengan kunci jawaban. Padahal…

Pertanyaan ketiga, benda apa yang digunakan untuk membersihkan kotoran:
Duh..
ini pertanyaan paling membingungkan untuk dijawab
Sapu? ya jelaslah ya..
Koran? Pernah ngebersiin kaca pakai koran? Pernah ngelap debu pakai koran?
So, jawaban ini bisa bener juga kan..
Buku? ya yang ini juga sebenernya bisa juga kalau kepepet.. Tapi ya udahlah anggep aja enggak.

Tapi tetap saja, ada hal yang dianggap remeh oleh para pendidik..
Jujur saja, kita selama ini seringkali dibentuk dengan satu jawaban pasti dan menutup kreativitas untuk bisa menemukan alternatif-alternatif jawaban lainnya.
Dalam ilmu pastipun kita terbiasa dan terpola untuk menggunakan rumus instant yang memang sudah umum digunakan.
Tidak heran bahkan ketika SPMBpun, yang Agtri lakukan adalah menghapal rumus-rumus
Bimbingan belajar pun mengajarkan berbagai rumus cepat
Bagus memang,
tetapi tidak tahan lama

Masuk kuliah, ketemu kalkulus
*brak
beberapa anak biasanya terhantam
Pakai rumus ini ko gak bisa, yang ini juga
Padahal memang harus paham konsepnya bukan hapal rumusnya..

Itulah mengapa pertanyaan-pertanyaan yang tadi dibacakan ibu guru cilik mengingatkan kembali tentang kualitas pendidikan negeri kita saat ini.
Bahwa, ya.. itulah mengapa kualitas setiap orang bisa amat jauh berbeda tergantung dimana dia bersekolah. Kalaupun ada “anak istimewa”, ya itu memang anugerah baginya

So? How?

*belum berani menjawab, karena belum membuktikan.. 🙂
Cuma berharap keputusan ttg UN segera keluar

Nah tentang berpikir luar biasa, ada dua kasus yang patut menjadi contoh
Pikirkanlah beragam alternatif untuk menyelesai masalah, tapi jangan lupa untuk “Make It Simple..”


Kasus 1:
kasus kotak sabun yang kosong,

yang terjadi di salah satu perusahaan kosmetik yang terbesar diJepang.
Perusahaan tersebut menerima keluhan dari pelanggan yang mengatakan bahwa ia telah membeli kotak sabun (terbuat dari bahan kertas) kosong.
Dengan segera pimpinan perusahaan menceritakan masalah tersebut ke bagian pengepakan yang bertugas untuk memindahkan semua kotak sabun yang telah dipak ke departemen pengiriman.
Karena suatu alasan, ada satu kotak sabun yang terluput dan mencapai bagian pengepakan dalam keadaan kosong.

Tim manajemen meminta para teknisi untuk memecahkan masalah tersebut.
Dengan segera, para teknisi bekerja keras untuk membuat sebuah mesin sinar X dengan monitor resolusi tinggi yang dioperasikan oleh dua orang untuk melihat semua kotak sabun yang melewati sinar tersebut dan memastikan bahwa kotak tersebut tidak kosong.
Tak diragukan lagi, mereka bekerja keras dan cepat tetapi biaya yang dikeluarkan pun tidak sedikit.

Tetapi saat ada seorang karyawan di sebuah perusahaan kecil dihadapkan pada permasalahan yang sama, ia tidak berpikir tentang hal-hal yang
rumit, tetapi ia muncul dengan solusi yang berbeda.
Ia membeli sebuah kipas angin listrik untuk industri yang memiliki tenaga cukup besar dan mengarahkannya ke garis pengepakan.
Ia menyalakan kipas angin tersebut, dan setiap ada kotak sabun yang melewati kipas angin tersebut, kipas tersebut meniup kotak sabun yang kosong keluar dari jalur pengepakan, karena kotak sabun terbuat dari bahan kertas yang ringan.

Easy? Yuph..

Kasus 2

Pada saat NASA mulai mengirimkan astronot ke luar angkasa, mereka menemukan bahwa pulpen mereka tidak bisa berfungsi di gravitasi nol,karena tinta pulpen tersebut tidak dapat mengalir ke mata pena.
Untuk memecahkan masalah tersebut, mereka menghabiskan waktu satu dekade dan 12 juta dolar.
Mereka mengembangkan sebuah pulpen yang dapat berfungsi pada keadaan-keadaan seperti gravitasi nol, terbalik, dalam air, dalam berbagai permukaan termasuk kristal dan dalam derajat temperatur mulai
dari di bawah titik beku sampai lebih dari 300 derajat Celcius.

Dan apakah yang dilakukan para orang Rusia?
Mereka menggunakan pensil!

🙂

Previous Older Entries