Untuk mereka..

Kami pernah mengalami masa2 ‘kekalahan’
lalu merasakan kesedihan

Kami kemudian dititipi amanah ‘kemenangan’
lalu merasakan kebahagiaan

Tapi tahukah,
hari ini, diri ini justru merasakan kebahagiaan yang lebih

tahukah mengapa?

Karena kalian belajar dan lebih baik dari kami..

(22 April 2011*)

Akhirnya resmi juga, Semoga bisa amanah melanjutkan estafet ini ūüôā

Diam

Sejak dahulu,

kita sudah tahu

 

konsekuensi memilih di jalan ini,

ber’prestasi’ tanpa berharap apresiasi

tak disukai? bukankah sudah ‘makan’an sehari-hari?

 

Sudahlah,

tak perlu banyak kata

Kita buktikan saja dengan karya

Mari BEKERJA UNTUK INDONESIA..

 

ÔĽŅ*Kita menang bukan karena kita berkuasa tapi karena kebenaran menjadi nyata.. (M.AM)

Mereka yang “Tidak Boleh Melakukan Kekeliruan (apalagi kesalahan)”

Alkisah di sebuah negeri, dalam sebuah acara, seorang kepala negara memberikan pidatonya. Seperti pidato kenegaraan lainnya, beliau menyelipkan pesan-pesan kepada audiens¬† yang notabene abdi rakyat. Pada intinya mengajak agar mereka lebih bersemangat lagi menunaikan tugas-tugasnya. Entah selipan banyolan atau memang ternyata curcol (curhat colongan), keluarlah kata-kata bahwa sudah 6 tahun sang kepala negara tak naik gaji. Dan respon yang terjadi sangat luar biasa. Lupa akan pesan dari sang kepala negara secara meyeluruh, yang dingat dan membuat panas kuping rakyat (yang mendengar setengah-setengah) yaitu “kepala negara kita minta naik gaji”. Hingga muncullah gerakan yang sangat responsif berupa ‘pengumpulan koin’ bagi Sang Kepala Negara yang entahlah harus ditanggapi seperti apa.

Tersebutlah juga kisah tentang mantan pimpinan tertinggi sebuah partai da’wah, yang disorot oleh banyak mata ketika ‘bersentuhan tangan” dengan ibu negara salah satu negara adikuasa dunia. Semua berbicara, menanggapi, pro kontra terjadi. Padahal, kejadian ‘bersalaman’ tentu amat biasa terjadi di lingkungan kita. Tetapi (lagi-lagi) karena yang melakukannya bukan orang biasa, maka akan menjadi bulan-bulanan media dan massa.

Itulah mengapa dalam judul telah saya sampaikan bahwa ‘mereka’tak boleh melakukan kesalahan. Bukan karena saya menafikkan bahwa manusia tidak boleh melakukan kesalahan. Tidak mungkin seorang manusia tidak melakukan kesalahan, hanya Rasulullah saja yang ma’sum dari segala dosa dan kesalahan. Karena bilapun beliau melakukan kesalahan, maka Allah akan langsung memperbaiki kekeliruan beliau seperti yang termaktub dalam dalam surat Abasa. Mereka tak boleh lakukan kesalahan karena ketika ‘mereka’ menjadi subjeknya¬† dan melakukan hal-hal (baca: kesalahan) kecil bisa menjadi besar dan hal-hal (baca:prestasi) besar bisa menjadi kecil atau biasa-biasa saja. Ah saya lebih nyaman menyebut beliau-beliau sebagai orang terkenal, sehingga mereka bisa siapa saja.. Entah itu kepala negara, ulama, politisi, bahkan selebritis.

Dan, yang lebih gaswatnya dari orang-orang terkenal ini adalah efek domino atau pengaruh dari apa yang mereka lakukan itu diikuti oleh orang-orang lain terutama yang menganggapnya sebagai idola (jadi fans berat atau sejenisnya). Ingatkan ketika David Beckham sedang naik-naik daunnya? Padahal ia jagonya main bola, tetapi sampai model potongan rambutnya pun diikuti para fansnya. Sama halnya dengan iklan-iklan di media massa, kenapa coba yang menjadi iklannya adalah para selebritis yang terkenal? kenapa nggak orang-orang biasa saja yang baru pertama kali masuk televisi. Coba lihat salah satu produk sabun cair, yang membintanginya adalah selebritis perempuan yang sudah terkenal setanah air. Tujuannya apa? agar para konsumen memiliki persepsi¬† bahwa para selebritis tersebut memiliki kulit yang halus karena menggunakan produk tersebut. Atau misalnya iklan krim pemutih wajah yang membuat “wajahmu mengalihkan duniaku”, para konsumen dengan model yang ditampilkan didalam iklan berharap agar ketika mereka menggunakannya maka akan tampil secantik dan seputih selebritis yang menjadi bintang iklannya. Konsumen tidak peduli bahwa mereka (para selebritis tersebut) memang sudah cantik dan putih dari sononya. Tidak peduli juga kalau untuk menjadi seperti sekarang setelah mereka menghabiskan puluhan juta untuk pergi ke salon atau kontrol ke klinik kecantikan.

Masih tentang orang terkenal dan daya pengaruhnya, pasti masih ingat da’i kondang yang pengajiannya tak pernah sepi dari jama’ah yang utamanya ibu-ibu. Hidup harmonis dan serasi dengan istrinya lalu memutuskan untuk berpoligami? Apa dampaknya kala itu? Ibu-ibu memutuskan untuk ‘libur’ dulu datang ke pengajian da’i tersebut karena khawatir suaminya ‘tertular dan mengikuti jejak ustadz tersebut.¬† Khawatir para suaminya mengambil contoh makanya ibu-ibu “satu suara” untuk pengajian di tempat lain dulu. Padahal, memang segitu berpengaruhnya ya?

Dan belum juga sepekan, baru saja vonis pengadilan dari majelis hakim yang terhormat terkait skandal video mesum seorang vokalis band ternama negeri ini. Ah, saya tak ingin terlibat dalam diskusi yang tak berujung terkait kebebasan.  Toh saya juga punya kebebasan dong untuk bilang kalau buat saya:
1. Berz*n*nya itu fatal
2. Berz*n* dengan istri orang lebih fatal lagi
3. Sebagai orang terkenal yang tindak tanduknya dilihat dan dicontoh itu fatal

Sehingga, keputusan 3 tahun 6 bulan itu buat saya jauh dari memuaskan. Toh tuntutan dari jaksa penuntut umum saja minimal 5 tahun. (Saya nggak sampai bilang harusnya dirajam loh -ups, saya sebutin juga akhirnya :D). Maaf, tapi bagi saya itu menunjukkan lemahnya supremasi hukum kita dan terkesan hanya cari aman dari para penegak hukum. Karena hukuman seperti itu tak memberikan efek jera bagi para pelaku dan masyarakat. Pelakunya ini orang terkenal, punya fans (baca:pengikut), punya pengaruh. Sekitar dua bulan lalu saya sempat membaca berita tentang adanya beberapa laporan tentang kasus p*m*rk*s**n oleh anak-anak dibawah umur. Setelah ditanya oleh penyelidik ternyata  karena terpengaruh setelah menonton video mesum artis ini. Dan FATALNYA, hingga saat ini, yang bersangkutan masih belum mengakui kalau pemeran utama dalam video tersebut adalah dirinya.
Fiuh, fiuh..
Lupa ya, kalau sudah terkenal maka setiap gerak gerik akan menjadi sorotan? Belum lagi ini adalah kasus pertama yang menarik perhatian publik untuk bisa membuktikan seberapa kuat supremasi hukum di negara kita terkait pelaksanan undang-undang pornografi.

Ompongnya huk*m kita didepan orang-orang yang memiliki pengaruh dan gelimangan harta. Lihat saja, masih hangat diotak kita tentang fasilitas sel mewah yang dimiliki ay*n, kita geram, tetapi lalu.. heboh lagi dengan pembebasan bersyaratnya yang akhirnya disetujui. Uf.. mau dibawa kemana?? Tentang joki tahanan (emang joki cuman ada di three in one atau di ujian-ujian). Apalagi tentang Gayus, yang ah.. sudahlah.. lagi-lagi seolah dagelan dalam dunia huk*m kita. Kalau gayus (yang ‘ikan teri’-katanya sendiri) bisa keluar masuk seenaknya, apalagi yang hiu dan pausnya. Jangan-jangan bagi mereka hukuman penjara adalah saatnya liburan dan rekreasi dari rutinitas harian.
Makanya, siapa yang jera kalau begitu caranya?

Kembali lagi ke orang terkenal yang tak boleh melakukan kesalahan, tak perlu jauh-jauh kita melihat ke layar televisi atau media-media massa untuk mencari mereka yang terkenal dan di jadikan panutan. Lihatlah kanan dan kiri kita, sosok-sosok ‘terkenal’ itu ada. Ambil saja lingkup kampus misalnya. Ada orang-orang terkenal yang menjabat, ketua organisasi *pip*pip*, ketua acara %$#@#$@@, atau petinggi *fiuh*glek*Prok*(naon iyeu teh..).Nah adik-adik dan teman-teman, itu juga kudu hati-hati. Lingkungan¬† kecil itupun akan membentuk mereka sebagai “orang terkenal yang tidak boleh melakukan kesalahan.

Kalau orang lain yang masang status “Galau” barangkali biasa. Apalagi ABeGe-ABeGe yang masang status “K4n93n K4mYuhh.. fR0m YoUr LoV3lY BeibHHH” Ah, biasa kali untuk mereka. Tapi untuk kalian?

Apalagi misalnya, misalnya nih ya.. Dua sosok yang jadi panutan tiba-tiba ‘kepergok’ di restoran siap saji made in USA berdua aja tanpa ada status ‘halal’ yang melekat. Tentu saja akan menjadi sangat berbahaya. Apalagi kemudian diikuti dan dijadikan pembenaran. Cukuplah kita belajar dari Umar bin Luhay. Seorang alim yang terkenal di jamannya dan dijadikan panutan. Kesilauannya akan sesembahan yang dilihatnya di Persia membuatnya menjadi ‘sang perantara’ nomor satu atas munculnya berhala yang memenuhi tanah suci bapak Para Anbiya.

Ya, begitulah.. mereka yang tak boleh melakukan kesalahan..

..Manusia memang tempatnya salah dan lupa, tetapi kita diberi akal dan perasaan untuk mampu mengalahkan keterbatasan yang kita miliki. Dan hanya Allah-lah yang Mahamengetahui betapa banyak aib dan cela ini pun Allah Mahabaik yang masih menutupinya hingga kini..

Kata

Dengar saja, kata sedang meronta-ronta
berharap lepas dari keterikatan rima
tak peduli bila kalimat pada akhirnya hampa
coba mengerti, agar kata dapatkan gembira

Bagiku tak masalah
ketika kata memilih jalan emansipasinya,
asal saja tak jadi menghilangkan makna
Karena memberi makna adalah fitrah bagi kata

*22 desember 2010

Renta

Renta
Rapuh dirinya
hanya sanggup dipapah
namun bukan dengan tulang belulang anak negeri

dipapah dengan pinjaman mengatasnamakan kebaikan
tapi nyata mayanya
hanya tumpukan utang berlimpah yang tak mampu dibayar oleh setiap kanak keturunan si renta

Renta
bukan karena tak ada kalsium sumber daya
mungkin terkena osteoporosis terlalu muda
toh belum juga seabad usianya
Masih berupa balita lucu-lucunya untuk sejenisnya

Tetapi penguasaan atas mental perbudakan
hampir empat abad sulit dihilangkan
juga keinginan aman sendiri dari masing-masing sumsumnya
saling tarik dan sedot sumsum tetangganya
tak sadar bahwa hanya akan jadikan lemah bersama

bantu si Renta
dengan menjadi sel-sel penyusun masing-masing sumsum dan sendinya
Agar renta ini menjadi balita
yang pada waktunya
tumbuh jadi dewasa
hingga sanggup berdiri dengan belulangnya sendiri
tanpa bantuan kursi roda dari eropa
penyangga tubuh dari Amerika
atau mungkin tambahan mineral dari Cina
renta ini karena masih balita
bukan renta yang menunggu waktu menjadi binasa

 

*Abis baca buku sejarah dunia yang¬† sangat menginspirasi: “Imperium III”nya Eko Laksono. Cetak lagi setelah 3 tahun ditungguin..

Cermin Nadir

kita tumbuh dalam ruang abadi
dalam kebersamaan yang tak hanya tawarkan bahagia
tapi juga membuat kita semakin dewasa
hingga
bagi kita meniti jalan sulit ini, terasa tak sendiri

kita saling tertawa
berbagi suka yang melintas
kita saling terharu
saat duka menyalami tanpa diduga
kita saling menopang
saat kau atau aku tersandung lalu jatuh

tanpa kita sadari,
kita makin serupa..

kita akhirnya menjadi cermin,
bayangnya mungkin maya
tapi intinya memberikan isyarat yang sama
tak pernah ada kebohongan
karena
aku adalah engkau
dan
engkau adalah aku

Saat kulihat pantulan wajahmu bernoda
cepat-cepat kubersihkan wajahku
khawatir wajahmu tercoreng karena pantulan buram dariku
tak mungkin aku salahkan bayangmu disana
karena kau cermin, yang hanya pantulkan burukku

belakangan
Kulihat, engkau muram
padahal disini aku tengah tersenyum lebar
lain waktu
kulihat lagi rautmu biasa saja
padahal disini aku sedang sangat berduka
tapi..
lagi-lagi
takmungkin aku salahkan engkau wahai cerminku..
teringat kembali khilafku barangkali pernah lupa menyertai saat bahagia dan tak turut andil mengokohkan pundak sedihmu

kulihat ada noda kembali di beberapa titik bayangmu
kucoba bersihkan apa yang aku bisa dari tubuhku
tetapi..
mengapa masih saja ada noda di seberang sana?

kuraba cermin bagian depanku.
berdebu.

bukan..bukan salah atas bagianmu wahai cerminku
Debu itu ada dibagian milikku
Aku lupa untuk bersihkan cermin kita
Cermin maya yang menjadi identitas kita
yang hanya akan ada
karena kita terikat dengan saling mendo’a

Kita menjadi cermin bukan karena harta, bukan karena kuasa, bukan pula karena rupa
Kita menjadi satu
karena muara cinta kita sama
Kau mencintai-NYa dan akupun mencintai-Nya
Saat frekuensi cinta kita sama
itulah saat dimana kita berpadu

Sedihnya
Saat aku atau kau tak lagi berada dalam gelombang cinta utama atas-Nya
Kita akan menjalani hari-hari berenergi besar
dengan,
kita butuh waktu untuk saling mengerti
butuh alasan untuk husnuzhan
butuh kata untuk menyelesaikan masalah
dan
butuh masa untuk menjadi lupa

kita memang dan tentu masih menjadi saudara
tapi kita tak mampu lagi menjadi cermin bagi satu dengan yang lainnya..

*Bantu aku kembali jika tak mampu lagi menjadi cermin bagimu barangkali karena frekuensi cintaku yang menjauh dari-Nya

Reflek-si

Bukan..

seberapa banyaknya amanah yang kita miliki

Tetapi..

seberapa banyak beban da’wah yang bisa kita kurangi

 

(dengan menjadi bagian orang-orang yang me-mikir-kan da’wah, bukan di-pikir-in da’wah..)

Mereka Belia

Peristiwa 1:
Ditengah teriknya udara kota Bandung saat Ramadhan siang itu.
Macet.
Bising.
Sepi.
Orang-orang sibuk dengan lamunannya masing-masing. Beberapa kepala terangguk-angguk menahan kantuk.
Naik seorang anak laki-laki, kisaran usia baru 6 atau 7 tahun, bersama bundanya.
Barangkali bosan, kemudian anak kecil tersebut bersenandung dengan suara agak parau campur terjepit. Hanya alunan nadanya saja yang terdengar di telinga.
Bait syair lagunya tak terdengar jelas, hanya berupa gumaman “Nana nana..na na..na na na..”
Lagu apa ya ini?
Sekali,
dua kali,
tiga kali
coba membaca gerak bibir pemuda kecil itu.

Terlonjak sembari bertasbih..
Mahasuci Engkau Ya Rabb..
Ternyata..
pemuda kecil itu sedang menyenandungkan pujian untuk qudwah kita,
“Shalatullah.. Salamullah.. Ala tahaa Rasululillah.. Shalatullah salamullah..”
Sementara, adakah lisan ini refleks kala sunyi menyibukkan diri dengan zikir memuji asma-Nya atau bershalawat untuk Nabi-Nya?

Peristiwa 2:
Dalam perjalanan mudik idul fitri kemarin, di sebuah restoran masakan milik anak negeri. Sebuah keluarga muda ikut masuk ke ruangan ber-angin sejuk. Ayah yang menggunakan peci, ibunya dan 2 anak laki-laki (seorang balita dan seorang batita). Tiba-tiba bocah cilik yang masih balita dan cadel dalam berbicara
berkata lantang,”Bismilahilohmanilohim, allahu baliklana fimalojaktana wakina aja bannal.”
Tersipu aku malu, berapa kali khilaf terjadi lantunkan do’a itu sejak berhasil menghafalnya dahulu..

Peristiwa 3:
Seorang anak bersama keluarganya masih terjebak kemacetan. Seruan adzan berkumandang, sang anak dengan antusias menarik tangan ayahnya sembari berkata, “Ayah, shalat.. ayah, ayo shalat.. Kita ke masjid kan Yah?”. Polos berkata, begitu bersemangatnya untuk bersegera menunaikan panggilan dari Rabb nya.
Bahkan.. anak sekecil ia pun tahu betapa ‘menyenangkannya’ shalat berjama’ah di awal waktu

Ah.. Betapa bahagianya bila semua anak negeri seperti mereka. Kanak-kanak yang sejak dini mengenal Tuhan..
Bukan lagi kanak-kanak yang keracunan lagu-lagu dan juga tingkah polah dan berdendang keong racun
Oh, damainya negeriku..

25 Sept 2010

Ihsan

Saat tiba di suatu masa, dimana tak ragu tuk lakukan kesalahan..
Saat ada deret waktu, dimana rasa malu tak lagi bisa ditemukan..
Jika kita tiba dalam dimensi, dimana rasa takut akan kematian meninggalkan
..
Lalu, dimanakah ihsan?

“Wahai Rasulullah, apakah Ihsan itu?”. Rasulullah SAW bersabda: “Yaitu engkau beribadah kepada Allah seolah-olah engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak mampu melihat-Nya, maka ketahuilah bahwa Dia selalu melihatmu” (HR.Muslim dari Abu Hurairah ra.)

Pesan Ibu

Bip..bip..

1 Pesan Masuk

Pengirim: Ibu
26/07/10 17:30


……………………………………
……………………………………
Jaga sholat tepat waktu
Qur’an jadikan pakaian
Shodaqoh jadikan kebuthan
Zikir jadikan keseharian
Puasa jadikan kebiasaan
Silaturahim pangkal ibadah
Semoga kita sekeluarga diberikan keberkahan umur untuk ibadah..

Sebuah pesan elektronik singkat dengan kode rumit bertautan di angkasa,
libatkan paling tidak ribuan unsur yang mendukung sampai atau tidaknya
Semoga setiap unsur yang dilewati membantu meng-amin-kan
agar dimudahkan baik pengirim dan (terutama) si-penerima untuk bisa istiqomah menjalankan

* Jelang Bulan yang dinantikan. Apa saja yang sudah dipersiapkan?. Hati-hati jika tidak serius mempersiapkan. Bisa-bisa sama atau rugi tidak lebih baik dari Ramadhan kemarin

Mohon maaf atas segala khilaf yang Agtri lakukan,
Baik perkataan yang menyakitkan
Perilaku yang tidak menyenangkan
Amanah yang tidak tertunaikan
Semoga kita bisa mengoptimalkan semua ikhtiar kita

karena Ramadhan..
Bukan Bulan Biasa

Previous Older Entries Next Newer Entries